Kita Berbeda

Kita Berbeda
Jangan Menghindari Masalah!


__ADS_3

Meida duduk di pelantaran masjid agung sambil menangis, ia menunggu adzan magrib yang sebentar lagi berkumandang. Lalu lalang orang mulai berdatangan untuk melaksanakan shalat magrib. Dengan menyusut air matanya, meida berjalan sempoyongan kearah tempat wudhu. Ia tak menyadari, bahwa seseorang sedang memperhatikan gerak-gerik nya di ujung teras sana.


Meida menghabiskan waktunya di dalam masjid itu, menumpahkan segala keluh kesah kepada sang Pencipta kehidupan. Setelah keadaan hatinya di rasa cukup tenang, meida keluar dari Masjid itu dan duduk di pelataran nya sambil memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di depannya.


Meida tenggelam dalam lamunannya, sampai ia tak menyadari seseorang memperhatikannya dari arah serambi masjid.


“Saya perhatikan dari tadi, kamu tampak betah disini. Kenapa kamu gak pulang? Ini sudah malam! Malam hari waktu yang rawan untuk perempuan!” Ujar seorang lelaki berjalan kearah meida sambil menenteng sepatunya. Ia duduk di samping meida berjarak sekitar 1 meteran. Meida membelalakan mata melihat sikap santai lelaki itu dengan cuek duduk di sampingnya. Meida menjawab ucapan lelaki itu setelah lelaki itu meletakkan sepatu di depan kakinya.


“Saya nyaman duduk disini! Saya tak ingin pulang! Saya bingung dengan hidup saya!” Jawab lirih meida tersenyum getir kearah lelaki tampan yang berada di sampingnya.


“Tapi kenyataannya, rumah tempat terbaik dan ternyaman untuk kita pulang. Sejauh apapun kita pergi, rumah lah tempat kembali!” Tutur lelaki itu sambil memakai kaos kakinya. Lelaki itu memakai sweater coklat dan celana jeans hitam.


 “Saya tak punya rumah! Entahlah saya punya keluarga atau tidak. Saya merasa hidup saya sangat menyedihkan!” Lelaki itu menolehkan wajahnya kearah meida, menatap meida dalam.


“Jangan bicara seperti itu! Pandai-pandailah bersyukur! Lihatlah kehidupan orang yang ada di bawah mu! Banyak orang yang hidup lebih menderita dari kamu. Sejatinya Tuhan menciptakan kita untuk menguji kadar kekuatan keimanan kita. Seburuk apapun masalah yang menimpah mu, Tuhan tak pernah meninggalkan mu!” Nasihat lelaki itu sambil memakai sepatunya. Ia melirik sebentar kearah meida dengan tersenyum.


“Ya benar apa yang kamu katakan. Tapi tak semudah itu! Dimana rasanya kita benar-benar kalah oleh keadaan! Di saat kita mencoba beberapa kali untuk bangkit, tapi selalu saja kalah dan terjatuh. Kamu tak mungkin tahu rasanya seperti apa!” Tutur meida sambil menerawang jauh. Lelaki itu menggeser posisi duduknya sedikit kearah meida.


“Bersabarlah! Mungkin Tuhan ingin mengangkat derajat mu. Jadikan setiap ujian yang Tuhan berikan sebagai bentuk terima kasih, karena kita masih dianggap umat-Nya. Saya tak pernah merasakan apa yang kamu rasakan, tapi sedikitnya saya paham dengan keadaan yang kamu rasakan sekarang.” Tutur lembut lelaki itu menatap manik mata meida.


Sorot mata wanita ini seperti sorot mata milik tante zaina. Sangat meneduhkan, walaupun tersimpan banyak luka. Batin lelaki itu memandang dalam sorot mata meida.


“Ya, kamu benar. Tapi ucapan tak semudah dengan perbuatan. Walaupun kadang bibir kita berkata ya, tapi hati berkata tidak.” Jawab meida sambil menghapus air mata nya. Lelaki itu menyondorkan tisu kearah meida yang ia ambil dari kantong sweater nya. Meida mengambil tisu yang disondorkan lelaki itu lalu melap wajahnya.


“Yah memang. Tapi setidaknya dengan berlapang dada dan memaafkan itu lebih baik kan?” ucap lelaki itu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong sweater nya, karena malam itu cuaca lumayan dingin.


“Memaafkan tak semudah yang diucapkan. Kadang kita berusaha memaafkan, tapi rasa sakitnya masih terasa. Memaafkan kesalahan orang lain tak semudah itu.” Lirih meida sambil menompang dagunya.


“That right. Tapi bukankah dengan berserah diri pada-Nya itu jauh lebih baik? Terima setiap garis Tuhan yang telah di takdirkan, ikuti alur nya. Jangan menolak ataupun menentang, karena semua akan terjadi dengan sendirinya. Sekuat apapun menolak, semua akan terjadi dengan semestinya.” Tutur lelaki itu tersenyum hangat kearah meida. Lalu ia memandang kearah jalan dan melanjutkan ucapannya.


“Masalah setiap orang berbeda-beda, mustahil kalau mereka tak memiliki masalah. Begitupun saya dan kamu. Sifat manusia itu saling menyalah-nyalahkan, merasa ingin hidup seperti orang lain. Padahal reallity nya hidupnya jauh lebih baik dari orang lain. Jadi jangan membanding-bandingkan hidup mu dengan yang lainnya!” Meida terhenyak mendengar perkataan lelaki itu. Ia merasa tertampar dengan apa yang dikatakannya.


“Kalau boleh saya tahu, siapa nama mu?” Tanya lelaki itu memiringkan posisi nya menyamping kearah meida.


“Meida.” Jawab meida dengan suara pelan

__ADS_1


“Oh meida, nama yang bagus. Saya Jackson Alexander. Orang sering memanggil saya dengan sebutan Jack. Terserah kamu mau panggil nama saya apa!” Papar lelaki itu sambil tersenyum. Meida menatap aneh kearah lelaki itu.


“Nama kamu Jackson Alexander? Apa kamu non muslim? Kenapa kamu ada disini?” Tanya meida memandang heran kearah jack. Jack menyandarkan tubuhnya ke tiang masjid, kaki nya ia selonjorkan ke ubin masjid itu.


“Saya muslim! Saya baru saja melaksanakan shalat isya disini.” Meida menyipitkan matanya kearah jack. Jack terkekeh melihat ekspresi meida yang sedang memandangnya.


“Kamu masih tak percaya? Sejujurnya saya seorang mualaf, baru beberapa tahun memeluk agama Islam. Nama saya setelah masuk Islam adalah Muhammad Alexander Akbar. Tapi saya tak berani mempublish nama saya. Kamu orang pertama yang saya beritahu.” Terang Jack dengan wajah yang tiba-tiba murung. Wajah berbinar nya kita telah berganti dengan wajah sendu.


“Kenapa?” Tanya heran meida yang mulai tertarik dengan ucapan jack.


“Saya menyembunyikan keislaman saya dari keluarga dan kerabat saya. Mereka tak mengetahui, kalau saya sudah menjadi seorang muslim. Yang mereka tahu, saya adalah seorang Katholik yang taat.” Tutur jack dengan wajah sedih. Ia melipat kedua tangannya memandang kearah meida. Meida menyampingkan posisi duduknya kearah jack, sehingga mereka bisa duduk berhadapan tapi berjarak.


“Kenapa kamu tidak berterus terang? Karena suatu saat nanti mereka pasti mengetahuinya! Apa kamu takut, mereka memarahi mu?” Jack terkekeh pelan sambil menggeleng kepalanya.


“Bukan karena itu meida, tapi saya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu mereka. Karena ini bukan perkara yang mudah. Ini berkaitan dengan hidup mati saya!” Tutur pelan jack sambil menutup matanya, pertanda ia sedang memikirkan sesuatu.


“Kamu tinggal bilang saja Jack! Pilihannya ada 2, di terima atau di tentang,” ucap pelan meida memandang wajah Jack yang masih menutupkan matanya.


“Tak semudah itu meida. Saya seorang yatim piatu, sedari kecil tinggal dengan keluarga Nenek kakek saya. Orang tua saya meninggal dalam waktu bersamaan, ketika kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa mereka. Waktu itu mereka ingin menjemput saya dari rumah kakek, tapi naas pesawat yang mereka tumpangi terkelebuh di lautan lepas.” Lirih jack dengan suara bergetar.


“Kembali ke kota ini, adalah awal saya tertarik dengan agama Islam. Saya memeluk agama Islam setelah beberapa bulan menetap disini. Tapi sampai sekarang saya menyembunyikan keislaman saya dari mereka.” Tutur jack dengan mata yang berkaca-kaca. Ia dengan cepat memgusapnya, agar meida tak melihatnya.


“Ternyata hidup kita sama jack. Sama-sama menyedihkan.” Kekeh getir meida mengusap ujung matanya. Ia menangisi jalan hidupnya, yang tak pernah menemui kebahagiaan sampai sekarang.


“Ya, makanya jangan merasa hidup mu paling berat! Hidup saya juga berat! Percuma saya mengeluh, toh waktu akan terus berputar, dan tak mungkin terulang!” ucap jack sambil berdiri di depan meida.


“Asal kamu tahu! Saya seorang pria kesepian dan kekurangan kasih sayang. Hidup saya terombang-ambing dan berakhir disini. Ternyata hidup tanpa orang tua itu sulit meida! Kita tak punya tuntunan dan pegangan hidup. Tapi semua itu tak membuat saya terpuruk atau menyesali keadaan. Saya hanya mengikuti sekanario Tuhan saja, karena Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk hidup saya. Always Positive thinking aja.” Kekeh jack sambil memasukkan kedua tangan ke saku celananya. Meida di buat kagum dengan sifat tegar jack.


“Kau benar jack. Untuk apa kita meratapi, toh semuanya sudah terjadi.” Tegar meida  sambil merenggangkan tangannya.


“Nah benar Meida. Syukuri dan nikmati aja hidup kita sekarang! Hidup di dunia cuman satu kali, jadi sayang kalau waktu kita habis untuk meratapi. Gunakan hidup ini untuk berbuat banyak kebaikan.” Tutur jack sambil merentangkan tangannya. Ia menikmati aingin malam dengan menutup kedua matanya.


“Kau tinggal dimana jack?” Jack membuka matanya sambil memutar-mutar telunjuk tangannya


“Saya tinggal di Apartemen sekitaran sini. Saya seorang dokter bedah di Rumah sakit Internasional. Kau sendiri tinggal dimana meida?” Tanya Jack sambil mengangkat sebelah alisnya. Kakinya  ia ketuk-ketuk ke ubin itu.

__ADS_1


“Saya tinggal di apartemen bersama bibi dan adik saya.” Jawab lemah meida sambil mengingat bi ina dan Jonathan yang ditinggalkannya di rumah johan tadi.


“Kenapa kamu sampai disini?” Tanya menyelidik jack sambil duduk di samping meida.


“Ya, karena saya terlalu kaget dengan kenyataan hidup saya. Saya bingung berbuat apa? Hati saya terlalu sakit ketika mendengar kenyataan itu.” Jujur meida dengan suara lirih memandang jack dengan wajah lesu.


“Kamu kesini untuk menghindari masalah mu?” Meida menganggukkan kepalanya pelan.


“Masalah itu hadapi, bukan di hindari! Apa dengan kamu kesini dapat menyelesaikan masalah? Tidak kan?” Tanya menyelidik jack dengan senyum mengejek kearah meida.


“Saya butuh waktu untuk menerima semuanya jack! Tak mudah, semua butuh proses,” ucap meida dengan mata berkaca-kaca. Jack menatap iba kearah meida.


“I know! Kamu sudah mendengar alasan mereka?” Tanya Jack kembali. Meida hanya menggelengkan kepalanya.


“Kamu lucu meida. Seharusnya kamu mendengar alasan mereka! Setelah itu pertimbangkan! Lalu ambil keputusan! Bukan malah menghindar seperti ini.” Meida merenungi segala perkataan Jack. Ia menangkupkan tangan kewajahnya, memikirkan keputusan konyolnya. Bukannya meminta penjelasan pada mereka, ia malah kabur.


“Meida, ketika kamu marah ataupun kecewa. Ingatlah kebaikan mereka yang mereka perbuat pada mu. Jangan kamu ikuti ego mu, jika kamu tak ingin menyesal nantinya!” Nasihat jack. Meida mamandang jack dengan wajah penuh penyesalan.


“Sekarang kita pulang! Saya akan mengantarmu! Bibi dan adik mu pasti khawatir mencari keberadaan mu.” Ajak jack sambil menarik sebelah tangan meida.


“Tapi jack ...”


“Kamu akan tetap disini, atau mengikuti ucapan saya!” Kesal jack melepaskan pegangan tangan meida, dan meninggalkannya.


“Jack tunggu! Saya ikut!” Teriak meida menyusul langkah jack. Jack tersenyum tanpa menghentikan langkahnya.


-


-


Bersimbing


Hampura yah kemarin malam gak jadi up🙏


Maaf kalau part ini banyak yang typo, nanti otor revisi ulang 🙏

__ADS_1


Otor bikin part ini dalam perjalanan ke Soreang Bandung. Jadi hampura yah.


__ADS_2