
“Muhammad Jonathan Abdullah, nama yang diberikan Ustadz Zhaf pada Jo. Bagus kan ci?” Tanya Jonathan yang menggandeng tangan Meida menuju lift apartment mereka. Melvin dan Bi Ina yang berada di belakang hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar pembicaraan dua kakak beradik itu.
“Bagus Jo. Nama adalah do'a. Do'a terbaik untuk kamu.” Kekeh Meida sambil mengusap kepala adiknya yang tak berhenti berceloteh dari tadi sambil menunggu lift terbuka.
“Nama koko juga bagus Ci. Muhammad Melvin Al-Farisi, tapi sayang Nagara nya gak kebawa haha.” Tawa renyah Jonathan sambil menepuk pelan lengan Melvin yang berada dibelakangnya. Dengan percaya dirinya Jonathan malah menggandeng bahu Melvin sambil cengengesan, hingga melvin bergidik melihatnya.
“Jangan ngambek! Nanti aku tak ajarin huruf Hijaiyah. Biar koko gak micung kayak tadi. Mana diketawain anak kecil lagi, malunya itu loh.” Bisik Jonathan meledek kearah Melvin. Melvin menatap malas kearah calon adik iparnya yang tak berhenti meledeknya dari tadi. Meida malah tersenyum melihat tingkah jahil adiknya yang sedang menjahili melvin yang tak bisa membedakan antara huruf Ba Ta dan Tsa , ketika mereka belajar di bimbing oleh Ustadz Zhaf.
“Liat aja nanti! Koko pasti bisa melampaui mu! Nanti koko yang pertama kali beres Iqra 1. Jangan lupa! Abis Isya nanti jadwal belajar, akan ada guru agama yang datang ke apartemen kita. Siap-siap, jangan sampe hilang Iqra nya.” Jonathan menganggukkan kepalanya sambil mengusap hidung mancungnya. Sesekali ia melirik kearah meida sambil menaikan sebelah alisnya.
“Kalau aku tenang sih, udah bisa sampai huruf Kho. Koko masih di huruf Tsa itu aja masih sering ketuker. Banyak-banyak ngapalin ko biar cepet bisa.” Melvin membulatkan matanya malas kearah Jonathan yang dari tadi tak selesai meledeknya. Meida menepuk bahu Jonathan sambil menahan tawa.
“Jo ... jo ... kamu aja baru sampai Kho sombongnya minta ampuh. Kamu hanya beda 3 huruf dari Ko Melvin, semenit juga kekejar.” Kekeh meida sambil menepuk jidatnya. Jonathan hanya tersenyum memamerkan gigi putih rapinya kearah melvin.
“Biar memotivasi koko, supaya ngejar hapalan jonathan ci. Biar gak malu-maluin haha.” Melvin mendelikkan matanya kearah Jonathan lalu masuk kedalam lift menggandeng Bi Ina.
“Sakarep mu lah Jo. Lagian kamu dan koko masih sama-sama di iqra satu, jadi koko gak malu sama kamu!”
“Udah udah udah dari tadi ngeributin itu mulu. Mulai sekarang kalian harus rajin belajar, biar bisa baca Qur’an. Kalau kalian udah bisa baca Qur’an, mau belajar bahasa Arab pun gampang.” Bi Ina menengahi perdebatan mereka, Jonathan dengan perlahan-lahan mendekat kearah Melvin.
“Ko, gimana kita shalat nanti. Aku gak hafal bacaannya. Aku cuman hafal Bismillah, Subhanallah, Assalamualaikum, Allahu Akbar, Alhamdulillah, Inn Shaa Allah, sama Masya Allah, itu doang. Gimana dong?” Bisik Jonathan sambil memberikan list hapalan di saku kemejanya. Melvin membaca satu persatu lalu kembali berbisik ke telinga Jonathan.
“Koko juga sama. Tapi koko tadi hafal Allahumma sama Aamiin Yaa Allah, itu doang. Itu juga koko denger dari para Jama'ah yang sedang berdoa tadi.”
“Tapi tadi kata Ustadz Zhaf, kita belajar dulu, dari gerakan shalat sama bacaannya. Nanti ada guru baru yang akan mengajar kita. Nanti kita tanyain aja ke gurunya.” Jonathan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menjentikkan jarinya. Sedangkan Meida dengan santai bersandar di bahu Bi Ina.
“Iya ko. Sebelum Ustadz itu datang, kita minta ajarin dulu sama Bu Ina sama Cici Meida.”
Mereka terus berbincang sampai keluar dari lift tanpa memperhatikan segala sesuatu yang berada di sekelilingnya. Bi Ina dan Meida menuju apartemennya, sementara Melvin dan Jonathan menuju apartemen mereka. Meida mengambil kartu akses dari tasnya sambil sesekali menjawab pertanyaan yang Bi Ina lontarkan mengenai pernikahannya.
“Jaslinn... “ Panggil seorang wanita kearah meida. Meida dan Bi Ina melihat kesumber suara, begitupun dengan Jonathan dan Melvin. Mereka semua diam terpaku tak kala melihat Zaina yang sudah berdiri di belakang Bi Ina. Jonathan nampak tercengang melihat keberadaan Mommy nya yang baru ia temui lagi, setelah insiden pengusirannya minggu lalu.
“Jaslin ... Mommy ingin bicara sesuatu dengan mu Nak.” Lirih Zaina sambil memegang lengan meida erat dan tak melepaskannya. Meida berusaha melepaskan tangan itu dengan wajah pias, karena ia kaget dengan kedatangan Zaina yang tiba-tiba berada Apartemennya. Bi Ina yang berada di samping Zaina memilih memundurkan langkahnya, memberi ruang pada mereka berdua untuk berbicara.
__ADS_1
“Ko, itu Mommy!” Pekik lirih Jonathan menunjuk kearah Mommy nya dengan wajah tak suka. Jonathan berjalan lebih dulu kearah Meida di susul oleh Melvin.
“Jangan pegang-pegang ciciku!” Sewot Jonathan. Zaina buru-buru melepas pegangannya, lalu melihat kearah Jonathan dengan wajah penuh kerinduan. Sementara Melvin hanya tersenyum kaku ketika Zaina melirik kearahnya lalu ia menundukkan wajahnya. Ia bingung harus berbuat apa, antara menyapa calon mertuanya atau tidak. Karena jika dia menyapa Zaina, sudah pasti Jonathan akan marah padanya. Sementara itu meida masih terdiam dengan mata melotot.
“Jaslin ... Jonathan ... Mommy ingin berbicara sesuatu dengan kalian Nak. Mommy mohon Nak ...” Meida kembali mengumpulkan kesadarannya. Ia menatap Zaina dengan wajah dingin.
“Ada perlu apa anda kemari? Saya Meida bukan Jaslin!” Zaina menggelengkan kepalanya dengan wajah menghiba. Air mata begitu saja menetes setelah melihat respon Meida yang belum bisa menerimanya. Melihat respon meida, bi Ina melihat tak tega kearah Zaina, begitupun dengan Melvin. PR nya pun kembali bertambah, ia harus meluluhkan hati calon istrinya untuk memaafkan kesalahan orang tuanya.
“Meida jangan begitu Nak! Dia Mommy mu! Bersikaplah sopan pada orang tua mu!” Meida menggelengkan kepalanya lemah menatap Bi Ina dengan binar kekecewaan. Yah, setiap melihat Zaina rasa sakit di hatinya kembali datang, bayangan demi bayangan kembali mengingatkan pada masa-masa kelamnya.
“Orang tua Meida sudah tiada Bi! Ummah dan Abi sudah meninggal!” Teriak Meida yang membuat Zaina menangis seketika. Zaina sadar, Meida seperti itu karena ulahnya, karena rasa kecewa pada dirinya. Meida tidak bersalah, tapi dirinyalah yang bersalah. Ia paham dengan rasa kecewa yang anaknya rasakan, ia tak bisa berbuat apa, kecuali menerimanya. Bi Ina menatap kearah Melvin untuk meminta bantuannya, membantu mengatasi sikap Meida yang masih belum bisa memaafkan kesalahan orang tuanya. Ia yakin, melvin bisa meluluhkan hati calon istrinya itu. Melvin pun sadar apa yang harus dilakukannya sekarang, ia menggeser posisi berdirinya kearah Bi Ina.
“Ibu bawa Mommy Jonathan masuk dulu! Biar Melvin yang mengatasi Meida dan Jonathan!” Bisik Melvin di telinga Bi Ina. Ia lalu membawa Meida dan Jonathan ke apartemennya dengan cara menggandeng tangan keduanya.
“Kalian berdua duduklah!” Meida dan Jonathan menuruti perintah Melvin untuk duduk di sofa tanpa bicara. Melvin berdiri di depan mereka sambil melipat tangannya.
“Kalian akan seperti ini terus? Gak capek apa?” Tanya lemah Melvin sambil melepas peci yang ada di kepalanya. Jonathan dan Meida masih bungkam dengan menundukkan kepalanya.
“Meida, Jonathan, kalian adalah keluarga saya, sudah sepatutnya saya bersikap tegas seperti ini!” Suara Melvin kini lebih lirih ia mengusap rambutnya lalu menggeser meja agar tidak menjadi penghalang antara dirinya dengan Jonathan dan Meida.
“Kalian butuh waktu? Mau sampai kapan? Jika kalian terus seperti ini, masalah tidak akan pernah kelar. Percaya sama koko! Jadilah seorang pemaaf seperti Rasullullah, kita umatnya ... kita harus meneladaninya ... jangan mengotori hati kita dengan dendam dan sakit hati.” Jonathan mengalihkan pandangannya, ia menatap dalam Melvin yang kini sudah tak mengerti perasaannya. Ada binar kekecewaan yang nampak di matanya. Dengan mengepalkan tangan Jonathan langsung berdiri,
“Ko, jangan terlalu memaksa kami! Mereka yang salah, kenapa koko yang malah menyudutkan kami! Kami berdua hanya memberi mereka pelajaran, tidak lebih dari itu! Koko tak akan merasakan apa yang kami rasa,! Karena koko tak pernah berada dalam posisi kami! Koko tak akan mengerti perasaan kami! Tak akan!” Meida menyuruh Jonathan untuk kembali duduk di sampingnya, karena ia tahu adiknya sedang dalam mode marah. Ia mengusap-ngusap tangan adiknya untuk menurunkan emosinya. Untuk pertama kalinya Jonathan marah pada Melvin, ia tak bisa membendung perasaannya ketika Melvin menyuruhnya untuk memaafkan semua kesalahan kedua orang tuanya.
“Jika seperti ini, koko seperti menyalahkan kami! Menyalahkan perasaan kami! Koko sama aja seperti mereka!” Sinis Jonathan sambil menghapus air matanya. Melvin pun tahu ini konsekuensi jika ia memaksa Jonathan untuk memaafkan kesalahan orangtuanya. Walaupun hatinya merasa tak enak, ia akan terus meneruskan niatnya agar jonathan bisa membuka hatinya dan menuruti perkataannya.
“No, Jo. Koko tak bermaksud seperti itu! Koko hanya ingin kalian cepat berdamai dengan keadaan. Jika seperti ini, apa yang kalian dapatkan? Kalian malah membuat tembok pemisah antara kalian dengan orang tua kalian! Yah, kamu benar koko tak pernah merasakan berada di posisi mu, tapi koko tahu apa yang kalian rasa. Gunakanlah sedikit nurani kalian! Apa kalian tega melihat Mommy yang telah melahirkan kalian menangis mengemis ingin bertemu kalian? Jo, koko melakukan ini karena menyayangi mu, karena kamu adik lelaki koko. Koko ingin melihat kamu bahagia, dan menerima semua perlakuan yang seharusnya kamu terima dari dulu. Tak baik menyimpan rasa itu terlalu lama. Koko mohon ....” Jonathan menggelengkan kepalanya sambil kembali menghapus air matanya. Ia menatap tajam kearah melvin dengan bibir bergetar.
“Koko harus ingat! Bukan dengan bertemu mereka Jo bahagia!” ucap Jonathan dengan wajah dingin sambil berlari ke dalam kamarnya yang berada di apartemen Melvin. Ketika Melvin ingin mengejarnya, dengan sigap meida memegang lengannya dan menggelengkan kepalanya, karena ia tahu, adiknya butuh waktu sendiri.
“Saya harus apa Meida?” Ucap pelan Melvin frustasi sambil duduk kembali di kursinya.
“Biarkan dia sendiri! Dia butuh waktu! Nanti juga dia akan baik dengan sendirinya! Saya mohon kamu jangan terus memaksanya! Jika seperti itu, dia akan semakin memberontak dan menolak!” Meida menyandarkan kepalanya ke sofa sambil memejamkan matanya. Ia memikirkan jalan apa yang harus ia ambil. Ia membuka matanya ketika Melvin sudah berjongkok di depannya sambil memegang kedua tangannya. Melvin menatap Meida dengan wajah menghiba.
__ADS_1
“Meida, lihatlah! Mommy mu menangis ingin bertemu dengan kamu. Ia ingin berbicara dengan anaknya yang sudah lama menghilang. Simpan dulu rasa kecewamu, temui dia. Saya mohon ... “ Meida menghela nafasnya panjang. Ia menimbang-nimbang ucapan Melvin dengan pandangan menerawang.
“Saya takut bertemu dengan dia malah menambah rasa kecewa saya.” Melvin menggelengkan kepalanya dengan wajah yang sangat meyakinkan.
“No no no! Saya akan menemani kamu untuk menemuinya. Saya pastikan semua akan baik-baik saja. Saya janji!” Meida menatap melvin dengan wajah ragu.
“Tapi ...” Melvin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia optimis bisa meluluhkan hati meida dengan perlahan-lahan. Karena ia tahu, calon istrinya itu memiliki hati yang lembut, tak tegaan dan penyayang.
“Gak ada tapi-tapian! Dengerin saya sebagai calon suami kamu. Hargai dia yang jauh-jauh datang kesini, beri dia kesempatan untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan. Dia ibu mu, lambat laun kamu pun akan menjadi seorang Ibu. Ingat, surga kamu sekarang berada padanya, baru berada pada saya. Patuhi mereka, selagi mereka masih ada. Biar hidup kita tenang dan tentram kedepannya. Kamu ingatkan apa yang dikatakan Ustadzah Ningrum tadi?” Meida menganggukkan kepalanya dengan wajah yang masih menyimpan keraguan.
“Listen to me! Semua akan baik-baik saja! I never leave you alone! Kita akan bersama-sama menghadapinya. Believe me!” Meida mengerucutkan bibirnya lalu menganggukkan kepalanya pelan. Melvin tersenyum melihat respon meida yang mau menuruti keinginannya.
“Terima kasih telah mempercayai saya! Kita Telpon Bi Ina supaya mengantarkan Mommy mu kesini yah?” Melvin berdiri dari posisinya, lalu mengambil ponsel yang ia letakan di saku kemejanya. Setelah menelpon bi Ina tiba-tiba bell apartemennya berbunyi. Melvin membuka pintu apartemen nya lalu menyuruh Bi Ina dan Zaina masuk.
“Jonathan mana vin?” Tanya Bi Ina yang hanya melihat Meida sendirian di ruang tamu.
“Jonathan di kamar bu. Dia ngambek sama Melvin.” Jawab Melvin sambil berbisik ketelinga Bi Ina. Sementara zaina menatap wajah meida dengan mata berkaca-kaca, akhirnya ia bisa berbicara langsung dengan anaknya.
“Vin, Ibu ke kamar Jonathan dulu yah!” Pamit Bi Ina sambil berjalan menuju kamar Jonathan yang pintunya tertutup.
Melvin menggandeng Zaina untuk duduk di hadapan Meida yang masih bungkam.
“Jaslin ... Pulanglah Nak! Daddy mu sakit, dia sangat merindukanmu...”
-
-
Maaf yah otor baru up. Kemarin hp otor ilang, makanya otor gak up. Hari kemarin Masya Allah banget, udah pusing tujuh keliling mikirin hp tapi Alhamdulillah masih ada orang baik yang ngembaliin hp otor😘🤗
Terima kasih orang baik😘♥️🤗
Jangan lupa like, komen, vote, rate, sama hadiahnya ♥️♥️♥️
__ADS_1
Ntong hilap☕☕☕
Nanti otor up lagi yah🤗😘😘♥️♥️♥️