
“Meida, Tante mohon jangan pernah mengecewakan Melvin. Dia benar-benar mencintai kamu. Tante tak ingin melihat Putra tante terluka. Tante yakin kamu bisa menjaga hatinya. Karena kamu pilihannya! Kamu kebahagiaannya! Never leave him!” Meida membulatkan matanya lalu menganggukkan kepalanya. Ia mengambil tisu untuk melap keringat yang membasahi dahinya. Bicara dengan helena lebih menegangkan daripada Sidang Prakerinnya dulu. Dengan tangan dingin dan bergetar meida mengusap lembut punggung tangan Helena.
“Innsya Allah Tante. Do'akan meida agar bisa menjaga kepercayaan dari tante. Do'akan kami mudah-mudahan selalu bersama sampai kami Tua.” Helena tersenyum sambil mengusap kepala Meida.
“Tante Always pray untuk kalian! Semoga kalian always happy sampai kakek nenek seperti kami.” Meida mengaminkan do'a Helena. Sedikit demi sedikit rasa gugupnya mulai menghilang, ia mulai nyaman berbincang dengan helena, rasa nervous itu kini entah pergi kemana.
“Sebenarnya tante juga heran sama Melvin. Kenapa dia bisa tergila-gila sama kamu, rela meluangkan waktu untuk kamu padahal dia lagi sibuk. Kamu tahu meida? Dia itu paling anti berhubungan dengan wanita apalagi sampai jenjang serius seperti ini. Yah, dia pernah serius dengan wanita tapi ditinggalkannya, wanita nya lebih memilih karier ketimbang dirinya. Kasihan banget kan anak tante hahaha” Kekeh helena. Ia mengambil tisu yang berada di sampingnya mengelap hidung dan bibirnya yang menggunakan lipstik warna peach yang terlihat natural.
“Tante serius? Berarti dia pernah patah hati dong?” Tanya Meida sambil menyampingkan posisi duduknya. Ia mulai tertarik dengan masa lalu melvin. Helena kembali tertawa, ia melipat kakinya sambil menyadarkan kepalanya. Ia melihat kearah calon menantunya sambil menutup mulutnya yang masih tertawa.
“Pernahlah! Dia sempet broken heart gara-gara mantan tunangannya. Awalnya sih kami menjodohkan dia dengan rekan bisnis kami, wanita itu berhasil meluluhkan hati putra tante yang super duper ini. Disaat putra tante mulai ada hati sama dia dan ngajak nikah, mantan tunangannya malah nolak, padahal anak tante sudah mapan dari lahir hahaha.” Helena menghentikan tawanya, ia kembali mengusap air mata yang keluar dari matanya karena terlalu banyak tertawa.
“Alasan ceweknya sih pengen ada ikatan tapi tidak ingin buru-buru nikah, padahal usia dia sudah sama-sama matang. Dia meminta melvin untuk menunggunya sekitar 10 tahunan, karena cita-cita dia ingin jadi model kelas dunia seperti Gigi Hadid dan Bela Hadid itu loh. Dia lebih memilih berangkat ke LN dari pada mengabulkan permintaan anak tante.” Meida menompang dagunya sambil sesekali tersenyum mendengar perjalanan cinta Melvin yang tak semulus karier nya.
"Karena merasa tak dianggap dan kecewa, akhirnya melvin memilih memutuskan hubungan diantara mereka. Ia langsung bicara pada orang tua nya, untuk membatalkan perjodohan itu walau keluarga nya menolak. Sangat di sayangkan bukan? Semenjak saat itu anak tante gak pernah dekat dengan wanita lagi, padahal banyak kaum hawa yang menyukainya. Kami sudah beberapa kali menyuruhnya mencari pasangan buat nikah, tapi dia seperti tak ada ketertarikan pada wanita.” Helena menyampingkan posisinya. Ia merapikan selendang yang ada di kepalanya, lalu tersenyum kearah meida.
“Tapi bulan lalu dia cerita sama tante, katanya dia suka sama seorang wanita. Dia kayak anak yang baru ngerasain first love, padahal udah kadaluarsa hahaha. Dan kamu wanita yang melvin ceritakan pada tante. Maybe, dia jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu. Tante happy, akhirnya dia bisa melabuhkan hatinya pada seorang wanita. Menemukan wanita yang tepat sesuai hatinya. Dan tante lihat banyak kilauan cinta dari mata melvin untuk kamu. Entah Melvin yang beruntung mendapatkan kamu, atau kamu yang beruntung mendapatkan Melvin.” Helena menjeda ucapannya lalu mengelus kepala meida dengan tatapan penuh harap.
“Yang tante harapkan kalian bisa membangun rumah tangga yang harmonis dan rukun. Yang tak terpisahkan selamanya, kecuali oleh kematian.”
“Tolong jangan pernah meninggalkan melvin! Karena dia begitu dalam mencintai kamu meida. kalau ada sesuatu yang tidak kamu suka dari melvin, tolong ungkapkan! Jangan di pendam dalam hati, agar melvin bisa memperbaiki dirinya. Semoga kamu bisa menerima kekurangan melvin, bisa melengkapi segala kekurangannya.”
Petuah demi petuah terlontar begitu saja dari bibir helena. Ia memberi nasihat dan penggambaran untuk kelangsungan rumah tangga anak dan calon menantunya nanti. Karena pernikahan adalah sesuatu yang sakral, yang menyatukan 2 karakter dan 2 keluarga yang berbeda. Meida menyimak setiap petuah helena dengan seksama, ia mendengarkan setiap wejangan demi wejangan yang diucapkan oleh calon mertuanya.
Kini Meida tampak lebih akrab dengan helena. Mereka bercengkrama sampai tak sadar sudah berada di gerbang Masjid Agung As-Salam, Masjid paling besar yang berada di pusat kota Surabaya. Melvin, Jonathan, Melisa, dan Bi Ina sudah menunggu mereka di pos penjagaan. Terlihat melvin dan Bi Ina sedang bercengkrama dengan salah satu sekuriti yang sudah memakai koko panjang berwarna putih. Wajah sekuriti itu tampak sumringah sambil mengusap kedua tangan ke wajahnya dengan mengucap takbir berulang kali.
“Jangan bilang ini semua pada suami saya! Saya harap kamu bisa menjaga rahasia ini! Yang kamu lihat hari ini anggaplah angin lalu!” Bisik Helena dengan nada penuh penekanan pada driver pribadinya. Kebetulan meida sudah turun terlebih dahulu.
“Baik Bu. Saya Janji akan menjaga rahasia ini dari Tuan besar!” Ucap segan driver itu sambil menundukkan kepalanya. Helena tersenyum menepuk pelan bahu driver itu, lalu keluar dari mobil pribadi nya. Meida terlihat mengangkat tangannya, menutupi wajahnya dari sang surya yang bersinar cerah siang itu. Helena menggamit tangan calon menantunya berjalan kearah sekuriti yang semuanya memandang kearahnya.
Masjid itu lumayan ramai, ada beberapa kendaraan yang sudah terparkir rapi. Satu persatu orang berdatangan untuk melaksanakan Shalat Jum'at.
“Sudah ada semua? Mari saya antar ke Rumah Pak Ustadz Zhafran selaku imam Besar Masjid As-Salam ini.” Ajak sekuriti itu dengan ramah. Ia jalan terlebih dahulu, sebagai penunjuk jalan menuju rumah Imam Besar yang terletak di samping Masjid tersebut.
Mereka berhenti di rumah minimalis mungil yang cukup unik. Rumah itu di himpit oleh masjid agung dan Sebuah Madrasah. Nampak beberapa anak lelaki yang sudah rapi memakai Abaya putih(Gamis yang biasa digunakan laki-laki ketika akan shalat) dan peci warna hitam. Mereka sedang duduk sambil menghapal Ayat Suci Al-Qur’an dengan khusu.
“Assalamualaikum Pak Ustadz.” Pak sekuriti itu mengucapkan salam sambil mengetuk pintu. Terdengar suara kunci di buka dari dalam.
“Waalaikumsalam.” Jawab lirih seorang wanita tua menggunakan pakaian syar’i. Wanita itu tampak kaget melihat beberapa orang berada di teras rumahnya.
“Ngapunten Ustadzah, Pak Ustadz Zhaf nya ada? Ada tamu yang ingin bertemu dengan beliau.” Tunjuk sekuriti itu pada Melvin. Ia menundukkan tubuhnya sebagai bukti penghormatan pads gurunya itu. Bi ina menganggukkan kepalanya tersenyum kearah wanita yang di panggil Ustadzah tersebut.
__ADS_1
“Nggeh mas. Anak saya ada di dalam. Silahkan masuk!” Bu ustadzah itu dengan ramah mempersilahkan mereka masuk.
Setelah mengantar mereka masuk, sekuriti itu pamit undur diri untuk kembali ke pos penjagaan.
“Silahkan duduk! Silahkan dicicipi cemilannya! Maaf yah seadanya. Saya panggil dulu anak saya di dalam sebentar!” Pamit Ustadzah itu berjalan ke sebuah kamar yang berada di ujung.
Di meja itu tertata beberapa toples makanan ringan dan air minum kemasan yang sengaja disiapkan oleh pribumi untuk para tamu yang berkunjung. Di ruang itu nampak beberapa foto terpanjang, di dominasi foto pria muda keturunan Timur tengah yang sedang Wisuda di sebuah Universitas Ternama Islam, Universitas Al-Azhar, Mesir.
“Assalamualaikum.” Mereka yang berada di ruang itu mengalihkan pandangan kearah lelaki tinggi tegap yang memakai abaya putih, berwajah tampan blasteran mirip dengan foto yang di pajang di dinding.
“Waalaikumsalam salam Pak Ustadz.” Jawab serempak di ruang itu. Helena dan Melisa hanya menganggukkan kepalanya. Walaupun sering mendengar, mereka tak bisa mengucapkan kalimat salam itu.
Ustadz muda itu duduk di kursi single yang berada di tengah-tengah mereka. Ustadz itu tak lain namanya adalah Ustadz Zhafran Abdurrahman, lelaki muda yang baru saja menyelesaikan study S2 nya di Al-Azhar.
Zafran tersenyum memandang kearah melvin dan jonathan, lalu ia menundukkan pandangan ketika melihat Bi Ina, Meida, Melisa, dan Helena.
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Ramah Ustadz Zafran yang nada suaranya terdengar seperti orang Arab. Ustadz itu tak sengaja melirik kearah Meida, lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya.
“Begini Ustadz ...” Bi ina menceritakan maksud kedatangan mereka kepada Ustadz Zhaf dengan lugas dan terperinci. Lalu ia menunjuk kearah Melvin dan Jonathan sambil tersenyum, tak lupa ia menunjuk kearah Helena dan Melisa yang merupakan keluarga Melvin yang berbeda keyakinan dengan mereka.
“Masya Allah. Allahu Akbar!” Takbir begitu saja terlontar di bibir Ustadz Zhaf dengan mata berkaca-kaca. Ia terharu mendengar niat Melvin dan Jonathan yang ingin menjadi seorang Muslim tanpa paksaan.
“Mas-mas nanti bersyahadat nya di masjid sehabis shalat Jum’at yah. Agar Jamaah shalat jum'at hari ini menjadi saksi mas menjadi seorang muslim. Dan untuk ibu dan mbak-mbak nya, maaf yah saya tak mengizinkan kalian masuk kedalam masjid, karena di dalam masjid semuanya para Ikhwan. Nanti saya berikan akses mbak sama ibunya untuk bisa melihat mas-mas ini, walaupun tidak secara langsung.”
“Mari mas nya ikut saya ke Masjid.” Ajak Ustadz itu sambil berdiri. Ia mempersilakan Jonathan dan Melvin untuk mengikutinya. Setelah mereka pergi, mereka di temani oleh Ustadzah, ibu nya dari Ustadz Zhaf.
Ustadzah itu mengajak Bi Ina, Meida, Melisa, dan Helena masuk ke sebuah ruangan yang memperlihatkan layar monitor yang cukup besar. Kursi panjang nampak berjajar di ruang itu.
Adzan berkumandang di masjid, bertepatan dengan sang Ustadzah menyalakan layar monitor. Layar itu memperlihatkan para Jama’ah yang sedang duduk diam mendengarkan suara Adzan.
“Kita lihat disini yah Bu. Ini sengaja kami siapkan buat Akhwat yang ingin melihat keluarganya yang akan mengucapkan bersyahadat.” Mereka yang berada di ruang itu melihat fokus kearah layar monitor. Ini untuk pertama kalinya Helena dan Melisa menyaksikan Shalat Jum'at, ibadah rutin yang dilaksanakan umat Islam khususnya laki-laki setiap hari Jum’at. Mereka nampak terpukau melihat kearah jamaah yang sedang duduk rapi itu.
“Mohon maaf saya mau tanya, Ustadz Zhaf itu putra Ibu?” Tanya Bi Ina yang duduk di samping di samping Helena. Ustadzah itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum
“Dia Putra semata wayang saya bu. Ayahnya meninggal 1 tahun lalu. Diia yang meneruskan syi’ar Ayahnya menjadi Imam Masjid disini sekaligus membantu saya mengajar di Madrasah. ” Jelas Ustadzah itu. Ia menunjuk kearah Melvin dan Jonathan yang sedang duduk di depan menghadap kearah para Jamaah. Jonathan dan Melvin duduk bersisian sementara Ustadz Zhaf duduk di depan mereka.
Bismillahirrahmanirrahim. Suara itu terdengar jelas di layar monitor.
Setelah menyampaikan satu patah dua patah kata pada para Jamaah. Ustadz Zhaf menuntun Melvin dan Jonathan mengucapkan Syahadat yang dikelilingi oleh para jama’ah. Tak sedikit dari mereka yang mengambil foto ataupun Video.
Asyhadu alla ilaaha illallaah, Waasyhadu anna Muhammadar rasuulullaah. Melvin dan Jonathan mengikuti ucapan Ustadz Zhaf dengan suara bergetar. Walaupun terbata-bata, Ustadz Zhaf terus menuntun mereka sampai selesai mengucapkannya.
__ADS_1
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Melvin dan Jonathan mengucapkan kata syahadat itu dengan lantang, air mata haru begitu saja turun dari mata mereka maupun dari para jamaah.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Takbir bergemuruh bersahutan dari semua para Jama’ah yang menyaksikan moment sakral itu. Terlihat Melvin dan Jonathan menangis menerima respon para Jama’ah yang begitu menyejukkan hatinya, menenangkan jiwanya.
“Assalamualaikum Akhi. Selamat datang! kami disini adalah saudara mu. Islam menjadikan kita bersaudara. Kamu adalah saudaraku, dan aku adalah saudara mu!” Ustadz Zhaf menyalami Melvin lalu memeluknya, begitupun pada Jonathan. Seluruh jamaah bergantian menyalami melvin dan Jonathan tak banyak dari mereka yang mencium melvin dan Jonathan.
Yaa Allah apakah ini yang dinamakan kedamaian?
Allahu Akbar! Ketika kuberdiri setelah aku mengucapkan kata-kata itu, semua ketakutan menghilang begitu saja dari pikiranku. Terasa seperti sebuah shower ada dalam kepalaku dan seseorang menyalakan air dinginnya. Dan aku merasa seakan-akan aku telah dibasuh bersih. Setelah mengucapkan syahadat ini, aku tak menduga begitu banyak saudara muslim menghampiriku, dan suara takbir itu mampu menggetarkan hatiku.
Allahu Akbar! Yaa Allah ... mereka menyambutku dengan mencium dan memelukku. Aku tidak pernah dicium oleh begitu banyak pria dalam hidupku kecuali oleh papih ketika masih kecil. Tapi ini adalah hari yang indah, harus aku akui. Hari ini adalah hari dimana aku mendapat lebih banyak saudara daripada yang aku bayangkan.
Yaa Allah, ternyata Islam itu Indah. Terima kasih telah memberiku jalan yang Indah ini. Batin Melvin sambil menghapus air matanya. Perjalanan Spiritualnya kini sudah menemukan titik akhir, Islam adalah agama pilihannya, yang kini menjadikannya seorang Muslim.
Ya Allah, aku tak bisa berkata apa-apa. Kuasa Mu Indah. Terima kasih atas nikmat Islam ini. Batin Jonathan yang kini berpelukan dengan Melvin.
-
-
Maaf yah otor kemarin gak up, otak otor sedikit oleng🤭
Hari ini Insyaallah up 2 Bab ngeganti yang kemarin.
Jika suka dengan novel ini, jangan lupa
Like😘😘😘
Komen🤗🤗🤗
Vote♥️♥️♥️
Hadiah😍😍😍
Rate 🥰🥰🥰
Hatur nuhun
☕☕☕☕☕
__ADS_1