
“Ada yang bisa kami bantu Dokter Jack?” Tanya salah satu pegawai di ruang operator tersebut. Mereka melihat kearah Meida dengan pandangan menelisik, mereka merasa seakan pernah melihat Meida tapi entah dimana. Mereka yang berada di ruang itu belum mengetahui status meida yang sebenarnya, karena Gilbert belum memperkenalkan Meida pada mereka secara langsung.
“Tolong tunjukkan saya ruang CCTV!” Jawab dingin Jack dengan wajah cool nya. Yang bekerja di ruang itu pun langsung menundukkan wajahnya lalu mengantar jack dan meida keruang CCTV yang berada di ujung dengan ruangan paling besar. Layar monitor berukuran besar terpasang di ruang itu, menunjuk ke segala penjuru arah Rumah Sakit tersebut. Jack langsung berjalan kearah 4 orang yang bertugas di depan CCTV itu.
“Ada yang bisa kami bantu Dokter Jack?” Tanya pegawai itu sambil berdiri dari posisi duduknya. Mereka sangat menghormati jack, karena merupakan keponakan dari Pemilik rumah sakit dimana mereka bekerja.
“Tolong tunjukkan CCTV sekitar jam 15:10 disekitar Mushala lantai 1!” Perintah tegas Jack yang langsung diangguki oleh tiga orang pegawai tersebut.
“Baik Dok. Di tunggu sebentar!” Mereka langsung melacak CCTV. Hanya dengan waktu beberapa detik mereka sudah menemukannya.
“Sudah Dok, silahkan di lihat!” Jack dan Meida langsung memandang fokus kearah monitor tersebut yang memperlihatkan empat juru di sekitar mushala lantai 1.
“Jack lihatlah! Itu Jonathan!” Tunjuk Meida kearah Jonathan yang sedang menenteng tote bagnya menuju ke rak sepatu lalu memakainya. Pegawai yang berada di ruang itupun saling pandang, melihat kedekatan seorang wanita yang memanggil salah satu petinggi rumah sakit dengan sebutan nama. Mereka berpikir, meida sungguh tak sopan memanggil nama Jack tanpa embel-embel.
“Iya itu Jonathan! Terus awasi dia!” Perintah Jack agar semua pegawai memperhatikan kearah layar bukan malah memperhatikan Meida. Pegawai itu langsung melihat ke layar monitor dengan perasaan bertanya-tanya.
“Lihatlah Meida! Jonathan berjalan bersisian dengan saya! Lalu ia pamit ke toilet terlebih dahulu!” Meida mengikuti telunjuk Jack pada monitor itu. Ia melihat kearah Jack yang sedang berjalan lurus, sementara Jonathan belok kearah kiri menuju toilet.
“Tolong perbesar gambar itu! Ikuti kemana Jonathan pergi!” Pegawai itu mengikuti perintah Jack dengan wajah bingungnya. Mereka terus mengamati Jonathan yang sering mereka panggil dengan sebutan Tuan Muda, dan mereka menerka apa yang sebenarnya terjadi pada anak atasannya.
“Jack, lihatlah! Lelaki yang memakai pakaian cleaning service itu mengikuti Jonathan! Ia membalikkan nama di papan itu agar orang tak masuk ke dalam toilet itu!” Jack hanya menganggukkan kepalanya terus memperhatikan gerak gerik cleaning service itu. Setelah dirasa tak ada orang, cleaning service itu masuk kedalam toilet dengan membawa pel agar orang tak mencurigainya. Tiba-tiba 3 orang lelaki datang. Satu orang memakai jas dokter, satu orang memakai piyama pasien rumah sakit dengan menggunakan kursi roda, dan satu orang lagi memakai pakaian biasa. Ketiga lelaki itu memakai masker, satu diantara mereka memakai kacamata untuk menyamarkan wajahnya.
“Tolong copy rekaman CCTV ini ke Flashdisk! Ini benar-benar mencurigakan! Kalian perhatikan baik-baik wajah mereka, apa kalian mengenal Dokter itu?” Tanya Jack sambil menunjuk kearah Dokter yang diam memperhatikan sekeliling, sementara orang yang berpakaian biasa mendorong orang yang berada di atas kursi roda kedalam toilet.
“Baru pertama kali ini kami melihatnya Dok!” Jawab salah satu pegawai tersebut. Mereka menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Karena CCTV itu hanya mengakses sampai lorong menuju toilet pria saja, tak sampai kedalamnya.
“Dia sepertinya Dokter gadungan! Lihatlah! Perbesar oleh kalian! Bukankah itu Jonathan!” Teriak Meida menunjuk kearah Jonathan yang terkulai lemas di atas kursi roda dengan memakai kacamata dan masker. Meida dapat mengenali wajah dan postur tubuh adiknya, walaupun wajahnya tertutup seperti itu.
“Betul itu Tuan Muda! Dan pasien yang berpakaian piyama rumah sakit itu telah berganti dengan memakai celana jeans dan jaket hitam. Dan lihatlah! Cleaning Service itu membawa sesuatu! Sepertinya baju bekas yang dipakai orang ini! Apa yang terjadi dengan Tuan Muda Dok? Apa Tuan Muda di culik?” Tanya salah satu pegawai itu dengan wajah kaget nya. Mereka lalu menatap bingung kearah Meida yang menangisi anak dari Tuan besarnya.
“Jonathan memang di culik! Untuk sekarang, kalian tutup mulut dulu! Jangan ada yang mengetahui ini selain kita! Kalian jangan sampai menyebarkan kejadian penculikan ini! Kalian perbesar penjahat yang berada di layar itu jangan lupa gambarnya di cetak besar! Copy- an rekamannya kasih ke saya!” ujar Jack yang diangguki oleh semua pegawai yang berada di ruang itu. Ia kembali mengatur nafasnya pelan, untuk meredakan emosinya.
__ADS_1
Siapa yang berani-berani menculik Jonathan? Geram Jack sambil mengepalkan tangannya.
“Jack, Jonathan benar-benar di culik! Berarti benar apa yang dikatakan Paman! Jack, kita harus mencari Jonathan!” Meida menangis sambil menarik-narik lengan Jack seperti anak kecil. Pegawai yang berada di ruang itu merasa suasana di ruang mulai tegang, ketika melihat Jack yang sedang menaik turunkan jakunnya dengan mengepalkan tangannya.
“Jo, kamu sekarang dimana Dek? Cici menghawatirkan mu!” Lirih Meida yang sontak mengagetkan pegawai di ruang itu. Mereka pun mulai ingat, bahwa meida pernah viral di kalangan para karyawan Atmadja, sebagai Putri satu-satunya keluarga Atmadja yang baru ditemukan setelah hilang bertahun-tahun.
“Tenangkan diri mu Meida! Semua akan baik-baik! Jonathan tidak akan kenapa-napa!” Jack kembali menahan emosinya ketika melihat wajah sedih meida. Ia langsung mengelus pundak sepupunya dengan wajah iba.
Siapa orang yang berani menculik Jonathan? Apa mau mereka? Apa mereka rival Daddy dan Mommy? Kenapa mereka menculik orang yang tak bersalah? Picik sekali Mereka! Lirih Meida sambil menyandarkan kepalanya di dinding besi.
Ya Allah kenapa masalah datang bertubi-tubi? Daddy sakit ... Melvin pergi ... dan sekarang Jonathan.
Apa ini ujian sebelum hari pernikahan hamba Yaa Allah?
Melvin, dimana kamu sekarang? 20 hari lagi pernikahan kita? Apa kamu bosan hingga meninggalkan saya pergi? Kenapa kau tak pernah mengabari saya selama 10 hari ini. Kamu menghindari saya? Keluarga mu pun sama menghindari saya ...
Sebesar apa masalahmu hingga tak pernah menemui saya? Janji mu akan segera melamar saya, tapi kenyataannya kamu malah menghilang tanpa kabar. Kenapa kamu meninggalkan saya di saat saya sudah melabuhkan hati saya padamu? Di saat saya sudah yakin memilihmu ... di saat saya sudah mencintaimu. Kenapa hah?
Melvin, saya harus apa agar kamu datang? Jonathan di culik, saya bingung harus berbuat apa? Saya mohon datanglah! Saya merindukan kehadiran mu ...
Yaa Allah, bukankahlah hati melvin untuk datang pada saya! Untuk tak mengingkari janjinya! Jangan hapus rasa cintanya untuk saya ... karena saya tak sanggup ...
Yaa Allah, say pun sangat mencintainya! Jangan biarkan dia meninggalkan saya! Saya tak ingin merasakan sakit kehilangan lagi!
Yaa Allah ... Saya sangat merindukannya! Batin Meida sambil menyandarkan tubuhnya dipojokkan. Jack langsung menghampiri sepupunya lalu menghapus air matanya.
“Semua akan baik-baik saja! Tunggu keputusan selanjutnya dari Ko Andress dan Paman-Mu. Saya sudah menghubungi koko-mu untuk datang kesini. Tunggulah!” Jack menepuk lembut bahu sepupu perempuannya yang terlihat sangat rapuh.
Hentakan keras sepatu terdengar berjalan kearah mereka. Terlihat sosok Andress yang masih mengenakan jas putihnya. Ia langsung melihat kearah adik perempuannya dan langsung memeluk tubuh adiknya.
“Kamu gak papa Kan Dek?” Tanya Andress sambil mengusap lembut pundak adiknya yang sedang menangis tergugu di pelukannya.
__ADS_1
“Jonathan ko ... Jonathan di culik! Aku harus apa? Aku takut Jonathan kenapa-kenapa!” Andress mengerti ketakutan yang dirasakan adik perempuannya. Ia terus mengusap pelan pundaknya agar perasaan adiknya tenang.
“Ada koko disini! Semua akan baik-baik saja! Kamu yang tenang yah! Koko akan melindungi kalian berdua.” Bisik pelan Andress ketelinga adiknya. Meida melerai pelukannya pelan, ketika ponselnya kembali berdering.
Ia dengan cepat membuka tas selempangnya lalu melihat pesan masuk dari nomor yang tak di kenal.
Beberapa Foto Jonathan dan Biru yang sangat memprihatikan dengan mata tertutup kain dan bibir di lakban. Meida semakin menangis keras lalu menyondorkan ponselnya kepada Andress.
“Dek, siapa lelaki yang diculik bersama Jonathan?” Tanya Andress yang masih menatap foto itu.
“Itu Biru ko, Putra sulung Paman Johan! Anak paman Johan pun sasaran dari penculikan itu!” Terang Meida dengan sesenggukan. Andress membelalakkan matanya dengan menyugar rambutnya kasar.
“Berarti orang yang melakukan penculikan ini adalah orang terdekat kita! Tidak ada orang yang mengetahui tentang keluarga kita kecuali keluarga Daddy dan Paman Johan. Tapi apa motif penculikan ini? Kenapa hanya meneror kamu dan paman Johan? Kenapa tidak meneror koko, Daddy, ataupun Mommy?Pasti orang yang melakukan ini adalah orang yang benci dan dendam dengan keluarga kita!” Tutur Andress menyimpulkan pemikirannya setelah melihat foto itu. Ia kembali membelalakkan matanya ketika menerima pesan berikutnya.
INI BELUM SEBERAPA JASLIN! TUNGGU KEJUTAN SELANJUTNYA!! Isi pesan itu. Andress langsung mengepalkan tangannya lalu menelpon nomor tak di kenal itu, namun nomornya sudah tak bisa dihubungi.
“Siall!! Mereka mempermainkan kita!! Dia bukan lawan sembarangan!! Jack, hubungi IT terbaik rumah sakit ini! Lacak segera keberadaan nomor ini!” Perintah Andress yang kembali memeluk adiknya.
-
-
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕
Otor teh bingung, besok bisa up atau enggak.
Tapi kalau ada waktu luang pasti Up yah🤗♥️
Tong hilap like, komen, vote, rate, sareng hadiahna🤗😘♥️
Hatur nuhun pisan😘
__ADS_1