
Berbagai bayangan memenuhi kepala Melvin, ia tak bisa terlelap sama sekali. Pikiran itu semakin membayangi otaknya. Memilih salah satu keputusan, yang menjadi perang batinnya.
Tuhan, kuatkan hati saya! Berilah saya petunjuk! Teguhkan hati saya, untuk memegang salah satu diantara keduanya.
Melvin merebahkan kepalanya ke bantal, lalu melihat kearah meida yang sedang tertidur di sampingnya. Ia menyampingkan posisi tidurnya hingga berhadapan dengan meida. Sebelah tangannya ia lipat, untuk menjadi tumpuan kepalanya.
Meida, kenapa hati saya seyakin ini memilih mu. Kehadiran mu berhasil meluluh-lantahkan dunia saya. Lirih melvin mengusap lembut kepala meida yang masih menggunakan hijab. Merasa tidurnya terganggu, meida menyampingkan posisinya tanpa membuka matanya. Tanpa dia sadari, kini ia tidur menghadap kearah melvin. Perlahan-lahan meida terbangun dari tidurnya, tanpa berani membuka kelopak matanya.
Melihat mu! Hilang rasa sakit saya, hilang keraguan saya. Kamu membuat saya yakin. Meida, jadilah pendamping hidup saya! Jadilah ibu dari anak-anak saya! Dengan mu, saya yakin akan menemukan kebahagiaan itu. Saya rela menyerahkan seluruh jiwa raga saya untuk mu, asal kamu selalu bersama saya. Mendengar ucapan melvin yang begitu menyayat hati. Meida meneteskan air matanya dengan mata terpejam. Agar melvin tak menyadari, bahwa ia mendengar semua pengakuannya.
Ya Allah, apa dia lelaki yang tepat untuk hamba? Apa dia lelaki yang dikirim mu untuk melindungi dan menyayangi hamba? Ya Allah, apa dia pengganti kak adib untuk menjaga hamba? Jika dia benar-benar tercipta hanya untuk hamba, bukalah hati hamba untuk mencintainya.
Ya Allah, dengan kuasa-Mu yang maha Agung. Bantu hamba untuk menuntunnya, menuntun ke jalan yang engkau Ridhoi, agar dia bisa mengenal-Mu dengan sesungguhnya. Meida semakin memejamkan matanya. Ia menyusupkan wajahnya ke bantal, ketika melvin mengusap kembali kepalanya.
Tuhan, tak banyak yang saya pinta. Saya ingin orang-orang yang saya cintai bahagia. Berilah kebahagiaan kepada wanita yang sekarang berada di hadapan saya. Jika dia bahagia, saya pun bahagia. Lirih Melvin dengan suara parau, kesedihan dan ketakutan itu mulai kembali menggelayuti pikirannya
Meida, saya ingin kamu orang terakhir yang saya lihat sebelum tidur, dan orang pertama yang saya lihat ketika bangun. Saya ingin wajahmu selalu menghiasi pandangan saya. Saya ingin selalu menyaksikan tidur lelap mu seperti ini. Meida, izinkan saya untuk mengisi hati mu. Jadikan saya sebagai lelaki dewasa yang kamu cintai. Saya tidak akan meninggalkanmu selangkah pun, walau keadaan yang memaksa saya untuk meninggalkan mu. Kau tahu, saya melawan restu demi ingin hidup bersama mu. Saya tidak ingin kamu mengetahui perjuangan saya mencintaimu seperti apa, biarlah saya sendiri merasakan perjuangan ini. Yang jelas, I really love you so much, one forever in the world! Melvin melepaskan tangannya dari kepala meida. Ia mencium kepala meida cukup lama, ia mengusap air matanya, lalu merebahkan kembali kepalanya di samping meida.
Melvin berusaha memejamkan matanya, pusing masih melanda sebelah kepalanya. Secara perlahan-lahan ia kehilangan kesadarannya dan kembali tidur lelap. Setelah tak dirasa ada pergerakan tubuh melvin, dan nafasnya mulai terdengar teratur. Meida membuka matanya, kini ia bergantian menatap wajah Melvin yang sedang tidur terbaring di sampingnya.
Kenapa Tuan sangat dalam mencintai saya? Kenapa tuan rela mengorbankan hidup tuan demi saya? Apa saya mampu membalas cinta tuan yang sebesar itu? Lirih Meida menatap wajah melvin dengan buliran air mata.
Ya Allah ... rasanya hamba berdosa jika tak membalas cintanya. Berilah jalan terbaik dalam hidup kami berdua. Jika kelak dia jadi pendamping hidup hamba, jadikanlah dia sebaik-baiknya imam keluarga untuk hamba. Jadikan rasa cinta kami Lillah, karena-Mu Ya Allah. Do'a meida dengan penuh kesungguhan.
Setelah mengungkapkan isi hatinya. Meida berusaha memejamkan matanya kembali, karena jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari.
-
Jam 05:30, meida membuka matanya perlahan. Ia tersenyum kearah Melvin yang sedang menatapnya dengan posisi menyamping sambil tersenyum.
“Tuan yang memindahkan saya kesini?” Tanya pura-pura meida menyembunyikan rasa malunya dengan menutup wajahnya dengan sebelah tangannya. Padahal ia tahu, bahwa melvin yang sudah memindahkannya. Melvin hanya menganggukkan kepalanya sebagai bentuk jawaban.
“Kenapa di tutup wajahnya? Saya sudah melihat dari tadi, percuma ditutupi juga.” Kekeh Melvin jahil melihat wajah malu meida. Ia menyingkirkan tangan meida dari wajahnya.
“By the way, Terima kasih telah menjaga saya,” ucap santai melvin sambil tersenyum. Ia memandang Meida dengan binar bahagia, walaupun wajahnya tampak masih pucat.
“Tuan sudah mendingan? Sekarang mana yang sakit?” Meida bangun dari posisi tidurnya. Lalu memeriksa dahi melvin dengan menempelkan punggung tangannya. Melvin mendongkakan wajah menatap wajah meida yang berada di atasnya.
“Melihat mu seperti ini, saya langsung sembuh meida. Terima kasih,” Meida langsung melepaskan tangannya dari dahi melvin. Bibirnya cemberut dengan wajah yang memerah. Melvin tergelak melihatnya, ia semakin jahil menggoda meida.
“Kamu terlihat lucu kalau sedang malu. Wajah cantikmu naik berkali-kali lipat hahaha. Kamu gak sembahyang Meida?” Meida menggelengkan kepalanya dengan masih mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
“Saya sedang datang bulan Tuan. Jadi gak boleh sembahyang.” Terang meida sambil menyingkapkan selimut dikakinya. Melihat itu, melvin langsung memegang tangan meida, untuk menghentikan kegiatannya.
“Kamu mau kemana? Temani saya disini? Ada banyak yang ingin saya tanyakan sama kamu. Please ... temani saya disini, lagian ini masih pagi.” Meida melihat kearah wajah melvin yang terbangun sambil mengantup kedua tangan didepannya dengan wajah menghiba.
“Tanya apa Tuan? Saya ingin cuci muka dulu.” Melvin langsung memegang tangan meida yang kembali menyingkapkan selimutnya.
“Gak usah cuci muka! Kamu tetep cantik kok, gak cuci muka juga!” Goda melvin sambil memasangkan selimut di kaki meida.
“Sekarang masih pagi ini, temani saya disini ok!” Meida mengalah dengan keinginan melvin. Ia menyandarkan kepalanya ke headboard ranjang dengan sesekali memejamkan matanya untuk menetralisir rasa gugupnya yang tiba-tiba muncul.
“Meida, kepala saya pusing. Boleh saya minta bantuan mu untuk memijit kepalanya saya?” Pinta Melvin dengan wajah menghiba bercampur pucat.
“Kalau enggak mau juga gak papa. Saya gak bakalan maksa ini kok.” Meida melihat wajah melvin dengan tak tega. Ia menganggukkan kepalanya lemah, hingga melvin tersenyum lebar melihatnya. Melvin meletakkan kepalanya dipaha meida, hingga meida terbelalak kaget. Jantung meida kembali berdetak kencang.
“Tuan bisa letakan kepala Tuan di bantal! Kenapa harus di paha saya?” Melvin memejamkan matanya. Ia tahu meida sedang gelisah dan gugup melihat tingkah usilnya.
“Biar kamu mudah mijit kepala saya. Saya gak bakal ngapa-ngapain kok, Sumpah! Saya hanya ingin merebahkan kepala saya aja, gak lebih.” Jawab melvin dengan suara pelan. Meida yang awalnya ingin menolak pun akhirnya pasrah.
“Jangan tegang kayak gitu! Tarik nafas! Saya gak bakalan ngigit kamu kok, saya bukan vampir! Stay calm aja meida! Tolong pijit kepala saya!” Usil melvin dengan menahan tawanya, karena berhasil menggoda meida. Ia meletakkan kedua tangan meida dikepalanya, dengan senyum penuh kemenangan, ia memejamkan matanya menikmati pijitan lembut tangan meida dikepalanya.
“Mimpi saya sekarang hanya satu. Saya ingin menghabiskan waktu saya bersamamu. Menikmati senja bersama, membangun rumah tangga bahagia, mengurus anak-anak kita, dan tidur lama dipangkuan mu. Indahnya, rasanya mimpi saya sekarang hanya itu. Saya hanya ingin merajut asa denganmu, buah dari penantian ini.” Meida melepaskan tangannya dari kepala melvin. Hingga melvin langsung membuka matanya
“Tuan, jangan bahas itu mulu! Saya malu! Nanti aja bahasnya setelah masalah kita benar-benar kelar!” ucap meida sambil menutup wajahnya menggunakan bantal. Melihat itu, melvin malah terkekeh dengan sikap malu-malu meida.
“Meida, sejauh manapun saya pergi, kamu adalah tempat saya kembali. Kamu adalah rumah saya, kamu adalah hidup saya! Saya harap kamu tidak meragukan perasaan cinta saya!” Melvin berhasil menyingkirkan bantal dari wajah meida. Dan kini mata merekapun saling menatap dari arah yang berlawanan.
“Itu jika kita berjodoh. Bagaimana kalau kita tak berjodoh?” Tanya Meida serius sambil membelai wajah melvin yang sedang tidur dipangkuannya. Mendengar ucapan keraguan meida, melvin langsung menangkap tangan meida yang berada diwajahnya, lalu menciumnya.
“Saya yakin kita berjodoh. Tuhan menciptakan kamu hanya untuk saya! Dan saya diciptakan hanya untuk kamu! Jika kita tak berjodoh, saya akan meminta Tuhan untuk tetap menjodohkan kita. Tuhan itu maha berkehendak, saya yakin dia pasti menghendaki setiap permintaan hambanya. Dan jika kita tak berjodoh di dunia ini, saya akan menunggu mu di dunia selanjutnya. Mungkin di dunia itu kita akan berjodoh. Saya akan setia menunggu mu Meida, karena saya terlanjur berjanji, jika saya tidak akan menikahi wanita manapun kecuali kamu. Saya lebih memilih tak menikah jika harus menikah dengan wanita lain. Karena kamu membuat saya tak bisa berpaling sedikit pun.” Meida meneteskan air matanya mendengar ucapan sungguh-sungguh melvin. Melvin menghapus air mata meida, dan mengarahkan sebelah tangan meida kedada bidangnya.
“Inilah perasaan saya ketika dekat dengan mu. Jantung saya selalu berdebar kencang. Kamu dapat merasakannya, Kan? Terima kasih telah membuat saya jatuh cinta setiap waktu, terima kasih telah mewarnai hidup saya! Mungkin saya lelaki bodoh, but I Love you so much.” Melvin kembali mengakui perasaannya. Hingga meida menangis terharu. Melvin dengan penuh kelembutan mengusap air mata meida.
“Terima kasih telah mencintai saya sebesar itu. Bolehkah saya membuka hati saya untuk belajar mencintai Tuan?” Lirih meida dengan suara terbata-bata. Melvin langsung bangkit dari posisi tidurnya, ia menatap meida dengan mata berkaca-kaca lalu memeluknya erat.
“Terima kasih meida telah membuka hatimu untuk saya. Saya sangat sangat sangat bahagia!”
-
Di ruang tamu Nagara, nampak ada persitegangan antara orang tua dan anaknya. Nagara tampak sedang berpikir, sementara istrinya sedang menenangkan anaknya yang sedang menangis dipelukannya.
“Papih kenapa menentang hubungan mereka? Meida wanita baik pih! Dia yang menolong lisa dulu! Dia wanita luar biasa, kenapa papih menentang hubungan mereka? Apa yang salah dengan meida Poh?” Tanya parau melisa sambil sesenggukan. Nagara melepaskan kacamatanya, lalu ia simpan di saku jasnya.
__ADS_1
“Melisa, papih menentang hubungan mereka bukan karena asal usul meida atau apa. Keturunan dan kekayaan tak jadi masalah bagi papih. Kamu tahu kan papih tak mempersoalkan itu dari dulu? Tapi yang menjadi persoalan papih sekarang adalah Melvin dan Meida itu berbeda! Mereka berbeda nak, sampai kapanpun mereka tak akan pernah bersatu! Bagai minyak dan air! Sekuat apapun kita menyatukan, mereka akan tetap terpisah. Meida pasti tak mau mengikuti keyakinan kita, begitupun melvin. Karena papih tidak akan mengizinkan, jika koko mu memilih keyakinan yang sama dengan meida.” Terang pelan Nagara tanpa emosi. Ia melipat kedua kakinya lalu memijit keningnya yang lumayan terasa berat. Melvin menepati janjinya, selama 2 hari ini dia tak pulang dan tak masuk kerja. Hingga Nagara di buat kelimpungan olehnya.
“Pih, biarlahkan Melvin menemukan kebahagiaannya. Kita tak perlu ikut campur masalah pribadinya! Yang perlu kita lakukan sebagai orang tuanya, hanya mendukungnya pih. Dia sudah besar, mamih yakin dia bisa menentukan kebaikan hidupnya sendiri. Bukankah papih ingin melihat anak sulung kita bahagia? Jika meida kebahagiaan melvin, kita bisa apa? Kita tak mungkin menghancurkan kebahagiaan anak kita sendiri pih! Coba papih pikir!” Melisa menganggukkan kepalanya. Ia bahagia, karena mamihnya membelanya untuk membujuk Papihnya merestui hubungan koko satu-satunya.
“Bukankah dulu papih yang mengajarkan ko Melvin untuk menjadi seorang lelaki sejati yang hanya mencintai satu wanita? Di saat ko Melvin sudah menemukan cintanya, kenapa papih melarangnya dan malah ingin menjodohkan dengan rekan bisnis papih? Kenapa Papih melanggar ucapan Papih sendiri hah?” Kesal Melisa. Nagara diam cukup lama, dengan kepala yang ia sandarkan ke sofa, matanya ia biarkan terpejam.
“Mih, yang jadi masalah papih adalah religion mereka. Mereka tak mungkin bersatu, tak mungkin kita memaksakan mereka. Meida wanita taat beragama, begitupun melvin. Yang papih takutkan, takut melvin nanti sakit hati, karena cintanya tak bersatu dengan meida. Makanya papih berinisiatif menjodohkannya dengan putri rekan bisnis papih. Wanita itu sangat mencintai melvin mih, papih yakin wanita itu bisa menggeser posisi meida di hati melvin.” Helena mengepalkan tangannya mendengar ucapan enteng Nagara. Ia marah, karena suaminya ingin menjauhkan putranya dari orang yang dicintainya. Helena sangat tahu persis isi hati putranya, yang begitu besar mencintai meida.
“Biarkan melvin menentukan hidupnya sendiri Pih! Biarkan dia mencari kebahagiaannya! Mamih mohon, dukunglah setiap keinginan melvin. Dia putra kita yang baik pih, dia selalu mengutamakan kita, dan selalu membuat kita bahagia. Sekarang giliran kita, kita bantu dia untuk menemukan kebahagiaannya! Cukup itu saja!” ucap tajam Helena sambil berjalan kearah suaminya. Ia duduk di samping Nagara, dan memegang tangannya pertanda memohon.
“Pih, biarkan melvin bahagia dengan pilihanannya ... berilah restu pada mereka ... papih ingin melihat melvin bahagia, Kan?”
“Papih juga ingin Melvin bahagia mih! Tapi jika dia merubah keyakinannya, papih tidak setuju! Papih tidak ingin anak kita meninggalkan Tuhannya demi cinta!” Jawab tajam Nagara sambil melepaskan tangan istrinya. Mihat itu, melisa langsung berdiri dan menggandeng tangan mamihnya.
“Pih, bukankah cinta tak mengenal agama? Begitu pun mereka! Agama tak jadi penghalang mereka untuk saling mencintai! Bukalah hati papih! Restui mereka! Izinkan ko Melvin bahagia dengan pilihanannya! Kami mohon, papih jangan egois!” Teriak Melisa sambil mengepalkan tangannya. Ia merasakan kecewa apa yang di rasa kokonya, ketika meminta restu pada papihnya.
“Tak semudah itu! Biarkan melvin merenungi sikapnya! Papih yakin dia pasti kembali, meninggalkan wanita itu!” Ketus Nagara sambil memakai kacamata kembali.
“Jika sikap papih seperti itu! Jangan salahkan jika ko melvin tak kembali!” Sinis Melisa meninggalkan Nagara kekamarnya.
“Kamu terlalu egois pih! Kamu jangan menyesal jika melvin pergi meninggalkan mu! Untuk seminggu kedepan kamu tidur di luar!” Sinis Helena bersidekap dada meninggalkan suaminya. Nagara tercengang melihat sikap istri dan anaknya, yang begitu mendukung melvin dan meida agar bersatu.
Mamih janji ko, mamih akan membantu mu untuk meluluhkan hati Papihmu yang keras ini.
-
-
Maaf yah kemarin otor gak up, karena benar-benar gak bisa up. Up kemarin di ganti nanti malam yah, jadi otor up 2 part hari ini🤗♥️
Jangan lupa☕ buat nemenin otor ngehalu malam ini♥️♥️♥️🤗🤗🤗
Jika suka dengan novel ini, jangan lupa
Like♥️♥️♥️
Komen♥️♥️♥️
Rate♥️♥️♥️
Vote ♥️♥️♥️
__ADS_1
Gift ♥️♥️♥️
Hatur nuhun 😘