Kita Berbeda

Kita Berbeda
Pergi ke Bandung


__ADS_3

“Ci ambillah ini! Gunakan sebaik-baiknya! Jo ikhlas membantu cici.” Jonathan melerai pelukan meida, ia mengambil kartu debit yang terselip di casing ponselnya.


Jonathan sengaja menyimpan kartu debit di casing ponselnya, karena ia tidak suka membawa dompet.


“Tapi jo ... cici takut  orang tua mu marah. Nanti kalau kamu butuh apa-apa gimana?” Tolak meida secara halus, memikirkan respon orang tua jonathan.


“Gak mungkin orang tua jo tau ci, boro-boro merhatiin kartu ini, merhatiin jo aja enggak. Yang mereka tahu yah setiap bulan mereka mentransfer uang kesini, padahal jo gak butuh uang mereka. Cici pegang aja ATM ini, gunakan untuk kebutuhan cici. Jo sama sekali tidak keberatan jika ATM ini cici gunakan.” Jonathan meletakan kartu debit nya ke telapak tangan meida. Meida memandang kartu itu lalu menatap jonathan.


“Jo, kamu lelaki tulus yang pertama kali cici temukan di kota ini. Maaf cici merepotkan kamu. Sebenarnya cici malu menerima bantuan dari mu jo. Tapi cici bingung harus apa? Di satu sisi cici harus menjalankan sebuah amanah, di sisi lain keuangan cici gak memadai jo. Kamu lelaki yang di kirim Tuhan untuk menolong cici.” Tangis haru meida membelai pipi jonathan dengan lembut.


“Shutt! Jangan ngomong macam-macam. Jo hanya ingin cici bahagia, ceria, dan selalu tersenyum, seperti waktu pertemuan pertama kita. Permintaan jo mudah, cici hanya perlu mengganti kartu ini dengan memasak makanan untuk jo,” ucap jonathan sambil meletakan jari telunjuk nya di bibir meida. Ia tersenyum menatap dalam kearah meida.


“Jo, cici bahagia dengan hadirnya kamu di sisi cici.”


“Jo juga bahagia dengan kehadiran cici. Terima kasih, karena cici mampu mengobati kekosongan hati jo,” ucap tulus jonathan menggenggam kedua tangan meida.


“Berarti besok cici pulang ke Bandung?” Tanya jonathan memainkan tangan meida dan meletakan di dagunya.


“Inn Sya Allah jo, besok cici pulang ke Bandung. Jo mau ikut pulang sama cici?”


“Jo pengen ikut, tapi besok jo ada ujian semester. Tapi jo gak tenang melepas kepergian cici sendirian,” ujar jonathan dengan wajah khawatir dengan bibir manyun ke depan.


“No problem jo, cici gak papa pulang sendiri.” Jawab hangat meida sambil tersenyum


“No no no no ... pokoknya jo antar cici pulang ke Bandung. Jo tidak menerima penolakan.” Tegas jonathan setelah memikir ulang. Ia tak ingin melepas kepergian meida sendirian. Ia takut terjadi apa-apa dengan meida di perjalanan.


“Gimana dengan sekolah mu jo? Apalagi besok kamu ujian kan?” Tanya meida memandang wajah jonathan lembut sambil mengusap lengannya. Pertanda ia memberi pengertian kepada nya.


“Itu bukan masalah ci. Nanti jo tinggal izin ke sekolah. Masalah beres kan?” Sahut jonathan dengan cengir kuda. Apapun alasannya, ia harus ikut pulang ke kampung meida.


“Terus bagaimana dengan orang tua mu jo?”


“Sudah jo bilang ci, mereka tak akan memperdulikan kemana pun jo pergi. Tapi nanti jo izin dulu ke koko sama mommy, biar mereka tahu kalau jo mau pergi,” ucap enteng jonathan sambil memakan stock cemilan meida.


“Itu terserah kamu jo.” Pasrah meida dengan keputusan jonathan.


“Berarti besok jadi yah kita ke Bandung, jo sudah gak sabar pergi kesana. Itung-itung refreshing otak ci.” Kelakar jonathan dengan tersenyum lebar.


“Iya jo. Cici izin sama atasan dulu karena mulai besok cici gak masuk kerja,” ujar meida sambil mengambil ponselnya di atas laci pakaian, untuk menghubungi melvin.


-


-


“Hallo selamat malam Tuan.”


“Malam meida, tumben kamu telpon saya. Gimana keadaan kamu sekarang? Sudah di minum obatnya?” Tanya melvin beruntun, tanda ia mengkhawatirkan kondisi meida. Tadinya ia akan menghubungi meida lebih dulu, tapi ternyata meida yang menghubunginya duluan.


Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Batin melvin sambil tersenyum.


“Alhamdulillah saya baik tuan. Ada sesuatu yang ingin saya utarakan.” Jawab serius meida. Yang sontak membungkam senyum melvin di ujung sana.


“Sepertinya ini serius meida.” Ucap melvin dengan perasaan tegang. Ia takut meida resign dari pekerjaannya, dan pergi jauh meninggalkan nya.


“Iya Tuan. Saya izin mulai besok saya tidak masuk kerja, tak tahu selama berapa hari nya. Jika urusan saya sudah selesai, saya akan masuk kerja lagi. Gak papa tuan potong gaji saya, asal jangan pecat saya,” ucap meida dengan panjang lebar. Perkataan yang meida ucapkan menenangkan hati melvin.

__ADS_1


“Maaf saya lancang. Saya ingin tanya, kamu ada keperluan apa meida? Sampai izin lama tak masuk kerja?” Tanya melvin ingin mengetahui alasan meida meminta izin nya.


“Saya mau pulang ke Bandung dulu tuan, ada sesuatu yang harus saya urus.”


“Kamu yakin, akan pulang kesana dengan keadaan seperti itu? Kamu masih sakit meida, perjalanan Surabaya-Bandung itu jauh. Saran saya, pulihkan dulu kesehatan kamu, baru kamu pulang kesana. Bukan nya saya melarang kamu pergi, tapi saya mengkhawatirkan keadaan kamu meida.” Terang melvin dengan penuh perhatian, yang sontak perkataannya menggelitik hati meida.


Ada apa dengan mu Tuan, kenapa sikap mu berubah drastis seperti ini? Batin meida


“Terima kasih Tuan atas perhatiannya. Tapi saya tidak bisa menunda kepergian saya kesana. Lebih cepat lebih baik. Keadaan saya Alhamdulillah sudah membaik.”


Jonathan hanya diam mendengar percakapan meida dan melvin yang terkesan hubungan mereka itu dekat. Jonathan dapat merasakan perhatian melvin kepada meida.


Siapa sebenarnya atasan cici? Apa hubungan mereka sedekat itu? Atasan cici sangat perhatian, jarang ada atasan seperti itu. Jangan-jangan mereka have something special. Terka jonathan dalam hati.


“Kamu yakin meida? Bahaya kamu pergi sendirian kesana. Kamu pulang kesana di antar siapa?” Tanya melvin terdengar posesif.


“Alhamdulillah ada yang mengantar saya tuan. Saya tidak sendirian pulang kesana.” Terang meida melihat kearah jonathan yang dari tadi memperhatikan nya.


“Kamu di antar siapa?”


“Saya di antar adik saya,” ucap meida tersenyum kearah jonathan yang berada di sampingnya.


“Saya akan antar kamu pulang kesana!” Ucap tegas melvin secara tiba-tiba


“Tapi Tuan, bukannya tuan sibuk? Bagaimana dengan pekerjaan tuan?” Tanya meida yang dibuat bingung dengan sikap melvin.


“Untuk masalah pekerjaan itu gampang. Nanti Dion yang akan menghandle nya.” Terang melvin yang ucapannya tak ingin di bantah meida.


“Tidak perlu tuan. Saya tidak ingin merepotkan Anda.”


Menyayangi kamu! Ucap melvin dalam hati.


“Karena saya atasan kamu! Kamu memilih pulang dengan saya, atau saya tidak mengizinkan kepergian kamu sama sekali!” Ancam melvin sesuka hatinya. Karena tujuannya sekarang adalah menemani meida, sambil mengorek informasi tentang wanita yang mulai mengusik hatinya itu.


“Terserah Tuan saja! Tuan selalu menempatkan saya dalam pilihan yang sulit!” ucap meida dengan wajah lesu.


“Baiklah, besok kita ke Bandung. Kamu tunggu kabar dari saya! Saya akan mengurus perjalanan kita besok. Antara menempuh perjalanan darat atau udara. Tunggu keputusan saya besok pagi! Kamu prepare aja, besok pukul 6 pagi saya ke kosan kamu.” Terang melvin dengan panjang lebar, hati nya sudah yakin akan mengantar kepulangan meida ke Bandung.


Untuk masalah pekerjaan, ia sudah menyuruh Dion dan Melisa untuk menghandle nya selama beberapa hari ke depan.


“Baiklah. Terserah Tuan saja.” Ucap meida menutup panggilan itu.


“Jo atasan mbak pengen ikut kita ke Bandung, gak papa kan? Besok dia kesini jam 6 pagi. Kita berangkat nya sama-sama, besok dia yang memutuskan perjalanan kita antara menggunakan jalur darat atau udara. Jadi sekarang kita harus prepare. Kamu bawa barang seperlunya aja yah. Jangan bawa banyak barang."


“Gak papa ci. Jo ikut keputusan cici aja.”


-


Jam setengah enam pagi jonathan sudah berada di kosan meida, ia sudah berpakaian rapi dengan kemeja biru yang dilapisi dengan jaket bulu yang menutupi hampir lututnya.


“Cici sudah siap?” Tanya jonathan mengagetkan meida yang sedang merapikan tas ranselnya.


“Sudah jo. Kamu mau kemana bawa pakaian banyak gini. Kita bukan pindah, kita hanya beberapa hari disana. Kamu kayak yang mau kabur aja jo.” Ucap meida terkekeh melihat penampilan jonathan.


“Jo gak bawa barang banyak ci, cuman bawa baju beberapa potong, peralatan mandi, cemilan sama kamera DSLR ini.” Tunjuk jonathan ke arah kamera yang menggantung di lehernya.

__ADS_1


“Tapi ini banyak sekali jo, lagian kamu pake bawa koper segala. Di tambah jaket yang kamu pakai, disana gak ada salju jo.” Kelakar meida sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Ihh cici, udara disana itu dingin. Sengaja jo pakai jaket ini untuk menghalau dinginnya udara disana. Jo sering pakai jaket modelan kayak gini waktu tinggal di Busan, kalau musim salju tiba. Takutnya cuaca di Bandung juga sama, soalnya semalem jo browsing, udara disana dingin nya cukup ekstrim, karena masih banyak pegunungan nya. Maka nya jo pakai jaket ini.” ujar jonathan sambil melepas jaket yang dipakai nya. Ia mengganti jaketnya dengan mantel berwarna cokelat muda.


“Jo di Bandung gak ada musim salju, lagian gak ada musim salju yang udara nya panas. dimana-mana juga dingin jo. Tadi cici denger kata Busan, busan itu dimana jo?” Tanya meida menatap penasaran kearah jonathan.


“Ohh itu di South Korea ci. Jo tinggal disana beberapa tahun. Pokoknya jo tinggal pindah-pindah antara Surabaya dan Korea. Palingan sesekali liburan ke Sanghai china ke rumah Buyut waktu mereka masih hidup.” Terang jonathan sambil merapihkan penampilan nya.


“Kenapa kamu tinggal di Busan?”


“Mommy jo keturunan korea ci. Keluarga besarnya tinggal disana, dan daddy jo keturunan Chinese. Tapi mereka sudah lama kok bermukim di Indonesia.”


“Pantes saja kamu tampan jo, ternyata kamu blasteran Asia Timur.” Ucap meida sambil mencubit gemas pipi jonathan.


“Kenapa kamu tinggal sampai pindah-pindah gitu jo?”


“Setelah kepergian cici jaslin, mommy depresi berat ci. Tinggal disini membuat mentalnya semakin down, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke Korea. Setelah mental mommy stabil, ketika mengandung  jo, mommy kembali memutuskan pindah kesini untuk mencari keberadaan cici jaslin. Tapi setelah jo berusia 8 tahun, mommy dan daddy membawa jo untuk tinggal kembali di Korea. Yang jelas jo tinggal disini dari 3 tahun lalu ci.” Terang jonathan menceritakan kepindahannya kepada meida.


-


Ketika mereka sedang sarapan, tiba-tiba suara mobil berhenti di depan kosan meida. Melvin dengan pakaian casualnya berjalan ke kosan meida


“Selamat pagi ...” Sapa melvin. Sontak meida dan jonathan melihat langsung ke arah melvin.


“Kalian sudah siap? Perjalanan kita menggunakan jalur udara, untuk tiket sudah ready di saya. Schedule keberangkatan kita jam 08:00 sekarang. Kita berdoa saja semoga pesawat yang kita tumpangi keberangkatan nya tidak delay. Ayoo ... kita berangkat sekarang ke airport!” Perintah melvin tiba-tiba dengan panjang lebar, meida dan jonathan hanya saling pandang dengan mulut menganga.


“Baik Tuan.”


Meida dan jonathan segera menyelesaikan sarapannya. Mata melvin tak berhenti memperhatikan gerak-gerik jonathan tanpa kedip.


Wajah lelaki ini serasa tidak asing. Aku pernah melihat nya! Tapi lupa dimana. Kenapa wajah mereka terlihat mirip. Siapa sebenarnya lelaki itu. Batin melvin sambil menatap wajah mereka bergantian. Daripada penasaran, melvin langsung bertanya ke jonathan


“Siapa nama mu dek?”  Tanya melvin menatap jonathan dengan hangat.


“Saya Jonathan Gilbert Atmaja mas.” Jawab jonathan spontan sambil berusaha tersenyum, walaupun senyumnya terlihat kaku.


“Gilbert Atmaja ...” ucap melvin pelan sambil mengingat sesuatu.


Gilbert Atmaja ... Nama itu serasa tidak asing di telinga saya. Apa jangan-jangan ...


-


-


Jangan jangan apa yoo..


Bersimbing.


Maaf otor telat up, jaringan nya Masya Allah bikin kesel.


Operator nya dari kemarin gangguan guys.


Jaringan dari pagi H, jam segini baru 4G😥 Bukan NT dari siang, jaringannya terputus mulu, cuman bisa nge like doang, ehh jaringannya ngelepot lagi (otor sedikit curhat)😥


Kuy vote, like sama hadiahnya.♥️

__ADS_1


Hatur nuhun🤗


__ADS_2