Kita Berbeda

Kita Berbeda
Kemarahan Johan


__ADS_3

 “Setelah ibu wafat, saya ikut dengan keluarga zyan yang rela mengurus saya. Di keluarga mereka saya hidup, keluarga mereka sangat menyayangi saya tanpa membeda-bedakannya. Setelah saya lulus sekolah SMA dengan biaya sendiri. Saya bertekad masuk ke keluarga Atmaja dengan sebuah dendam yang bersarang di dada, saya ingin menghancurkan keluarga itu. Zyan membantu saya masuk ke dalam keluarga itu dengan perantara Dian sepupunya, yang bekerja sebagai baby sister jaslin. Saya disana hidup menjadi seorang pelayan, yang harus siap diperintah melakukan apapun seperti budak oleh keluarga yang sangat saya benci. Kamu pasti tahu rasanya bertemu dengan orang yang sangat kita benci setiap hari? Setiap kali melihat lelaki brengsek itu, saya ingin sekali membunuhnya! Karena dia ibu saya menderita!" Johan mengepalkan tangannya ketika mengingat sosok ayah yang sangat dibencinya.


“Kenapa paman membuang jaslin? Padahal menurut cerita jonathan, paman sangat menyayanginya?” Tanya heran meida dengan pandangan tak beralih dari wajah johan.


“Anak itu seolah mencerminkan hidup saya. Walaupun hidup di rumah mewah nan megah, tapi kehadirannya tak dianggap sama sekali, dia hanya dijadikan pajangan oleh keluarganya. Saya dan dian yang mengurus bayi itu berdua tanpa campur tangan orang lain, terutama orang tuanya. Gilbert dan zaina tak ingin mengurus bayi itu. Mereka mengabaikan buah hatinya sendiri karena terlahir tak sesuai dengan keinginan mereka. Melihat bayi itu dendam saya perlahan-lahan hilang, dan yang ada dalam benak saya, adalah ingin memberi pelajaran pada mereka, karena telah menyia-nyiakan anugerah yang telah diberi Tuhan. Jaslin sama sekali tak bersalah dan berdosa, tapi keluarga itu sangat tak menginginkan kehadiran nya. Saya sangat benci dengan keluarga itu, mereka menganggap segala hal dengan sepele, mereka lebih mementingkan ego daripada nurani. Saya sengaja membawa jaslin pergi, agar mereka lebih menghargai atas segala sesuatu yang Tuhan beri.” Terang johan dengan sesekali mengusap air matanya.


“Malam itu, setelah pesta ulang tahun andress. Ketika semua orang terlelap, saya menyelinap ke kamar andress, karena kebetulan malam itu, ranjang jaslin berada dikamar andress. Dian membungkam mulut andress, sementara saya mengikat kedua kaki dan tangannya, karena andress mengetahui dan melihat perbuatan kami. Setelah keadaan benar-benar aman, saya membawa jaslin pergi ke kosan saya, yang jaraknya lumayan jauh dari kediaman atmaja, dengan bantuan zyan.


Saya sengaja minta uang tebusan pada keluarga atmaja untuk menebus jaslin. Selama seharian saya menunggu kedatangan mereka, tapi keluarga mereka tak ada yang yang datang satu pun. Mereka membiarkan jaslin dengan saya, tanpa mencari atau pun mempedulikannya. Padahal saya hanya menguji mereka, seberapa berharga jaslin dimata mereka. Tapi faktanya mereka tak menghiraukan kehadiran anak itu sama sekali. Jaslin anak yang malang, harta lebih berharga darinya. Sudah beberapa kali saya memberi ancaman pada mereka, tapi mereka meremehkan ancaman dari saya. Saya menunggu mereka hampir 24 jam, tepat jam 7 malam, saya membuang jaslin di pelantara masjid. Saya membuang dia dengan keyakinan, semoga dia menemukan kebahagiaannya, ditemukan oleh keluarga baik yang menjaga dan mencintainya dengan tulus, dan menganggap kehadirannya ada. Saya selalu berharap dia ditemukan oleh orang baik.” Terang johan sambil tersenyum getir


Degg


Ucapan Johan membuat dada Meida sesak dan berdebar seketika. Ia mecerna dengan seksama setiap perkataan johan.


Di pelantara masjid? Jam tujuh malam? Kenapa waktunya sama, ketika aku ditemukan oleh ummah dan abi di pelantara masjid itu. Yaa Allah ada apa dengan perasaan ku, kenapa tiba-tiba dadaku sesak. Batin meida sambil menekan dadanya pelan.


“Meida kamu gak papa?” Tanya bingung johan melihat wajah meida yang tiba-tiba pucat.


“Saya gak papa paman. Dada saya suka sesak jika mendengar cerita yang sedih-sedih.” Kilah meida sambil tersenyum hambar. Padahal dadanya terasa semakin sesak, dan hatinya gelisah.


Ada apa dengan anak ini? Kenapa air mukanya tiba-tiba pucat. Apa dia mengidap penyakit berbahaya? Tanya johan dalam hati. Ia lalu melanjutkan ceritanya.


“Setelah membuang jaslin, saya langsung mendapat telpon dari dian. Keluarga Atmaja sudah mengetahui ternyata saya yang menculik jaslin. Disana dian sedang disekap dan di adili, dia menjadi pancingan agar saya cepat-cepat datang kesana.”


-


Rumah keluarga Atmaja dipenuhi dengan beberapa bodyguard bawahan Gilbert dan Maxime. Mereka menunggu kedatangan johan dengan menodongkan senjata ke segala arah. Ia takut johan datang kesana dengan membawa balatentara nya, tapi nyatanya johan datang sendiri dengan wajah tegas dan beraninya. Ia tak gentar sama sekali melihat banyak orang yang mengarahkan senjata padanya.


Inilah saatnya...


Brugh ... brugh ... brak ... dug


Gilbert langsung menghajar johan, yang baru masuk keruangan itu. Johan tidak tinggal diam, ia membalas segala pukulan dari gilbert.


[Brengsek!! Dimana anak saya? Jika terjadi sesuatu dengannya, nyawa mu taruhannya!] Ancam Gilbert setelah mereka dipisahkan oleh bodyguard nya. Gilbert berdiri di dekat maxime, sedangkan johan tangan kanan dan kirinya di pegang oleh bodyguard max.


[Sejak kapan anda mengkhawatirkan putri anda tuan? Harusnya tuan senang karena saya sudah menyingkirkan nya!] Sinis johan berusaha berdiri, walaupun tangannya dipegang erat oleh kedua bodyguard max.


[Tutup mulut mu! Kamu tak berhak mengatur-ngatur hidup saya!] Teriak Gilbert yang kembali menonjok perut johan.

__ADS_1


[Jangan munafik! Bukankah keluarga ini menginginkan kepergian jaslin? Bukankah dia tak diharapkan disini? Kenapa sekarang kalian baru mencarinya, kenapa tak dari kemarin?]


[Jangan banyak omong! Dimana cucu perempuan saya hah!] Teriak maxime berjalan kearah johan. Johan menatap tajam lelaki paruh baya itu dengan perasaan benci dan dendam.


[Bukankah harta lebih berharga dari bayi itu? Saya sudah menghubungi tuan agar kemarin tuan menebusnya, saya menunggu tuan sampai tadi malam! Tapi sayang seribu sayang, kalian tak memiliki itikad baik sama sekali. Kurang baik apa saya? Memberi kalian kesempatan satu hari untuk menebusnya?] Senyum sinis johan menatap nyalang kearah gilbert dan max. Sementara di ujung sana, zaina sedang menangis dipelukan grace.


[Kau ingin memeras kami? Rakyat jelata yang ingin kaya dadakan tanpa mau kerja. Cuihh sangat menjijikkan.] Ucap arrogant Gilbert sambil meludah kearah sampingnya. Ia mengejek johan dengan air ludahnya.


[Lebih menjijikkan mana? Rakyat jelata yang masih memiliki nurani atau orang kaya yang tak memiliki hati?] Tanya sarkas johan, yang langsung membuat wajah gilbert dan max memerah.


[Cepat katakan dimana cucu saya! Atau saya laporkan kamu ke kantor polisi!] Ancam max menatap johan seperti ingin menelannya hidup-hidup.


[Dasar keluarga aneh! Ada diabaikan, sudah hilang baru dicari! Apa kalian menyesal? Apa karma Tuhan sudah membalas semua kejahatan kalian?] Kekeh johan mengejek kearah max. Sekali-kali ia menatap tajam kearah grace, dengan seringai dibibirnya.


[Jaga bicaramu! Apa tahu mu tentang keluarga kami! Jangan bicara sembarangan atau hidupmu berakhir dengan mengenaskan!] Johan semakin terkekeh dengan ancaman max, ia semakin mengejek max dengan tawanya.


[Apa kelakuan orang kaya seperti ini? Hanya bisa mengancam dan mengancam? Asal kalian tahu! Saya tahu semua kejahatan yang telah diperbuat keluarga ini!] Orang yang berada di ruang itu langsung kaget dengan ancaman balik johan.


[Bagaimana keluarga ini menelantarkan dan membuang menantunya! Hanya karena wanita itu berasal dari keluarga miskin? Apa perlu saya bocorkan rahasia kebejatan keluarga ini satu persatu ke publik? Agar semua masyarakat tahu, kedermawanan keluarga Atmaja hanyalah kedok dan topeng untuk menutupi perilaku bejatnya!] Max dibuat terkejut dengan ucapan johan, begitu pun dengan grace, wajah wanita itu tiba-tiba menjadi pucat pasi.


[Jaga ucapan mu! Atau kau akan berakhir mengenaskan!] Teriak grace yang suaranya menggema di ruang itu. Ia menatap tajam kearah johan, seperti ingin membunuh.


[Jika kau menembak saya! Kau akan semakin menyesal Tuan Max!] Sinis johan dengan tangan kanan dan kirinya diseret dan diikat keatas kesebuah besi yang berada diruang itu. Johan seperti orang pesakitan, yang akan segera dijatuhi hukuman mati.


[Apa peduli saya! Saya tak akan main-main dengan ancaman saya! Siapa kamu sebenarnya!] Max memberi kode kepada para bodyguard agar menjauh dari johan. Ia mundur beberapa langkah, lalu menodongkan pistol itu kearah jantung Johan.


[Jangan mengetahui saya! Karena kalian akan terkejut jika mengetahui kebenarannya!] Teriak johan menatap max dengan kemarahan yang berada dalam dirinya. Johan sudah menantikan saat-saat seperti ini, ia ingin sekali berhadapan langsung dengan ayah yang tak pernah mengenal dirinya selama hidupnya.


[Cepat katakan siapa kamu sebenarnya! Jika dalam hitungan ke tiga kamu tak menjawab. Peluru ini akan menebus jantung mu!] Johan tersenyum kecut, air mata tiba-tiba menetes dipipinya


[Satu!] Johan memandang wajah max dengan mata merah berkaca-kaca. Ia sangat membenci lelaki itu sampai kapanpun.


[Dua! Cepat katakan siapa kamu!] Teriak max. Yang membuat johan mengepalkan tangannya yang terikat menggantung.


[Tiga!] Max melepaskan tembakannya.


[Saya adalah anak anda lelaki pecundang!!] Teriak keras johan kearah max dengan air mata bercucuran.


Dorrr Dorr

__ADS_1


Max tak bisa menahan pelatuk itu, ia telanjur menarik pelatuknya hingga mengenai lutut dan kedua mata kaki johan.


Arrgghhh


Teriak kesakitan johan, membuat dian menangis pilu. Dian tak bisa berbuat apa-apa karena kedua tangan dan kakinya diikat, sementara mulutnya dilakban oleh gilbert.


Johan tersenyum bercampur tangis dengan wajah penuh luka, ia menatap tajam kearah max.


[Apa???] Semua orang yang berada diruang itu terlihat kaget dengan ucapan johan. Max langsung menjatuhkan pistol ditangannya. Gilbert dibuat bengong tanpa berkata-kata. Sementara wajah grace pucat bercampur panik.


[Kau puas sekarang para pecundang?? Para manusia tak memiliki nurani! Para manusia berhati iblis!] Teriak marah johan dengan suara menggelegar. Max langsung menjatuhkan tubuhnya kelantai.


[Saya adalah Johan anak dari seorang perempuan hebat bernama Lily. Wanita hamil yang kalian fitnah dan kalian usir tengah malam, akibat ulah istri muda dan ibu anda! Apa anda tahu kebenarannya! Wanita serakah dan tamak harta itu mengusir ibu saya dan mengasingkannya di tempat terpencil! Wanita iblis yang tak memiliki hati dan gila harta!] Johan menunjuk kearah grace dengan sorot mata tajamnya. Semua orang memandang kearah grace, Muka grace semakin pias dengan wajah memerah menahan malu. Kejahatan dia dikuliti didepan anaknya sendiri.


[Dan kau Gilbert! Kau hanyalah seorang perebut atas segala hal yang seharusnya milik saya! Kau hanyalah anak dari istri kedua yang ambisius dan gila harta! Jika kau sadar diri kau akan malu mengetahui semua ini!] Sinis johan menatap gilbert yang masih diam terpaku. Gilbert berusaha mencerna segala ucapan johan dengan seksama, ia menatap tajam kearah grace, menuntut penjelasan dari ibunya.


[Jo.. jo..han anak ku!] Tangis penuh penyesalan max berjalan kearah johan sambil berlutut.


[Saya bukan anak mu Tuan! Saya hidup tak memiliki seorang Ayah! Kalian telah membuang kami tanpa berperikemanusiaan! Ibu saya terlalu bodoh, mencintai lelaki seperti mu dengan setulus hatinya, walaupun dia sudah dibuang oleh mu!] Ucap tajam johan dengan air mata bercucuran. Rasa sakit dikakinya sudah tak ia hiraukan lagi, ia hanya ingin meluapkan amarahnya kepada lelaki pecundang yang bergelar ayah yang sedang berlutut didepannya.


[Kenzo tolong lepaskan tali yang mengikat tangan anak saya!] Perintah max kepada salah satu bodyguard nya.


[Tidak perlu tuan! Bukankah anda ingin membunuh saya dengan mengenaskan?] Tanya sinis johan yang mampu menampar hati max.


[Jo.. han maafkan daddy nak.] Tangis max pecah, dengan menatap johan dengan penuh rasa bersalah.


[Apa saya harus memaafkan lelaki bajingan seperti mu? Lelaki tak punya pendirian! Lelaki tak berperasaan!] Johan memalingkan wajahnya dari tatapan max, dalam hatinya ia sangat terluka mengingat segala perbuatan mereka pada ibu dan dirinya.


[Maafkan atas segala kesalahan daddy nak ... daddy mohon.]


[Saya tak punya alasan untuk memaafkan segala perbuatan anda! Berpuluh-puluh tahun anda menelantarkan kami, tanpa mencarinya! Apa anda masih pantas diberi gelar seorang ayah? Rasanya tidak! Maaf mu tak akan pernah menebus segala penderitaan kami, atas semua ulah yang keluarga mu lakukan!]


-


Maaf yah kemarin otor gak up. Kapasitas otaknya sedang menyusut wkwk


Otor up double hari ini ngelarin masa lalu johan. Biar besok ke masa pencarian meida yang sesungguhnya 🤗


Hatur nuhun buat kalian yang masih setia di novel receh ini♥️🤗

__ADS_1


Hatur nuhun buat like, komen, vote sama hadiahnya 🤗♥️


__ADS_2