Kita Berbeda

Kita Berbeda
My Takdir


__ADS_3

“Maaf mbak, bisa gak tas saya dijadikan jaminan? Sebagai pengganti KTP?” Tanya meida setelah menghampiri meja resepsionis kembali. Ia menaruh tas selempang milik nya di meja resepsionis.


“Mohon maaf mbak, tidak bisa! Ini sudah menjadi pelaturan yang ditetapkan perusahaan. Mbak bisa kembali setelah membawa KTP. Nanti saya informasi ulang kepada bagian ketenagakerjaan, bahwa mbak tidak bisa datang karena ada kendala.” Resepsionis itu menjelaskan dengan tersenyum, ia memberikan pengertian semudah mungkin, agar meida paham.


“Jam operasional kantor ini sampai jam berapa yah mbak?” Tanya meida menjawab penjelasan resepsionis. Meida berpikir seandainya beroperasi sampai malam ia bisa kembali lagi ke kantor ini.


“Jam operasional normal mbak, dari jam 07:30 sampai jam 16:30. Jika ada lembur biasanya sampai  23:00. Setelah jam 23:00 kantor tidak beroperasi lagi. Beroperasi lagi esok harinya.” Terang resepsionis itu sambil melihat schedule kerjanya.


“Ohh.. baiklah mbak, berarti besok sana balik lagi kesini.” Akhirnya meida memutuskan untuk pulang ke kosan.


“Iya mbak.” Jawab resepsionis itu sambil menganggukkan kepala.


“Saya permisi dulu mbak, selamat siang.” Ujar meida sambil meninggalkan meja resepsionis menuju ke pintu keluar.


“Siang mbak.”


-


Di alun-alun kota, melvin sudah standby menunggu kedatangan meida. Ia masih menggunakan baju kerja, hanya jasnya yang ia tanggalkan. Dengan memakai kemeja abu-abu yang semua kancing kemejanya di buka, yang memperlihatkan dalaman kaos polos warna putih, lengan kemejanya ia gulung seperempat, dan memakai celana kain warna hitam. Walaupun penampilannya sederhana, melvin terlihat tampan dan menawan.


“Kata nya jangan ngaret, ini kamu telat. Saya sudah nunggu kamu 20 menit. Kaki saya sampai jamuran. Yang harus dipatahkan lehernya saya atau kamu?” Ucap melvin kesal melihat ke arah meida yang sedang berlari kearahnya.


“Ancamannya gak berlaku mas, itu ancaman saya bukan ancaman mas.” Sewot meida yang tak ingin disalahkan.


“Lagian saya datang terlambat karena angkotnya ngetem dulu, mana bannya kempes lagi. Dari kosan saya berangkat pukul 15:30, jadi jangan salahin saya! Salahin angkotnya!” Terang meida yang masih ngos-ngosan duduk di samping melvin tanpa menghiraukan mimik muka melvin.


“Banyak alasan! Mana bagian yang ingin saya patahkan?” ujar melvin mendelik kesal kearah meida. Ia menatap tajam ke arah leher, lengan dan kaki meida.


“Janganlah mas. Saya cuman punya satu leher, gak ada stoknya. Lagian mas gak kreatif banget pakai ancaman milik orang!” Delik malas meida melihat melvin yang sedang menatapnya.


“Bukannya gak kreatif! Otak saya terlalu berharga memikirkan ancaman konyol seperti kamu, buang-buang waktu saja.” Ucap melvin dengan wajah sinis. Padahal dalam hatinya ia bahagia bisa membuat meida kesal.


Kenapa sekarang gue suka lihat wajah kesalnya?  Wajahnya sangat menggemaskan! Gue pengen gigit pipi bapau nya itu. Tapi itu gak mungkin, yang ada leher gue patah! Ucap melvin dalam hati sambil memandang meida.


“Laga mu mas, bikin saya mual.” Ujar meida sambil memperagakan ingin muntah, sontak itu membuat melvin sadar dari lamunannya.


“Asal jangan sampai jatuh cinta aja!” Ucap enteng melvin, yang membuat meida menggelengkan kepalanya pelan.


Ckckck ternyata sifat narsis nya sudah berakar, di tambah server otaknya sudah rusak. Lelaki ini perlu di instal ulang! Biar otaknya kembali normal, mungkin badannya harus dibanting! Gumam meida pelan.


“Huueekkkk ... lama-lama duduk sama mas, bisa bikin saya ikutan gila! Mana KTP saya?? Awas KTP saya mas jadikan jaminan pinjaman di bank!” Cebik meida sambil mengadahkan tangan kanan nya kearah melvin, agar melvin memberikan KTP nya.


“Saya gak butuh KTP kamu, foto muka nya aja gak meyakinkan. Kayak orang cacingan kekurangan gizi. Orang bank nya juga mikir 2 kali, lihat foto KTP kamu itu!” Ejek melvin menyandarkan kepalanya ke kepala kursi tanpa rasa bersalah. Lalu melihat santai ke arah meida, yang sedang mengepalkan tangan.


Is mimik wajah nya lucu, di cium baru tahu rasa. Batin melvin sambil tersenyum membayangkan ekspresi wajah meida jika diciumnya.


“Lemes amat tuh mulut! Kayak gak disekolahin!” Umpat meida sambil melipat tangan diperutnya.


“Ckckck kamu oon nya kebangetan, mana ada mulut disekolahin! Makanya waktu sekolah jangan kebanyakan tidur! Kan hasilnya jadi oon kayak gini. Kasian guru-guru yang ngajarin kamu, punya murid oon kayak gini. Mubazir ilmu.” Ujar melvin bersedekap dada memiringkan tubuhnya ke arah meida.


“Mas yang oon apa saya? Mulut mas itu nyelekit bagai lambe turah. Mas itu harusnya ngumpul sama ibu-ibu PKK, sama ibu-ibu tukang kredit, biar klop! Penampilan aja yang maskulin, mulutnya feminin!” Kekesalan meida mulai memuncak, bicara dengan melvin hanya menguras emosi dan tenaga nya.Tanpa menemukan pokok pembicaraan.


Yaa Allah ... mudah-mudahan pendamping hidup ku nanti, bukan lelaki modelan kayak gini. Do'a meida dalam hati.


“Is is is itu mulut kayak cerobong asap, main cuap aja. mentang-mentang ngomong gak bayar.” Kesal melvin mendelik kearah meida.

__ADS_1


Dalam hati melvin bahagia bisa bicara panjang dengan meida, walaupun obrolannya penuh dengan umpatan kekesalan meida.


“Perasaan waktu pertama kita ketemu, mas gak semenyebalkan ini deh. Kok sekarang mulut mas kayak cerobong asap kereta. Udah bawel, ngomong nya nyelekit, nyebelin! Giliran ngadapin preman langsung KO.!” Cibir meida dengan tersenyum sinis.


“Gimana saya mau menyebalkan, tiba-tiba liat wanita minta bantuan, mana wajahnya melas mau nangis lagi. Saya pikir awalnya kamu itu kaum dhuafa yang kecopetan. Ehh ternyata wanita korban penipuan teman satu kampung nya, untung sampai gak di jual sama om-om.” Sinis melvin menjawab cibiran meida.


Lelaki ini ternyata tak mau kalah, mungkin dia keturunan jin ifrit.


“Mas jangan bahas itu, mau saya tampol mulut mas?” Delik kesal meida karena merasa diingatkan dengan kejadian kelamnya beberapa bulan lalu.


“Apa salah saya? Main tampol-tampol aja! Muka saya ini baru normal, jangan diperjelek lagi dengan hasil karya tanganmu itu! Biaya Operasi plastik itu mahal, gak kayak operasi kutil! Lagian kamu ngapain buat saya kesal?” ucap melvin melirik tajam meida.


Siapa yang dibikin kesal, siapa yang marah! Benar-benar harus di kasih pelajaran! Batin meida


“Siapa yang mau nampol mas pakai tangan?” Ucap meida sambil memukul-mukul bangku besi dengan gagang sapu injuk, yang kebetulan ada di samping kursinya.


Melvin dibuat kelimpungan, ia memandang meida dengan wajah pias. Tanpa memakai bantuan apapun, meida mampu menanggalkan 4 gigi preman hingga ompong, belum ekor pantat mereka pada patah. Apalagi ini, bisa-bisa pergelangan kaki melvin pindah ke lutut.


Melvin mulai panik, bola matanya mengarah ke segala penjuru tempat untuk menemukan sebuah solusi.


Yaa Tuhann, gue membangunkan singa yang sedang tidur. Bahaya ... bahaya ... bahaya! Siaga satu, harus waspada! Ucap melvin dalam hati.


“Saya Oi, cinta damai. Saya harap kita bisa berdamai untuk hari ini, setelahnya terserah kamu. Jangan pakai kayak beginian bahaya gak seni,” ujar melvin sambil mengambil gagang sapu secara perlahan dari tangan meida. Tapi meida malah mengibaskan tangannya.


“Seni mata mu! Ku colok mata mu itu! Baru tau rasa! Di kasih gagang sapu aja udah keringetan, gimana kalau di kasih golok, kayaknya udah pingsan duluan hahaha. Bibirnya aja yang lemes, nyalinya cuman seujung kuku!. Makanya nyali nya dulu digedein, baru mulut lemesnya. Biar gak malu-maluin! Sekalian besok pake rok aja hahaha” Ejek meida menatap sinis ke arah melvin, lalu ia tertawa terbahak-bahak.


Melvin ... melvin ... sabar .... sabar ... orang sabar di sayang Tuhan. Kamu harus berpikir jernih, Jangan terpancing emosi. Beri dia waktu untuk mengejek mu. Ujar melvin sambil mengelus dada.


“Mana KTP saya?? Dari tadi gak di kasih-kasih! Jangan tahan KTP saya lagi! Atau mas mau tangan mas pindah posisi, dari kiri menjadi di kanan!” Ancam meida sambil menggulung lengan bajunya.


“Ckckck ngomong aja pengen makan, tapi gak mau modal.” Jawab meida sambil mengibaskan tangan melvin.


“Sembarangan! Kartu debit saya numpuk di dompet, Kebanyakan! Sayang gak kepake. Tenang ... saya yang tlaktir. Sekali-kali kamu harus makan makanan enak, biar tubuh mu berkembang gak bantat kayak gini. Jangan makan telor negro mulu, gak ada gizinya.” Ucap melvin sambil mengambil dompet di saku celana belakang nya, lalu memperlihatkan satu persatu kartu debit nya.


Yaa Allah ... jangan sampai darah tinggi ku kambuh lagi. Guman meida sambil memijit keningnya pelan.


“Modus mu mas, gelagat mas sudah ke baca. Mas mau ngibulin saya kan? Pake pamer-pamer segala. Palingan mas kabur setelah makan, nanti saya yang bayar!” Meida mencebik kearah melvin.


“Pikiran kamu negatif mulu, kapan positif nya! Tampang saya bukan tampang lelaki kere. Asal kamu tahu uang saya gak bakalan habis tujuh turunan delapan tanjakan. Cuman dipake buat makan mah kecil, bila perlu saya beli restoran itu buat cuci tangan.” Sombong melvin sambil membusungkan dadanya.


Sejak kapan gue jadi tukang pamer gini? Gak papa.. Sultan mah bebas! Pikir melvin


“Sombong amat! Percuma banyak uang juga, kalau suka nyusahin orang.”


“Maksud mu? Ikut dengan saya jika KTP mu ingin kembali my takdir.” Ucap melvin meninggalkan meida, agar meida mengikuti langkahnya.


“Takdir-takdir mata loh peang! Mungkin saya sedang apes ketika bertemu dengan anda!” ujar meida memegang kepalanya sambil mengikuti langkah melvin.


Aku harus ngalah, demi KTP ku kembali.


“Itu takdir kita. Jangan ngedumel mulu! Nanti kalau kamu cinta mati sama saya gimana?? Ayolah mata nya jangan melotot seperti itu, nanti keluar. Kalau keluar kamu tidak bisa melihat pangeran tampan mu ini.” Ucap melvin sambil membalikan badan menatap meida dengan senyum kemenangan.


“Yaa Allah ... Aku bisa gila!!!” Teriak meida frustasi.


 

__ADS_1


-


“Selamat pagi mbak,” Sapa meida kearah dua resepsionis yang kemarin ditemuinya.


“Pagi mbak, ada yang bisa saya bantu?” ucap sang resepsionis sambil menatap dalam kearah meida, ia mengingat-ngingat wajah wanita yang ada di depannya.


“Saya yang kemaren mbak.” Ujar meida tersenyum, ia tahu dua resepsionis itu sedang mengingat-ingat wajahnya


“Ohh mbak yang gak bawa KTP itu? Sekarang KTP-nya di bawa?” Tanya resepsionis itu sambil tersenyum.


“Saya bawa mbak.”


“Baik mbak, tunggu sebentar. Saya hubungi pak andrew dulu.”


“Baik mbak.”


-


“Mbak di tunggu di lantai 17 oleh pak andrew. Kebetulan pak andrew sedang tak ada diruangannya. Mbak tinggal jalan ke sebelah kanan dari arah lift. Ruangannya di samping ruang HRD. Dan ini kartu aksesnya. Semoga berhasil mbak!”


“Makasih mbak.”


-


Meida tersenyum, akhirnya ia bisa bekerja di perusahaan besar ini. Ia bekerja sebagai Asisten Sekretaris sesuai yang diperintahkan Pak Andrew, karena kebetulan posisi yang sangat dibutuhkan perusahaan ini sekarang adalah Asisten Sekretaris CEO.


Sepanjang koridor menuju lift, meida bersenandung ria sampai ia tak sadar sudah sampai di depan lift yang berjajar di kiri kanannya. Meida menekan angka 1 karena tujuan utamanya adalah lobby kantor. Setelah menunggu lama, akhirnya lift terbuka. Meida tak mengetahui lift terbuka itu lift Eksklusif khusus para petinggi kantor.


Ketika langkahnya semakin dekat dengan pintu lift tiba-tiba.


“Si bodohh!!” Teriak meida spontan, ia bengong menatap lelaki yang berada pas di depannya, mereka pun bertatap-tatapan.


-


Bersimbing


Author bikin sekuel ini seharian, sampe 2000k.


Terpaksa up nya malam😁


Harap di maklum😜


Malam buat reader semua ♥️


Author cuman pengen bilang, Alhamdulillah untuk novel kita berbeda ini sudah di kontrak oleh pihak NT. Author ucapkan terima kasih kepada reader semua, yang selalu mendukung author + perjalanan hidup meida. Tanpa kalian, apalah arti author dan cerita ini.


Author dulu pernah berpikir untuk tidak melanjutkan novel ini, karena setelah UAS author sibuk mencari kerja. Dan waktu itu author bekerja di perusahaan pialang nomor 1 di Indonesia menjadi seorang business consultant. Waktu author habis buat ngehubungin nasabah. Di otak author Cuma ada Zoom App sama Closing. Jadi sangat tidak memungkinkan untuk melanjutkan novel ini, sampai author rehat selama 7 bulan. Cerita meida berhenti di part 28.


Setelah author keluar dari perusahaan pialang, alasannya karena bertentangan dengan hati nurani. Author gak sengaja baca ulang cerita meida, dan membaca komenan dari mbak Wanvi, M rusydan dan Ndha sarendah yang membangun, dari sana semangat nulis author kembali. Aduhh jadi curhat masa comeback meida(Kurang lebih asal-usulnya seperti ini😂)


Pokoknya author berterima kasih banyak buat para reader yang setia mantengin cerita meida. Terima kasih buat yang setia ngelike, yang ngomen, yang ngevote, yang ngasih hadiah. Pokoknya terima kasih banyak♥️ Terima kasih sudah menghargai karya receh author 😘


Love u so much for reader😘🥰


Sukses selalu buat kalian.

__ADS_1


Hatur nuhun😘


__ADS_2