Kita Berbeda

Kita Berbeda
Selama 19 Tahun Ini


__ADS_3

“Jaslin ... Pulanglah Nak! Daddy mu sakit, dia sangat merindukanmu...” Zaina tak bisa membendung perasaannya takala mengingat keadaan suaminya yang sudah beberapa hari ini tak sadarkan diri terbaring sakit di rumahnya. Meida dan Melvin tertegun, mereka saling menatap dengan perasaan bingung.


“Maaf Tan. Suami Tante sakit apa?” Tanya Melvin yang sedang duduk di samping meida. Ia menatap kearah zaina yang sedang menundukkan wajahnya. Zaina mengusap air matanya lalu menatap kearah Melvin.


“Suami saya sudah beberapa hari ini tak makan dan tak melakukan kegiatan apapun. Dia hanya terbaring tak sadarkan diri di ranjang sambil memeluk foto mu Jaslin.” Zaina menatap kearah Meida yang masih bungkam dengan menundukkan wajahnya. Ia tidak tahu, bahwa Meida diam karena sedang terjadi pergolakan dalam batinnya, pergolakan antara ego dan nurani. Melvin pun terdiam sambil menggigit kuku tangannya.


“Jaslin ... Daddy mu sangat menyesal dengan sikapnya pada mu Nak. Mohon maafkan kesalahannya. Daddy mu sudah 2 hari ini tak sadarkan diri, dia terus memanggil nama mu Nak. Mommy mohon temui dia ... “ Tangis Zaina pecah. Ia memandang kearah anaknya yang nampak berkaca-kaca. Entahlah melihat Zaina menangis, ia pun ikut menangis padahal sudah ditahannya sekuat tenaga. Meida menarik nafasnya dalam, lalu memandang Zaina dengan sorot mata dalam.


“Maafkan saya! Saya tak bisa mengabulkan permintaan anda! Maaf, saya tak bisa menemui suami anda!” Melvin memandang nanar kearah Meida yang masih teguh pada pendiriannya, dengan menyebut Mommy nya dengan sebutan formal. Sebutan ‘anda' menandakan meida masih menganggap Mommy nya sebagai orang asing. Merasa di tatap melvin, meida menolehkan wajahnya dengan sorot mata berkabut.


“Mommy mohon Nak. Untuk sekali ini saja! Daddy-mu benar-benar membutuhkan mu! Tolong bangunkan dia dari alam bawah sadarnya! Dia menyesal Nak! Dia menyesal telah memperlakukan mu seperti itu! Jika dia mengetahui kamu adalah Putri-nya, dia tak mungkin berbuat seperti itu! Daddy-mu khilaf Nak.” Meida menghapus air matanya. Ia masih teguh dengan pendiriannya untuk tidak menemui Gilbert, Ayah kandung yang telah menghinanya selama ini. Kini meida menatap dingin kearah Zaina.


“Saya menepati janji saya untuk tidak menemuinya sesuai dengan permintaannya! Karena dia yang mengatakan sendiri, bahwa saya adalah kesialannya. Lihatlah! Setelah bertemu dengan saya, dia jadi seperti ini. Kesialan demi kesialan selalu menimpahnya!” Lirih meida dengan tersenyum kecut. Ia mengambil tisu di depannya untuk mengusap air mata di wajahnya.


“Tidak seperti itu Nak, kamu salah paham. Daddy-mu tak bermaksud berbicara seperti itu. Mommy janji akan mengabulkan segala keinginan mu, asal kamu pulang kerumah kita, temui Daddy mu Nak.” Pinta Zaina sambil menangkup kedua tangannya di dada pertanda memohon. Meida kembali menatap zaina dengan perasaan penuh luka.


“Maaf! Saya tak bisa! Melihatnya, membuat saya mengingat setiap perlakuan dalam memperlakukan saya seperti apa. Dia sendiri yang bilang pada orang, bahwa saya hanya mengaku-ngaku menjadi anaknya yang hilang untuk menggeruk harta kekayaannya. Saya tidak ingin menjadi bahan hinaan dirinya lagi, apalagi dia bilang hidup saya hanya ingin dikasihani. Stop! Jangan terus memaksa saya untuk menemuinya! Terlalu banyak garam yang anda dan suami anda taburkan di atas luka saya!” Tunjuk meida kearah dadanya dengan tangan bergetar. Melihat itu melvin langsung mengusap-ngusap bahu meida untuk menenangkannya. Tubuh Meida bergetar akibat terlalu lama memendam amarah dan kekecewaan yang sebentar lagi akan meluap.


“Mommy tahu Nak, Mommy yang salah! Tapi Mommy mohon maafkan kesalahan kami di masa lalu! Kami memang mengabaikan mu, tapi kami tak membuang mu. Ini salah paham Nak!” Zaina mencoba memegang tangan Meida, tapi ditolaknya. Meida melepaskan tangan melvin yang ada di bahunya, ia berdiri di hadapan zaina untuk meluapkan amarah yang selama ini dipendamnya.


“Saya tahu anda tak membuang saya secara langsung! Tapi anda memiliki andil besar dalam peristiwa pembuangan saya! Anda mengabaikan saya dan tak menganggap saya ada, apa itu tidak termasuk membuang? Keluarga anda lebih memilih saya pergi dari pada kehilangan harta, apa itu tidak termasuk membuang? Saya hidup dari kecil sampai besar sekarang tanpa mendapat kasih sayang dari anda apa itu tidak termasuk membuang? Dan tiba-tiba sekarang anda datang pada saya mengaku sebagai orang tua saya, apa anda tidak malu hah?” Teriak Meida sambil menghapus air matanya kasar. Ia menangis tergugu sambil melihat kearah langit-langit apartemen melvin. Untuk pertama kalinya ia marah, batas kesabarannya sudah habis. Ia telah berhasil mengungkapkan isi hatinya sesuai keinginannya, isi hati yang ingin dia katakan ketika bertemu dengan orang tuanya. Melihat kemarahan anaknya, zaina kembali menundukkan kepalanya. Ia sadar, terlalu banyak luka yang dia torehkan di hati anaknya, hingga anaknya kini berontak.


“Apa yang anda inginkan dari saya hah? Menemuinya? Kembali kerumah yang sangat asing bagi saya?” Tanya getir meida yang menatap tajam Zaina yang masih menundukkan wajahnya.

__ADS_1


“Apa anda tak mengerti sedikitpun perasaan saya? Apa anda yakin benalu ini adalah putri anda yang hilang?” Mendengar pertanyaan anaknya, zaina lantas berdiri dan memegang tangannya.


“Jaslin Mommy mohon, maafkan Mommy! Kamu benar-benar anak Mommy dan Daddy. Maafkan kesalahan kami!” Kata maaf itu kembali keluar dari mulut zaina yang sedang memegang lengan anaknya yang pelan-pelan menepisnya.


“Jika saya anak anda, apa yang ada tahu tentang hidup saya? Anda tak mungkin mengetahuinya! Seharusnya anda malu bertemu saya, setelah perbuatan anda pada saya dulu!” Meida menggelengkan kepalanya dengan bercucuran air mata sambil menunjuk kembali kearah dadanya. Merasa keadaan calon istrinya mulai kacau, melvin lantas berdiri dan menggandeng bahu meida.


“Meida, sudah ... tenangkan hati mu ... I’m here ... Tarik napas pelan-pelan. Duduklah! Jangan kamu biarkan emosi menguasai diri mu.” Bujuk Melvin sambil membantu Meida pelan-pelan untuk duduk.


“Jaslin, mommy tahu kesalahan kami tak terhitung! Tapi kami ingin menebus segala kesalahan kami. Apa tak ada rasa sedikitpun di hati mu cinta untuk kami orang tua mu? Mommy yakin di hatimu masih ada sedikit cinta untuk kami walaupun hanya seujung kuku. Jaslin, Mommy dan Daddy harus apa agar kamu memaafkan kami?” Zaina meluruhkan tubuhnya di depan meida. Ia benar-benar putus asa dengan putrinya, ia pasrah dengan keputusan putrinya yang sudah terlanjur sakit hati oleh perbuatannya.


“Meida, saya mohon ... bukalah sedikit hati mu ... bukankah orang pemaaf derajatnya lebih tinggi di sisi Allah? Kamu yang selalu mengajarkan saya untuk memaafkan, sekarang giliran kamu. Saya mohon! demi saya ... tolong maafkan mereka.” Pinta Melvin dengan wajah menghiba, ia menggeser posisinya untuk membantu zaina kembali duduk sofa. Meida memejamkan matanya sambil memijit pangkal hidungnya. Sebenarnya ia tidak tega melihat Zaina seperti itu, tapi rasa sakit hatinya selalu saja datang disaat dia mencoba untuk memaaafkannya. Kepingan- kepingan masa lalu menghantuinya, di mulai dari pembullyan waktu sekolah, dikucilkan warga sekampung, penyiksaan oleh amel yang membuatnya trauma, kematian Ummah Abinya, dan angg terakhir adalah kematian adib. Meida menangis sesenggukan dengan memukul-mukul pelan dadanya, rasa sesak seakan meledak di dadanya ketika mengingat kejadian itu. Meida membuka matanya dengan tangan yang masih memukul dadanya.


“Apa maaf saya penting bagi anda? Apa anda tak egois memaksa saya untuk memaaafkan segala kesalahan anda? Apa anda tahu hidup saya selama ini seperti apa? Apa anda tahu hidup saya menderita atau bahagia? Tidak, Kan! Anda tidak tahu sama sekali mengenai saya. Apa saya harus memaafkan anda yang tiba-tiba datang di hidup saya setelah bertahun-tahun menelantarkan saya?” Lirih meida sambil menangkup wajah dengan kedua tangannya. Melvin berada dalam posisi yang serba salah, ia bingung harus berbuat apa.


“Selama seminggu ini saya sudah berusaha berdamai dengan keadaan, tapi saya tak bisa. Rasa sakit itu selalu datang takala saya sendirian. Apalagi yang anda sakiti bukan hanya saya, tapi adik saya! Dia pun jadi korbannya... Tolong beritahu saya, saya harus apa?” Tanya frustasi Meida sambil memegang kepala dengan kedua tangannya. Sebenarnya Melvin tak tega melihat Meida seperti itu, tapi kini ia sedang menenangkan zaina calon mertuanya.


“Jaslin. Jika kamu tidak bisa memaafkan kami, tidak papa. Karena Mommy sadar, Mommy dan Daddy yang salah. Jika membenci Mommy membuatmu tenang, bunuh Mommy nak! Mommy tak mampu hidup di benci oleh anak Mommy sendiri!” Zaina dengan memberanikan diri duduk di samping putrinya. Ia mengelus bahu putrinya yang tidak melakukan perlawanan, biasanya jika ia memegang tangannya, meida dengan otomatis mengibaskan tangannya.


“Jika waktu bisa di putar dengan mengorbankan nyawa Mommy. Mommy ikhlas nak, asal kamu hidup bahagia. Ingat nak, kasih sayang Mommy tak akan pernah pudar walau kamu membenci Mommy sampai mati,” ucap lirih Zaina sambil mengelus kepala anaknya dengan sesekali menghapus air matanya.


“Nak ... asal kamu tahu, Mommy dan Daddy sangat menyesal. Setiap hari yang kami pikirkan hanya meminta pengampunan darimu.  Kami mengakui kesalahan kami di masa lalu, kami memang salah. Menganggap mu sebuah kesalahan karena terlahir sebagai perempuan, tapi Mommy sekarang sadar bahwa anak perempuan yang bisa menyayangi kami sepenuh hati. Ternyata kelahiran mu adalah berkat di hidup kami nak, tapi sayangnya kami terlambat menyadarinya.” Meida menolehkan kepalanya kearah zaina dengan sorot mata penuh luka.


“Mendengar perkataan anda membuat hati saya semakin terluka. Berarti anda sama saja menyalahkan saya terlahir ke dunia ini. Orang tua saya sendiri, mengakui dia benar-benar tak menghendaki kelahiran saya. Apa saya terlahir karena membawa sial? Apa saya terlahir karena membawa aib? Apa saya terlahir karena kesalahan? Apa saya sangat menjijikkan sampai anda tak menghendaki kelahiran saya? Tolong jawab!” Ucap tajam meida dengan nada penuh penekanan menatap tajam sorot mata Mommy nya.

__ADS_1


“Itu masa lalu Nak. Maaf, dulu kami tak menghendaki kelahiran mu sebagai perempuan. Tapi sekarang kami bersyukur, karena memilikimu sebagai putri perempuan kami. Jaslin, sejak pertama kali bertemu dengan mu. Mommy merasa keterikatan diantara kita. Maaf, Mommy terlambat menyadari nya.” Zaina menarik napas dalam lalu mengeluarkannya


“Asal kamu tahu Nak! Mommy, Daddy, Koko mu selama 19 tahun ini mencari keberadaan mu. Kami menyadari kehadiranmu sangat berarti di hidup kami. Tapi selama 19 tahun ini Tuhan tak mengizinkan kami untuk menemukan mu Nak, Tuhan menghukum kami selama 19 Tahun ini. Dan baru sekarang Tuhan mengizinkan pertemuan kita. Jaslin ... Mommy dan Daddy sangat menyayangi mu. Asal kamu tahu, kami beberapa kali hampir putus asa menemukan mu, kami ingin menyerah. Tapi kami mempunyai keyakinan kuat, bahwa kamu akan kembali, pulang ke rumah kita, keyakinan itu menjadi penyemangat kami selama ini, dan akhirnya kamu kembali Nak. Kami memang salah, terlalu sibuk mencari mu sampai mengabaikan keberadaan adikmu ... Maafkan kekhilafan kami selama ini.” Meida menenggelamkan wajah ditangannya. Melvin berdiri di samping meida lalu ia menundukkan badannya agar sejajar dengan posisi meida. Ia mengelus kepala meida sambil membisikkan sesuatu.


“Meida ... apa kamu tak sedih melihat Mommy yang melahirkan mu menangis? Dia sudah mengakui kesalahannya, Tuhan sudah menghukumnya. Saya tahu hati kamu sangat lembut, tapi kamu menutupi kelembutan itu dengan rasa kecewa. Apa yang masih menggajal di hatimu? Ungkapkanlah .. biar hati mu tenang setelah nya, agar tak ada unek-unek yang mengotori hati mu. Saya percaya hati mu sudah memaafkan mereka, hati kecil mu menyayangi mereka, namun rasa itu masih terhalang oleh ego mu. Saya percaya, kamu bisa melakukan yang terbaik. Karena kelembutan itu, yang membuat saya jatuh cinta padamu beribu-ribu kali!” Bisik Melvin yang masih mengusap kepala calon Istrinya. Melvin mengalihkan pandangannya kearah zaina.


“Apa yang tante inginkan sekarang?” Zaina menatap kearah Melvin dengan sendu. Menatap penuh harap kearah lelaki yang membantu hidup putrinya selama ini. Ia memiliki keyakinan bahwa lelaki ini memang lelaki baik yang tepat untuk putri nya.


“Tante inginkan Jaslin menjenguk Daddy nya. Hanya dia kekuatan Daddy-nya sekarang. Daddy-nya sangat membutuhkan kehadirannya.” Zaina menatap nanar kearah meida yang mengangkat wajahnya. Ia mengelus kembali kepala putrinya dengan penuh kelembutan.


“Bantu Daddy-mu sadar Nak, hanya kamu yang mampu menyadarkannya! Sudah beberapa dokter terbaik menangani Daddy-mu, tapi tak ada hasilnya. Daddy-mu sakit batin nak, sakit yang dia pendam karena teramat merindukanmu.” Meida memberanikan diri menatap Mommy-nya dengan buliran air mata.


“Mommy sangat mengharapkan kedatangan mu dan Jonathan, itu saja. Kami merindukan kalian! Kami mencintai kalian!”


-


-


☕☕☕☕☕☕ pokok namah harus nya wkwkwk


Jangan lupa like, komen, vote sama hadiah na🤗♥️♥️♥️😘😘😘😘


Di antos pisan😁

__ADS_1


Wilujeng wengi😘


__ADS_2