
“Tuan ada maksud apa mengumpulkan kami semua disini?” Tanya erick menatap heran wajah andress yang terlihat murung. Mata dan hidungnya masih merah, karena ia baru habis menangis. Andress menjawab raut wajah heran anak buahnya dengan raut wajah tegas walau terlihat banyak kesedihan. Ia berjalan kearah kaca, membelakangi anak buahnya.
“Saya sengaja mengumpulkan kalian disini. Saya memutuskan pencarian kita cukup sampai disini! Kalian berhenti mencari tahu tentang gadis itu! Besok kita kembali pulang ke Surabaya!” Putus andress membalikkan tubuhnya menatap semua anak buahnya dengan wajah tak bersahabat. Erick menggaruk tengkuknya, ia merasa aneh dengan keputusan tuan nya. Baru saja pencarian ini di mulai, tapi tuan nya malah memutuskan mengakhirinya.
“Baik Tuan, kami mengikuti semua perintah Tuan. Tuan sudah yakin dengan keputusan ini? Apa ini tidak terburu-buru? Kesannya ini terlalu dadakan tuan,” ucap pengawal andress mewakili Pertanyaan yang berada di benak semua temannya. Mereka tidak tahu, bahwa data gadis yang mereka kumpulkan selama ini adalah jaslin.
Andress menatap tajam anak buahnya satu persatu, hingga mereka menundukkan kepalanya.
“Saya sudah yakin! Packing barang-barang kalian, jangan sampai ada yang ketinggalan!” Perintah andress sambil berjalan ke kursi yang ada di ruangannya.
“Siap Tuan. Kami pamit undur diri.”
“Silahkan! Pagi jam 6 kita berangkat dari sini. Saya sudah memesan tiket untuk kalian semua!” Setelah mengucapkan terima kasih kepada andress, ke 8 anak buahnya pergi ke kamar mereka masing-masing. Mereka terkesan bingung dengan keputusan andress, baru beberapa hari pencarian jaslin disini, andress sudah menyuruh mereka pulang. Padahal pencarian jaslin belum menemukan titik kejelasan.
Andress memasuki kamarnya dengan hati gamang, perasaan tak karuan. Gairah Hidupnya tiba-tiba hilang, setelah mengetahui kecocokkan biodata meida dan jaslin. Ia menyandarkan kepalanya ke headboard ranjang dengan tubuh lemas. Di saat seperti ini, dia membutuhkan sebuah sandaran, membutuhkan teman bicara yang mau mendengar keluh kesahnya. Andress mengambil ponselnya di atas nakas lalu menghubungi jack, untuk meluapkan segala perasaan yang mengganjal dihatinya. Hanya pada jack ia berani mengungkapkan segala rasa yang menyesakan hatinya.
“Hallo. Malam ko! Tumben nelpon aku.” Andress tak langsung menjawab pertanyaan jack, ia menarik napasnya lemah.
“Jack, besok saya pulang kesana!” ucap lemah andress, tiba-tiba dadanya sesak.
“Secepat ini? Apa jaslin sudah ditemukan?” Mata andress berkaca-kaca mendengar pertanyaan jack. Dengan menarik napas pelan andress menjawab pertanyaan jack.
“Belum. Dia tidak ada sini.” Jawab andress dengan suara bergetar.
“Sabar ko, jaslin pasti ditemukan. Kita tinggal menunggu waktunya saja. Jangan berkecil hati!” Andress menangis tertahan mendengar ucapan tulus jack. Hatinya kembali sesak, ucapan tercekat di tenggorokannya. Andress terdiam lama, air mata menetes di wajahnya. Isakan pelannya terdengar oleh Jack.
“Hallo ... Hallo ... koko kenapa? Inilah yang aku takutkan! koko pasti kecewa. Kan? Lapangkan hati koko. Jangan menangis!” Andress berdiri dari posisi tidurnya. Ia berjalan kearah jendela dan membukanya, angin malam menusuk pori-pori kulitnya tapi tak di rasanya.
“Jack, hati saya sakit sekali. Saya pulang karena saya sudah menemukan jaslin! Dia sudah lama meninggalkan kampung ini.” Andress menatap kosong kearah pohon jati yang berada di depannya. Suasana malam itu benar-benar mencerminkan perasaannya, hujan rintik mengguyur perkampungan itu sedari magrib tadi.
“Jika sudah mengetahui jaslin, kenapa koko menangis seperti ini? Seharusnya koko bahagia, karena kita disini tinggal melacak keberadaannya. Bukannya koko memiliki ahli IT terbaik.” Gurau jack dengan terkekeh.
“Hati saya terluka jack! Saya bingung mengobatinya dengan apa.” Jack langsung memberhentikan kekehannya. Ia terdiam lumayan lama.
“Apa yang koko rasa sekarang? Jika itu mengganjal, keluarkan! Agar hati koko tenang. Jangan menyimpan masalah sendiri! Aku siap mendengar keluhan koko.” Andress menghapus air mata yang terus saja mengalir di wajahnya. Ia tak bisa menyembunyikan kerapuhannya di hadapan jack, karena jack merupakan sepupunya yang paling care dalam hidupnya.
“Jack ... wanita yang saya cintai selama ini, wanita yang selalu saya cari keberadaannya, wanita yang mampu mengalihkan dunia saya, ternyata itu adalah adik saya jack! Itu jaslin!” Lirih andress sambil menyandarkan kepalanya di tralis jendela. Hatinya belum benar-benar kuat, menerima kenyataan ini.
“Maksud koko?”
“Saya mencintai jaslin! Wanita yang saya cintai selama ini adalah jaslin! Wanita yang mampu membuka kebekuan hati saya! Wanita yang bertahta di hati saya! Saya harus apa jack? Bantu saya?” Tangis andress pecah. Ia mengungkapkan isj hatinya pada jack, hanya jack orang yang paham akan keadaannya. Ia berharap mendapat solusi terbaik dari sepupu terdekatnya itu.
“Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini! Mungkin karena kalian sudah lama terpisah, sampai kalian tidak menyadari satu sama lain. Apa jaslin tahu tentang ini ko?” Andress menggigit bibirnya, lalu mengusap air mata dengan lengan bajunya,
“Jaslin tidak mengetahuinya! Ia juga tak menyadarinya! Kami sama-sama tidak tahu jack, kalau kami memiliki darah yang sama.”
“Sekarang jaslin dimana ko?” Lirih suara jack menanyakan keberadaan jaslin.
“Dia disana! Di kota Surabaya. Saya sering bertemu dengannya.” Terang andress sambil mencengkram rambutnya kasar.
__ADS_1
“Apa koko tahu alamat jaslin di Surabaya?” Andress menarik napas nya pelan, untuk menetralisir rasa sakit di hatinya.
“Saya tidak tahu jack. Sebelum saya pergi mencari jaslin kesini, jaslin di rawat di rumah sakit kita, karena mengalami Panic Attack.” Jawab andress dengan nada suara pelan dan lumayan tenang. Ia ingin sekali mengakhiri semua masalah menerpa keluarganya.
“Ya Tuhan, kenapa bisa serumit ini. Siapa nama jaslin? Tak mungkin kan namanya jaslin? Biar aku bantu mencarinya disini.” Andress mengeluarkan lipatan kertas di saku celananya. Ia membaca lipatan kertas yang berisi biodata meida.
“Nama pemberian orang tua angkatnya adalah Meida Khanza, dia sudah beberapa bulan menetap di Surabaya,” ucap pelan andress membaca kertas itu dengan bergetar.
“Apa?? Meida??” Teriak kaget jack memekikan telingan adress, hingga ia menjauhkan ponselnya dari telinga nya.
Nama yang tidak asing di telingaku, aku merasa pernah mendengarnya. Ohhh wanita itu, yang menangis di pelantaran masjid.
Apa jangan-jangan ... meida yang kuantar pulang kemarin malam adalah jaslin. Matanya mirip sekali dengan mata tante zaina, wajahnya mirip dengan jonathan. Yaa Allah ... jika ini benar, aku harus apa?
Yaa Allah, kenapa masalah ini semakin rumit sekali.
“Iya jack namanya meida. Dia adik saya ... adik yang pernah mengisi kekosongan hati saya,” ucap andress yang kembali meneteskan air matanya.
“Ko bisa koko kirim foto jaslin, agar aku mudah mencarinya disini!”
“Nanti saya kirim. Jack, tolong bebaskan biaya administrasi rumah sakit atas nama Pak Afif dan Bu Ningsih, saya yang akan menanggung biayanya! Karena mereka, saya mengetahui jaslin!”
“Baik ko.”
-
Melvin mengajak meida pergi ke butiknya untuk mengambil pakaian yang akan dia dan keluarganya gunakan besok malam. Ia sengaja pergi kesana berdua, meninggalkan dion sendirian untuk menghandle pekerjaannya.
“Ini tidak berlebihan tuan?” Tanya bingung meida sambil menggaruk hijabnya. Ia semakin tak nyaman dengan sikap melvin yang terlalu baik padanya.
“Tidak sama sekali. Bila perlu, saya pindahkan semua pakaian yang ada disini ke lemari kamu. Itu sama sekali tidak merugikan dan mengurangi kekayaan saya, yang tidak akan habis tujuh turunan delapan tanjakan sembilan pengkolan. Tapi syaratnya, asal kamu mau jadi nyonya melvin! Jika kamu mau, saya akan serahkan semua harta saya pada kamu,” ucap serius melvin dengan nada santai yang mendapat cebikan bibir dari meida. Karena meida menganggap ucapan melvin adalah candaan.
“Jangan becanda tuan! Saya bosan mendengar candaan tuan. Lagian tuan itu perhitungan, mana mungkin semua hartanya di kasih ke saya, itu mustahil.” Ledek meida dengan sedikit kekehan.
“Jika saya serius gimana respon kamu?” Tanya ulang melvin sambil berjalan mendekat kearah meida. Meida ketar-ketir melihat tubuh melvin yang terus mendekatinya, dengan perlahan-lahan ia memundurkan langkahnya. Melvin tertawa dalam hati melihat wajah panik meida yang bercampur dengan ketakutan.
“Sa..saya ga..gak ta..hu tu..tu ..an,” Gugup meida dengan terus memundurkan langkahnya, sampai posisi tubuhnya mentok di meja. Melvin mengungkung tubuh meida, menyaksikan tubuh meida yang bergetar.
“Tu..tu..an mau apa?” Gugup meida memegang lengan melvin kuat. Posisi wajah melvin hanya beberapa centi dari wajah nya.
Keringat sebesar jagung membasahi dahi meida, ketika melvin memajukan wajahnya mendekat kearahnya. Meida menutup matanya karena takut, tangannya sudah stand by dengan posisi mengepal, jika melvin melecehkannya, ia tinggal menghajarnya.
Meida menahan napasnya, memberi ancang-ancang ketika melvin membisikkan sesuatu padanya.
“Saya cuman mau bilang. Di gigi mu ada cabenya hahaha ... Dugggg.” Tawa jahil melvin berubah menjadi pelototan, karena meida dengan sekuat tenaga menonjok perutnya. Mata melvin memerah menahan sakit, menerima tonjokan dari meida, kedua tangan tertumpu di perutnya.
“Tuan maaf saya gak sengaja! Sakit yah?” Tanya meida dengan wajah setengah meledek.
“Kondisi kan wajah mu! Jangan pura-pura tak berdosa seperti itu!” Kesal melvin sambil meringis. Meida terkekeh pelan, lalu membantu melvin duduk di sofa.
__ADS_1
Ngerjain dia, kenapa gue yang apes!
“Tuan sih ngejailin saya! Kalau gak jail gak mungkin saya tonjok! Tapi sumpah, tadi saya repleks. Lagian ngapain sih Tuan nakut-nakutin saya, gak ada kerjaan!” Meida menyondorkan air kemasan kearah melvin yang masih berwajah kesal.
“Jangan marah! Saya gak sengaja! Kalau marah, tuan itu jelek! Kayak paranormal yang gak laku!” Melvin memasang wajah masam walaupun dalam hatinya menghangat, melihat tingkah meida yang berjongkok di depannya sambil menoel-noel lengannya.
“Perut saya sakit, gimana saya makan? Gimana kalau lambung dan usus saya terluka karena tonjokan kamu! Pokoknya kamu harus tanggungjawab!” Sewot melvin sambil menahan tawanya
“Cihh lebay! Orang tonjokan di bikin sendiri. Ok saya akan tanggungjawab, asal saya nonjok sekali lagi. Biar posisi lambung sama ususnya imbang. Deal gak?” Ledek meida sambil menaikkan sebelah alisnya memberi penawaran pada melvin.
“Dih ogah! Saya takut jantung dan paru-paru saya pindah posisi gara-gara tonjokkan kamu.” Meida pun tertawa melihat wajah kesal Melvin yang tak berhenti ngedumel.
“Siang ko. Tumbenan berkunjung ke butik ini! Ada angin dari mana? Katanya koko bawa cewek, tapi ceweknya beda sama yang sering di bawa kesini.” Steve datang menepak bahu melvin yang sedang mengobrol dengan meida. Meida melirik sebentar kearah steve lalu menundukkan wajahnya. Melvin melihat wajah ketidak nyamanan di wajah meida.
“Kamu boleh pilih pakaian yang kamu suka! Nanti saya yang bayar!” Steve menatap meida dengan membelalakan mata. Ia tak menyadari kehadiran meida, yang ia pikir tadi adalah sekretaris nya. Meida menganggukkan kepalanya, keluar dari ruang yang berdinding kaca itu.
“Aku buru-buru kesini, mendengar obrolan dari karyawan. Katanya koko bawa wanita kesini, tapi bukan mbak Sandra. Yah memang bukan mbak sandra, tapi wanita cantik dan imut tadi.” Melvin mendelik kearah steve dengan wajah tak suka.
“Saya dan sandra sudah putus! Hubungan kami sudah berakhir!” Sewot melvin menatap wajah steve yang terlihat pucat. Steve menunjuk kearah meida yang sedang melihat-lihat dress yang desain nya tertutup.
“Terus siapa wanita itu?” Melvin tersenyum dengan mata berbinar mengikuti arah telunjuk steve
“Dia adalah masa depan saya!” Ucap melvin menatap meida yang sedang mencoba mengukur tinggi dress dengan tubuhnya. Steve menatap meida dengan mulut menganga, ia seakan terhipnotis dengan pesona meida yang sedang memutar-mutar tubuhnya.
“Waw cantiknya ... cantik natural. Aku terpesona dengan kecantikan nya ...” ucap pelan steve yang terdengar melvin. Melvin langsung mengalihkan matanya menatap tajam jack.
“Jaga mata mu! Atau saya cokel!” Ancam melvin tak suka kearah steve karena menatap meida terlalu lama. Steve mengerucutkan bibirnya mendelik kearah melvin.
“Lihat dikit napa.” Ketus steve.
“Pakaiannya sangat berbeda dengan pakaian yang sering digunakan mbak sandra. Kebanyakan pakaian mbak sandra kan kekurangan bahan. Apa dia seorang Muslim ko?” Tanya steve melipat kakinya. Sekali-kali melihat meida lewat kaca transparan di depannya.
“Iya. Dia seorang Muslim, dia wanita yang saya cintai. Doakan saya, semoga Tuhan menjadikan dia pendamping hidup saya nanti.” Steve membulatkan matanya. Ia baru melihat dan mendengar keseriusan melvin pada seorang wanita. Padahal melvin paling anti berhubungan serius dengan wanita. Dulu dia berpacaran dengan sandra itu pun karena perjodohan.
“Keyakinan kalian kan berbeda ko?” Melvin memandang steve lalu menatap meida dalam.
“Biarlah nanti Tuhan yang mengaturnya!” Lirih melvin tersenyum ketika meida melihat kearahnya.
-
“Aneh sekali, perasaan kemarin saya mengantar meida kesini. Kenapa daftar namanya tidak ada catatan resepsionis. Gak mungkin kan kalau dia berbohong? Jelas-jelas saya mendengar dia tinggal disini bersama bibi dan adiknya. Saya melihat sendiri dia masuk lewat lobby ini.” Gumam pelan jack di halaman apartemen yang meida tepati. Ia berdiri di depan lobi dengan memakai masker, agar tak ada orang yang mengenalinya.
“Bukan kan itu meida? Siapa lelaki itu? Lelaki itu sangat mirip dengan jonathan?” Jack menatap dalam kearah lelaki dan wanita yang sedang bergandengan tangan membawa plastik belanjaan yang sedang berjalan kearah nya. Ia membelakakan matanya melihat dari dekat wajah lelaki yang di gandeng meida. Karena ia mengenali lelaki itu adalah sepupunya yang beberapa bulan ini menghilang.
Jonathan? Apa dia tinggal disini? Kenapa dia bisa bersama dengan meida?
-
Maaf yah otor telat up, karena hari ini benar-benar banyak kerjaan hehe maklum makhluk hidup 😁
__ADS_1
Bila suka dengan novel ini jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya♥️
Hatur nuhun buat yang masih setia di novel receh ini♥️