
“Selamat siang mbak!” Sapa jonathan kepada seorang kasir yang sedang berdiri dimeja kerjanya.
“Selamat siang mas. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya ramah kasir itu sambil tersenyum kearah jonathan
“Emm ... apa Pak Louis Johan nya ada mbak?” Tanya jonathan yang membuat wajah kasir itu kebingungan.
“Ada keperluan apa mas sama pak Louis?” Tanya balik kasir itu sambil menatap dalam wajah jonathan.
“Saya keponakannya mbak,” ucap singkat jonathan yang langsung membuat kasir itu kaget dan malu.
"Oh mas keponakannya. Silahkan duduk dulu mas,” ucap kasir itu mempersilahkan jonathan untuk duduk di samping mejanya. Kursi itu biasanya digunakan untuk pengunjung yang tidak kebagian kursi.
“Gak usah mbak, terima kasih. Om Johannya ada?” Tolak lembut jonathan dengan senyum manis. Ia menanyakan kembali keberadaan om nya .
“Pak Louis johan udah 2 minggu gak kesini mas. Palingan yang ngontrol kesini cuman pak Zyan tangan kanannya, itu pun cuman seminggu sekali mas.” Terang kasir itu menjawab pertanyaan jonathan dengan senyum yang tak lekang dari bibir merahnya.
“Ohh ... jarang kesini yah mbak. Bisa saya minta nomor teleponnya?” Ucap singkat jonathan sambil mengeluarkan ponsel di saku kemejanya.
“Saya gak punya mas. Coba tanya ke Pak Dani selaku supervisor disini, saya yakin dia pasti punya. Mas langsung masuk aja ke ruangannya disebelah sana!” Tunjuk kasir itu menunjuk ke sebuah lorong yang berada disamping cafe tersebut.
“Mas lewat koridor itu! Di persimpangan nanti mas ambil arah yang ke sebelah kiri, dari sana mas lurus aja sampai nemuin pintu kayu warna coklat. Disanalah ruang pak dani.” Jelas kasir itu panjang lebar untuk menunjukkan arah menuju ruang kerja pak dani.
“Baik mbak, terima kasih. Saya permisi dulu.” Pamit sopan jonathan sambil menganggukan kepalanya. Ia berjalan kearah koridor yang kasir tadi tunjukkan.
Yaa Tuhan, anak itu tampan sekali seperti oppa-oppa korea, mana sopan lagi. Ternyata pak Louis punya keponakan tampan juga. Gumam lirih kasir itu mengagumi ketampanan jonathan. Setelah Jonathan pamit dari hadapannya.
-
Tok tok tok
Jonathan mengetuk pintu itu tiga kali, menunggu sahutan orang dari dalam.
“Masuk!” Setelah mendapatkan sahutan, jonathan langsung membuka pintu itu dan langsung masuk kedalamnya.
“Silahkan duduk!” ucap ramah dani mempersilahkan jonathan duduk di kursi yang ada didepannya.
“Terima kasih pak.” Jawab jonathan sambil menganggukkan kepalanya, lalu duduk.
“Anda siapa? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya ramah dani tersenyum kearah jonathan sambil menyimpan ballpoint yang berada ditangannya.
“Saya jonathan pak. Keponakan dari Pak Louis.” Jawab ramah jonathan sambil melipatkan kedua tangannya di atas meja.
“Kamu keponakannya pak Louis? Ada keperluan apa yah kesini?” Tanya bingung dani, sambil menautkan kedua alisnya.
“Saya kesini mau minta nomor kontak om saya pak. Kebetulan sekali nomor kontaknya hilang.”
“Wahh sayang sekali. Untuk nomor kontak pak louis, kebetulan saya tidak punya. Karena kalau terjadi sesuatu dengan kafe ini, biasanya saya langsung menghubungi pak Zayn. Dari pak zyan baru ke pak louis. Kalau emang urgent, saya bisa bantu kamu buat menghubungi pak louis, tapi lewat Pak Zyan terlebih dahulu.” Terang dani sambil mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.
“Oh gitu yah pak. Bisa saya minta nomor pak zyan nya? Biar nanti saya hubungi sendiri.”
“Saya konfirmasi dulu ke pak zyan nya. Biar nanti pak zyan langsung angkat, jika ada panggilan dari kamu," ucap dani sambil melakukan panggilan ke nomor pak zyan.
“Baik pak.”
-
“Dion biarkan meida tidur! Kamu jangan ganggu dia!” Ancam melvin dengan mendelikan matanya kearah dion, yang akan membangunkan meida yang tertidur pulas di sofa diruang kerjanya.
“Tapi Tuan, bukannya dia harus ikut kemanapun Tuan pergi? Dia kan pengawal tuan!” Jawab dion menatap melvin dengan wajah bingung. Ia dibuat serba salah dengan perintah melvin.
“Suka-suka saya dong. Lagian saya yang bayar gaji dia! Kamu nurut aja sama perintah saya!” Melvin menatap tajam kearah dion. Dion hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan melvin duduk didepan meida yang terhalang meja kaca, ia memandang dalam wajah meida yang sedang tertidur.
“Kasian meida kurang tidur dion, jam 11 malam dia baru sampai di kota ini. Biarkan dia beristirahat, lihatlah dia tidur dengan pulas sekali!” Tunjuk melvin kearah meida yang sedang terlelap dengan menyenderkan kepalanya di sofa. Melvin memandang wajah meida dengan senyum-senyum sendiri. Dion yang melihat gelagat aneh sang Tuan hanya bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Tuan perhatian sekali dengan meida. Asikk ... bibit-bibit cinta mulai tumbuh di hati Tuan Muda. Semoga aja dia jadi bucin, biar tahu rasa haha. Tawa jahat dion dalam hati sambil melihat kearah melvin yang sedang menatap meida tanpa berkedip. Dion mengambil Ipad ditasnya, lalu membuka agenda yang tertulis di IPAD-nya.
“Tapi kita kan mau pergi tuan. Gak papa kita tinggal meida disini sendiri?” Tanya dion sambil melihat jadwal melvin. Lalu memperlihatkan kearahnya.
“Tinggal aja! Biarkan dia istirahat disini!” Tegas melvin agar dion tak membantah ucapannya. Melvin berdiri sambil merapikan dasi dan jasnya.
“Kalau meida tidur disini, saya takutnya ada orang yang berbuat macam-macam pada dia. Apalagi disini gak ada orang,” ujar dion memberi saran kepada melvin. Melvin pun terdiam memikirkan perkataan yang diucapkan dion.
“Iya juga sih. Palingan nanti saya kunci ruangan ini. Kamu duluan aja! Tunggu saya di lobby!" Usir halus melvin kepada dion. Agar dion segera meninggalkannya berdua dengan meida.
“Baik tuan. Saya tunggu tuan di lobby!” sahut dion sambil berjalan keluar menuju pintu.
Kalau sedang tidur, wanita ini imut juga. Dasarr wanita pemilik sikap ganda. Kadang nyebelin, kadang ngangenin. Lirih melvin memandang wajah meida sambil tersenyum. Ia membopong tubuh meida untuk memindahkannya ke ruang pribadinya yang terletak disamping ruang kerjanya.
Saya atau kamu sih atasan disini? Saya merasa jadi bawahan kamu. Kamu bawahan saya paling berani, disaat orang lain lagi sibuk kerja, kamu malah asik tidur. Omel pelan melvin sambil menidurkan meida di ranjangnya. Setelah menyelimuti meida, melvin menulis sebuah note di kertas warna biru lalu ditempelkan di dahi meida. Agar ketika meida bangun dari tidurnya, dia menyadari keberadaan note itu dan langsung membacanya.
Saya tahu perasaan saya salah, tapi saya tidak bisa membohongi nya. Meida, bolehkah sama mencintaimu? Lirih melvin menatap dalam wajah meida sambil mengusap pelan hijab yang dikenakannya.
-
Jonathan duduk di bawah pohon cemara yang berada di taman kota. Ia duduk sendirian sambil menikmati susu kotak rasa coklat yang berada ditangannya. Setelah cukup rileks, ia mengambil ponsel di saku kemejanya guna untuk menghubungi johan, om yang ingin ia hubungi sedari tadi. Ketika masih berada di kafe, jonathan sudah mencoba menghubungi sang om tapi malah di angkat oleh sekretaris nya. Ia menyuruh jonathan mengubunginya kembali di jam 15:00, setelah mereka selesai meeting.
Jonathan menatap nanar layar ponsel yang berada digenggaman tangannya, menunggu panggilan itu terhubung ke nomor johan.
Tut tut tut.
Setelah mencoba 3 kali memanggil, akhirnya panggilan itu pun tersambung.
“Hallo selamat sore. Ini dengan siapa?” Tanya suara lelaki yang suaranya tak asing di telinga jonathan.
“Sore om. Ini Jonathan.” Sahut cepat jonathan dengan senyum haru. Akhirnya johan mengangkat panggilan darinya.
“Ohh jo. Om kira kamu siapa? Maaf banget, om baru bisa angkat telpon kamu. Om baru beres meeting.” Terang johan dengan senyum hangat diujung sana.
“Puji Tuhan, om sehat jo. Kamu gimana?”
“Jo juga sehat om. Om lagi sibuk gak? Maaf jo ganggu waktu om nih,” ujar jonathan sambil berdiri. Ia berjalan sambil menendang-nendang batu kerikil yang berada di depan kakinya.
“Gak kok jo. Om free nih. Tumben-tumbenan kamu nelpon om, ada apa? Kamu cerita sama om.”
“Iya om. Ada sesuatu yang ingin jo tanyakan sama om. Malam ini kita bisa ketemu gak? Penting soalnya.” Jonathan menggigit bibirnya pelan. Ia gelisah menunggu jawaban dari johan.
“Maaf sekali jo. Om gak bisa ketemu kamu malam ini. Om lagi di Jakarta sekarang, lagi ngurus pembukaan cafe baru om. Om seminggu di jakarta, baru 3 hari disini. 4 hari lagi baru om pulang ke Surabaya.” Jawab johan dengan nada suara yang terdengar bersalah.
Aduhh gimana ini? Gak mungkin aku ceritain semuanya lewat telpon. Mending aku nunggu om johan pulang aja, gak lama ini, cuman 4 hari lagi. Sabar jo... sebentar lagi. Batin jonathan dengan raut wajah kecewa.
“Yahh... Yaudah deh jo tunggu om pulang aja.” Akhirnya jonathan memutuskan untuk menunggu johan pulang, untuk menceritakan semuanya.
“Emang penting banget yah jo? Kenapa kamu gak ceritain lewat telpon aja.”
“Jo gak bisa ceritain lewat telpon om, kepanjangan. Nanti aja pas ketemu om jo ceritain, kalau di telpon jo gak enak nyeritainnya,” ucap jonathan sambil berjalan kearah jalan raya. ia memutuskan untuk pulang ke apartemen milik melvin.
“Yaudah, tunggu om pulang aja! 4 hari lagi ini kok. Kabarin aja kamu mau ketemunya dimana? Om siap datang.”
“Di kafe om aja. Nanti jo tunggu disana.” Jawab jonathan sambil menyetop sebuah taksi berwarna biru. Ini untuk pertama kalinya ia menggunakan taksi untuk alat transportasinya. Biasanya ia diantar jemput dengan driver keluarga.
“Ok siap. Kamu mau dibawain apa sama om?”
“Gak usah bawa apa-apa om. Ketemu om aja, jo udah bersyukur.”
“Manisnya keponakan om ini. Selalu jaga kesehatan, nurut sama orang tua. Om tutup dulu telponnya yah. Om sudah sampai dihotel tempat om nginap. Nanti malam om telpon lagi.”
“Iya om. Siap! hati-hati disana nya!” Ucap jonathan sambil menutup sambungan telpon. Ia tersenyum kearah supir taksi yang dari tadi memandang nya dari kaca spion.
__ADS_1
Beginikah rasanya naik taksi? Rasanya sama aja kayak naik mobil daddy. Sama-sama bisa mengantar ke tempat tujuan.
-
Jam 15:30 meida baru bangun dari tidur panjangnya.
“Hoammm ...” Meida menguap sambil membuka matanya perlahan. Ia dibuat bingung dengan keberadaannya sekarang. Ia melirik kearah kiri kanan, ia sama sekali tidak mengenali tempat ini. ruangan ini sangat asing baginya.
“Dimana aku? Ini sudah jam berapa?” Gumam pelan meida sambil menyingkapkan selimut yang membungkus tubuhnya.
Alhamdulillah baju ku aman. Ucap meida sambil melihat bajunya, yang masih terpasang lengkap di tubuhnya.
Aneh, kenapa aku bisa tidur di atas ranjang. Ucap meida sambil mengamati ruangan itu. Ia melihat sebuah jam yang terpasang di dinding yang tepat berada didepannya.
Yaa Allah jam setengah empat! Lama amat aku tidur, pantesan perut ku lapar. Mana belum shalat dzuhur sama ashar lagi. Kenapa sih gak ada orang yang ngebangunin aku. Omel meida sambil buru-buru turun dari ranjang. Karena pusing, meida menepuk jidatnya pelan. Ia merasakan ada sesuatu yang menempel di dahinya. Ia mengambilnya lalu membacanya.
Saya dan Dion pergi meeting ke Sidoarjo, palingan nanti jam 4 saya baru balik lagi kesini. Maaf saya ninggalin kamu sendiri, saya gak tega gangguin tidur nyenyak kamu apalagi sampai ngorok kayak gitu.
Sengaja ruangan ini saya kunci, agar keberadaan kamu aman di dalam. Biar gak ada orang jahil yang gangguin kamu.
Kalau lapar, di kulkas ada minuman dan cemilan, makanlah! Gratis ini! Saya tidak akan memungut biaya, apalagi memotong gaji kamu.
Yang anteng yah nungguin saya :) Kamu gak bisa kemana-mana sebelum saya datang.
Meida tersenyum membaca note biru dari melvin itu.
Dasarr tuan caplin, kelakuannya ada-ada aja. Di balik muka tengil dan narsis nya ternyata dia baik dan perhatian juga. Ujar pelan meida sambil meletakkan note itu di nakas yang berada disampingnya.
-
“Mom apa jonathan sudah pulang?” Tanya andress duduk disamping mommy nya yang sedang duduk di gazebo menghadap ke kolam ikan. Zaina memberi pakan ikan sambil melamun.
“Belum ko. Mommy belum liat dia dari pagi juga,” ucap zaina sambil melemparkan pakan ikan ke kolam. Andress termenung dengan jawaban sang mommy. Ia memikirkan keberadaan sang adik, yang tak mengabari keberadaannya sama sekali.
Mana mungkin jonathan menghubungiku. Lagian salah ku dulu, yang selalu mengabaikan panggilan ataupun chat dari nya. Batin andress.
“Anak itu kemana? Liburannya lama amat! Gimana sekolahnya?” Gerutu andress sambil berdiri dengan raut wajah khawatir. Ia mengambil pakan ikan lalu melemparkannya ke kolam seperti apa yang dilakukan oleh sang mommy.
“Mommy gak tahu ko. Mommy takutnya dia minggat,” ucap zaina memandang wajah andress dengan wajah sendu.
“Huss ... Mommy jangan ngomong macem-macem! Jonathan gak mungkin minggat, mana berani dia ninggalin rumah ini,” ujar andress sambil mengeluarkan ponsel di saku celananya. Ia berniat untuk menghubungi jonathan.
“Biar andress telpon dia dulu mom.” Andress menekan nama jonathan untuk melakukan panggilan padanya. Tapi panggilan itu tak terhubung sama sekali. Ia dibuat kesal oleh ulah jonathan, karena berani-beraninya ia mengabaikan telepon darinya.
“Shitt!! Gak di jawab mom.” Umpat andress dengan wajah kesal sambil menunjukkan layar ponselnya kearah sang mommy.
Apa seperti ini yang jonathan rasakan dulu? Ketika aku sering mengabaikan telepon darinya.
-
-
Bersambung
4 hari lagi jonathan ketemu johan wkwkwk
Otor sengaja up banyak, karena besok mau libur up🤭
Seperti biasa, otor kembali up hari senin🤗
Hatur nuhun buat kalian yang masih stay di novel receh ini😘
Hatur nuhun buat likenya, komentarnya, votenya, hadiahnya 🥰
__ADS_1
Selamat malam minggu🤗