
“Bi ina ... “ ucap meida dengan suara bergetar, memandang bi ina dengan penuh kerinduan.
“Ada keperluan apa kamu kesini?” Tanya dingin bi ina menatap meida dengan mata yang berkaca-kaca.
Wa halimah sengaja menepi dari tempat itu, ia sengaja pulang dengan diam-diam, di saat orang lain fokus menatap kearah meida dan bi ina.
“Maaf meida baru datang bi ...” Lirih meida menahan tangis, ia tak mampu melanjutkan ucapannya. Meida diam mematung ditempat, pandangannya tak beralih dari wajah bi ina.
Bi ina diam cukup lama. Hatinya berkecamuk antara bahagia bisa melihat meida, dan kecewa karena meida baru datang sekarang, setelah adib sudah lama di kuburkan. Walaupun ia sudah tahu alasan meida tak pernah memberi kabar pada nya. Zidan sudah mengutarakan alasannya kemarin sore waktu dia menjenguk nya kesini.
Bi ina menatap meida dalam,
“Masuk!” Perintah bi Ina dengan dingin. Ia masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka.
Bi ina menyuruh meida masuk, walaupun dalam hatinya kecewa, tapi ia iba melihat kondisi meida seperti itu. Hati kecilnya berkata, bahwa ia sangat menyayangi meida, walaupun banyak orang mempengaruhinya untuk membencinya.
Meida dengan di papah jonathan masuk ke dalam ruangan itu, melvin hanya bisa memantaunya dari belakang.
Setelah sampai di ruang tengah, meida dengan perlahan berjalan kearah bi ina dan bersimpuh di kakinya. Meida menangis memegang kaki bi ina.
“Maafkan meida bi, baru datang kesini ... meida gak tahu, kalau kak adib sudah pergi ... meida mengetahui dari bang Zidan yang mengatakan kepada meida ketika kami bertemu di Surabaya 3 hari lalu. Maafkan meida bi ... Karena meida, kak adib meninggal.” Ucap meida dengan isak tangis menyayat hati. Melvin dan jonathan tidak bisa membendung air matanya, begitu pun dengan bi ina, ia menyusut sudut matanya menggunakan ujung hijab instan nya.
“Kenapa kau menghindari kami meida? Apa karena kamu sudah menemukan keluarga baru disana? Sampai-sampai kau tak pernah memberi kabar pada kami,” ujar bi ina sambil melepas tangan meida di kakinya. Bi ina duduk setengah jongkok, dengan telapak kaki di lantai, menekuk menahan bobot tubuhnya.
“Demi Allah, bukan maksud meida menghindari kalian, sampai tidak memberi kabar. Tapi, ponsel meida rusak bi, meida tidak punya uang untuk mengganti nya. Ternyata hidup di kota orang tak sesuai ekspektasi meida bi, meida harus berusaha bertahan disana, walaupun sulit. Meida ingin menyerah tapi meida mengingat amanah ummah dan abi untuk menemukan keluarga meida. Maya teman sekolah meida, yang mengajak meida kerja disana, ternyata berniat menjual meida kepada lelaki hidup belang, ia ingin menjadikan meida sebagai wanita malam.Tapi Allah menolong meida dengan membuka kedok maya 30 menit sebelum ia menjual meida. Hidup meida terombang-ambing bi. Hidup meida disana menderita bi, tak ada tempat meida untuk bersandar selain Allah. Dan Allah tidak pernah membiarkan meida sendiri, Allah mengirim orang-orang baik untuk menolong meida, di saat hidup meida berada di titik terendah. Asal bibi tahu! Meida ingin pulang kesini, tapi meida tak punya uang. Mereka yang menolong meida, sampai meida sekarang tiba disini.” Meida menunjuk kearah jonathan dan melvin, menunjukkan kepada bi ina bahwa mereka yang menolong meida selama ini. Lalu meida memegang kedua tangan bi ina untuk menciumnya.
“Ternyata hidup diluar tak semudah bayangan meida bi. Maaf dulu meida tak mendengar nasihat bibi untuk tetap tinggal disini.”
“Meida ... adib mencari mu... dia menunggu mu,” ujar bi ina memegang wajah meida dan mengelusnya, air mata bercucuran di wajah bi ina.
“Kak adib adalah penyesalan terbesar meida bi. Maafkan meida yang membuatnya menunggu. Kak Adib adalah lelaki baik dan tulus. Allah sangat menyayangi nya, hingga Allah memanggilnya secepat ini. Asal bibi tahu, meida sangat menyayangi kak adib.” Meida mencium tangan bi ina dalam, ia menangis dengan wajah berada di telapak tangan bi ina.
“Kak adib sudah tenang di alam sana bi. Ia sudah menemukan kebahagiaan sejati, kenikmatan abadi," ucap meida dengan pura-pura tegar di hadapan bi ina.
“Meida bibi kehilangan adib, adib telah pergi. Bibi sendirian,” ujar bi ina dengan menangis tergugu. Meida langsung memeluk bi ina erat, lalu ia mengusap bahu bi ina lembut.
__ADS_1
“Bibi tidak sendirian, ada meida disini. Meida akan menjaga bibi. Meida janji akan selalu ada buat bibi.” Tangis bi ina semakin pecah. Meida tak bisa berbuat apa-apa selain memeluk bi ina dengan erat. Tangannya mengelus-ngelus bahu bi ina dengan pelan, agar menenangkan perasaan wanita paruh baya itu. Tangis dua wanita itu menyatu, menyayat kalbu setiap orang yang mendengarnya. Ruang tamu itu kini menjadi tempat duka, dimana banyak orang yang menangis di dalamnya.
“Kehilangan itu sangat menyakitkan meida, kehilangan adib lebih menyakitkan daripada waktu kehilangan ayahnya dulu.”
“Bi, setiap pertemuan ada perpisahan, setiap perpisahan ada pertemuan. Kita harus yakin bi! Suatu saat nanti kita pasti berkumpul lagi dengan kak adib. Meida sangat menyayangi bibi, bibi adalah salah satu orang terbaik dalam hidup meida.” Gumam meida pelan sebelum ketidak sadaran merenggut nya. Meida jatuh pingsan di bahu bi ina.
“Meidaaa!! Meidaa!! Meida bangun nak!!” Teriak panik bi ina memegang bahu meida. Lalu ia meletakan wajah meida di dadanya, menepuk-nepuk pelan pipinya. Melvin dan jonathan langsung beranjak ke arah meida.
-
-
Meida sedang beristirahat di kamar tamu yang dulu ia tepati, jika sedang menginap di rumah bi ina. Setelah di periksa oleh Dokter Wisnu yang tak lain adalah ayah dari zidan.
Setelah Dokter wisnu pergi, jonathan dan melvin menunggu meida di ruang tamu. Mereka tak berani menemui meida yang sedang beristirahat di dalam kamar.
Melvin, jonathan, dan bi ina duduk di ruang tamu dengan penuh kecanggungan. Mereka sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Suasana di ruang tamu itu mencengkam ketika bi ina menatap tajam bergantian kearah jonathan dan melvin.
“Maaf, kalian siapa nya meida?” Tanya bi ina to the point untuk mencairkan suasana tegang itu.
“Saya Melvin atasan di tempat meida kerja, dan ini jonathan lelaki yang sudah di anggap adik oleh meida.” Terang melvin memperkenalkan dirinya dan jonathan.
“Ehmm.. sebenarnya kami mengantar meida pulang kesini, karena kami tak tenang membiarkan ia pulang sendiri kesini. Dengan kondisi kesehatan yang kurang fit. Saya selaku atasan meida, merasa bertanggung jawab atas kondisinya sekarang. Saya harus memastikan keadaan meida baik-baik saja, karena ia merupakan salah satu karyawan saya. Karena itu saya mengantar nya sampai sini.” Terang melvin dengan cuping telinga yang merah, menandakan bahwa ia sedang gugup.
“Apa meida sakit?” Tanya bi ina dengan wajah panik.
“Iya bu. Meida sedang sakit dari 3 hari yang lalu. Ia sakit setelah mendapatkan kabar kematian itu. Dan dari kemarin ia memaksakan diri untuk pulang kesini.” Sahut melvin sambil memandang penuh kasih kearah bi ina.
Ternyata meida sedang sakit, pantas saja wajahnya pucat dan demam. Berarti perasaannya sama sepertiku, sama-sama terpukul atas kepergian adib. Gumam bi ina pelan.
“Kebetulan sebentar lagi magrib. Apa kalian akan bermalam disini?”
“Iya bu. Karena untuk pulang langsung ke Surabaya itu sangat tidak memungkinkan. Kami berniat untuk beristirahat disini sebentar,” ujar jonathan setelah meminum air yang disediakan bi ina.
“Maaf jika saya lancang. Apa kalian non muslim?” Tanya bi ina dengan wajah tak enak menatap mereka berdua.
__ADS_1
“Benar bu. Saya dan jonathan seorang non muslim. Kami Katholik. Kami keturunan Chinese.” Ucap melvin dengan senyum hangat. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan pertanyaan bi ina.
“Ohh Katholik. Mohon maaf, saya akan mengatakan sesuatu, walaupun saya tak enak untuk mengatakan nya. Nak melvin dan nak jonathan mohon maaf saya tidak bisa mengizinkan kalian untuk bermalam disini. Kalian bisa cari penginapan, ada villa yang tak jauh dari sini. Bukannya saya mengusir kalian, tapi ini demi kebaikan kita semua biar tidak ada fitnah. Karena pelaturan dan adat disini seperti ini nak. Kami tidak bisa memasukkan sembarang tamu ke dalam rumah.” Terang bi ina dengan wajah serba salah. Ia takut tamunya tersinggung akan ucapannya.
“Tidak papa bu. Dari awal kami berniat mencari penginapan, dan driver kami sudah mempersiapkan villa yang berada di ujung sana. Kami paham atas apa yang ibu katakan, kami tidak tersinggung sama sekali. Kami sadar, kami disini hanyalah orang asing. Kami juga takut, kehadiran kami disini meresahkan masyarakat dikampung ini.” Melvin menjeda ucapannya untuk menarik nafas.
“Kami izin tetap disini, sampai meida sadar. Boleh kan bu? Kami janji, setelah meida sadar kami akan langsung pergi. Kami hanya ingin memastikan keadaan meida baik-baik saja. Karena sebelum meida pulang kemari, ia baru saja sadar dari pingsannya selama 1 hari setelah menerima surat dari seorang lelaki, namanya kalau gak salah itu zidan. Saya sengaja menemani dia pulang kesini, Karena saya mengkhawatirkan keadaan nya.” Terang melvin sambil menatap hangat bi ina yang duduk di depannya terhalang meja.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkan meida. Hidup gadis itu sangat malang sekali. Hidup ia bahagia ketika orang tua angkatnya masih ada, ketika dia belum mengetahui statusnya bahwa dia adalah anak angkat. Setelah ia mengetahui semua itu, penderitaan demi penderitaan datang menghampirinya. Sampai ia memutuskan untuk pergi merantau ke Surabaya untuk mencari keluarga nya.” Terang bi ina menceritakan hidup meida dengan wajah sendu
“Saya juga prihatin dengan keadaan dia bu. Saya pernah mendengar dia di buang oleh keluarga nya di kota Surabaya. Apakah itu benar bu?” Tanya melvin menatap serius wajah bi ina.
“Benar. Ainun menemukan dia di pelataran salah satu masjid yang berada di kota Surabaya. Kejadian itu, ketika kami akan beristirahat untuk melaksanakan shalat isya.” Mata bi ina menerawang ke arah figura yang terdapat foto keluarga besarnya.
“Mohon maaf saya lancang. Kapan kejadian itu bu?” Tanya jonathan tiba-tiba. Ia ingin memastikan sesuatu.
“Sekitar 20 tahun lalu. Ketika kami pulang sehabis ziarah dari kota malang. Lalu kami mampir ke kota Surabaya terlebih dahulu, dan disana lah kami menemukan meida.” Jawab bi Ina panjang lebar seraya mengingat kejadian 20 tahun lalu dengan memejamkan matanya.
Jawaban bi ina membuat jonathan diam seketika.
Deg
Apa cici jaslin adalah cici meida? Seharusnya aku tidak secepat ini menyimpulkan tanpa ada bukti. Aku harus mencari bukti terlebih dahulu dengan sebanyak-banyaknya. Aku harus menanyakan kepada om johan, hanya om johan satu-satunya orang yang mengetahui ciri-ciri cici jaslin. Untuk beberapa hari ke depan, aku harus bergerak cepat, ini kesempatan ku untuk mengorek informasi tentang cici meida kepada wanita ini. Semoga wanita ini memberikan petunjuk atas semua ini. Ya Tuhan, harapan ku “Semoga cici meida adalah cici jaslin yang ku cari selama ini” Amin. Batin jonathan sambil menangkupkan tangan ke wajahnya.
Wajah lelaki ini sangat mirip dengan meida. Apa ini kebetulan? Atau memang mereka memiliki hubungan darah? Yaa Allah semoga ini salah satu petunjuk dari Mu, untuk mengungkap kebenaran ini. Ucap bi ina dalam hati menatap dalam kearah Jonathan tanpa berkedip.
-
-
Bersimbing
Kuyylah vote, like, hadiah nya♥️
Biar otor kenceng up nya🤗
__ADS_1
Hatur nuhun buat reader yang masih stay di novel receh ini🤗
Thanks ♥️