Kita Berbeda

Kita Berbeda
Wajah kedua bayi itu sama


__ADS_3

“Jonathan apa kamu pernah melihat foto bayi ini di rumah mu?” Tanya bi ina sambil menyodorkan foto, yang ia ambil di kotak kayu milik meida.


Jonathan memandang foto itu dalam, dengan wajah kaget, kemudian matanya berkaca-kaca. Ia memandang foto itu lama, lalu memeluknya dengan berderai air mata.


Ya Tuhan, foto ini mirip sekali dengan foto cici jaslin yang berada di rumah. Ya Tuhan, ternyata kau memberikan berkat di setiap pertemuan kami. Ini memang takdir, takdir yang telah kau susun sekanario nya. Batin jonathan sambil memeluk foto itu erat.


“Jo ... jawab pertanyaan ibu!” Ucap bi ina dengan wajah kaget bercampur pucat, karena ia sudah tahu jawabannya.


Yaa Allah jangan-jangan memang benar, bahwa meida adalah cici nya jo yang hilang itu. Lirih bi Ina memandang jonathan dengan tak percaya.


“Jo... pandang ibu! Lihat mata ibu! Bicaralah!” Perintah emosi bi ina memegang kedua bahu jonathan dengan berderai air mata. Sedangkan jonathan mencium foto itu dengan lelehan air mata.


“Foto bayi ini persis yang mommy pajang di kamar cici bu, wajah bayi ini sama. Ini cici ku yang hilang bu....” Jawab jonathan dengan wajah bahagia bercampur duka. Ia tak mampu melanjutkan ucapannya, terlalu banyak hal yang ia takutkan kedepannya. Berbagai bayangan negatif menghantui pikirannya.


“Jo apa ciri-ciri cici mu? Ibu ingin tahu, agar kita tidak keliru!” Tegas bi Ina mencoba menerima kenyataan ini. Ia berusaha memastikan bahwa semua ini memang benar adanya.


Ya Allah bagaimana ini? Aku saja yang mendengar cerita meida terluka, apalagi dia... dia yang melakoninya, pasti hatinya jauh lebih terluka daripada aku. Yaa Allah ... bagaimana respon dia jika bertemu dengan orang tuanya?


“Jo tidak tahu bu, yang jo tahu wajah kedua bayi itu sama. Jo tidak tahu ciri-ciri cici jaslin, yang tahu ciri-ciri cici jaslin hanyalah om johan dan istrinya. Karena mereka berdua yang merawat cici jaslin dulu ketika bayi.” Terang jonathan dengan suara terbata-bata.


“Bisa kau hubungi om johan mu itu jo?” ucap bi ina berusaha tegar dengan menghapus air matanya.


“Tidak bisa bu. Jo tidak memiliki nomor teleponnya. Kami jarang bertemu kecuali secara tidak sengaja, itu pun hanya berpapasan saja. Palingan om johan datang, ketika jo rindu akan sosok figur seorang ayah, yang ada tapi berasa tidak ada.” Jonathan menutup mata dengan lengan kanannya. Ia menangis seperti anak kecil yang sedang merajuk.


“Dan, jo pun tak tahu tempat tinggal om johan dimana. Yang jo tahu cuman nama cafe miliknya, cafe tempat cici meida kerja dulu.”


“Yasudah, tidak papa jo. Walaupun kita sama-sama yakin bahwa meida dan cici mu adalah orang yang sama. Tapi kita jangan gegabah dalam hal ini, kita jangan sampai salah mengambil kesimpulan. Kita harus memastikan semuanya pada om mu itu. Karena dia kunci dari semua ini. Ingat jo, jangan sampai meida tahu! Ini rahasia kita berdua.” Bi ina memegang kedua bahu jonathan, ia menatap dalam mata sipit yang sedang menangis itu.


“Baik bu, jonathan ikut ibu saja. Agar cici meida tidak mencurigai kita. Jo harus memastikan ini semua kepada om johan. Karena kebenarannya ada ditangan om johan,” ucap jonathan memandang wajah bi ina dengan sendu. Karena kenyataan itu akan segera terungkap.


“Baik jo. Ibu pegang kata-kata mu! Karena yang harus kita jaga sekarang adalah perasaan meida. Ia masih berduka atas kehilangan cintanya, jangan sampai kita tambah luka hatinya dengan ini.” Lirih bi ina dengan suara pelan.


“itu pun yang jo pikir kan bu. Jonathan tak ingin melihat cici terluka lagi. Cici meida sudah tahu cerita tentang kehilangan cici jaslin. Bagaimana perasaan nya, ketika ia tahu bayi yang hilang karena diabaikan kehadiran oleh keluarga nya itu adalah dirinya sendiri.”


“Sekenario Tuhan itu luar biasa jo. Kalian yang telah dipisahkan bertahun-tahun lamanya, akhir nya dipertemukan oleh takdir. Kalian bertemu karena takdir yang sudah lama mengikat kalian.”


-


Melvin berdiri di balkon villa, yang keberadaannya diatas bukit. Ia bisa melihat rumah-rumah penduduk yang berjejer rapi di bawahnya. Perkampungan itu terlihat indah ketika di malam hari, dengan lampu yang menyinari di setiap teras rumah. Suara adzan berkumandang bersahutan menandakan bahwa waktu shalat isya telah tiba. Suara adzan itu bergantian menyahut para lelaki, tua muda untuk melaksanakan shalat isya berjamaah di masjid.


Nuansa itu menambah kedamaian hati melvin yang sedang berdiri memandangi pemukiman itu. Ia belum pernah melihat dan merasakan ketenangan hati seperti ini. Suara adzan mampu menggetarkan hatinya diantara dinginnya angin malam, suasana penuh syahdu yang belum pernah ia rasakan dimanapun, termasuk di kota Surabaya. Perkampungan itu benar-benar memiliki nyawa yang mampu menghipnotis hati melvin, untuk tetap diam melihatnya.

__ADS_1


Kedamaian ini melebihi apa yang gw rasakan ketika mendengar pujian di Gereja. Yaa Tuhan, gw nyaman berada disini, hati gw tenang setelah mendengar suara itu. Masalah yang numpuk di kepala gw tiba-tiba hilang seiring dengan suara kumandang adzan, gw serasa tidak memiliki beban apapun, hati gw terasa lapang. Lirih melvin sambil menarik napas panjang dengan mata terpejam menikmati hembusan angin yang menyentuh kulitnya.


Setelah cukup lama terdiam. Melvin mengambil ponsel di saku celana training nya. Ia berniat menghubungi melisa, adik semata wayangnya.


“Hallo lisa...” Melvin mengawali pembicaraan itu dengan tersenyum.


“Hallo ko ... tumben baru ngabarin lisa sekarang, saking sibuknya yah disana?” Tanya kesal melisa sambil menggerutu.


“Maaf koko baru ngabarin kamu dek, koko baru pegang ponsel sekarang. Makanya koko ini langsung ngehubungi kamu.” Jelas melvin sambil menggaruk pelipis nya.


“Kok bisa? Emang gak ada jaringan disana?”


“Kalau jaringan ada aja, cuman koko gak sempat pegang ponsel,” ucap melvin sambil mengusap hidungnya.


“Keadaan disana gimana ko? Nyaman pasti nya. Apalagi suasananya, pasti adem ayem kan?” Tanya melisa dengan suara kesal. Sebelum keberangkatan meida ke Bandung, ia berniat ikut dengan melvin, tapi dilarang keras oleh sang kakak.


“Ya begitulah dek. Disini lingkungannya masih asri, natural banget. Penduduk nya pada ramah, walaupun pas datang ada trouble sedikit.” Jawab melvin sambil memainkan tangannya di atas bunga rose.


“Trouble apa ko? Koko gak sampai di gebukin warga kan?"


"Mungkin, melihat wajah tengil koko, mereka ingin langsung menampolnya hahaha.” Tawa melisa menggema di ujung sana. Melvin membalasnya dengan mengusap dadanya secara teratur.


“Enggaklah, bukan itu. Mereka merasa aneh dengan kehadiran koko disamping meida. Mungkin mereka pikir koko itu makelar tanah. Kamu tahu sendiri kan, kalau kita itu keturunan Chinese, sedangkan penduduk sini hampir semuanya lokal dan beragama islam. Tapi koko bersyukur, walaupun kita berbeda, mereka sama sekali tidak mengusik keberadaan koko dan jonathan disini.” Terang melvin dengan wajah berbinar.


“Sembarangan kamu ngomong! Koko bukan type seperti itu!” Sungut melvin mendumel.


“Bisa jadilah... koko kan hobinya tebar-tebar pesona, apalagi disana banyak gadis desa yang unyu-unyu dan cantik. Pasti mata koko nonstop 24 jam buat cari mangsa hahaha.”


Sial! Melisa meledek gw. Padahal ia sudah tahu, kalau hati gw itu sudah tertawan oleh meida. Kalau dia ada di depan gw, udah gw sumpal mulut pedasnya itu pake sambal. Sabar melvin... sabar...  jelek-jelek juga dia adek loh. Gerutu melvin dalam hati sambil mengusap dadanya.


“Ko kapan balik ke Surabaya? Lisa pusing nih ngehandle pekerjaan koko terus. Lisa butuh shopping, pikiran lisa rudet ngehadapi berkas sejaban ini. Cepetan pulang! Sebelum papih curiga akan keberadaan koko.”


“Dek, koko gak bisa cepet-cepet pulang ke Surabaya. Koko janji bulan ini, uang jajan kamu koko tambah 500%. Asal kamu jangan bilang ke papih kalau koko ada disini.” Sogok melvin kepada melisa sebagai uang tutup mulut. Melvin melakukan itu, supaya adiknya tidak membocorkan keberadaan nya yang sedang berada di Bandung kepada sang papih.


“Okrey. Tapi 500% itu sedikit kok, gak cukup buat beli lakban.”


“Whattt?? Kamu gila! Itu sudah besar dek! Cukup buat beli satu swalayan.” Sungut melvin sambil memegang kepalanya.


“Mau gak??” Tanya melisa dengan ketus


“Okokokok, koko ngalah. Kamu mau berapa?” Tanya kesal melvin sambil memijit dahinya pelan.

__ADS_1


“200% aja ko. Lisa gak butuh banyak-banyak. Saldo ATM lisa masih banyak, cukup kali buat beli perusahaan koko yang segede kutil itu.” Gurau melisa sambil menahan tawa.


What?? Apa melisa ketularan oon, setelah sering bersama dengan Dion? Udah bodoh, sombong nya gak ketulungan. Sifat sombongnya kayaknya warisan dari gw, tapi gak papa, itung-itung gw punya pengikut. Melisa yang oon gw yang untung hahaha. Tawa jahat melvin dalam hati.


“Okok deal yah!”


“Okey. Keadaan meida baik-baik saja ko? Apa sudah mendingan?” Tanya melisa mengalihkan pembicaraan. Ia penasaran dengan kondisi meida, yang sebelum keberangkat kesana masih dalam keadaan sakit.


“Sekarang keadaan meida sudah mendingan dek. Awalan pas datang kesini dia sempat pingsan, karena dihakimi uwa nya  bersama konco-konconya. Koko gak tega dek, kedatangan dia disini tidak ada yang menerima, kecuali bibi dari pihak orang tua angkatnya. Ibu dari adib, lelaki yang mencintai meida dengan tulus itu.” Jelas melvin dengan suara getir ketika menyebut nama adib. Ia yakin bahwa meida dan adib saling mencintai. Melihat kenyataan itu, hati melvin di buat melow. Karena ia harus ekstra memperjuangkan cintanya untuk meida.


“Ya Tuhan, mereka sekejam itu ko? Tega sekali mereka membuat meida seperti itu.”


“Iya dek. Ternyata kehidupan meida disini sangatlah prihatin. Makanya koko gak tega ninggalin dia sendiri di tempat asing ini. Apalagi sekarang dia masih berada dalam suasana berduka. Koko mohon sama kamu, tolong bantu koko untuk menghandle pekerjaan koko sampai koko pulang kesana yah. Kalau papih ataupun mamih nanyain, bilang aja koko sedang berlibur di luar kota, sedang dalam mode gak bisa di ganggu gitu.”


“Dengan rasa kemanusiaan, ok aku bantu koko. Tapi jangan lama-lama disananya! Aku juga butuh refreshing. Asisten koko itu menyebalkan, bikin kepala ku pusing tiap hari. Mana lemot sama lola lagi, kebanyakan hokcay.” Omel melisa diujung sana mengumpat dion.


“Sama-sama lemot dan lola jangan saling ngeledek. Nanti jodoh loh hahaha.” Ledek melvin dengan tertawa keras


“Ihh jangan sampe! Nanti pacar halu ku marah.” Jawab ketus melisa dengan cemberut.


“Ihh gila! Masih aja ngarepin kakak kelas belagu mu itu! Move on say, cowok masih banyak. Lagian kamu gak jelek-jelek amat. Masih ada lah, satu atau dua orang yang ngelirik haha.”


“Jangan ngeledek, kayak yang gak pernah jatuh cinta aja!”


“Pernah lah, koko kan normal. Tuh sandra buktinya.”


“Terserah koko lah! Aku titip meida, jangan sampai bikin dia nangis!” Teriak kesal meida, sambil mematikan sambungan telepon itu.


“Gak bakalan lah!”


Tut tut tut


****! Ternyata dia mematikannya!


-


Dua insan itu sama-sama terdiam di teras rumah. Mereka sama-sama mendongkak kan kepalanya keatas untuk melihat kearah bintang yang bertebaran di langit. Suasana hening menghiasi tempat itu, tanpa ada yang berani memulai pembicaraan.


“Dek, lihat bulan itu! Hampir setiap purnama abang menunggu mu, untuk bisa duduk bersama seperti ini.” Tunjuk zidan kearah bulan purnama yang tepat berada di atas mereka.


-

__ADS_1


Kuyy lah jempol, vote, komen sama hadiahnya ♥️


Love buat reader yang masih stay di novel ini♥️


__ADS_2