Kita Berbeda

Kita Berbeda
Jonathan


__ADS_3

“Apa yang kamu lakukan pada istri saya sampai ia menangis hah! Kau ingin menculiknya? Atau ingin merasa dikasihani! Dasar gadis tak tahu diri!” Umpat seorang lelaki sambil menunjuk-nunjuk ke arah meida.


“Daddy kamu apa-apa sih! Main dorong-dorong orang sembarangan!” Delik marah zaina sambil berjalan ke arah meida. Ia membantu meida berdiri.


“Kamu gak papa meida?” Tanya zaina sambil menuntun bahu meida.


“Saya gak papa bu.” Ucap meida sambil meringis.


Meida menatap tajam lelaki yang ada dihadapannya.


“Bapak apa-apa sih! Datang-datang main dorong! Bicara baik-baik bisa kan? Dasar Temperamental!" Sewot meida dengan mendelik. Ia merasa kesal pada gilbert lelaki setengah abad yang selalu bersikap kasar padanya.


“Ckckck apa yang kamu perbuat hingga istri saya nangis hah!” Senyum sinis tak lepas dari bibir Gilbert.


“Tanya istri bapak, apa yang saya perbuat padanya!” Jawab meida dengan kesal campur emosi menjawab pertanyaan Gilbert.


“Dad bisa gak sih gak kasar! Lihat tangannya berdarah!” Zaina memperlihatkan tangan meida yang berdarah kepada gilbert, ia dibuat berang dengan sikap suaminya.


“Tapi mom ....”


“Minta maaf sekarang! Mommy gak suka sikap daddy kasar seperti itu! Semena-mena sama orang! Very hate it!" Sungut zaina dengan menatap tajam suaminya.


“Ada apa mom?” Tanya seorang lelaki yang ngos-ngosan dari arah utara. Keringat bercucuran didahinya, pertanda ia habis berlari jauh.


“Meida ...” Sahut pelan lelaki itu menatap meida dengan mengerutkan dahi. Karena ia dibuat bingung dengan keberadaan meida di tengah-tengah orang tua nya.


“Mas Andress ....” Jawab meida dengan mata melotot.


Ohh ... ternyata mereka satu keluarga! Orang tua kasar ini ternyata ayahnya mas andres, kenapa sifat mereka sangat berlawanan! Bathin meida menatap mereka bergantian.


“Kalian saling kenal?” Tanya zaina menatap kearah keduanya.


“Iya mom, kami saling kenal.” Sahut andress menatap meida sambil tersenyum.


“Baguslah, ko obatin tangan meida yang berdarah. Akibat ulah daddy mu!” Zaina menunjuk kearah meida, dan mendelik kearah gilbert.


Kenapa aku yang disalahkan! Padahal aku melakukan ini karena terlalu mengkhawatirkannya, yang pergi tanpa bilang-bilang! Dasarr wanita ... ingin selalu benar saja! Kenapa aku merasa bersalah setelah mendorong dan mengumpat wanita ini. Ada apa dengan hatiku. Ujar gilbert dalam hati


“Baik mom, andres bawa meida ke dalam. Mommy hutang penjelasan sama andres.” Ucap andres menatap sang mommy, hati nya bahagia karena sang mommy ada kemajuan, bisa bersikap seperti orang normal.


“Iya, nanti mommy pasti jelasin. Mommy pulang dulu yah, mommy titip meida. Meida ibu pulang dulu yah...” Pamit zaina kepada andres dan meida, tanpa memperdulikan suaminya, ia meninggalkan samg suami yang masih dibuat kaget dengan perilaku marah zaina.


“Iya bu silahkan, hati-hati di jalan.” Jawab meida, sebelum ia dituntun andres ke ruangannya.


-


Andres sedang mengobati tangan meida dengan telaten di ruangannya di lantai 5. Ia di buat canggung karena posisi mereka berhadap-hadapan dan hanya berdua.


“Tinggal di perban yah.” Ucap andres mencairkan suasana. Meida hanya menganggukan kepala sambil meringis.


“Untuk lukanya tidak terlalu dalam, tapi pasti sedikit nyut-nyutan. Atas nama daddy, saya minta maaf yah.” Lanjut andres dengan mata sekali-kali melirik wajah meida. Ekspresi wajah andres dipenuhi rasa bersalah.


“Gak papa mas, bukan salah mas. Lagian saya gak papa kok.” Sahut meida sambil memperhatikan lengannya yang diperban andres.


“Saya baru kali ini melihat mommy sama bicara banyak, berkat kamu," ujar andres dengan tangan memasang perban.


“Emang biasanya ibu mas kenapa?” Tanya meida melirik sebentar wajah andres.


“Biasanya mommy jarang bicara, kalau diajak bicara pun dia malah melamun, kesannya kayak kita bicara sendiri. Dan baru saya liat mommy tadi bisa seterbuka itu, apalagi pada orang baru. Jujur saya bahagia melihat perkembangan mommy seperti tadi, bisa bicara banyak, bisa marah-maraj, saya sangat bersyukur. Terima kasih meida,” ucap andres menyebut nama meida tanpa embel-embel.


“Saya tidak melakukan apa-apa mas, mungkin kita sama-sama nyaman aja. Apalagi kita sama-sama perempuan.”


-


-


“Heii ... jangan nangis mulu, malu sama umur. Nohh ... anak kecil aja gak nangis,” ujar seorang lelaki tinggi yang masih memakai seragam SMA, menunjuk kesalah seorang anak kecil yang berlarian di pinggir danau.

__ADS_1


Keadaan danau yang sudah sore hari, sehingga jarang pengunjung yang mengunjungi danau buatan tersebut.


“Minum susu dulu nih, nanti nangisnya di lanjut. Setidaknya nangis itu butuh nutrisi.” Lanjut lelaki itu sambil menyondorkan susu kotak rasa coklat.


“Makasih.” Ucap meida sambil mengambil susu kotak itu.


Susu coklat susu favorit meida, ternyata mereka mempunyai kesamaan yang sama. Sama-sama suka susu coklat.


“Sama-sama”


“Kamu anak sekolah mana?” Tanya lelaki itu sambil melihat kearah meida. Dia berpikir meida seumuran dengan nya, karena melihat tubuh meida yang mungil dan berwajah imut.


“Saya sudah tua dek,” Jawab meida dengan senyum kecut kearah lelaki tersebut.


“Masasih?? Kamu jangan bohong, umur gak bisa bohongi muka," ucap lelaki itu dengan wajah tak percaya.


“Saya sudah lulus SMK dek, usia saya 21 tahun. Beda jauh sama adek.” Jawab meida terkekeh, melihat muka kaget lelaki tersebut.


“Maaf mbak saya kira kita seumuran, tadinya saya mau ngajakin mbak pacaran.” Jawab konyol lelaki itu dengan tawa sumbang.


“Hahaha ada-ada aja kamu dek, benerin dulu sekolah baru punya pacar.” Jawab meida menepuk pelan bahu lelaki itu.


“Saya juga butuh pacar mbak, buat jadi penyemangat saya belajar. Mbak mau kan jadi pacar saya?” Tanya konyol lelaki itu yang sontak membuat meida tertawa, dengan air mata berderai.


Wajah sembab itu kini tertawa.


“Kamu lucu dek, cari cewek yang seumuran kamu. Jangan cari yang tua dari kamu. Mbak gak tertarik sama kamu, kamu masih kecil. Kamu belajar dulu yang bener kalau mau jadi pacar mbak.” Tawa meida sambil melirik kearah wajah lelaki itu, yang menurutnya sangat menggemaskan.


“Mbak ceritanya nolak saya, aduhh baru kali ini saya di tolak cewe.” Kekehan lelaki itu yang sontak menular ke meida.


“Nama kamu siapa?” Tanya meida setelah berhenti tertawa. Lelaki ini membuatnya nyaman, sekaligus bisa membuat nya tertawa lepas. Mereka seperti dekat satu sama lain, padahal baru pertama bertemu.


“Saya Jonathan mbak, bagus kan nama saya sesuai sama orang nya. Mbak siapa?” Jawab narsis lelaki itu sambil mengedipkan mata.


“Saya meida. Saya panggil kamu Jo aja yah biar simple. Kenapa jam segini kamu masih disini, kenapa gak pulang? Gak baik anak sekolah berkeliaran.” Tanya meida menatap wajah jo, ia langsung menerawang ke hamparan danau yang terbentang.


Kenapa orang yang ku temui disini, banyaknya bermata sipit? Apakah ini kebetulan? Dari mulai mbak melisa, mas andress, lelaki rese itu, dan sekarang jonathan. Tanda-tanda apa ini? Pikir meida


“Kenapa gak kamu utarakan masalahmu sama orang tua mu jo? Pasti mereka akan membantu mu!"


“Entahlah saya bingung mengutarakannya mbak. Mommy saya psikisnya terganggu, daddy saya sibuk dengan dunianya sendiri, kakak saya fokus mencari keberadaan cici saya yang hilang, dan saya hanya disuruh fokus untuk belajar. Saya bingung mau mengungkapkan masalah saya pada siapa mbak." ucap jonathan menatap ke atas, ia menahan air matanya agar tak berjatuhan. Di relung hatinya terdalam dia sangat kesepian, ia membutuhkan sosok yang mau mendengarkan keluh-kesahnya.


“Yang sabar, kamu anak kuat! Kamu anak hebat! Kamu bisa berbagi masalah mu dengan mbak, mbak siap kok jadi pendengar yang baik buat kamu." Senyum meida memegang bahu jonathan.


“Makasih mbak.” Jawab jonathan tersenyum ke arah meida.


-


-


“Meida kamu kemana aja? Aku tungguin seharian di cafe gak ada. Aku tanyain ke temen kamu katanya kamu berhenti kerja, maka nya aku langsung kesini.” Ucap melisa nyelonong masuk ke dalam kosan meida yang pintunya terbuka.


“Iya mbak, aku udah berhenti dari 2 hari yang lalu.” Jawab meida dengan wajah murung.


“Kok bisa?” Tanya melisa memandang sayu kearah meida.


“Biasalah mbak, ada kesalahpahaman gara-gara aku gak masuk 1 hari.” Terang meida dengan wajah menunduk.


“Perusahaannya gitu amat? Harusnya ada toleransi nya!  Emang kenapa sampai kamu gak masuk?”


“Aku jagain seseorang di rumah sakit, karena dia menolong aku mbak. Tapi orang itu malah pergi setelah aku tinggal sebentar. Padahal aku belum ucapin terima kasih sama dia.” Terang meida dengan wajah berkaca-kaca.


Koko kamu harus tanggung jawab! Karena menjagamu meida sampai di pecat. Kenapa aku gak rekomendasiin meida supaya bekerja di perusahaan koko aja. Ide bagus, bikin kejutan buat koko ahh, biar ia senam jantung. Ujar melisa dalam hati dengan wajah berbinar.


“Yang sabar yah meida, Tuhan pasti ganti pekerjaan mu dengan yang lebih baik.” Melisa tersenyum memegang tangan meida.


“Semoga saja mbak.”

__ADS_1


“Gimana kalau besok kamu kerja di kantoran meida?” Sahut melisa sambil duduk di karpet bulu, yang di hamparkan meida.


“Mana ada kantoran yang mau nerima aku mbak. Aku hanya lulusan SMK bukan lulusan universitas ternama.” Ucap meida dengan wajah lesu.


Ia lalu pergi ke dapur mengambil minum dan cemilan untuk melisa.


“Gak papa, yang penting punya skill, lulusan mana nya gak jadi masalah. Kamu mau kan?” Tanya melisa menatap dalam wajah meida, ia menunggu jawaban yang akan diutarakan meida.


“Mau mbak, tapi aku minder mbak.” Meida duduk di samping melisa.


Yesss. Sorak hati melisa sambil mengepalkan tangan.


“Jangan minder harus percaya diri! Kamu besok datang aja ke perusahaan Shinwa Nagara Corp. Disana katanya sedang buka loker gede-gedean. Semoga hoki kamu disana.” Ucap Melisa tanpa menyebutkan bahwa perusahaan shinwa adalah milik keluarganya, yang di kelola papih dan kokonya.


“Shinwa?? Perusahaan besar itu?? Aku gak mungkin bisa masuk kesana mbak. Kualifikasi nya ketat banget!”


“Coba aja, aku punya kenalan kok disana jangan takut gak masuk. Bilang aja sama HRD nya referensi dari melisa. Mbak yakin kamu pasti masuk.” Melisa memegang tangan meida lembut.


“Yaudah aku besok mau coba mbak. Masuk enggaknya gak jadi masalah, yang penting aku udah mencobanya melamar kesana.” Jawab meida dengan mata berbinar penuh semangat.


“Good girl. Nih mbak mau ngasih ini sama kamu, kamu pasti membutuhkannya.” Ucap melisa sambil mengambil paperbag dari tasnya.


“Apa ini mbak?” Tanya meida mengambil paperbag yang disondorkan melisa di hadapannya.


“Buka aja meida.”


Meida membuka paperbag itu,


“Wahh ponsel bagus kak, harganya pasti mahal banget,” ucap meida membolak-balik kan kardus ponsel tersebut. Tapi ia meletakkan kembali di depan melisa dengan wajah sendu,


 “Mbak ... maaf, meida tak bisa menerima nya ... meida takut merepotkan mbak.”


“Enggak meida, mbak mohon ambil. Kamu menolong nyawa mbak, itu lebih berharga dari ini. Mbak mohon kamu terima yah.” Melisa menyondorkan kembali kardus ponsel itu ke hadapan meida.


“Mbak gak mau ada penolakan. Mbak ngasih ini sama kamu, agar mbak bisa menghubungi kamu, biar gampang kalau ada apa-apa. Mbak pernah bilang kan? Anggap mbak sebagai kakak perempuan kamu! Jangan sungkan sama mbak.” ujar melisa tersenyum menatap meida.


“Makasih mbak ...” ucap meida sambil memeluk melisa dengan penuh haru. Setidaknya masih ada orang yang mempedulikannya disini.


“Sama-sama. Besok kamu harus datang yah bawa lamaran nya. Nanti mbak bilang langsung sama temen mbak.”


“Iya mbak ... aku jadi terharu dengan kebaikan mbak.”


“Heh jangan gitu. Ingat meida! orang baik pasti bertemu orang baik lagi,"


-


-


Bersimbing


Finally, kira-kira meida keterima gak yah kerja di kantor melvin? gimana reaksi melvin ketemu sama meida??


Cuuuussss


.


Maaf kemaren gak up, otak author ngehank😂


Jadi author double up nih, gantiin yang kemaren.


Inn Sya Allah untuk besok, author usahakan up seperti biasanya 😊


Kuyy vote, like, comment, sama hadiahnya


Biar otak author yang pas-pasan ini semangat up nya.


Makasih buat reader yang masih stay di novel ini ♥️

__ADS_1


Di tunggu kelanjutan cerita nya😜


Hatur nuhun😘


__ADS_2