
“Selamat siang Nyonya Atmadja. Tumben-tumbenan berkunjung kesini! Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Albert, pria berusia 70 tahun dengan kacamata yang bertengger di hidung bangirnya. Rambut yang seluruhnya sudah memutih, dengan pakaian ala-ala lawyer. Albert merupakan Notaris kepercayaan Maxime ketika masih hidup.
Grace duduk di sofa panjang yang tersedia di ruang Albert. Ia membuka kacamata hitamnya, lalu melipat kakinya. Perilakunya mencerminkan sebagai orang kaya yang terlihat sombong dan angkuh. Ia mengangkat wajahnya dengan penuh keangkuhan layaknya putri bangsawan.
“Saya sengaja kesini! Ada yang ingin saya tanyakan mengenai warisan yang suami saya tinggalkan! Saya ingin mengambil surat wasiat suami saya! Suami saya sudah memberitahu saya untuk mengambilnya dari anda,” ucap dingin grace yang masih mengangkat wajahnya dengan angkuh. Ia tak mengetahui, bahwa Maxime sudah memgamanahkan surat wasiat itu agar tidak sampai jatuh ke tangannya.
“Mohon maaf Nyonya, saya tidak bisa memberikan surat wasiat itu pada anda! Sesuai dengan wasiat yang Tuan Maxime perintahkan! Surat wasiat itu akan saya bukan, jika anda membawa serta cucu anda yang bernama jaslin sekaligus keluarga besar anda dari kedua belah pihak. Surat wasiat itu akan buka, jika seluruh keluarga besar Atmadja sudah berkumpul.” Jawab Albert dengan santai. Ia tidak takut sama sekali menghadapi Grace. Grace melipat kedua tangannya menatap tak suka kearah Albert.
“Berarti anda tidak akan memberikan surat wasiat itu pada saya? Saya istrinya! Saya berhak tahu apa yang suami saya wasiatkan!” Teriak Grace sambil mengepalkan tangannya, dengan tatapan yang menikam sorot mata lawannya.
“Mohon maaf tidak bisa Nyonya! Itu bukan hak nyonya untuk mengambil dan membukanya! Tuan Maxime sengaja menyuruh saya untuk menyimpannya. Dan membuka nya setelah waktunya tiba! Jika nyonya terus memaksa dan ingin membukanya! Tolong bawa cucu perempuan nyonya yang baru ditemukan untuk dibawa kesini! Jika tidak, mohon maaf saya tidak memberitahu nyonya!” Albert berdiri dari posisinya. Ia berjalan kearah Grace dengan tangan yang berada di saku celananya. Albert tersenyum mengejek kearah grace.
“Nyonya tak perlu khawatir dengan membawa cucu perempuan nyonya kesini! Karena saya dan 10 Kuasa Hukum Tuan Maxime akan mendatangi rumah nyonya, karena cucu perempuan nyonya sudah ditemukan. Kami ingin menyelesaikan amanah yang selama ini kami emban. Jadi, nyonya tak perlu khawatir soal itu. Sebentar lagi nyonya akan mengetahuinya!” Grace mendelik tajam kearah albert yang sedang mengejeknya dengan tersenyum.
“Sebenarnya saya sudah tahu mengenai wasiat itu! Isi surat itu berisi tentang harta warisan suami saya! Saya sudah tahu isinya!” Teriak Grace yang menggebrak meja keras. Albert melongo melihat sifat bar-bar grace, ia menanggapi kemarahan grace dengan santai.
“Jika anda sudah tahu! Kenapa anda memaksa saya untuk memberi tahu anda?” Kekeh Albert sambil melepaskan kacamatanya. Grace mengepalkan tangannya, karena Albert berani menentangnya.
“Saya tidak memaksa! Anda cuman notaris aja belagu!” Albert semakin terkekeh mendengar ucapan grace. Ia kembali berdiri dengan memakai kacamata nya.
“Anda pasti ingin tahu pewaris terbesar keluarga Atmadja kan? Yang pastinya bukan anda dan anak anda! Saya tahu akal bulus anda!” Grace menggebrak meja kembali. Dengan wajah memerah, ia mendelikan mata kearah Albert yang merespon gebrakan grace dengan mengangkat kedua bahunya.
“Saya dan anak saya lebih berhak dengan harta warisan yang 75% itu! Siapa pun tidak ada yang lebih berhak dari saya dan anak saya!” Albert menggelengkan kepalanya pelan. Ia tersenyum smirik kearah grace.
“Jadi tujuan anda datang kesini hanya untuk mengklaim harta warisan yang 75% itu? Sangat disayangkan ... anda tak akan pernah mendapatkannya! Tuan Maxime tak memberikan warisan sedikitpun pada anda dan putra anda!” Jawab santai Albert yang kembali duduk di kursi kebesarannya. Gigi grace bergemulutuk menahan amarahnya.
“Saya pasti mendapatkan warisan itu! Saya tidak akan tinggal diam!” Teriak grace menatap albert dengan wajah penuh kebencian.
“Silahkan nyonya! Jika anda ingin mendapatkan harta warisan itu, silahkan hadapi saya dan 10 kuasa hukum Almarhum suami anda! Karena harta warisan itu sudah resmi milik nama-nama yang tercantum dalam surat wasiat itu! Anda tak bisa mengklaimnya sembarangan! Kecuali harta warisan itu dialihkan oleh penerima dengan sukarela kepada anda! Jika tidak, sampai kapanpun anda tidak akan mendapatkan warisan itu!” Ejek Albert sambil menompang wajah denga kedua tangannya.
“Tunggu saja! Saya mudah mengalihkan nama itu, tanpa perlu bantuan anda sedikitpun!”
“Sikahkan nyonya! Perbuat sesuka anda! Karena saya yakin, niat anda tidak akan pernah berhasil!” Albert mengangkat sebelah alisnya dengan senyum meledek yang selalu menghiasi wajahnya.
“Lihat saja! Saya pastikan kalian akan berlutut di kaki saya! Dan memohon maaf pada saya!” Teriak Grace sambil memakai kembali kacamatanya.
“Anda terlalu percaya diri nyonya! Saya pastikan, saya tidak akan melakukan apa yang anda ucapkan barusan! Ternyata keputusan Tuan Maxime memang tepat, dengan tidak memberikan harta warisan pada anda! Anda sangat ambisius nyonya!” Sinis Albert sambil memegang dagunya yang ditumbuhi kumis yang separuhnya sudah memutih.
“Jaga ucapan anda! Saya pastikan hidup anda menyesal karena berani menghina saya!” Teriak Grace meninggalkan ruang itu dengan penuh emosi, ia membanting pintu ruang kerja albert dengan keras
__ADS_1
“Dengan senang hati saya menunggu nyonya!” Albert sengaja berteriak agar grace mendengar ucapannya.
Surat wasiat itu harus benar-benar diamankan! Takut disalah gunakan oleh istri Tuan Maxime, dia terlihat ambisius untuk mendapatkan harta warisan itu. Saya yakin dia akan berbuat sesuatu! Batin Albert sambil memijit keningnya
Sial!! Lelaki tua itu susah di ajak kompromi! Siapa sih yang mendapatkan harta warisan itu! Jangan sampai harta warisan itu jatuh ke tangan orang lain! Kesal grace sambil menendang pintu keluar.
Grace meninggalkan gedung itu dengan perasaan dongkol. Ia mengepalkan tangannya dengan amarah yang kentara di wajahnya, grace langsung menghubungi anak buahnya untuk menyuruh mereka beraksi malam ini.
-
Jack dengan memakai kemeja kotak-kotak yang ia masukan ke dalam jelana jeans warna biru, dengan membawa satu cup kopi menghampiri andress yang sedang berdiam diri di taman rumah sakit. Pandangan andress kosong, ia tengah melamun melihat kearah langit. Ia tak peduli dengan pandangan orang lain padanya. Sampai ia tak sadar jack sudah duduk di sampingnya.
“Kenapa ko? Melamun aja? Wajah koko kusut banget kayak orang yang punya banyak beban hidup!” Jack menepuk keras bahu andress. Hingga andress terperanjat kaget karena jack.
“Kamu ngagetin tahu! Bilang-bilang kalau mau duduk!” Ketus Andress dengan mengusap wajahnya. Jack tersenyum kearah andress, ia tahu perasaan andress belum sepenuhnya membaik.
“Aku udah dari tadi minta izin! Koko nya aja yang melamun! Kenapa ko?” Jack menyimpan cup kopinya di tengah-tengah. Agar jika andress mau, andress tinggal mengambilnya.
“Meida pergi setelah kamu pergi semalam jack! Saya belum menemukannya sampai sekarang! Saya bingung harus mencarinya kemana lagi,” ucap Andress sambil memijit kepalanya. Ia benar-benar lelah dan putus asa terhadap hidupnya.
“Tapi jo, saya khawatir! Dia perempuan! Saya takut dia kenapa-napa!”
“Berdoa saja, mudah-mudahan dia baik-baik saja. Biarkan dia sendiri dulu ko! Dia butuh waktu untuk menerima koko, paman dan Tante. Bersabarlah lebih dulu! Saya yakin meida pasti kembali dan menemui koko setelah pikiran nya tenang. Percaya deh!” Jack mengelus pelan pundak andress, Memberi energi positif agar sepupunya tidak terpuruk.
“Semoga saja! Saya ingin berbicara dengan meida! Saya ingin meminta maaf padanya!”
-
Di ruangannya, melvin sedang bermalas-malasan dengan berkas yang menumpuk di depannya. Ia menyandarkan kepalanya ke meja karena pusing sedikit demi sedikit mulai menderanya. Badannya terasa lemas karena dari kemarin ia belum makan, karena terlalu sibuk.
“Tuan Melvin. Tuan besar menunggu anda di ruangannya! Ia menyuruh anda untuk segera kesana!” Melvin melirik sebentar kearah Dion. Lalu memakai jas yang disampirkan di kursi kebesarannya.
“Ada apa Papih memanggil saya?” Tanya melvin dengan wajah malas. Mukanya terlihat pucat karena kurang tidur, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah kantong mata nya.
“Kurang tahu tuan! Tuan besar hanya menyuruh saya untuk memanggil anda untuk segera keruangannya.” Melvin berdiri dari posisi duduknya. Ia berjalan sempoyongan kearah pintu.
“Tuan tidak papa, Kan? Wajah tuan pucat sekali!” Dion memapah tubuh melvin yang akan terjatuh. Melvin memegang kepalanya sambil meringis.
__ADS_1
“Saya tidak papa. Kepala saya cuman pusing doang,” ucap pelan melvin sambil duduk di sofa.
“Dion, tolong pijat kepala saya sebentar!” Dion langsung memijat kepala melvin dengan hati-hati. Setelah kepalanya di rasa cukup mendingan, melvin melangkah menuju keruangan papih nya, yang berada di ujung. Melvin mengetuk pintu papihnya, ia langsung masuk setelah mendengar ucapan papihnya dari dalam. Melvin di buat kaget, ketika papihnya sudah standby berdiri di depan mejanya dengan bersedekap dada, ia menatap melvin dengan dingin.
“Ada apa pih?” Tanya santai melvin yang tak menyadari wajah dingin papihnya. Ia langsung duduk di sofa empuk yang berada di ruang Nagara.
“Kamu kemana tadi malam?” Tanya dingin Nagara yang masih berdiri di posisinya. Melvin menelan ludahnya kasar mendengar pertanyaan Nagara.
“Kenapa ponsel mu susah dihubungi? Kenapa kamu tak menjawab telpon papih semalam? Padahal nomor kontak mu aktif?” Melvin menggaruk dagunya. Ia bingung harus menjawab pertanyaan papihnya.
“Maaf pih, ponsel melvin dalam mode silint, jadi melvin gak tahu ada panggilan dari papih.” Kilah melvin dengan tersenyum. Ia menutupi kegugupannya dengan seulas senyum yang di paksa. Nagara berjalan kearah melvin, ia berdiri di depan melvin.
“Jangan bohong! Semalam kamu tidur dimana? Di rumah tak ada, di apartemen pun kosong! Kamu berani membohongi papih hah?” Melvin hanya menundukkan wajahnya tanpa berani menjawab ucapan Nagara. Ia tahu papihnya dalam mode emosi, jika ia menjawab, maka akan semakin panjang dan masalahannya tidak akan pernah kelar.
“Maaf pih ... Melvin salah.” Lirih melvin yang masih menundukkan wajahnya.
“Maaf! Maaf! Maaf! Kamu buat papih malu! Putri dari Perusahaan Sinopec Group jauh-jauh datang dari Beijing kesini untuk memenuhi undangan dari kita, ia ingin menemui mu. Kamu kemana? Dia menunggu kedatangan kamu, sampai acara ini selesai dia masih ada disini! Dia menunggu mu berjam-jam! Sebenarnya kamu pergi kemana malam tadi hah!” Nagara menggebrak meja. Ini untuk pertama kalinya ia memarahi Melvin. Putra satu-satunya yang akan menjadi penerus bisnis nya.
“Melvin tidak pergi kemana-mana pih. Melvin hanya cari udara segar di luar!” Nagara kembali melipat tangannya. Ia menatap anaknya dengan tatapan tajam.
“Jangan bohong!” Melvin terhenyak mendengar teriakan papihnya. Nagara kembali ke meja kerjanya, ia mengambil iPad dan melemparkannya ke sofa persis di samping melvin.
“Siapa wanita ini! Tolong jelaskan siapa wanita ini!!” Teriak Nagara yang suaranya menggelegar di ruangan itu. Melvin mengambil iPad itu, ia kaget melihat foto dirinya dan meida. foto yang memperlihatkan ia yang sedang menangis di pundak meida dengan tangan memegang bahunya. Orang yang melihatnya sekilas pasti berpikir bahwa melvin sedang memeluk meida dari arah belakang, tapi kenyataannya tidak. Melvin menelan ludahnya, ia melihat kearah papihnya yang sedang melipat tangannya, lalu melihat kembali kearah foto itu.
-
Dagg digg duggg
Brakkk
Berrrr..
Jangan lupa vote sama hadiahnya guys🤗🤗🤗♥️♥️♥️
Like, komen sama rate nya di tunggu😘😘😘
Gimana respon Nagara, jika tahu wanita yang disukai melvin adalah meida?
Gimana hayooo😂😂
__ADS_1