
Di ruangan sana nampak meida menangis haru dipelukan bi ina, lalu berganti memeluk Melisa dan berakhir dipelukan Helena.
Ko, mamih hargai pilihan mu, jika itu terbaik untukmu. Mamih harap kamu bisa menghadapi resiko ke depannya. Semoga hati Papih mu luluh nak, dengan berlapang dada menerima keputusan mu ini! Batin helena sambil menghapus air matanya.
Semoga kalian bisa menghadapi masalah ini bersama-sama. Mamih hanya bisa mendoakan dan membantu kalian dari jarak jauh. Cinta mamih selalu menyertai kalian. Batin Helena sambil melepaskan pelukan meida lalu memegang kedua bahunya.
“Meida, tante serahkan Melvin padamu. Tante ikhlas dia memilih jalan hidup nya sendiri. Bimbing dia! Jangan pernah tinggalkan dia! Walau diluaran dia terlihat ceria, hatinya sangat rapuh Nak. Dia paling tidak bisa melihat orang yang dicintainya terluka. Tetaplah di samping dia, walaupun masalah bertubi-tubi menimpa kalian. Walaupun kita berbeda, tante harap ini tak menjadi penghalang diantara kita.” Meida menganggukkan kepalanya, menghapus air mata menggunakan tisu. Ia terharu mendengar ucapan welcome helena yang ikhlas menerima pilihan anaknya untuk enjadii seorang muslim.
“Inn Syaa Allah. Do'akan meida panjang umur tante, agar meida bisa mendampingi terus anak tante. Meida akan tetap bertahan walaupun banyak rintangan, jika putra tante menginginkan meida tetap di sampingnya. Dan meida akan pergi, jika putra tante yang memintanya sendiri.” Tutur Meida dengan sesenggukan. Sementara Melisa memandang mereka dengan buliran air mata di wajahnya.
“Meida, bukankah itu saudara mu?” Bi ina menepuk pelan bahu meida agar membalikkan posisinya melihat ke layar monitor. Setelah meida membalikkan posisinya, bi ina menunjuk kearah seorang Lelaki muda yang sedang memeluk Jonathan.
“Iya bi, itu Jack sepupu Meida.” Jawab Meida dengan mata fokus ke layar monitor.
“Selamat datang di Islam My brother. Akhirnya kau memilih jalan hidup menjadi seorang muslim! Islam itu jalan hidup. Agama penuh kedamaian, Rahmatan Lil Alamin. Semoga kamu tetap istiqamah!” Jonathan membelalakan matanya ketika melihat sepupu Lelaki yang tidak terlalu dekat dengannya berada di masjid itu.
“Jack, sedang apa kamu disini? Kamu di suruh papih buat mata-matain saya?” Tanya sewot jonathan yang belum tahu bahwa Jack sudah memeluk agama Islam lebih dulu. Jack menyampirkan sajadah di bahu sebelah kanannya sambil tersenyum.
“Saya habis shalat Jum’at, dan saya cukup kaget melihat mu berada di barisan depan ini. Jo, saya seorang Muslim sama seperti mu. Dan saya bahagia, kamu memilih jalan ini!” Tutur Jack dengan mata berkaca-kaca lalu memeluk kembali Jonathan.
“Kau menyembunyikan keislaman mu dari keluarga besar kita Jack?” Jack hanya menganggukkan kepalanya lemah.
“Iya jo, sama seperti mu. Saya menyembunyikan keyakinan saya bukan karena saya takut pada keluarga kita, hanya saja saya belum menemukan waktu yang tepat untuk memberitahu mereka. Saya sudah berniat akan memberitahu mereka secepatnya, agar tak ada lagi yang saya sembunyikan. Agar saya bisa beribadah dengan tenang.” Jonathan melerai pelukannya. Lalu ia menepuk bahu jack.
“Jack, kau tidak sendirian! Ada saya disini! Saya akan selalu mendukung segala keputusan mu! Mari kita berjuang bersama-sama.” Jack menganggukkan kepalanya sambil tersenyum mendengar ucapan tulus Jonathan.
“Jo, kau tahu alasan saya memeluk Islam? Asal kau tahu! Dengan Islam, bertambahnya pengetahuan saya hanya akan meningkatkan kadar keimanan saya membuka cakrawala akan kesempurnaan Tuhan serta agama-Nya yang murni yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Islam adalah ajaran yang sempurna, sistem yang lengkap, jalan hidup yang paripurna. Islam menawarkan petunjuk dan bimbingan moral, etika, nilai-nilai spiritual, dan tatanan sosial.” Jonathan tertegun mendengar ucapan jack yang kembali melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
“Saya merasakan kedamaian dan keamanan setelah mengetahui apa yang saya pelajari adalah kebenaran hakiki yang akan membawa saya lebih dekat dengan Tuhan.” Jack tersenyum sambil menghapus air matanya.
“Do'a saya, semoga Allah memberi hidayah dan petunjuk-Nya bagi kamu untuk mengikuti jalan-Nya yang lurus dengan penuh ketulusan. Semoga Allah selalu menjaga dan membimbing mu Jo. Aamiin.” Jack mencium kening Jonathan lalu mengelus rambutnya lalu berjalan kearah Melvin.
“Selamat datang di Islam bro! Semoga karunia Allah selalu menyertai mu. Semoga kamu selalu istiqamah berada di jalannya.” Melvin menjabat tangan yang jack sondorkan, lalu ia memeluknya.
“Terima kasih bro. Do'a yang sama untuk mu!” Mereka bertiga pun saling berpelukkan.
-
“Mamihhh ....” Melvin langsung berlari kearah Helena dan langsung memeluk mamihnya. Begitupun dengan Jonathan, ia langsung memeluk meida dan menangis dipelukannya. Semua orang yang berada di ruang itu menangis haru melihat empat orang yang sedang berpelukan.
“Mih, walaupun keyakinan kita berbeda sekarang. Mamih masih tetap mamih Melvin! Terima kasih telah mengurus Melvin sampai sebesar ini. Terima kasih atas kasih sayang yang mamih curahkan untuk Melvin. Terima kasih untuk dukungan mamih. Terima kasih, telah mengikhlaskan Melvin menjadi seorang Muslim terima kasih....” Melvin kembali memeluk mamihnya erat. Helena mengusap pundak anaknya, lalu menghapus air mata di wajahnya.
“Sudah sudah sudah jangan nangis! Mamih hanya minta, kamu jangan berubah Nak! Tetaplah jadi Melvin anak mamih! Karena kamu hero kesayangan mamih. Ingat janji kamu, jangan pernah meninggalkan mamih!” Melvin menganggukkan kepalanya sambil melerai pelukannya. Melvin memegang tangan Helena lalu menciumnya.
“Jika koko gak ada, jaga mamih yah! Koko percayakan mamih pada mu Dek. Terima kasih kamu selalu membantu koko, selalu ada di saat koko butuhkan. Kamu tetaplah adik kesayangan Koko. Jika ada apa-apa, bilang koko yah!” Melisa menangis di pelukan Melvin. Karena ia sadar, melvin tak bisa selalu ada di sampingnya mulai sekarang. Mereka tidak akan selalu bersama. Melvin sudah besar begitupun dirinya. Saatnya mereka menentukan hidup masing-masing di usianya yang sudah mulai matang.
“Koko harap kamu segera menemukan tambatan hati dan menikah. Agar ada orang yang menjaga dan mencintaimu Dek. Biar koko gak kepikiran kamu terus kalau ada pendampingnya. Karena mulai sekarang koko gak bisa berada di dekat mu 24 jam lagi seperti kemarin-kemarin.” Melvin mengusap kepala adiknya yang terhalang selendang. Adiknya menangis tergugu di pelukannya. Ia tahu perasaan yang dirasakan melisa sekarang, karena lambat laun mereka harus terpisah. Melisa dengan kehidupannya, begitupun dirinya. Melisa adik perempuan yang amat dia sayangi, karena dari kecil mereka sudah sangat dekat.
“Semoga koko bahagia dengan keputusan koko. Aku hanya bisa mendukung keputusan koko! Terima kasih sudah menjadi koko terbaik untukku, terima kasih selalu menjaga dan melindungi ku. Semoga Tuhan memberkati segala jalan koko.” Melvin mengaminkan doa adiknya. Ia melerai pelukannya lalu memeluk Bi Ina.
“Don’t cry baby!” Meida menepuk pelan pundak adiknya yang masih memeluknya erat. Ia terkekeh dengan berlinang air mata. Sementara Bi ina mengusap kepala Jonathan yang berada di bahunya.
“Jo ingin menangis saja. Hati jo rasanya plong setelah mendengar penjelasan Ustadz Zhaf tadi. Jo bahagia, akhirnya Allah memberi hidayah pada Jo.” Jonathan melerai pelukannya memandang dalam kearah wajah meida. Cicinya dengan lembut mengusap air mata di wajah adiknya menggunakan tisu.
“Assalamualaikum adikku. Terima kasih telah memilih Islam sebagai jalan hidup mu. Semoga Allah selalu merahmatimu, menjadikanmu anak yang Sholeh. Aamiin.” Meida mencium kening adiknya dalam dengan linangan air mata kebahagiaan.
__ADS_1
-
Allah ﷻ berfirman,
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS:Al-‘Ankabuut | Ayat: 69).
-
☕ Mana ☕☕☕☕☕☕☕
Wilujeng Malem Ahad...
Tong hilap
Like
Komen
Vote
Rate
Hadiah
Hatur nuhun 😘😘😘🤗🤗🤗♥️♥️♥️
__ADS_1