Kita Berbeda

Kita Berbeda
Mamih mendukung Mu


__ADS_3

Setelah selesai mengunjungi makam ibunya yang berada di pemakaman umum yang tidak jauh dari kafe Lilychan. Johan mengajak istri dan anaknya mengunjungi cafe perdana yang dimilikinya, cafe yang ia rintis ketika awal-awal menikah dengan dian. Ia sengaja mengajak anak dan istrinya kesana, untuk melihat perjuangannya membesarkan kafe itu.


“Yah, abis dari cafe nanti kita mall yah! Jingga pengen main permainan sama abang.” Seru jingga yang berada di gendongan biru.


“Nanti di malang aja yah dek, kasihan ayah. Kondisinya belum pulih.” Bujuk lembut biru yang masih menggendong adiknya.


“Benar apa yang dikatakan abang kamu sayang. Mending abis ini kita langsung pulang aja! Besok kamu kan sekolah, kamu gak boleh kecapean.“ Dian mengelus pelan rambut putrinya, agar jingga menuruti apa yang ia tuturkan.


“Anak ayah jangan cemberut kaya gitu, jelekkk.” Kekeh Johan diatas kursi roda yang di dorong Dian.


“Yaudah setelah dari cafe ini kita ke mall dulu. Udah kamu jangan cemberut!” Putus johan dengan menggeleng kepalanya. Ia selalu kalah dengan rajukan anaknya.


“Ayah jangan maksain kondisi ayah. Biru takut ayah kenapa-napa. Jingga biar biru yang atasi nanti.” Biru memandang iba kearah Johan. Ia tahu kondisi ayahnya belum benar-benar pulih, ayah nya pura-pura sehat untuk menyenangkan hati anaknya.


“Kondisi ayah sudah pulih bang. Lihat bunda aja kondisi ayah langsung pulih.” Gombal johan melirik kearah istrinya. Wajah dian pun memerah, kedua anaknya pun tersenyum melihat wajah merah dian.


“Gombal kamu mas.” Dian mecubit pelan perut johan, yang langsung di hadiahi tawa anaknya.


“Fakta sayang.” Kekeh johan melihat wajah dian dengan binar penuh cinta. Biru mencebikkan bibirnya melihat kelakuan kedua orangtuanya.


“Ingat masih ada anak di bawah umur disini!” Dian langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah malu. Sementara johan memijit pelan hidungnya, karena aksinya dipergoki oleh kedua anaknya.


“Ayah mu bang yang mulai.” Dian mendorong kursi roda johan menuju area parkiran mobil.


“Iyaiya, maafin Ayah bun,” ucap johan mengelus pelan tangan istrinya yang berada di bahunya.


-


Tunjungan Plaza Surabaya


Salah satu mall terbesar kedua yang berada di kota Surabaya setelah pakuwon mall, yang dikembangkan dari tahun 1986. Dikutip situs resmi, Tunjungan Plaza terdiri dari enam pusat pembelanjaan. Adapun luas lantai bersih dan luas lantai yang disewakan mencapai 253.187 m2 dan 113.327 m2. Saking luasnya, tak sedikit orang yang kesasar jika tengah berada di mall yang satu ini.


Meida dan Jonathan terlihat bahagia. Setelah membeli beberapa gamis untuk bi ina. Membeli beberapa potong kaos untuk jonathan, dan membeli beberapa plat shoes untuk meida. Mereka masih memburu pernak-pernik di toko yang lain.


“Jo pakailah ini!” Meida memasang sebuah peci hitam di kepala jonathan.


“Kamu terlihat tampan dek,” Puji meida setelah melihat jonathan memakai peci itu.


“Ini apa ci?” Tanya jonathan memegang peci yang berada dikepalanya.


“Ini namanya peci. Kamu sering lihat kan kalau orang yang mau shalat suka pake ini.” Jonathan menganggukkan kepalanya dengan tersenyum setelah mendengar penjelasan dari meida.


“Oh ini namanya peci. Apa jonathan boleh memakainya walaupun jonathan belum masuk Islam?" Tanya jonathan dengan antusias.


“Boleh. Pakailah! Peci ini cici hadiahkan khusus untuk kamu,” ucap haru meida sambil mengusap lembut pipi adiknya.


“Ci, apa cici bahagia jika jo masuk islam?” Tanya tiba-tiba jonathan memandang dalam sorot mata kecokelatan meida.


“Jika jo masuk islam karena Allah, karena hati jo, dan bukan karena paksaan orang lain. Apalagi bukan karena cici. Cici sangat sangat sangat bahagia.” Tutur lembut meida menatap mata adiknya dengan penuh keharuan.


Jonathan diam terpaku mendengar jawaban dari meida. Ia mencerna dengan baik setiap apa yang meida katakan. Ia tinggal memantapkan hatinya untuk masuk Islam karena kemauan sendiri, bukan karena meida.


“Semoga Tuhan cepat-cepat memberi jalan untuk jo. Do’akan jo ci, agar jo lebih mantap memilih keyakinan jo,” ucap lembut jonathan tanpa keraguan. Meida menganggukkan kepalanya dengan binar bahagia.


“Cici selalu mendoakan yang terbaik untukmu jo.”


“Ayoo sekarang kita ke kasir! Bukannya kamu mau ke toko buku?” Jonathan menganggukan kepalanya dan mengekor di belakang meida.


Setelah selesai melakukan pembayaran di meja kasir, meida dan jonathan pergi ke toko buku yang berada di lantai atas.


-

__ADS_1


“Vin, mamih sudah ngundang gebetan kamu sama keluarganya ke acara perusahaan kita nanti. Jangan lupa kamu kenalkan dia sama mamih,” ucap Helena setelah duduk di samping melvin. Ia sengaja  datang mengunjungi melvin, setelah mengantar makan siang untuk suaminya.


“Mamih pasti tahu dari Melisa kan?” Tanya melvin menyelidik kearah helena.


“Hehe iya. Mamih tahu dari melisa.” Cengir Helena dengan wajah tanpa dosa. Melvin mencebikkan bibir pada mamihnya.


“Jangan gitu. Sebagai mamih yang baik, mamih akan mendukung setiap pilihan kamu. Asal kamu benar-benar mencintainya!” Helena menoyor kepala anaknya yang berwajah masam.


“Bukan gitu mih. Melvin malu!” Sungut melvin yang langsung mendapat kekehan dari helena.


“ Malu malu malu! Sadar dirilah kamu itu sudah tua. Biasanya juga kamu malu-maluin.” Tawa helena meledek wajah merah melvin. Melvin menatap kesal kearah mamihnya, yang memakai dress berlengan panjang berwarna hijau dongker.


“Tapi mih ... dia seorang muslim yang taat. Melvin bingung harus apa?” ucap jujur melvin yang langsung menghentikan tawa helena. Helena menatap melvin serius.


“Kamu mencintainya ko?” Tanya serius helena sambil memegang lengan melvin. Melvin hanya menganggukkan kepalanya dan langsung menunduk.


“Kamu tak salah mencintainya, karena cinta itu berasal dari Tuhan. Asal kamu mencintainya dalam jalur yang tepat. Tapi kamu harus tahu, mencintai berbeda keyakinan itu sangat sulit ko. Banyak halangannya, kalian tak akan bersatu, karena berbeda visi. Karena keyakinan kalian pun berlainan.” Tutur helena memberi pengertian pada anaknya.


“Iya mih. Melvin juga sepemikiran dengan mamih. Melvin ingin sekali menghilangkan rasa ini, tapi melvin tak bisa mih. Melvin tak bisa jauh dari dirinya. Cinta ini seakan mengikat melvin untuk tidak meninggalkannya. Melvin harus apa mih? Melvin tahu melvin pasti terluka, jika terus menyimpan perasaan ini.” Curhat melvin memegang tangan mamihnya. Helena mengetahui kerisauan hati anak nya. Ia menyandarkan kepala melvin di bahunya, lalu ia mengelus rambut anak sulungnya dengan penuh kasih.


“Vin, kamu pasti sering membaca ataupun mendengarkannya. Alkitab kita mengatakan : “Kamu boleh mencintainya, tapi jangan ambil dia dari Tuhan Nya.” Agama kita memperbolehkan jika kamu mencintainya, tapi jangan sampai kamu mengambil dia dari Tuhan nya. Jangan sampai kamu memaksa dia untuk mengikuti keyakinan mu! Mengikuti jejak mu! Karena agama kita melarangnya!” Terang Helena. Melvin mendengarkan ucapan helena dengan seksama. Pikirannya berkecamuk memikirkan berbagai kemungkinan jika hubungannya dengan meida berjalan nanti.


“Mih. Misalkan melvin berpindah keyakinan, apa tanggapan mamih?” Kata itu meluncur begitu saja dari bibir melvin. Ia menatap wajah mamihnya, menuntut sebuah jawaban. Helena dibuat terdiam dengan ucapan yang tak disangka, yang dilontarkan oleh anaknya.


“Jawab mih! Ini baru misalkan, bukan kenyatan! Gimana tanggapan mamih?” Melvin menggoyangkan tangan helena. Ia merajuk supaya mamihnya menjawab pertanyaannya.


“Mamih hanya ingin bilang. Jangan mengorbankan Tuhan mu demi cinta! Dan jangan meninggalkan Tuhan mu karena cinta! Karena cinta itu hanya sesaat vin, dia pasti meninggalkan mu. Sedangkan Tuhan, dia tak akan pernah meninggalkan mu sampai kapanpun!” Jawab helena menatap dalam wajah melvin sambil mengelus wajahnya


“Jika kamu pindah keyakinan karena mencintai dia, mamih melarang keras! Tapi, jika kamu pindah keyakinan karena kamu memang benar-benar menyakini agamanya, meyakini Tuhan nya dengan sepenuh hati, mamih mendukung mu! Selagi itu pilihan mu! Mamih tak ingin bersikap egois, mamih tak ingin mengekang kamu, karena kamu sudah besar ko. Kamu sudah bisa menentukan jalan hidup mu sendiri, kamu sudah tahu mana yang benar mana yang salah. Yang mamih inginkan, sampai kapanpun kamu jangan pernah meninggalkan mamih, jangan pernah meninggalkan keluarga besar kita. Karena kamu anak kebangaan kami, karena kamu sumber kebahagiaan kami.” Tutur helena sambil mengelus kepala anaknya. Ia berusaha rela, jika anaknya nanti menentukan jalan hidupnya sendiri. Memilih keyakinan hidup yang berlainan dengan nya. Selagi anaknya menghormati dan menghargai dirinya beserta keluarga besarnya.


“Berarti mamih tidak marah, jika melvin berpindah keyakinan dari yang melvin anut sejak kecil?” Tanya melvin kembali. Sambil menyandarkan kepalanya di pangkuan mamihnya.


“Kenapa mamih harus marah? Asal kamu benar-benar meyakininya dan jangan sampai mempermainkan nya! Harapan mamih, apapun agama yang kamu anut nanti, kamu harus tetap menghargai kami! Kamu harus tetap disamping kami! Mamih tidak ingin sampai ada perpecahan di keluarga kita. Kita harus saling menghormati dan toleransi.” Tutur bijak Helena, yang mampu mendamaikan hati melvin. Ucapan helena seakan menjadi oase di padang pasir, yang mampu menyejukan hati melvin.


“Nanti kamu kenalin wanita itu sama mamih! Biar mamih  tahu dia, mamih ingin menilai sikapnya seperti apa,” ucap helena mengungkapkan keinginannya pada Melvin.


“Mamih gak akan ngapa-ngapain dia kan?” Tanya melvin kemudian. Sambil menyelidik wajah helena.


“Tenang aja. Kamu pasti tahu kan mamih typenya seperti apa?” Kesal helena mencebikkan bibirnya kearah melvin.


“Iyaiya melvin tahu. Mamih wanita terbaik di dunia ini.” Puji melvin sambil mengangkat kepalanya dari pangkuan helena.


“Tuhh kan kamu tahu. Sekali-kali kamu ajak dia dan keluarganya makan malam di rumah kita. Mamih ingin mengenal dia lebih dekat. Mamih ingin tahu wanita seperti apa yang berhasil meluluhkan jomblo karatan seperti kamu ini hahaha.” Ledek helena sambil mengacak-ngacak rambut anaknya yang duduk disampingnya.


“Gini-gini juga aku anak mamih loh. Jangan ledekin aku terus mih.” Sungut kesal melvin mengerucutkan bibirnya.


“Yeayyy mamih bercanda kali.” Helena mencubit keras pipi anaknya, hingga melvin mengaduh kesakitan.


“Sakit mih. Nanti wajah koko iritasi, nanti ketampanan koko memudar.” Narsis melvin sambil menyugar rambutnya.


“Dihh alayy. Punya anak kayak gini amat.” Lirih pelan Helena yang masih terdengar melvin.


“Jangan ngumpat mih, kedengaran. Ngumpat nya kurang pelan.” Cebik melvin sambil menyenderkan kepalanya kembali di bahu helena. Helena dibuat terkekeh dengan ucapan anaknya. Melvin merapatkan duduknya dengan helena. Ia memegang tangan mamihnya,


“Mih, mamih tidak marah kan jika dia tak memiliki keluarga?” Tanya pelan Melvin dengan serius


“Emang kemana keluarga nya?” Tanya heran helena sambil membelakakan matanya


“Dia perantau dari bandung mih. Setelah orang tua angkatnya meninggal, dia kesini untuk mencari keluarganya. Karena menurut penuturan orang tua angkatnya, dulu mereka menemukan gadis itu di kota ini.” Jelas melvin sambil menatap wajah mamihnya dari samping.


“Terus sekarang gimana? Dia sudah bertemu dengan orang tuanya?” Tanya helena kembali.

__ADS_1


“Sebentar lagi mereka akan bertemu mih. Mereka sekarang harus saling meyakinkan, dan menerima satu sama lain.” Terang melvin mengangkat kepalanya dari bahu sang mamih.


“Kamu sudah tahu keluarga kandung dari wanita itu?” Helena memadang tajam wajah anaknya.


“Sudah mih. Tapi gadis itu yang belum tahu.” Jawab santai melvin.


“Segera pertemukan mamih dengan wanita itu! Mamih ingin sekali melihat wajahnya!"


-


“Jo udah yukk kita pulang! Belanjaan kita udah banyak nih. Cici capek muter-muter mulu.” Seru meida sambil menunjukkan belanjaan di tangannya. Jonathan mengambil semua belanjaan yang ada di tangan meida, lalu ia membawa semuanya sendiri.


“Ayuu ci. Jo juga capek. Belanja keperluan dapur nanti aja di supermarket!” ucap jonathan. Mereka berjalan bergandengan tangan, kearah pintu keluar mall itu. Ketika mereka akan sampai di pintu keluar, tiba-tiba mereka menabrak anak kecil yang sedang menangis memeluk lututnya.


“Kamu gak papa kan Dek?” Tanya meida sambil membangunkan gadis kecil itu. Gadis itu malah semakin menangis. Jonathan dan meida di buat keheranan.


“Maaf yah tadi kakak gak sengaja nabrak kamu,” Meida mengelus pelan rambut sebahu anak kecil itu lalu menghapus air matanya.


“Ayah ... Bunda ...” Tangis pecah anak itu membuat hati meida iba.


“Ayah dan bunda kamu dimana dek?” Gadis kecil itu hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


“Ci, anak ini sepertinya tersesat,” ucap Jonathan sambil mensejajarkan tingginya dengan anak itu.


“Kamu mau susu gak? Kakak punya ini buat kamu.” Jonathan mengambil susu kotak dari tote bag nya, lalu menyondorkan kearah gadis kecil itu.


“Ambilah dek, gratis ko. Kakak gak bakal minta bayaran." Gurau Jonathan. Gadis kecil itu mengambil susu kotak yang jonathan sondorkan. Meida membisikkan sesuatu ke telinga jonathan.


“Cici juga sepemikiran dengan kamu, sepertinya anak ini tersesat. Kita lapor ke ruang informasi aja, biar orang tuanya tahu keberadaan anak ini.”


“Yaudah, kita lapor kesana ci.” Jawab spontan jonathan.


“Dek ikut dengan kami yah ke ruang informasi, kita cari ayah dan bunda kamu disana.” Tutur meida dengan suara lembut sambil mengelus pelan rambut gadis kecil itu. Gadis kecil itu pun menganggukkan kepalanya.


Meida menuntun gadis itu ke ruang informasi. Sesekali ia menggendong gadis kecil itu karena terlihat kelelahan.


-


“Mas ... Jingga hilang!” Panik Dian setelah mencari anaknya ke segala arah.


-


-


Bersimbing


Like sama hadiahnya jangan pelit-pelit yah hehe


Otor udah kasih petunjuk nohh pertemuan mereka...


Kira-kira ketemu gak yah🤭😂😂


Untuk visual otor lagi cari wajah2 yang cocok dengan tokoh tersebut.


Jadi harap di tunggu yah🥰🤗


Hatur nuhun buat yang masih setia di novel amatiran ini♥️


Hatur nuhun pisan kanggo nu ntos ngalike, ka nu ngomen, ka nu masihan vote, sareng nu masihan hadiah. Hatur nuhun pisan pokok namah😘🥰


Wilujeng wengi 🤭

__ADS_1


Wilujeng bulan Desember 🤗


__ADS_2