Kita Berbeda

Kita Berbeda
Ciciku hanyalah korban


__ADS_3

Bi ina mengangkat telpon dari jonathan, dengan meloudspeaknya agar melvin bisa mendengar percakapan mereka.


“Hallo bu. Ini jonathan,”


“Iya jo, ibu tahu. Ada apa nak? Tumben-tumbenan kamu nelepon ibu.” Tanya bi ina sambil meletakan ponsel didepan wajahnya.


“Bu, bisa gak ibu ke Malang sekarang? Cici meida pingsan dan kami ada di Malang,” ucap jonathan dengan nada suara panik. Bi Ina dan melvin langsung tercengang mendengar perkataan Jonathan yang berada di Malang. Bukankah malang, koa yang jaraknya lumayan jauh dari Surabaya. Bi ina mendekatkan ponsel ke bibirnya, wajahnya terlihat panik.


“Meida pingsan kenapa jo? Bibi gak tahu malang itu di sebelah mana,” ucap bi ina dengan mimik wajah sedih bercampur gelisah. Melvin menyimak obrolan mereka sambil menghentak-hentakan kakinya pelan ke lantai. Kedua tangannya menompang wajahnya.


“Nanti jo jelaskan. Sekarang ibu siap-siap, driver pribadi om johan sudah dalam perjalanan menjemput ibu.”


“Kamu sekarang dimana jo? Di rumah sakit atau dimana?” Tanya bi ina menggigit kuku tangannya.


“Jo sekarang ada di rumah om johan. Om johan dan istrinya ingin membicarakan sesuatu dengan ibu. Ini tentang jati diri cici meida.” Melvin langsung tercengang mendengar ucapan jonathan. Jika segala sesuatu yang berkaitan dengan meida, dia orang pertama yang akan pasang badan.


“Baiklah. Ibu tunggu jemputan disini.” Putus bi ina. Melvin langsung mengambil ponsel dari tangan bi ina. Bi ina di buat aneh dengan tingkah melvin, ia penasaran apa yang ingin melvin katakan pada jonathan.


“Jo, bilang ke driver pribadi om kamu, tidak usah menjemput bu ina kesini! Biar koko yang antar bu ina kesana!" ucap santai melvin sambil mengusap hidungnya. Bi ina masih duduk di samping melvin, ia belum beranjak dari tempatnya.


“Ko,bukannya koko lagi sibuk? Kami tidak ingin merepotkan koko terus. Koko sudah banyak membantu kami.”


“Siapa yang merasa direpotkan? Biar koko antar bu ina kesana. Jika berkaitan dengan meida, koko berada di garis terdepan.” Melvin tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya kearah bi ina. Bi ina geleng-geleng kepala melihat tingkah melvin, ia sadar bahwa melvin mencintai keponakan angkatnya dengan tulus.


Semoga perjuangan cinta mu tak sia-sia nak. Semoga meida perlahan-lahan bisa melupakan Adib, dan membuka hatinya untuk mu. Batin bi ina menatap kearah melvin dengan tersenyum hangat.


“Baiklah ko. Nanti jo sampaikan pada om, agar driver nya tidak perlu menjemput kesana.”


“Iya jo. Telponnya koko tutup dulu yah, koko dan bu ina otw kesana.” Melvin menyalakan layar ponsel itu.


“Baiklah ko. Hati-hati. Nanti jo sharelock yah!"


“Ok jo.” Melvin mematikan panggilan itu. Lalu ia menyondorkan ponsel itu kearah bi ina.


“Bu kita kesana sekarang! Om nya jonathan menunggu kita. Bukankah ini kesempatan yang kita tunggu?” Tanya melvin sambil berdiri dari posisinya. Bi ina mengangguk samar.


“Iya vin. Ibu dari kemarin menunggu moment ini. Tunggu ibu sebentar, ibu mau ganti baju dulu!” Bi ina memasukkan ponsel ke saku gamisnya. Lalu ia berjalan dari ruang santai itu menuju kamar pribadinya yang bersebelahan dengan kamar meida.


“Baiklah. Jangan lama-lama bu!” Melvin berjalan mengikuti langkah bi ina menuju ruang tamu di lantai satu. Ia harus memberitahu dion dan papih nya bahwa ia tak bisa balik lagi ke kantor siang ini.


“Gak akan lama vin. Bibi cuman ganti baju sama kerudung doang!” Teriak bi ina dari dalam kamarnya yang tertutup, ketika melvin sudah menuruni tangga.


Melvin langsung memberitahu dion, bahwa siang ini dia tak bisa balik lagi ke kantor. Ia meminta dion untuk mengawasi latihan anak buahnya untuk performace acara nanti. Setelah mengirim pesan pada dion, melvin langsung menghubungi papih nya.

__ADS_1


“Hallo pih.” Melvin mengawali pembicaraan di telpon.


“Iya. Ada apa nelpon papih?” Tanya heran Nagara di ujung sana.


“Pih, maaf yah! Melvin gak bisa balik lagi ke kantor siang ini,” ucap melvin dengan suara menghiba agar papihnya mengizinkan dia untuk tidak masuk ke kantor nya siang ini.


“Kenapa kamu gak balik lagi? Mau ketemuan sama cewe?” Tanya ketus Nagara. Melvin mencebikkan bibir nya, karena ia tahu papih nya tidak mudah mengizinkan jika alasannya tidak jelas.


“Emm ... bukan pih! Tapi ini urgent banget. Berkaitan dengan masa depan melvin.” Jelas melvin sambil menggigit bibir bawahnya. Nagara terkekeh mendengar jawaban anaknya.


“Masa depan opo?” Ledek nagara menahan tawa. Melvin di buat kesal dengan sikap papihnya yang kepo luar biasa.


“Ayolahh pih, ini kan hari minggu. Melvin butuh refreshing.” Rengek melvin dengan menghilangkan gengsinya. Ia bolak-balik di ruang tamu, sampai tak menyadari kehadiran bi ina dibelakangnya.


“Yaudah, papih izinin kamu gak balik lagi ke kantor siang ini. Tapi Cuma hari ini, hari berikutnya kamu always stay disini! Karena kamu disini seorang CEO, seorang pimpinan perusahaan. Jadilah teladan untuk karyawan-karyawan mu!”


“Siap pih. Melvin tutup dulu yah teleponnya! Makasih buat izin nya. Siang pih.” Melvin mengakhiri sambungan telepon di ponselnya, ia tersenyum sambil mengepalkan tangannya di udara. Karena tujuannya berhasil, untuk tidak masuk kantor siang ini.


Melvin memasukan ponselnya di saku jasnya, ia membalikkan badan kearah belakang. Melvin tak sadar bi Ina sudah di belakangnya dari tadi. Bi ina sudah melihat tingkah konyol melvin yang seperti anak-anak.


“Ehh ibu, sudah siap? Mari kita berangkat ke Malang sekarang!” Ajak melvin kearah bi ina dengan wajah memerah, ia malu pada bi Ina yang sudah melihat tingkah kekanak-kanakan nya. Bi ina hanya mengangguk lemah kepalanya, berjalan mengikuti langkah melvin.


-


“Om. Alasan apa yang paling mendasar, kenapa om membuang cici jaslin?” Tanya jonathan sambil memainkan gelas susu yang ada di hadapannya. Johan membuka matanya, melihat sekilas kearah jonathan, lalu melihat hamparan bunga yang tertiup angin.


“Om tak punya alasan. Waktu itu om hidup sendiri dengan uang yang tak memadai. Karena om hanyalah seorang pelayan di keluarga mu. Om tak bisa mengurus jaslin sendirian, om takut hidup jaslin menderita di tangan om. Karena om menculik dia bukan karena membencinya, tapi om hanya ingin memberi keluarga mu pelajaran! Niat om tak lebih dari itu, tapi takdir Tuhan di luar prediksi om.” Johan menjawab pertanyaan jonathan dengan nada getir. Ia menyesali kesalahannya di masa lalu karena telah membuang jaslin, bayi yang tak bersalah. Jonathan tersenyum getir mendengar jawaban dari om nya, hati nya tiba-tiba bergemuruh jika mengingat kelakuan keluarganya. Jonathan merubah posisi duduknya dengan menyamping kearah johan.


“Om, kenapa membuang cici jaslin di pelantara masjid? Kenapa tidak dijalanan ataupun di Panti Asuhan?” Johan tergeletak mendengar pertanyaan jonathan yang di luar nalarnya. Ia menjawab pertanyaan jonathan tanpa melihat wajahnya.


“Pikiran om dulu sangat dangkal jo. Dampak terlalu banyak menanggung beban dan sakit hati, hingga om tak pernah berpikir panjang. Yang ada dalam pikiran om hanya dendam, untuk membalas segala sakit hati yang om rasakan. Om tak pernah memikirkan dampak kedepannya seperti apa, hingga om mengorbankan jaslin, bayi yang tak bersalah. Jujur om sangat menyayangi jaslin, om tak terima melihat perlakuan mereka yang membeda-bedakan jaslin. Hati om sakit jo, melihat perlakuan mereka.” Dengan suara bergetar johan menjawab pertanyaan jonathan. Ia menghapus air mata di sudut matanya. Cuaca yang cerah tiba-tiba menjadi mendung, langit yang cerah kini tertutup oleh awan. Johan melanjutkan ucapannya.


“Om marah pada keluarga mu jo. Mereka terlalu mengabaikan jaslin, tak memperdulikannya sama sekali. Waktu itu sengaja om beri ancaman pada mereka, agar mereka menebus jaslin pada om. Om menunggu itikad baik mereka selama sehari semalam. Tapi sayang, mereka malah mengabaikan ancaman om. Mereka tak menebus jaslin sama sekali. Padahal om tak menginginkan harta itu, om hanya menguji seberapa berharganya jaslin dikehidupan mereka. Om tak meminta apa-apa dari mereka, yang om inginkan hanya tanggung jawab mereka pada jaslin.” Johan menjeda ucapannya.


“Om seakan merasakan kekecewaan jaslin, om ingin jaslin terbebas dari sifat egois keluarga mu. Dari sana om membulatkan tekad untuk membuang jaslin, agar dia menemukan kebahagiaannya. Om sedih jika dia hidup di keluarga mu jo, cici mu tak dianggap sama sekali kehadirannya. Daddy dan mommy mu tak menginginkannya, begitupun keluarga besar mu. Jaslin hidup dalam asuhan om dan tante, hanya om dan tante yang menyayangi nya. Kehidupan jaslin sama seperti om, sama-sama tak dianggap. Om membuang jaslin dengan harapan ia menemukan kebahagiaan yang ia cari, menemukan orang yang benar-benar tulus menyayangi nya.” Johan mengusap ujung matanya menggunakan kaos yang ia pakai. Jonathan terenyuh melihat kesedihan yang terpancar di wajah johan. Tapi itu tak mengurangi rasa penasaran jonathan mengenai kehidupan cici nya. Ia ingin mengungkap penderitaan yang dialami cicinya selama ini.


“Kenapa om berpikiran seperti itu? Padahal Kenyataannya cici hidup menderita disana. Di tempat barunya, ia malah menjadi orang buangan. Bukan kebahagiaan yang ia dapatkan, tapi malah kebencian orang-orang. Cici hidup didiskriminasi atas segala hal yang bukan kesalahan nya, hidupnya jadi bualan orang lain. Masyarakat menyebutnya dengan sebutan anak haram, anak pembawa sial, anak tak jelas asal usulnya! Asal om tahu, kehidupan cici disana sangatlah keras, hidup di tempat orang yang tak menginginkan kehadiran nya.” Jawab parau jonathan dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. Johan meneteskan air matanya mendengar cerita Jonathan yang menusuk hatinya. Ia tak menyangka, kehidupan bahagia yang ingin jaslin rasakan, malah menambah jajaran luka dan penderitaan yang membekas di hati keponakan nya.


“Om tak tahu kejadian nya akan seperti itu jo. Om tak berpikir panjang, yang om harapkan, hidup cici mu lebih baik dari pada hidup bersama keluarga mu.” Lirih johan memandang wajah jonathan dengan perasaan bersalah. Jonathan menutup kedua matanya, ia membiarkan angin menerpa wajahnya yang tersimpan banyak gurat kesedihan dan kekecewaan.


“Cici hidup disana sangat menderita om. Setiap orang menjauhinya, karena berpikiran cici adalah anak hasil dari hubungan gelap yang sengaja di buang. Mereka memandang cici sebagai anak penuh sial, yang membawa kesialan pada setiap orang yang berada didekatnya.  Dia tak punya teman om, dia di bully orang-orang sekampung. Ketika orang tua angkatnya masih hidup, merekalah yang menjaga cici, merekalah yang menyayangi cici dengan tulus. Orang tua angkat cici rela di buang oleh keluarga besarnya karena merawat cici. Karena keluarga besarnya sangat tak menyukai kehadiran cici ... dia disana sangat menderita om, keluarga besar orang tua angkatnya tak menerima dia om ... mereka memandang cici dengan wajah penuh hina.” Senyum getir jonathan dengan suara pelan. Air matanya menetes dengan mata yang masih tertutup.


“Maafkan om jo! Itu semua salah om! Jika saja om tak membuang jaslin, dia tak mungkin mengalami penderitaan itu! Hidup jaslin tak mungkin menyedihkan seperti itu! Maafkan atas segala kebodohan om! Om merasa seperti orang jahat, yang menghadirkan penderitaan pada hidup orang yang om sayangi.” Lirih johan menangis sambil menundukkan wajahnya. Ia tak berani menegakkan kepalanya atas segala kesalahan yang telah diperbuatnya. Hati jonathan semakin pilu, mendengar kesedihan yang johan rasakan sekarang. Jonathan membuka matanya, ia memandang johan yang menagis sambil menunduk. Jonathan berdiri dari duduk nya berjalan kearah kolam kecil yang berada di samping johan. Ia melihat kearah langit yang sudah digelayuti oleh awan hitam, menandakan sebentar lagi akan hujan.

__ADS_1


“Yang paling membuat hati jo sakit, cici pernah tinggal di gudang terbelangkai di samping kandang ayam, tidur hanya menggunakan satu tikar dan satu bantal. Dia kedinginan setiap malam, dia kelaparan setiap hari, sampai ia pernah jatuh pingsan karena tidak makan selama tiga hari. Hidupnya dijadikan budak oleh kakak angkat nya, untuk membalas kebaikan yang telah diberikan almarhum orang tua angkatnya. Di gudang terbelangkai itu, ia memiliki mimpi untuk mencari orang tuanya, untuk mencari keluarganya. Ia ingin mengetahui alasan kenapa orang tua nya membuangnya! Apa yang akan ia rasa, jika mengetahui alasan di balik pembuangan nya? Ia pasti terluka, mengetahui di keluarga nya sendiri, hidupnya pun tak diharapkan.” Tangis jonathan dengan air mata berderai. Kedua tangannya ia masukan kedalam saku celananya, wajahnya tak beralih menatap langit.


“Kita disini bisa hidup enak, makan sepuasnya, rumah mewah, uang punya, mau apa-apa tinggal beli. Tapi cici disana tidak seperti itu om ... dia disana sangat sangat menderita. Dia tak merasakan kemewahan yang Keluarga nya rasakan. Tapi ia merasakan efek kejahatan yang diperbuat oleh keluarganya. Cici jaslin ku korban om, korban dari keegoisan dan keserakahan keluarga nya sendiri.” Tangis jonathan pecah, ia mengalihkan pandangannya kearah Johan yang sedang menangis tergugu.


“Ya Tuhan, om pikir hidup jaslin akan bahagia disana. Tapi kenyataannya, dia malah samakin menderita. Om tak menyangka akan seperti itu jo. Itu semua di luar ekspektasi om,” ucap pelan johan diantara tangis nya. Ternyata bukan hanya dia saja yang menderita akibat keegoisan keluarganya, tapi jaslin pun sama. Jonathan berjalan menghampiri kursi johan.


“Jo tidak menyalahkan om, jo hanya bercerita kehidupan cici meida sebelum datang kesini. Dia lebih terluka dari siapapun. Hidup disini tak diharapkan, hidup diluar bak anak buangan. Kehidupan tak menerimanya sama sekali, kehidupan tak memberinya kebahagiaan, kehidupan pahit yang selalu ia rasakan.” Gurau Jonathan dengan suara getir. Ia mengusap pundak om nya yang sedang menangis.


“Ya Tuhan jaslin. Akibat dari perbuatan om, kamu hidup seperti ini.” Lirih Johan yang masih menundukan wajahnya. Kedua tangannya ia tangkupkan di wajahnya.


“Jo takut, jika cici meida mengetahui alasan pembuangannya, dia akan semakin terluka. Dia pasti merasa kehadirannya di dunia ini tak diharapkan. Jo takut, batin cici meida terluka semakin dalam, jika mendengar alasan ini.” Lirih jonathan pelan sambil duduk di kursinya.


“Cici meida datang jauh-jauh kesini, karena inilah alasannya! Ia ingin mengetahui fakta yang sebenarnya!” Tangis jonathan pecah sambil menundukkan kepalanya.


“Permisi pak, ada tamu. Sudah nunggu Bapak dan Mas Aden di ruang tamu!” ucap seorang wanita muda sambil menundukkan wajahnya. Ia tak berani mengangkat wajahnya, karena saking hormat pada majikannya.


“Baik ros. Saya akan segera kesana!” Asisten rumah tangga itu pun pergi dari hadapan mereka berdua. Johan mengangkat wajahnya yang terlihat memerah karena masih menangis.


“Jo kesanalah lebih dulu! Om akan menyusul!” Pinta johan sambil mengusap wajahnya yang masih menyisakan air mata.


“Baik om.” Jonathan pergi dari hadapan Johan dengan menghapus air mata menggunakan kaosnya.


-


-


Deg deg deg


Tit Tit Tit


Brakkkk


🤭🤣


Kuyylahh vote sama hadiahnya ♥️


Like sama komennya jangan lupa🤗


Ngelike gratis ini kok hehe..


Hatur nuhun yang sudah ngelike, ngomen, ngevote, sama ngasih hadiah ♥️🤗


Hatur nuhun buat yang masih setia di novel receh ini🤗♥️

__ADS_1


See you again😘


__ADS_2