Kita Berbeda

Kita Berbeda
Foto itu ...


__ADS_3

“Mas ... Jingga hilang!” Panik Dian setelah mencari anaknya ke segala arah. Biru yang baru saja keluar dari toilet di buat kaget dengan ucapan dian, ia langsung buru-buru berlari kearahnya.


“Serius jingga hilang bun?” Panik Biru memegang tangan dian. Matanya bergerak kesegala arah untuk mencari jingga adiknya.


“Tadi bunda ngantri beli es krim disana sama jingga, tangan jingga bunda pegang. Saat bunda bayar es krim, jingga tiba-tiba hilang. Bunda gak tahu jingga pergi kemana. Bunda sudah cari di lounge sana, tapi jingga gak ada,” terang panik dian dengan suara bergetar. Keringat bercucuran dari wajahnya, matanya berkaca-kaca memandang wajah johan.


Wajah johan merespon perkataan dian dengan tak kalah paniknya. Karena setahunya, jingga bersama dian sedari tadi. Sedangkan ia bersama biru anak sulungnya. Karena Biru orang yang mendorong kursi rodanya, sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di mall itu.


“Ya Tuhan bunda. Kenapa ceroboh seperti ini! Ayah pikir kalian bersama terus,” ucap panik johan bercampur kesal. Air mata menetes di wajah dian, ia mengkhawatirkan anak bungsunya yang hilang karena kecerobohannya.


“Maafin bunda... Jingga yah...” Tangis pecah dian dihadapan johan. Johan tak tega melihat wajah sedih istrinya, ia mengesampingkan rasa kesalnya. Johan memegang tangan dian untuk menenangkannya.


“Udah jangan nangis, jingga gak bakal hilang. Dia masih ada disini ... percaya sama ayah! Mending sekarang kita cari dia!" Seru lembut johan yang diangguki kepala oleh istri dan anaknya.


“Ayoo kita cari bun!” Ajak biru dengan wajah kalang kabut.


“Biru sama Ayah kearah sana!” Tunjuk biru kearah utara mall itu. Lalu ia menatap dian dan menunjuk kearah selatan


“Bunda kearah sana!” Dian menganggukan kepalanya cepat. Ia langsung berjalan kearah selatan, sambil mengusap airmata nya.


“Ayoo yah!” Biru mendorong kursi roda johan kearah utara. Mereka berpencar untuk mencari keberadaan jingga.


Jingga kamu dimana nak? Jangan bikin bunda khawatir seperti ini. Lirih Dian sambil mencari keberadaan jingga. Matanya bergerak tajam ke segala arah.


“Mbak, lihat anak perempuan berambut sebahu lewat sini gak?” Tanya Dian kearah wanita yang ditabraknya. Wanita itu sedang menggandeng anak laki-lakinya. Wanita itu menatap iba kearah Dian yang wajahnya berantakan karena habis menangis.


“Tidak bu. Saya tidak melihat anak ibu," ucap iba wanita itu. Dian mengucapkan terima kasih lalu pergi dari hadapan wanita itu. Ia menanyakan jingga kepada setiap orang yang ditemuinya.


Ning nong ning nong ning nong


Perhatian ... perhatian ... perhatian


Bagi bapak/ibu yang merasa kehilangan anak kecil berjenis kelamin perempuan, dengan ciri-ciri berkulit putih dengan rambut sebahu. Silahkan temui di lounge informasi di lantai 5.  Karena anak dengan ciri-ciri tersebut ada bersama kami di lantai 5.


Bagi Bapak/Ibu yang merasa kehilangan anak tersebut. Segera konfirmasi ke lounge kami, dengan menyertakan bukti.


Terima kasih


 


Setelah mendengar pengumuman tersebut. Dian, johan dan biru langsung berlari kearah lift menuju lantai 5. Mereka yakin, anak yang berada diruang informasi  itu adalah jingga.


-


Petugas keamanan mall sengaja meninggalkan mereka bertiga diruang informasi. Karena gadis kecil itu menangis jika berdekatan dengan salah satu petugas dari mall tersebut.


Jonathan dan meida duduk di kursi panjang bersama gadis kecil itu . Gadis kecil itu duduk anteng dipangkuan meida dan tak bisa ditinggal sama sekali.


“Ci, pulang yuk!” Ajak jonathan sambil melihat jam tangan pemberian Johan yang ia pakai. Meida mengelus lembut tangan jonathan. Karena ia tahu, jonathan mulai bosan dan jenuh berada diruangan tersebut.


“Tunggu dulu jo. Kita harus pastikan anak ini bertemu dengan orang tuanya. Sabar yah, sebentar lagi kok!" Bujuk meida dengan lembut. Sementara gadis kecil yang berada dipangkuannya itu tetap duduk anteng, tidak terganggu sama sekali dengan obrolan mereka.


“Jo takut orang tua anak ini lama kesini nya ci,” Rengek jonathan melihat kearah gadis kecil itu yang sedang menyedot susu coklat pemberiannya. Jonathan memanyunkan bibirnya merajuk kearah meida.


“Sabar yah ... Setelah bertemu orang tuanya kita langsung pulang!” Janji meida sambil mencubit pelan pipi jonathan yang terlihat menggemaskan.


“Yaudah, jonathan ikut cici aja.” Putus jonathan dengan wajah yang masih terlihat kesal. Meida menggelengkan kepala melihat tingkah jonathan, lalu ia memeluk pelan gadis kecil yang ada dipangkuannya.


“Siapa nama mu dek?” Tanya meida sambil merapikan rambut gadis kecil itu.

__ADS_1


“Jingga kak. Nama ku jingga.” Jawab suara lembut gadis kecil itu sambil memiringkan wajahnya kearah meida. Jonathan menyimak interaksi mereka berdua dengan seksama.


“Ohh jingga. Tadi kamu kesini sama siapa?” Timpal jonathan sambil memainkan rambut jingga. Ia menyukai gaya bicara gadis kecil itu, yang berangsur-angsur mampu menghilangkan Kekesalannya.


“Jingga tadi kesini sama Ayah, Bunda, sama Abang. Tapi jingga terpisah dari mereka.” Sahut jingga dengan suara menahan tangis. Ia langsung menyeruput susu kotaknya, agar tidak menangis lagi. Meida memandang iba kearah jingga.


“Yaudah ... kamu tunggu yah sayang, semoga orang tua mu cepat menyusul kamu kesini.” Jingga mengangguk samar. Ia turun dari pangkuan meida. Dan berdiri dihadapan meida dan jonathan. Jonathan tersenyum melihat tingkah jingga yang terlihat menggemaskan.


“Iya kak. Nama kakak berdua ini siapa?” Tanya jingga melihat jonathan dan meida secara bergantian.


“Nama kakak adalah meida, yang ini namanya kak jonathan.” Jawab meida menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk kearah jonathan.  Jingga memandang wajah jonathan dengan berbinar, walaupun matanya masih terlihat sembab.


“Kakak ini tampan sekali.” Puji jingga sambil mengedipkan sebelah matanya kearah jonathan. Jonathan dibuat tertawa oleh tingkah konyol jingga.


“Kamu bisa aja dek. Kakak emang tampan dari sana nyah haha.” Narsis jonathan sambil mengangkat kedua alisnya secara bergantian.


“Kamu tinggal dimana?” Tanya meida sambil menyentuh lembut pipi jingga. Jingga memiringkan wajahnya melihat kearah langit-langit ruang tersebut, guna untuk mengingat sesuatu.


“Aku tinggal di Malang kak, jauh dari sini. Aku kesini setelah mengunjungi makam nenek ku tadi.” Terang jingga sambil merapikan rambutnya. Meida dan jonathan saling pandang melihat kelakuan centil jingga.


“Wahh Malang, lumayan jauh. Perjalanannya sekitar 1 jam lebih dari sini.” Jawab jonathan dengan bibir membentuk huruf O. Meida memukul pelan bibir Jonathan sambil terkekeh.


“Kak jo ini seperti abang jingga. Tingginya samaan.” Jingga bergeser posisi kearah jonathan. Ia memandang wajah jonathan dalam.


“Iya kah?"


"Jingga suka sama kak jo, kak jo tampan hehe.” Jonathan tertawa dengan wajah memerah. Ia benar-benar malu, karena mendapat pujian dari anak kecil. Sedangkan meida dibuat tertawa lepas mendengar pengakuan jingga


“Ciee yang ditaksir bocah.” Ledek meida sambil menoel-noel pipi jonathan. Jonathan mencebikkan bibir kearah meida, lalu menatap gemas kearah jingga.


“Kak jo juga suka sama jingga. Kamu lucu dek.” Jonathan mencubit gemas kedua pipi jingga, yang di hadiahi wajah kesalnya.


Teriak seorang lelaki mengagetkan mereka. Mereka menoleh wajah kearah suara itu dengan membelalakan mata.


“Ayahhh.” Teriak jingga berlari kepelukan Ayahnya. Meida dan jonathan saling pandang menatap bingung kearah mereka.


“Jonathan ... meida ....” Lirih pelan johan menatap bergantian kearah mereka tanpa kedip.


“Om Johan,” ucap pelan jonathan. Biru menatap bingung kearah jonathan, lalu melihat kearah ayahnya dengan wajah penuh tanda tanya. Karena seumur hidupnya, ia baru pertama kali bertemu dengan jonathan walaupun nama itu sering ia dengar dari  kedua orangtuanya.


“Siapa mereka Yah?” Biru memberanikan diri bertanya kepada ayahnya yang masih tercengang melihat jonathan dan meida yang sedang bersama.


“Itu kakak mu biru. Ini ko jonathan, saudara mu.” Jelas johan tersenyum kearah anaknya. Johan meminta anaknya untuk mendorong kursi rodanya lebih dekat dengan jonathan dan meida. Sementara jingga berjalan dengan tangan digandeng oleh ayahnya.


“Yah, kakak ini berdua yang nolong jingga,” ucap jingga sambil menunjuk meida dan jonathan lewat lirikan matanya. Johan tersenyum kearah jonathan lalu memegang tangannya.


“Terima kasih nak. Sudah menolong anak om,” ucap tulus Johan. Meida dan jonathan menaggukkan kepalanya cepat.


“Jadi jingga ini anak om?” Tanya jonathan sambil menunjuk kearah jingga.


“Iya jo. Jingga dan biru ini anak om. Maaf baru bisa memperkenalkan mereka pada mu sekarang.”


“Jo, meida. Ini anak om paling besar namanya Biru.” Johan memperkenalkan biru kearah Jonathan dan meida. Biru tersenyum kearah mereka sambil menyondorkan tangan kanannya.


“Biru.” Jonathan membalas uluran tangan biru dengan tersenyum hangat.


“Jonathan. Senang bertemu dengan mu biru.” Biru menganggukan kepalanya. Lalu ia mengulurkan tangan kearah meida. Meida hanya menangkupkan kedua tangan didepan dadanya dengan tersenyum hangat.


“Meida.” Biru menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena meida dengan penuh hormat menolak uluran tangan dari nya.

__ADS_1


“Jonathan, biru, kalian adalah saudara. Om harap kalian bisa akur dan tak ada perselisihan sampai kapanpun. Jadilah saudara yang rukun dan saling menyayangi.” Nasihat johan kepada anak dan keponakannya.


“Baik om.” Jawab jonathan dengan mata berbinar. Biru hanya menganggukkan kepalanya.


“Jinggaaaa.” Teriak suara dibelakang mereka memanggil nama jingga.


Mereka langsung menolehkan kepala ke sumber suara itu.


“Bunda ... sini!” Teriak jingga dengan melambaikan tangannya. Agar dian cepat-cepat berjalan kearahnya. Setelah sampai di dekat jingga, dian menatap orang yang berada di sekeliling jingga satu persatu. Arah pandangannya berhenti diantara wajah meida dan jonathan. Ia menatap dalam wajah mereka secara bergantian.


“Tante dian.” Sapa jonathan tersenyum kearah dian. Lalu ia mencium tangannya. Begitu pun dengan meida, ia melakukan apa yang jonathan lakukan. Dian masih tercengang melihat wajah mereka bak pinang di belah dua.


“Ini Jonathan dan meida yang menolong jingga tadi.” Terang johan sambil menepuk pelan tangan istrinya, agar istrinya tersadar dari lamunannya. Meida dan jonathan saling pandang melihat wajah aneh dian ketika menatap mereka.


“Ehh iya. Makasih yah udah nolong anak tante.” Sahut dian setelah sadar dari lamunannya. Ia melirik sebentar kearah johan yang ditanggapinya dengan menganggukkan samar kepalanya. Johan seakan tahu apa yang ada dipikiran istrinya.


“Sama-sama tante.” Jawab mereka serempak sambil tersenyum.


“Karena jarang banget kita kumpul kayak gini. Gimana kalau kalian mampir dulu ke rumah om yang ada di Malang! Rumah om ingin sekali dikunjungi oleh kalian berdua.” Tutur antusias johan mengajak jonathan dan meida untuk mengunjungi rumahnya.


“Kejauhan om. Lain kali aja yah, mending kita makan dulu disana!” Tolak halus jonathan dengan wajah tak enak.


“Jo, om mohon. Berkunjunglah ke rumah om! Anggaplah ini permintaan selama hidup om.” Bujuk johan dengan gurat wajah memelas. Jonathan dan meida tak tega melihat wajah memelas johan.


“Iya jo, meida. Berkunjunglah ke rumah kami di Malang! Tante ingin menjamu kalian! Tante ingin mempersiapkan makan malam spesial untuk kalian, karena telah menyelamatkan putri kesayangan tante." Bujuk dian sambil mengusap tangan meida dan jonathan. Ia ingin mereka mengunjungi rumahnya, karena ada sesuatu yang ingin ia pastikan dari meida.


Meida dan jonathan saling pandang untuk mengambil keputusan. Meida mengangkat kedua bahunya, lalu dibalas jonathan dengan menganggukkan kepalanya.  Dian dan Johan menunggu jawaban mereka dengan harap-harap cemas.


“Baiklah om. Kami menerima tawaran dari om dan tante,” ucap mantap jonathan. Sontak membuat johan dan dian tersenyum haru.


“Terima kasih atas kesediaan kalian mengunjungi rumah om. Langsung berangkat aja yah. Let's go!” Seru johan dengan semangat. Ruangan itu memancarkan aura kehangatan dan kebahagiaan, seiring dengan tawa lepas mereka meninggalkan ruang informasi itu.


-


Mereka sampai di sebuah rumah mewah berlantai satu. Halaman rumah itu dikelilingi dengan berbagai macam tanaman bunga, terlihat indah dengan banyak pohon hias disekelilingnya.


“Ayoo masuk nak!” Seru dian sambil membuka pintu depan rumah itu. Jonathan masuk dengan mendorong kursi roda johan. Meida berjalan bersisian dengan biru, dan bergandengan tangan dengan Jingga. Setelah turun dari mobil tadi, jingga tak melepas pegangan tangannya sedikit pun dari meida.


“Jangan sungkan disini! Anggaplah rumah sendiri.” Ucap Johan mempersilahkan mereka duduk di sofa.


“Baik om.” Sahut jonathan berjalan menuju sofa sambil melihat desain rumah itu. Jonathan melihat foto keluarga johan dengan tersenyum. Meida dibuat kagum dengan desain ruang tamu itu yang terlihat sederhana namun elegan. Meida memperhatikan satu persatu foto yang terpajang di dinding ruangan itu. Tiba-tiba matanya menatap tajam kearah foto ukuran 10 R yang memperlihatkan seorang bayi perempuan yang sangat mirip dengan fotonya ketika waktu bayi. Bayi itu diampit oleh seorang wanita dan lelaki muda.


Foto itu ... Lirih pelan meida sambil memegang dadanya. Tiba-tiba dadanya sesak setelah melihat foto itu. Jantungnya berdetak cepat.


“Ci ... Cici gak papa kan? Heyy lihatlah wajah jo! Jawab pertanyaan jo! Jangan seperti ini!” Panik jonathan sambil mengguncang tubuh meida yang terdiam kaku menatap foto bayi itu.


-


-


Kuyylah like, komen sama hadiahnya ♥️


Untuk hari Minggu seperti biasa otor gak up yah🤗


Next up lagi hari Senin ♥️


Hatur nuhun buat reader yang masih setia di novel amatiran ♥️


Happy Weekend 🥰

__ADS_1


__ADS_2