Kita Berbeda

Kita Berbeda
Ya Tuhan, ini tak mungkin!


__ADS_3

Setelah Johan, Dian dan Biru pulang ke rumah mereka yang berada di kota Malang. Kini di apartemen itu tinggal Meida, Melvin, Jonathan dan Bi Ina, mereka sedang berkumpul di kamar meida, karena kondisi meida benar-benar belum pulih dan membutuhkan banyak istirahat. Bi ina dengan setia duduk di ranjang di samping meida dengan mengelus kepalanya, jonathan duduk di ujung ranjang, dan memijit kakinya, sedangkan melvin duduk di kursi meja rias dengan pandangan tak beralih dari wajah pucat meida.


“Ci, keadaan cici gimana sekarang? Apa udah mendingan?” Tanya jonathan sambil memijit kedua kaki meida secara bergantian. Meida tersenyum kearah jonathan dengan mata binar penuh cinta.


“Keadaan cici baik jo. Perasaan cici sekarang sangat bahagia, cici tak bisa mengungkapkan kebahagiaan ini dengan kata-kata.” Terang meida sambil menyandarkan kepalanya di headboard ranjang. Bi ina tersenyum sambil memijit tangan meida.


“Jika kamu bahagia, bibi pun ikut bahagia meida. Tetaplah seperti ini, bibi bahagia melihatnya.” Jonathan menganggukkan kepalanya dan merebahkan tubuhnya di samping meida. Melvin tersenyum melihat interaksi mereka, ia berjalan kearah meida dan duduk di sampingnya


“Jaga kesehatanmu meida, sebentar lagi Anniversary Perusahaan. Kamu, Bi ina, dan Jonathan harus datang, jangan sampai tidak. Keluarga saya menanti kedatangan kalian.” Bi ina menganggukan kepalanya, dan tersenyum kearah melvin. Ia mengusap lengan melvin.


“Kamu juga harus sehat vin, harus jaga kesehatan. Masa bapak hajat nya sakit.” Tutur bi ina dengan tersenyum.


“Bener ko, koko harus jaga kesehatan. Koko superhero keluarga kami. Semua di jamin aman kalau ada koko hehe. Terima kasih, koko selalu ada, disaat kami sedang butuh bantuan,” ujar tulus jonathan sambil merebahkan kepalanya di samping meida. Meida tersenyum sambil mengelus-ngelus rambut adiknya.


“Benar apa yang dikatakan Jonathan dan Bi Ina, Tuan harus menjaga kesehatan tuan. Terima kasih Tuan selalu menolong keluarga kami.” Melvin menganggukan cepat kepalanya. Ia menyentuh lengan meida lembut, hingga wajah meida memerah.


“Berhentilah mengucap terima kasih. Kalian adalah keluarga saya, dan saya adalah keluarga kalian. Jangan sungkan, karena saya adalah bagian dari kalian.” Tutur melvin kearah bi ina dan Jonathan. Tangannya masih memegang lembut tangan meida.


“Cepatlah sembuh! Saya membutuhkan mu!” Meida tersenyum kikuk kearah melvin. Jonathan tersenyum melihat kearah wajah meida dan melvin bergantian.


“Jangan dipegangin terus tangan cici meida nya ko. Tenang, cici meida gak bakalan ilang kok hehehe.” Ledek jonathan pada melvin. Sontak melvin melepas genggaman tangannya, lalu menggaruk kepalanya dengan wajah memerah.


“Shutt! Jangan iseng kamu jo. Kasian melvin jadi malu.” Kekeh bi Ina sambil mengusap bahu melvin yang sedang mencuri pandang pada meida.


“Berhubung ini sudah malam, saya izin pulang dulu bu, meida. Jo ayoo kita pulang ke apartemen kita!” Ajak melvin sambil mengusap hidungnya. Jonathan menggelengkan kepalanya dengan kepala disandarkan di bahu meida.


“Ko, untuk malam ini, jo mau nginep disini. Boleh yah? Jo gak mau jauh-jauh dari cici,” ucap jonathan sambil memeluk cicinya.


“Dasar bocah! Mending pulang yuk ... biarkan cici mu istirahat.” Ajak melvin sambil berdiri dari posisi duduknya.


“Biarkan jo menginap disini Tuan. Saya akan menjaganya dengan baik.” Melvin menganggukan kepalanya samar. Jonathan tersenyum dengan penuh kemenangan, sebelah matanya ia kedipkan kearah melvin, pertanda ia meledeknya.


“Kamu gak sekalian nginap disini vin? Kamar bawah masih kosong.” Tawar bi ina sambil memperbaiki posisi duduknya.


“Tidak bu, terima kasih. Ada sesuatu hal yang harus saya kerjakan! Saya tak bisa nginap disini.” Jonathan dengan nyaman menyandarkan kepalanya di bahu meida. Meida memandang melvin dengan wajah tak enak. Karena dirinya, melvin sampai menunda pekerjaannya.


“Tuan, maaf ... karena saya, pekerjaan Tuan tertunda.” Melvin tersenyum kearah meida, sambil melihat jam ditangannya.


“Tak perlu minta maaf, ini bukan salah mu. Baiklah! Karena sudah malam saya pulang dulu.” Pamit melvin undur diri


“Besok jangan lupa sarapan disini,” ucap bi Ina sambil mengantar melvin sampai pintu. Melvin menganggukan kepalanya, membalikkan tubuhnya menatap hangat kearah Jonathan.


“Jo, jaga terus cici mu! Jangan sampai kabur lagi!” Ledek melvin sambil menutup pintu kamar meida. Meida mengerucutkan bibirnya mendengar ledekan melvin.


“Siap ko. Cici akan jo jagain terus!” Kekeh Jonathan.


Di kamar meida, tinggal mereka berdua. Meida membenarkan posisi tidurnya, begitupun Jonathan yang bangun dari tidurnya.

__ADS_1


“Ci, untuk malam ini boleh jo tidur bersama cici disini? Kalau gak boleh, jo akan pindah ke kamar bawah.” Meida terkekeh mendengar permintaan jonathan yang menurutnya terdengar aneh.


“Kenapa kamu ingin tidur bersama cici jo?” Tanya meida dengan menyangga kepala dengan sebelah tangannya. Jonathan menundukkan wajahnya lalu menjawab pertanyaan meida.


“Ini keinginan jo dari dulu. Ingin tidur bersama cici, dan belum ke sampean sampai sekarang.” Jawab lirih jonathan menatap meida dengan raut wajah menghiba. Meida tak tega melihat wajah sedih adiknya.


“Yaudah, kamu boleh tidur disini Jo! Sini tidur di samping cici,” ucap meida sambil meletakkan sebuah bantal di samping bantalnya. Wajah Jo yang murung kini terlihat berbinar.


“Terima kasih ci. Akhirnya cita-cita jo terkabul, bisa tidur bareng cici,” ujar pelan Jonathan yang membuat hati meida terenyuh.


“Ayoo kita tidur! Sudah malam!” Ajak meida sambil merebahkan kepalanya di bantal, begitupun Jonathan. Jonathan memiringkan posisi tubuh nya kearah meida.


“Ci, Jonathan bahagia sekarang. Sangat sangat sangat bahagia, semoga Tuhan selalu melimpahkan kebahagiaan pada kita, “ ujar pelan jonathan dengan wajah berbinar dengan senyum yang selalu melengkung dari bibirnya. Meida pun memiringkan posisinya, dan mengusap wajah adiknya.


“Jika kamu bahagia, cici pun bahagia jo! Tetaplah tersenyum seperti ini, cici senang melihatnya.” Terang meida yang kini mengusap lembut kepala adiknya. Dengan mata terpejam, Jonathon meneteskan air matanya, menikmati kelembutan sikap meida yang sedang mengusap lembut kepala nya.


“Sentuhan lembut ini yang jo inginkan dari dulu, sentuhan lembut penuh kasih sayang. Jo selalu menginginkan sentuhan ini dari tangan daddy dan mommy, tapi sampai sekarang belum pernah ke sampaian. Jo selalu tidur dengan perasaan kesepian, dan setiap hari seperti itu, sampai jo tak punya gairah untuk hidup. Hidup jo sangat kelabu, tak ada warna sedikitpun. Dari tangan cici sekarang, jo merasakan kelembutan itu. Cici orang pertama yang mengusap kepala jo dengan tulus. Terima kasih ci, cici telah mewujudkan keinginan jo dari kecil.” Curhat Jonathan dengan siluet kaca di matanya, ia memegang tangan meida yang berada di kepalanya, lalu menciumnya. Meida meneteskan air mata mendengar curhatan adiknya.


“Malang sekali adik ku. Jika jo mau, cici bisa mengusap kepala jo sebelum tidur setiap malamnya. Cici akan mengabulkan segala keinginan jo, jika cici mampu melakukannya.” Tutur meida dengan terus membelai kepala adiknya.


“Cici tidak keberatan? Beginikah rasanya memiliki kakak perempuan? Sangat menyenangkan! Terima kasih ci. Walaupun jo tak mendapatkan kasih sayang orang tua, tapi Tuhan kini telah mengganti nya. Jo bisa mendapatkannya lewat tangan Cici, bu ina, ko melvin, dan lewat keluarga om Johan.” Lirih jonathan dengan menatap sorot kecoklatan milik cici nya, yang sama dengannya. Meida membalas tatapan mata itu dengan sorot menghiba.


“Jo, biarkan keadaannya seperti ini, jangan beritahu keluarga kita kalau cici masih hidup. Biarlah mereka menganggap cici sudah mati, itu lebih baik bagi cici. Cici nyaman seperti ini, tanpa harus mengetahui ataupun mengenal kedua orang tua kita. Cici takut, jika melihat mereka, kebencian cici akan semakin mengakar, dan menambah kadar sakit di hati cici. Cici nyaman dengan keadaan seperti ini, mereka tak mengenal cici, cici pun tak mengenal mereka.” Jonathan di buat heran dengan permintaan meida. Bukankah dari dulu meida ingin menemuinya.


“Cici tak ingin sekali pun bertemu dengan Daddy dan Mommy?” Meida menggelengkan kepalanya, lalu menyentuh lembut wajah adiknya.


“Jika bisa, cici tak ingin bertemu sama sekali dengan mereka. Cici takut malah membuat hati cici semakin terluka, ketika melihat wajah mereka yang telah menelantarkan kita.” Jonathan menangkap kesedihan di mata meida. Tangannya mengelus lembut pipi cici nya dengan tersenyum.


“Iya jo. Untuk sementara, biarkan ini semua seperti ini. Dari lubuk hati yang terdalam, cici tak ingin bertemu dengan mereka, karena cici sudah tahu alasan mereka di balik penculikan cici.”


“Baiklah! Apa cici tidak ingin mendengar cerita keluarga kita? Siapa-siapa anggotanya?” Meida menggelengkan kepalanya lemah.


“Cici tak berminat sama sekali mengenal keluarga kita jo, setelah banyak kejahatan yang telah dilakukan mereka! Sekarang tidurlah sudah malam! Besok kamu harus kembali ke sekolah.” Meida kembali mengusap kepala jo yang sedang menganggukkan kepalanya


“Good night kakak tercantikku. Mimpi yang indah,” ucap Jonathan sambil mencium pipi meida, meida tersenyum hangat menerima perlakuan romantis adiknya.


“Good night adik tampanku. Mimpi yang indah.” Meida mencium kening Jonathan lalu tidur di sampingnya.


-


[Tuan, untuk pengisi acara sudah ready, mudah-mudahan tidak ada kendala. Untuk dekorasi gedung akan di mulai lusa, Saya harap Tuan bisa hadir.]


[Besok saya pasti hadir! Atur semua sesuai dengan planning awal kita!] Melvin membalas pesan itu sambil membuka kancing kemejanya.


[Baik Tuan, saya usahakan tidak meleset sedikit pun.]


[Good!] Setelah membalas pesan dari dion, melvin meletakkan ponselnya di atas nakas. Lalu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Setelah membersihkan tubuhnya dan mengenakan piyama tidur, melvin menyandarkan kepalanya di headboard ranjang. Ia sesekali kali tersenyum dalam lamunan nya ketika mengingat kejadian tadi. Mengingat ketika ia bisa memeluk erat meida tanpa penolakan, dan ia sangat menikmati pelukan itu. Melvin menyugar rambutnya dengan tersenyum, lalu memeluk guling nya.


Ya Tuhan, saya sangat mencintainya. Saya malu untuk mengakuinya, tapi perasaan ini susah untuk saya kendalikan. Semakin saya menghindar, cinta ini semakin mengejar saya.


Ya Tuhan, bantu meida untuk melupakan Adib. Bukanlah hatinya untuk menerima dan mencintai saya. Saya takut kehilangannya.


Tuhan, perasaan ini menggila, melebihi perasaan cinta yang saya miliki dulu pada sandra.


Meida, kenapa hati saya seyakin ini padamu? Saya tak bisa jauh sedikit pun dari mu! Hati saya tak bisa membiarkan mu terluka! Saya tak ingin melihat mu menagis! Saya benar-benar mencintai mu dengan tulus meida.


Tuhan, bantu saya untuk memperjuangkan rasa ini.


-


“Vin, kapan kamu akan memperkenalkan pacar kamu pada papih?” Tanya Nagara merapikan berkas di depannya setelah selesai meeting. Di ruangan itu tinggal mereka bertiga. Melvin yang sedang membuat catatan di iPad nya, dan dion yang sedang merapikan berkasnya.


Mendengar pertanyaan Nagara, melvin mengalihkan pandangan kearah Nagara dengan tersenyum kikuk.


“Melvin belum punya pacar pih, masih dalam proses pendekatan. Doakan melvin pih, mudah-mudahan bisa mendapatkan wanita itu.” Dion tertawa meledek mendengar ucapan melvin. Karena ia tahu, wanita yang di sukai Tuan nya adalah meida, musuh yang mampu meluluhkan hatinya. Dion bersyukur, akhirnya melvin melabuhkan hatinya pada meida, walaupun baru tahap pendekatan. Melvin mendelikan tajam matanya kearah Dion, hingga dengan seketika dion menghentikan tawanya.


“Dion, kau tahu wanita yang di dekati anak saya?” Tanya Nagara menatap curiga kearah dion. Melvin menatap tajam mata dion, dengan mengarahkan telunjuknya yang digariskan dilehernya. Dion menatap melvin dengan wajah ngeri.


“Ti..tidak Tuan besar. Saya tidak mengetahui wanita yang di dekati Tuan melvin. Tuan melvin tak sedikitpun memberitahu saya.” Jawab terbata-bata dion yang diacungi jempol oleh melvin tanpa sepengetahuan Nagara.


“Ok baiklah! Kamu harus memperkenalkan wanita itu kepada papih di acara nanti!” Melvin menelan salivanya kasar, mendengar perintah sekaligus permintaan dari papihnya. Sedangkan Dion tertawa terbahak-bahak dalam hatinya.


Nagara meninggalkan ruang meeting, meninggalkan melvin yang sedang menangkupkan kedua tangan dikepalanya.


“Masih ada kesempatan beberapa hari lagi Tuan, gunakan waktu itu untuk mendekatinya. Luluhkan hatinya. Wanita akan luluh dengan sebuah kebaikan! Selamat berjuang meluluhkan hati macan betina!” Ledek dion menepuk pundak melvin seraya pergi dari ruang meeting itu.


“Dion! Berhenti meledek saya! Atau gaji kamu saya potong!” Teriak melvin menggema di ruang meeting. Dion berlari terbirit-birit meninggalkan melvin.


-


“Tuan, ini kumpulan foto gadis itu ketika masih sekolah. Saya sudah mendatangi tempat sekolahnya dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Dan saya kumpulkan data-data tersebut dalam amplop cokelat ini. Tuan bisa memeriksanya! Data tersebut bersumber dari Guru yang pernah jadi wali kelasnya, dan teman seangkatannya.” Erick menyondorkan amplop coklat kearah andress yang sedang menyeruput kopi nya. Andress meletakan cangkirnya, lalu mengambil amplop itu. Dengan perlahan-lahan Andress membuka amplop itu dan mengambil beberapa kertas yang ada di dalamnya. Ia membelalakkan matanya ketika membaca data tersebut yang di bawahnya tertera foto seorang gadis yang memakai seragam Putih Abu-abu.


Ya Tuhan, ini tak mungkin!


-


-


Kuyylah vote sama hadiahnya ♥️


Jangan lupa like sama komen nya♥️


Love you buat kalian yang masih stay di novel receh ini♥️

__ADS_1


Selamat Hari Ibu untuk seluruh ibu-ibu di Dunia ...


Terima kasih untuk dedikasi, pengabdian, dan pengorbanan untuk anak-anak kalian♥️


__ADS_2