
Zaina dan Gilbert masih menyaksikan pembicaraan Johan dan Max. Mereka ingin mencerna, apa yang sebenarnya terjadi.
[Johan ... Dimana ibu mu sekarang? Katakan pada daddy nak ... dimana ibu mu?] Tanya max sambil memegang sebelah kaki johan yang tidak tertembak. Johan hanya menangis pilu mendengar pertanyaan max.
[Apa peduli mu! Menanyakan keberadaan ibu saya? Seharusnya anda mengetahui keberadaan ibu saya karena anda adalah suaminya!] ucap johan dengan air mata bercucuran. Ia berusaha untuk berdiri dengan menompang kuat pegangan tangannya ke besi. Ia ingin mengungkap kebenaran sebelum ketidak sadaran merenggutnya.
[Pertemukan daddy dengan ibu mu nak. Daddy mohon ... Daddy ingin minta maaf atas segala kesalahan daddy.] Ratap max yang masih memeluk sebelah kaki johan. Darah terus mengalir di kaki johan, tapi ia tak memperdulikannya sama sekali.
[Terlambat! Terlambat! Sangat terlambat! Apa kau tahu! Keluarga mu sendiri yang membunuh ibu saya! Keluarga mu sendiri max! Istri muda mu!] Teriak johan penuh luka. Ia meluapkan segala isi hatinya yang menyiksanya selama ini.
[15 tahun lalu saya berdiri didepan gerbang rumah ini, ditengah deraian hujan ditengah petir menggelegar. Tapi.. Kalian tak menghiraukan keberadaan saya! Kalian malah asik berpesta riya disaat ibu saya bertaruh nyawa. 15 tahun lalu saya beranikan diri datang kesini untuk meminta bantuan mu, karena kau yang memiliki ikatan dengan kami, karena hanya kau yang kami punya. Tapi, kalian tak berbelas kasihan sedikit pun dengan rintihan tangis anak kecil yang menunggu kalian diluar dibawah derasnya hujan. Ibu saya berjuang melawan penyakit akibat dari keegoisan kalian! Apa kalian menyesal? Kalian tak mungkin menyesal, karena kalian adalah iblis-iblis berwujud manusia!] Teriak johan sambil melepas kakinya kasar dari pelukan max. Max semakin tergugu mendengar kenyataan yang johan lontarkan.
[Apa kalian tahu bertapa hancurnya saya! Ketika orang yang saya sayangi yang rela berjuang demi saya harus lebih dulu dipanggil tuhan daripada kalian! Padahal Tuhan seharusnya memgambil nyawa kalian terlebih dahulu, agar Tuhan mengadili kalian, karena kalian adalah orang-orang jahat!] Teriak marah johan dengan mata nyalang, menatap satu persatu penghuni rumah itu.
[Dan kau lelaki pecundang! Yang jadi boneka keluarga dan istri muda mu! Asal kau tahu! Wanita ini sengaja menyingkirkan ibu saya dari hidup mu, karena wanita siluman ini mengincar hartamu! Dia rela memfitnah ibu saya demi jiwa tamaknya! Tapi sangat disayangkan, kau mudah diperdaya nya, dan tak pernah sadar!] Gilbert dibuat marah dengan ucapan johan. Karena berani-beraninya ia menghina ibunya.
[Jaga bicara mu! Ibu ku tak seperti itu!] Teriak gilbert sambil mengepalkan tangannya.
[Tanyakanlah pada ibu mu! Kejahatan apa saja yang telah dia lakukan terhadap ibu saya! Saya dan ibu saya adalah korbannya! Kita tak akan pernah memaafkan segala perbuatannya! Sampai Tuhan mengadili kejahatan kalian!] Gilbert langsung menelan ludah dengan perkataan johan. Dan ia baru menyadari akan kesalahan ibunya selama ini.
[Maafkan daddy nak... maafkan atas kebodohan daddy selama ini ...] Max berusaha berdiri. Ia berhadapan dengan johan, memohon ampun.
[Maaf! Tak ada pintu maaf untuk kalian! Apalagi setelah kau menembak kaki saya. Mana ada seorang ayah yang berani menembak kaki anaknya! Kecuali seorang ayah bajingan!] Teriak johan dihadapan muka max. Ia terlanjur sakit hati, hingga rasa hormat untuk max hilang entah kemana.
[Maafkan Daddy yang tak mengenalimu. Daddy janji! Daddy akan menebus segala kesalahan daddy pada mu nak!] Max memohon kepada johan dengan wajah menghiba. Ia sungguh-sungguh sangat menyesal.
[Jangan menganggap saya anak mu! Karena kau pun tak mengenali saya sama sekali! Jadi percuma jika kau menyesal! Kau tak bisa menebus waktu mu selama 27 tahun menelantarkan kami! Jangan harap kau akan menjadi ayah saya. Saya tak punya seorang ayah! Saya sudah menganggapnya mati, setelah keluarganya mengusir kami!] Lirih tajam johan dengan suara lemah, dan napas tersengal-sengal. Ia menarik napas dalam, lalu menatap tajam max.
[Saya Johan! Memutuskan hubungan darah yang mengikat diantara kita berdua! Seiring darah yang mengalir dari kaki saya. Saya memutuskan tali darah dengan anda Tuan max, agar anda bisa hidup bahagia dengan keluarga anda! Agar saya bisa terbebas dari bayangan kekejian kalian!] Max langsung melototkan matanya. Ia kaget dengan ucapan johan. Ia tak menyangka johan akan memutuskan hubungan darah dengan nya. Dan ia pun sadar, itu semua terjadi akibat perbuatannya sendiri selama ini.
[Akhirnya kau sadar diri juga! Kembali ke tempat asal mu seperti ibu mu! Jangan mengganggu keharmonisan keluarga kami!] Sinis grace kearah johan. Wajah pucatnya kini berganti dengan wajah kemenangan.
[Tutup mulut mu grace!] Teriak marah max menatap tajam grace.
Mendengar ucapan grace emosi johan kembali memuncak. Ia menatap tajam kearah grace dengan sisa tenaganya.
[Saya bersumpah! Keluarga kalian tak akan pernah menemukan kebahagiaan! Keluarga kalian akan berantakan dan kacau! Terlalu banyak korban dari kekejian kalian! Tuhan tak akan diam! Tuhan tak pernah tidur! Demi Tuhan! Keluarga kalian akan diliputi rasa penyesalan! Keluarga kalian tak akan pernah menemui kedamaian! Semoga keluarga kalian merasakan apa yang saya dan ibu saya rasakan! Semoga kejadian itu berbalik pada kalian!] Sumpah serapah johan membuat wajah gilbert dan zaina memucat. Sedangkan max ia hanya tertunduk, meratapi kesalahan dan kebodohannya selama ini.
Johan mulai merasakan sakit disekujur tubuhnya, terutama di kaki nya. Ia menatap kearah dian.
[Lepaskan Dian!] Perintah johan menatap tajam kearah max. Max hanya menganggukkan kepalanya. Kedua bodyguard itu melepaskan ikatan yang berada ditubuh dian. Setelah ikatan itu lepas, johan meneruskan ucapannya.
[Dan satu lagi! Jangan pernah berani kalian menyentuh saya ataupun dian! Jika kalian berani, dan melaporkan saya ke polisi! Jangan salahkan, jika rahasia kalian yang selama ini ditutup-tutupi, akan saya bongkar didepan publik!” Ancam johan dengan wajah serius melihat wajah mereka satu persatu dengan suara yang semakin lemah.
[Dian, hubungi zyan untuk segera datang ke..sini.] Perintah johan dengan napas tersenggal-senggal kearah dian. Dian segera mengambil ponsel yang berada diatas meja, ia langsung menghubungi zyan.
__ADS_1
[Bertahanlah nak!] Panik max, ia akan membuka ikatan tangan johan yang menggantung dibesi. Tapi johan menolaknya, ia langsung menatap max dengan pandangan benci dan terluka.
[Jangan sen..tuh di..riku se..dikit pun de..ngan ta.. ta..ngan kotor mu! I..ibu..ku ter..lalu bodoh memikir..kan le..laki pe..cun..dang seperti mu, sam..pai ke..matian meng..hampiri..nya! I..bu ku ter..lalu bodoh.. ka..rena men..cintai le..laki tak ber..perasaan se..perti mu. A..sal kau ta..hu, ibu..ku me..nepati janji..nya untuk men..cintai..mu sam..pai akhir hayat..nya! I..bu se..tia pada..mu di..sepanjang ke..sendiri..an nya! I..bu.. ku men..ja..ga ke..su..cian per..nika..han..nya sam..pai ke..mati..an men..jemput..nya! Kau.. tahu ... ibu ku se..lalu me..nunggu mu, di..a se. lalu me..nunggu ..mu un..tuk men..jemput..nya. Dan ke..tika ting..gal ja..sadnya pun kau tak per..nah da..tang un..tuk men..jemput..nya. Ibu.. ku me..ninggal ka..rena diri..mu! Dia se..ring me..nangis un..tuk men..curah..kan kerin..duan..nya pada.. mu! A..sal kau ta..hu! I..bu ku men..cintai mu.. de..ngan se..luruh ji..wa dan raga..nya! Nik..mati..lah pe..nyesa..lan mu sete..lah ini, ka..rena kau te..lah me..nyakiti ha..ti ka..mi ber..dua!] Ucap terbata-bata johan sambil bercucuran air mata. Ia menahan sakit, sebelum ketidaksadaran merenggutnya. Ia terkulai lemas dengan kedua tangan yang menggantung dibesi.
[Johan bangun nak maafkan daddy! Jangan hukum daddy dengan seperti ini!] Tangis max sambil membuka ikatan tangan johan. Ia tak mengindahkan perkataan johan agar ia tak menyentuhnya.
[Dian apa yang terjadi dengan johan?] Tanya zyan dengan keringat bercucuran, melihat kaget kearah johan. Ia langsung membuka sebelah ikatan tangan johan dan langsung menyandarkan kepelukannya.
[Johan bangunlah! Jangan seperti ini! Yaa Tuhan kenapa dengan kakinya? Kenapa bisa seperti ini! Apa kalian menembaknya hah?] Tanya marah zyan menatap satu persatu orang yang berada di ruangan itu. Semua orang yang berada diruang itu menundukkan kepalanya. Dian langsung menyobekan kedua lengan bajunya, untuk membalut luka johan, agar darahnya tidak banyak yang keluar.
[Kalian akan menyesal telah melakukan ini pada johan! Semoga Tuhan membalas segala kejahatan kalian!] Ancam zyan dengan amarah memuncak. Ia menyangga kepala johan didadanya, sementara dian sedang membalut luka johan.
[Dan kau Tuan! Seharusnya kau mengetahui perjuangan hidup putra mu selama ini seperti apa? Dia menderita karena kau! Waktu muda dia habiskan untuk berjuang hidup dan merawat ibunya! Asal kau tahu! Dia rela menunda sekolahnya untuk mencari uang untuk biaya pengobatan ibunya! Kau tak akan tahu dan tak akan pernah tahu keadaan yang dialaminya selama ini seperti apa! Karena kau selama ini mengabaikan dan tidak mencarinya! Dan penyesalan itu akan datang, dan rasanya kau ingin mati saja! Kau pasti merasakannya tuan! Karma itu ada!] Ucap tajam zyan sambil membopong tubuh johan.
[Dian ayoo kita pergi dari sini! Johan aku mohon bertahanlah! Kau lelaki hebat! Kau mampu melakukan semua ini sendirian! Semoga mereka sadar johan!] Sindir zyan sambil berjalan keluar dari ruangan itu. Max hanya diam terpaku, ia tak bisa berbuat apa-apa, hingga ia pun jatuh pingsan.
-
“Kaki saya tertembak dan mengalami koma selama beberapa minggu. Mungkin terlalu banyak tekanan dan beban yang berada di otak saya, sampai menyebabkan saya koma. Alam bawah sadar lebih dominan menguasai saya. Tapi Tuhan belum menginginkan saya untuk mati terlebih dahulu, mungkin Tuhan ingin saya merasakan sebuah kebahagiaan. Dan Tuhan mengirimnya lewat dian, dia kebahagiaan dan hidup saya. Dia melengkapi semua kekurangan saya. Saya menikahinya setelah 3 bulan sadar dari koma. Keluarga zyan dan dia yang menjaga saya selama ini. Karena dia, saya menemukan semangat hidup.” Terang johan menangis dengan wajah berbinar. Tiba-tiba ia sangat merindukan sosok istrinya.
“Tragis sekali kisah hidup paman. Mungkin aku tidak akan bisa sekuat paman, jika berada dimasa sulit itu.” Meida mengusap air mata diwajahnya. Ia tersenyum kearah johan.
“Hanya dengan mengikhlaskan dan buang rasa dendam, hati saya merasa lebih baik meida. Untuk perkara membalas perbuatan mereka, saya serahkan pada Tuhan, karena tuhan yang lebih berhak menghukum mereka,” ucap bijak johan tersenyum kearah meida.
“Biarlah waktu yang menghukum mereka meida. Tuhan maha adil, dia pasti membalas perbuatan mereka dengan caranya!” Meida mengangguk-nganggukan kepalanya mendengar petuah dari johan.
“Buktinya, lelaki pecundang itu meninggal dalam rasa penuh penyesalan. Setelah satu tahun ia menderita penyakit batin yang tak ada obatnya. Selama satu tahun ia sakit, tapi dokter manapun tak berhasil menyembuhkannya. Hanya kematian yang mampu menyembuhkan penyakitnya.” Suara getir johan dengan pandangan menerawang ke depan.
“Iya paman, hidup itu karma! Jika kita hidup berbuat baik, pasti kembali lagi kebaikan itu pada kita. Begitupun sebaliknya.” Jawab meida dengan menghapus air mata dengan ujung hijabnya
“Benar meida. Biarkan mereka menuai atas segala perbuatan mereka pada kami.” Senyum tulus johan sambil memandang kearah lagit.
Andai ibu masih ada disini? Kebahagiaan johan pasti lengkap bu.. Lihatlah johan .. Johan menang bu, mereka kalah. Johan sangat merindukan ibu.. Batin johan lalu menatap lembut kearah meida.
“Dengan ikhlas dan pasrah, hati kita menjadi lebih baik meida.” Meida hanya tersenyum membalas ucapan johan. Ia mengalihkan pandangan dari johan, lalu menatap langit cerah yang ada diatasnya
“Benar sekali paman.”
“Meida ternyata kau disini! Mbak dan pak zyan nyari kalian dari tadi! Akhirnya mbak nemuin kalian disini.” Melisa menepuk pelan bahu meida, hingga meida terlonjak kaget. Zyan hanya tersenyum melihat ekspresi kaget meida.
“Kami disini mbak! Kami sedang ngobrol.” Jawab kesal meida sambil ngelus dadanya. Melisa hanya tersenyum dengan kejahilannya.
“Dimana pak zyan mbak?” Tanya meida sambil melihat ke sekeliling Melisa. Karena ia tak menemukan zyan.
“Dia nyari kalian kearah sana, mbak kearah sini. Kenapa mata kalian berdua sembab dengan hidung merah?” Tanya melisa menyelidik kearah mereka berdua. Meida hanya senyum mendengar pertanyaan menyelidik melisa. Sementara johan menggaruk-garuk kepalanya karena malu, karena melisa mengetahui kalau dia habis menangis.
__ADS_1
“Meida terharu dengan cerita paman louis. Lihatlah saking terharunya meida sampai menangis.” Kelakar meida sambil tersenyum menunjuk kedua matanya.
“Dasarr ... seterharu itu? Kita pulang yuk sudah sore ...” Meida menganggukkan kepalanya. Lalu menatap tak enak kearah louis.
“Tapi bagaimana dengan paman louis?”
“Kalian pulanglah lebih dulu. Saya sudah hubungi zyan agar menjemput saya disini.” Jawab johan menjawab kebingungan diwajah Meida.
“Baiklah pak, kami pulang duluan.” Pamit melisa. Ia berjalan lebih dulu meninggalkan meida.
“Paman, meida pulang dulu yah. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi.” Johan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Baik meida. Terimakasih kamu sudah mau mendengar cerita receh saya.” Gurau johan dengan tertawa.
“Tidak paman. Itu cerita yang luar biasa yang pernah saya dengar. Dengar cerita paman, saya pun sampai terbawa perasaan.” Jawab meida sambil memperbaiki hijabnya. Johan dengan tak sengaja melihat tanda lahir bulat sabit yang berada di telapak kanan meida.
Tanda itu ... meida memiliki tanda itu, tanda bulan sabit ditangannya. Tanda yang dimiliki jaslin.. Ya Tuhann ... kenapa rasanya dadaku sesak sekali, melihat tanda itu.
“Paman meida duluan.” Pamit meida. Ia langsung berjalan dan tak menyadari wajah pucat johan.
Ya Tuhan kenapa dada ku semakin sesak. Ya Tuhan apa meida itu adalah jaslin! Batin johan sambil memegang dada kirinya.
“Louis kau kenapa? Tarik napas mu secara perlahan-lahan. Jangan panik ... Tarik napas mu, keluarkan ...” Tiba-tiba zyan datang, ia menepuk-nepuk pelan bahu johan yang seperti orang kesakitan.
“Zyan tiba-tiba dada saya sakit! Setelah melihat tanda lahir meida ... sama seperti yang dimiliki jaslin huh.. huh.” Napas johan tersenggal-senggal dengan posisi masih memegang dada sebelah kirinya.
“Louis bertahanlah! Tarik napasmu! Ayolaahh.” Teriak panik zyan sambil menepuk-nepuk pelan wajah johan.
“Zyan ... saya gak kuat,” ucap lemah johan sebelum pingsan di kursi roda.
“Yaa Tuhan louis!” Zyan berlari mendorongnya kursi roda johan menuju mobilnya. Ia berniat membawa johan langsung ke rumah sakit.
-
Hampura yah kalau ada yang typo.
Sesuai janji otor, menceritakan masa lalu johan 2/3 part🤭
Sekarang johan pun sudah mengetahui tanda lahir yang ada ditangan meida. Gimana kelanjutannya wkwkwk
Hatur nuhun buat yang suka ngasih koin♥️ Hatur nuhun pisan🤗 Ditunggu kiriman koin selanjutnya wkwk🤭(Otor tak tahu diri)😁
Jangan lupa, like vote komen, sama hadiahnya(Maruk)😂
Hatur nuhun♥️♥️♥️
__ADS_1