
“Jack, Jonathan mana?” Tanya Meida menolehkan kepalanya ke belakang Jack karena tak melihat keberadaan adiknya. Mereka bertiga baru saja selesai melaksanakan shalat Ashar di mushala rumah sakit.
Sore ini, Zaina menyuruh Jack untuk mengantar kedua anaknya menuju apartemen yang ditempati meida untuk mengambil barang keperluan nya. Andress tak bisa mengantar kedua adiknya, karena sore ini Rumah sakit Hospital Internasional cukup ramai, banyak pasien yang berdatangan. Jadwal operasinya pun bertambah padat.
Jack yang mengenakan kemeja berwarna biru menjawab pertanyaan meida sambil melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil.
“Jonathan ke toilet dulu. Kita di suruh nunggu di parkiran! Ayo Meida!” Jack membalikan tubuhnya lalu mendorong pelan tubuh meida untuk berjalan di depannya. Meida terus berjalan kearah parkiran dengan bibir cemberut.
Meida dan Jack duduk di bawah pohon palem yang berada di parkiran rumah sakit. Ia menunggu kedatangan Jonathan yang sudah beberapa menit tak datang menyusulnya. Wajah bosan sekaligus khawatir berbaur di wajah mereka yang terlihat lelah.
“Jack ini sudah 20 menit, gak mungkin Jonathan selama ini di kamar mandi!” Jack melihat jam tangannya lalu melap keringat didahinya menggunakan lengan bajunya. Ia menatap kearah rumah sakit dengan wajah lesu.
“Iya nih, Jonathan lama banget! Masa mau pipis selama ini. Jangan-jangan dia lagi konser dikamar mandi? Atau jangan-jangan tersesat? Tapi mana mungkin tersesat, orang bapaknya yang punya rumah sakit. Isshhhhh.” Meida langsung memukul lengan sepupunya dengan wajah kesal. Melihat wajah kesal Meida, Jack malah cengengesan dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin,
“Dihh ambekan! Garangnya minta ampun!” Kata Jack dengan wajah melasnya. Beberapa orang yang berada diparkiran itu melihat kearah mereka dengan terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil.
Meida menepuk-nepuk kedua tangannya dengan senyum yang terlihat menyebalkan. Ia berdiri dari posisinya, lalu melihat kesegala arah mencari sosok adiknya. Karena tak menemukan jonathan, ia kembali melihat kearah sepupunya sambil mengetuk-ngetuk jari tangan ke dagunya.
“Daripada kita nunggu disini, mending kita susul Jonathan yuk! Saya takut dia kenapa-napa.” Ajak Meida sambil menunjuk kearah rumah sakit yang jaraknya sekitar 500 meter dari posisi mereka.
“Tapi toilet jauh Meida! Di dalam! Saya harus punya banyak tenaga buat jadwal operasi saya nanti malam! Kalau di pake nyusul Jonathan, yang ada energi saya terbuang sia-sia.” Kilah Jack yang kembali cengengesan. Melihat kelakuan lebay sepupunya, meida mencebikkan bibirnya menatap kearahnya dengan kesal.
“Dihh lebay nya! Badan tinggi, tubuh kekar, kondisi sehat tapi lemah! Mau besok saya pakaian rok?” Bukannya marah, jack malah menyugar rambutnya dengan mengedipkan sebelah matanya meledek kearah meida.
“Gak papa lemah yang penting ganteng!” Tuturnya dengan penuh percaya diri. Dengan wajah kesalnya, meida menyeret tangan Jack menuju lobby rumah sakit yang berada di depan mereka. Jack tak bisa melakukan perlawanan, karena cekalan tangan meida sangat kuat pada tangannya.
“Mau-maunya Melvin sama kamu, cewek bar-bar kayak gini! Kamu cewek apa cowok? Pegangan tangannya laki banget, gak ada feminim-feminimnya!” Ejek Jack sambil menggelengkan kepalanya kearah Meida yang sedang menyeretnya untuk terus berjalan kedepan. Meida menolehkan wajah kesalnya kearah Jack yang tak bisa diam.
“Diam Jack jangan banyak omong! Mulut laki bawel banget! Nurut napa!” Kesal meida setelah mendengar celotehan sepupunya di sepanjang jalan. Meida mengacam jack dengan mengepalkan tangannya didepan wajahnya, jika jack terus saja berceloteh ia akan menonjok mulutnya. Jack langsung diam dengan bibir berdecak,
“Meida, kenapa kau sangat menyebalkan?” Ketus Jack sambil melepaskan perlahan-lahan cekalan tangan meida. Meida melepaskan cengkramannya dengan senyum mengejeknya,
“Dari dulu saya sudah menyebalkan Jack! Lagian kamu lemah! Baru saya tarik tangannya aja, badan udah ngikut semua, kayak gak ada tenaganya. Padahal badanmu tinggi besar Jack! Tapi sayang, kamu lemah hahaha.” Tawa Meida yang berjalan mendahului Jack. Jack menarik nafasnya pelan untuk menghilangkan kekesalan pada sepupunya. Ia kembali menyugar rambutnya lalu berjalan dengan wajah cool yang seperti biasanya.
“Terus meledek saya! Nanti tahu rasa!” Ketus Jack sambil berjalan kearah samping Lobby menuju ruang perawatan. Ia berjalan kearah toilet yang berjejer di samping Mushala rumah sakit tersebut.
“Tunjukkan di toilet mana?” Tanya Meida sambil mengamati beberapa pintu toilet Pria. Kebetulan di toilet mushala itu nampak sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang melaksanakan shalat di dalam mushala.
“Kamu tunggu disini! Biar saya periksa toilet ke dalam!” Ujar Jack masuk kedalam toilet pria. Meida menyandarkan dirinya ke dinding menunggu Jack yang terdengar sedang membuka pintu satu persatu.
Tak berapa lama. Jack keluar kearah Meida dengan wajah paniknya dengan membawa ponsel jonathan yang terlihat retak dan mati, serta tote bag hitam kesayangannya.
__ADS_1
“Meida, Jonathan tidak ada! Saya hanya menemukan ini!” Ucap panik Jack sambil mengangkat barang-barang Jonathan. Mata meida terbelalak menatap barang milik adiknya dan langsung merebutnya.
“Kamu yakin Jack, Jonathan tidak ada di dalam?” Jack menggelengkan kepalanya dengan wajahnya yang masih terlihat panik.
“Sumpah Meida! Saya tidak melihat Jonathan di dalam! Saya sudah mengecek pintu satu persatu!” Meida menggigit bibirnya dengan tangan bergetar.
“Jack, Jonathan kemana?” Lirih meida yang di dera rasa khawatirnya. Jack mondar-mandir di sekitar mushala rumah sakit, dengan menanyakan Jonathan kebeberapa orang yang berada di sekitar itu.
“Meida, ayo kita ke ruang operator di lantai 5. Mudah-mudahan CCTV bisa menunjukkan keberadaan Jonathan dimana-mana nya!” Jack memegang lengan sepupunya dan berlari kearah lift. Mereka menunggu di depan lift karena sedang mengantri. Meida mengambil ponsel di tas selempang nya ketika suara panggilan ponselnya berdering.
Paman Johan, ada apa dia menelponku? Gumam pelan Meida sambil menatap nama di layar ponselnya. Meida mengangkat panggilannya dan menjauh dari arah lift. Walaupun wajah jack terlihat bingung, akhirnya ia mengikuti langkah meida.
“Hallo om!” Sapa Meida dengan suara setenang mungkin agar pamannya tak mendengar kegelisahannya.
[Hallo Jaslin. Kenapa nomor Jonathan tak bisa dihubungi? Apa Jonathan bersama mu?] Tanya panik Johan yang membuat meida membelalakan matanya.
Kenapa paman johan sepanik ini? Apa ada kaitannya dengan kehilangan Jonathan. Batin meida dengan bertanya-tanya.
“Meida sekarang sedang mencari Jonathan paman. Dia tiba-tiba hilang di toilet rumah sakit. Meida hanya menemukan ponsel dan tote bagnya yang tertinggal. Ada apa tiba-tiba paman menanyakan Jonathan? Apa paman tahu keberadaan Jonathan sekarang?” Tanya Meida dengan paniknya. Jack berusaha mendekatkan telinganya ke ponsel Meida, tapi malah ditepaknya.
[Ya Tuhan, berarti Jonathan dan Biru di culik! Foto itu benar-benar nyata!] Lirih pelan Johan yang membuat Meida membelalakan matanya dengan mulut yang menganga.
“Meida Kenapa? Ada apa? Kenapa wajahmu kaget seperti ini?” Tanya Jack sambil menepuk-nepuk bahu sepupunya yang mimiknya terlihat kaget. Meida tak menghiraukan tepukan tangan Jack, ia malah menggigit punggungnya dengan mata berkaca-kaca.
[Barusan ada nomor yang tak dikenal mengirim foto pada paman. Foto itu memperlihatkan Biru dan Jonathan yang sedang diikat tak sadarkan diri. Biru tiba-tiba hilang ketika pulang sekolah, supir paman sudah menjemputnya dan menunggunya sampai 3 jam di depan sekolahnya. Padahal hari ini sekolah pulang lebih awal, karena ada rapat komite sekolah. Dan sampai sekarang, Biru belum pulang. Ya Tuhan, meida... kita harus apa? Paman takut terjadi sesuatu pada mereka!] Meida meneteskan air matanya. Hingga membuat Jack semakin bingung dengan tingkah sepupu perempuannya itu.
“Paman sudah telpon nomor tak di kenal itu” Tanya meida kembali dengan terbata-bata.
[Sudah Jaslin! Tapi sekarang nomornya tidak aktifi! Paman sudah meminta anak buah paman untuk melacaknya! Kamu tenang dulu, jangan berpikiran aneh-aneh. Semoga Tuhan selalu melindungi mereka dimanapun mereka berada!] Tutur Johan dengan suara bergetar. Ia berusaha tegar, walaupun sudah banyak kemungkinan yang membayangi pikirannya.
Ya Allah Jonathan, semoga kamu baik-baik saja. Kamu dimana Dek? Cici harus apa sekarang? Batin Meida sambil menghapus air matanya kasar
[Meida lihatlah! Paman sudah mengirimkan fotonya pada mu!] Meida langsung membuka W*atsA*p nya lalu membuka pesan dari Johan. Ia terisak, melihat adik dan keponakannya yang sedang tak sadarkan diri dengan tubuh yang terikat. Jack memegang bahu Meida dan mengguncangnya pelan.
“Meida, ada apa?” Meida menyondorkan ponselnya kearah Jack yang wajahnya terlihat bingung. Jack mengamati foto yang ada di ponsel meida dengan mengerutkan dahinya.
“Jonathan dan Biru di culik Jack. Kita harus berbuat apa? Saya takut mereka kenapa-kenapa!” Jack kembali mengembalikan ponsel ke tangan Meida. Ia menolak sebelah pinggangnya dengan tangan sebelahnya berada di dagunya pertanda sedang berpikir.
“Tenangkan dirimu Meida! Pasti ada jalan dari semua ini! Apa keluarga mu sudah tahu?” Meida menggelengkan kepalanya lalu duduk di kursi tunggu.
“Belum Jack. Daddy baru saja siuman, saya tak ingin membebaninya! Biarlah Mommy, Daddy, dan Bi Ina jangan tahu dulu! Jika koko gak sibuk, kita minta bantuan koko aja!” Usul Meida sambil menggigit jari telunjuknya. Jack menganggukkan kepalanya menyetujui usulan sepupunya.
__ADS_1
“Betul! Kita minta bantuan ko Andress aja. Dia mempunyai banyak anak buah handal! Sekarang kita ke ruang CCTV dulu! Untuk melihat yang sebenarnya!” Meida berdiri lalu mengikuti langkah Jack menuju kearah lift yang sudah lengang tak ada orang.
-
“Bagaimana keadaan pemuda ini Nak Aisyah? Apa sudah ada perkembangan?” Tanya Buya Hanafi kepada Dokter muda yang baru saja menginjakkan kakinya di usia yang ke-25 tahun. Aisyah, nama dokter ayu, berkulit hitam manis yang berasal dari kota Makassar. Sudah 2 tahun ini dia bertugas memgabdi di kampung tersebut sebagai Dokter umum.
“Abang ini belum ada perkembangan Buya. Terdapat banyak luka dalam di tubuhnya! Lutut sebelah kanannya retak dan tangan sebelah kirinya terkilir. Ais, sudah kasih obat pereda nyeri sekaligus suplemen diinfusannya. Jadi Buya tidak perlu khawatir.” Jawab dokter itu sambil merapikan peralatannya.
“Sudah 3 hari ini Buya mengobati lukanya dengan pengobatan Herbal, apa itu tidak papa Nak Ais?” Dokter Aisyah merapikan hijab birunya, lalu menjawab pertanyaan Buya dengan tersenyum.
“Tidak papa Buya. Malah itu cukup baik untuk kesembuhannya. Kalau boleh Ais tahu, pemuda ini siapa Buya?” Tanya Aisyah sambil kembali menatap wajah Melvin yang terlihat banyak lebam. Ia yakin, di balik wajah lebam itu tersimpan ketampanan yang paripurna.
Buya berdehem lalu menjawab pertanyaan dari dokter tersebut.
“Ceritanya panjang Nak. Maaf Buya tak bisa menceritakannya padamu!” Sahut Buya Hanafi sambil kembali menyelimuti tubuh Melvin yang masih tak sadarkan diri setelah 3 hari ditemukan olehnya.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan pemuda ini? Ya Allah, jika melihat wajahnya. Hamba kembali teringat dengan anak satu-satunya hamba yang telah Kau panggil lebih dulu. Batin Buya Hanafi menatap nanar kearah wajah Melvin.
“Buya, saya pamit dulu!” Pamit Dokter Aisyah sambil menenteng tas dinasnya. Buya Hanafi kembali tersadar dari lamunannya lalu memanggil istrinya yang sedang berada di dapur.
“Umi ... umi ... Nak Aisyah mau pamit!” Dari ruangan sebelah nampak seorang wanita paruh baya berjalan kearah suaminya.
“Gak makan dulu Nak? Padahal Umi udah siapin loh!” ucap ramah wanita paruh baya itu sambil menggandeng tangan Aisyah untuk keluar dari kamar yang melvin tempati.
“Maaf umi, Ais tidak bisa. Sore ini Ais harus berkeliling melihat kondisi anaknya Pak Danu dan Pak Ahmad. Lain kali aja yah umi.” Tolak halus dokter Aisyah sambil tersenyum. Umi Fatimah itu tersenyum, lalu mengantarnya sampai teras rumah.
“Maaf yah Umi dan Abi selalu merepotkan mu! Kamu hati-hati di jalan Nak,” ucap umi Fatimah sambil memegang tangannya.
“Tidak Umi, Ais tidak merasa direpotkan. Ais pamit dulu! Kalau abang itu sadar, nanti hubungi Ais yah Mi.” Umi Fatimah pun menganggukkan kepalanya. Lalu Aisyah mencium tangannya dengan takzim.
“Assalamua’alaikum,”
“Wa’alaikumsalam Nak.” Setelah memastikan Dokter Aisyah hilang dari pandangannya. Umi Fatimah pun masuk kedalam rumahnya.
-
-
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕
Aduh maaf otor telat up, darurat jaringan wkwkwk
__ADS_1
Tong hilap like, komen, vote, rate, sama hadiahnya ♥️♥️😘😘😘
Hatur nuhun kasadayana nu masih stay di novel iyeu🤗 Hatur nuhun pisan saageung gunung Fuji Yama 🤗😘