Kita Berbeda

Kita Berbeda
Berjanjilah!


__ADS_3

Jam 22:30.


Melvin baru saja pulang ke apartemennya, ia langsung masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah membersihkan diri dan memakai baju tidur, ia mengecek kamar jonathan terlebih dahulu, untuk memastikan bahwa jonathan sudah pulang. Melvin membuka pintu kamar jonathan dengan pelan, ia takut membangunkan tidur jonathan. Melvin langsung mengarahkan pandangan ke ranjang jonathan, bantal dan selimut masih tersusun rapi, dan ranjang itu terlihat kosong, tak ada jonathan sama sekali.


Kemana anak itu? Sudah malam begini belum pulang. Apa dia menginap di apartemen meida? Batin melvin sambil menyusuri kamar jonathan, ia mencari jonathan kearah kamar mandi dan balkon.


Kenapa perasaanku gak tenang? Aku harus memastikan keberadaan jonathan pada meida. Gumam pelan melvin sambil keluar dari kamar jonathan menuju kamarnya, mengambil ponsel untuk menghubungi meida.


Melvin sudah beberapa kali menghubungi meida, tapi hasilnya tetap sama. Meida tak pernah mengangkat panggilan darinya sama sekali.


Akhirnya setelah panggilan ke 10, meida baru mengangkat telepon dari nya, dengan suara serak khas bangun tidur.


“Hallo meida! Maaf mengganggu tidur mu! Apa jonathan menginap di apartemen mu?” Tanya melvin sambil mondar-mandir di kamar nya. Sedangkan meida yang berada di kamarnya dibuat kaget dengan pertanyaan melvin, ia sontak membelalakan matanya.


“Jonathan? Dia tak menginap disini tuan. Tadi sekitar pukul 21:30 dia mengabari saya, bahwa dia dalam perjalanan pulang menuju apartemen tuan. Emang Jonathan belum sampai tuan?” Tanya meida dengan nada khawatir sambil menggigit kuku tangannya. Ia khawatir dengan keberadaan jonathan yang sudah malam tapi belum pulang.


“Jonathan belum pulang ke apartemen saya meida! Kamarnya kosong, sudah saya cek barusan.” Jelas melvin dengan wajah khawatir sambil memijit kepalanya.


“Terus jonathan dimana tuan?” Tanya meida dengan polosnya


“Saya kurang tahu! Apa tadi dia mengatakan padamu mau pergi kemana? Dia cuman izin ke saya mau pergi doang, tanpa menyebutkan pergi kemananya.” Terang melvin sambil mengambil mantel di lemarinya


“Ke saya pun gak bilang tuan. Dia cuman bilang mau pergi keluar karena ada kepentingan yang mendesak, gitu doang.”


Yaa Allah .... kamu dimana jo? Jangan buat cici khawatir. Gumam meida pelan.


“Saya akan mencarinya! Saya takut terjadi apa-apa dengan dia!” ucap melvin mengambil kunci mobil di laci kamarnya. Ia buru-buru keluar dari kamarnya yang berada di lantai 2.


“Saya ikut Tuan.”


“Jangan ikut! Kamu di apartemen aja jagain bi Ina. Tunggu kabar dari saya! Gak baik perempuan keluar malam-malam!”


“Gak bisa tuan, saya ikut! Perasaan saya tidak enak. Saya sangat mengkhawatirkan jonathan. Kita cari jonathan sama-sama!” ucap ngotot meida. Ia ingin ikut bersama melvin untuk mencari jonathan.


“Pikirkan kondisi mu! kamu baru pulih meida!” ucap kesal melvin agar meida tak ikut dengannya.


“Saya sudah tidak papa tuan. Tunggu saya di luar! Saya akan segera kesana.” Ucap panik meida buru-buru turun dari ranjangnya. Ia memakai piyama doraemon warna biru, tanpa menggantinya. Ia tak memakai hijab, karena saking paniknya. Padahal hijab instan selalu ia siapkan di stand hanger disamping tempat tidurnya, agar ia mudah mengenakannya ketika saat-saat darurat seperti sekarang. Wajah ia berantakan, karena baru bangun tidur dan tak sempat cuci muka.


Kebiasaan meida sejak dulu, jika ia diserang panik, maka segalanya berantakan, termasuk penampilan nya.


Rambut hitam panjang meida tergerai, ia sampai tak sadar dengan rambutnya.


Meida segera membuka pintu, setelah membawa kartu akses yang terletak di lemari hias yang berada di ruang tamu. Ia sengaja mengunci pintu itu dari dalam, demi keamanan bi ina.


Ketika meida menutup pintu, bertepatan dengan melvin yang baru keluar dari apartemennya. Melvin dibuat bengong dengan penampilan meida, yang hanya memakai baju tidur bermotif doraemon tanpa memakai hijab, tanpa memakai alas kaki.


Dia mau kemana? Kenapa dia tak memakai hijab? Kanapa tak memakai alas kaki? Mana motif piyama nya doraemon lagi, kayak bocah. Tapi ia terlihat sangat imut memakai piyama itu, dia seperti bocah SMP.


Tapi aku tak bisa membohongi perasaanku, ia sangat cantik dengan rambut panjang terurainya. Ternyata kecantikannya selama ini tersembunyi dibalik hijabnya. Batin melvin yang dibuat kagum dengan kecantikan meida. Sampai ia tak sadar meida sudah didepannya.


“Ayoo tuan kita pergi sekarang!” Ucap panik meida sambil berlari kearah lift. Untung suasana apartemen itu sepi, karena sudah malam hari.


“Meida tunggu! Pakai alas kaki mu! Pakai hijab mu! Kamu mau keluar dengan penampilan seperti itu?” Teriak melvin sambil mengejar meida. Tapi sangat disayangkan, meida sudah terlebih dahulu masuk ke dalam lift.


Yaa Tuhan kenapa dia jadi aneh seperti itu. Ujar pelan melvin sambil memakai mantelnya. Ia segera masuk kedalam lift untuk mengejar meida ke lantai dasar, tempat dimana mobilnya tersimpan.


-


Di basement

__ADS_1


Meida celingukan kesana kemari, mencari keberadaan melvin yang ditinggalkannya tadi. Ia baru sadar kalau melvin tertinggal dibelakangnya.


“Tuan Melvin dimana sih?” Tanya panik meida dengan menggigit kuku tangan nya. Sementara melvin baru keluar dari lift. Ia melihat beberapa lelaki gendut yang sedang berjalan kearah meida, melvin langsung berlari menuju kearah meida, lalu ia menyeret tangan meida menuju mobil Lamborghini hitam terbarunya.


“Cepetan masuk!” Perintah melvin dengan kesal sambil membukakan pintu mobil untuk meida. Dengan bibir cemberut meida masuk ke dalam mobilnya.


“Tuan kenapa tarik-tarik tangan saya? Sakit tahu. Lihat! Tangan saya sampai memerah!” Kesal meida kearah melvin yang baru duduk dibelakang kemudinya. Meida memperlihatkan penggelangan tangannya yang memerah.


“Maaf saya gak sengaja.” Jawab singkat melvin sambil memakai safety belt nya.


“Tapi sakit tuan.” Rengek meida dengan bibir manyun


“Maafin saya. Saya sengaja menyeret tangan mu, karena beberapa lelaki tua sedang berjalan kearah mu. Lihatlah!!!” Tunjuk melvin kearah lelaki tua yang sedang celingukan mencari keberadaan meida. Ia yakin para lelaki itu sedang mabuk.


“Saya ingin melindungi kehormatan mu dari mereka. Bukankah rambut mu tidak ingin kau perlihatkan pada mereka? Lihatlah penampilan mu sekarang!” ucap melvin menatap dalam wajah meida.


Meida langsung melihat penampilannya dari bawah keatas.


“Yaa Allah!” Teriak meida sambil memegang kepalanya. Ia baru sadar dari tadi tak memakai hijab, tak memakai alas kaki, dan hanya mengenakan piyama doraemon. Meida langsung melihat kearah melvin dengan wajah merah menahan malu. Melvin hanya tersenyum melihat tingkah meida.


“Kenapa aku tak memakai hijab? Padahal sudah kusiapkan disamping nakas. Ahhh rambutku ternoda.” Ujar lirih meida sambil menyembunyikan wajahnya diantara rambutnya. Ia menggetok-getok kepala dengan tangannya.


“Jangan memukul kepala mu! Percuma kamu menutupi wajahmu! Saya sudah melihatnya,” ujar melvin terkekeh sambil menghidupi mobilnya.


“Tuan punya sesuatu yang bisa menutupi kepala saya?” Tanya meida, memberanikan diri mengangkat wajahnya. Ketika melvin menjalankan mobilnya keluar dari basement itu.


“Tidak meida. Nanti kamu di dalam mobil aja, gak usah keluar! Pakailah ini untuk mengikat rambutmu! Agar kamu tak seperti hantu wanita yang rambutnya panjang yang suka keliaran malam-malam hehehe." Kekeh melvin memberikan dasi yang ada di dashboard mobilnya dan meida pun menerimanya.


Meida langsung menggelung rambut panjangnya, dan mengikatnya dengan dasi yang melvin berikan barusan. Melvin mencuri pandang kearah meida yang sedang mengingat rambutnya, tiba-tiba hatinya bergetar, melihat kecantikan alami meida.


Yaa Tuhan, kenapa hatiku ingin meledak sekarang? Kenapa jantungku berdetak kencang? Kenapa tangan dan kaki ku bergetar? Kenapa aku jadi gugup seperti ini. Yaa Tuhan aku takut tak bisa tidur malam ini. Batin melvin melirik kearah meida dengan ekor matanya sambil mengusap keringat didahinya.


“Tuan jangan melirik saya seperti itu!” ucap risih meida sambil cemberut dan melipat tangannya.


“Dasarr plin-plan! Tadi tuan yang ngasih, sekarang tuan yang ngungkit! Ikhlas gak sih?” Omel meida melirik kesal kearah melvin. Melvin bungkam dengan pertanyaan meida, ia malah mengalihkan pembicaraan.


“Meida! Tempat mana yang sering kamu kunjungi bersama jonathan? Coba kamu ingat, siapa tahu jonathan ada disana?” Tanya melvin sambil mengemudikan Mobilnya


“Tak banyak tempat yang kita kunjungi, selain danau buatan yang berada disamping taman bunga, yang dekat pesisir itu.” Jawab meida sambil melihat sekilas kearah melvin.


“Kita langsung ke danau itu! Semoga jonathan ada disana. GPS ponsel saya menunjukkan bahwa Jonathan sedang berada disana.” Jelas serius melvin menatap kearah meida.


“Aamiin. Semoga jonathan berada disana.” Doa meida sambil mengusap kedua tangan ke wajahnya.


Mereka sudah tiba di parkiran danau yang terlihat sepi. Tak ada seorang pun yang berlalu-lalang disana.


Lampu taman berjejer di setiap pohon dan pinggir danau itu, sehingga menambah keindahannya ketika di malam hari.


Melvin memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, ia membuka safety belt nya. Ia melihat kearah meida


“Kamu mau ikut atau tetap disini?” Tanya melvin sambil membuka panel pintu.


“Saya tunggu disini aja tuan! Saya malu gak pake hijab! Nanti tuan kabari saya kalau sudah menemukan jonathan.” Jawab meida dengan suara pasrah. Sebenarnya ia ingin ikut bersama melvin mencari jonathan, tapi ia takut bertemu orang.


“Ya sudah.” Melvin menutup pintu mobilnya dengan pikiran berkecamuk.


Saya tak mungkin meninggalkan meida disini sendirian. Lebih aman meida ikut dengan saya mencari keberadaan jonathan disekitar danau ini.


Melvin memutari mobilnya membuka pintu untuk meida.

__ADS_1


“Saya tak bisa meninggalkan kamu disini sendiri. Pakailah mantel saya!” Ucap melvin sambil membuka mantel yang membalut badannya, yang hanya menyisakan kaos polosnya. Meida hanya bengong melihat tingkah melvin.


“Pakailah!!” Melvin menyondorkan mantel warna navy kearah meida.


“Tapi tuan,” Dengan wajah tak enak, meida menolak mantel yang melvin berikan.


“Pakailah! Kamu lebih membutuhkan ini untuk menutupi rambut mu.” Mendengar ucapan melvin, meida langsung mengambil mantel itu dan memakai nya


“Terimakasih tuan.” Ucap tulus meida sambil keluar dari pintu.


“Sebentar!” ucap melvin menghentikan langkah meida. Ia merapikan upluk yang berada di kepala meida, agar menutupi semua rambutnya. Lalu melvin mengingat ujung talinya.


“Sudah.” Melvin tersenyum kearah meida sambil mengusap kepalanya.


-


Jonathan sedang menangis dipinggir danau. Ia tak mempedulikan keadaan sekitarnya walaupun sudah tengah malam. Ia hanya ingin sendiri, untuk meluapkan rasa sesak dihatinya. Karena di danau ini, ia bebas mengeluarkan air matanya, meluapkan segala emosinya.


Tuhan, bagaimana aku memberitahu semua ini pada cici meida? Aku tahu, setelah tahu kebenaran ini dia pasti terluka. Tuhan aku takut kehilangannya lagi, aku takut dia meninggalkan ku. Aku tak sanggup tuhan. Aku tak sanggup hidup jika cici meninggalkan ku. Tanpa dia hidupku kembali sepi, hidupku kembali hancur.


Yaa Tuhan, bagaimana daddy dan mommy mengetahui kebenaran ini? Aku takut mereka malah tak mengakui cici. Aku takut itu menambah luka hati cici.


Lambat laun cici pasti mengetahui kebenaran ini, tapi aku tak sanggup tuhan. Aku takut kau memisahkan kami lagi ... aku takut cici malah pergi dari hidupku. Karena dialah alasanku bertahan sampai sekarang.


Cici bagaimana perasaan mu jika bertemu dengan mommy dan daddy? Bagaimana perasaan mu bertemu keluarga besarmu sendiri? Apa yang akan kau lakukan ci? Aku tak bisa membayangkannya... Lirih jonathan dengan terisak sambil memeluk lututnya di kursi panjang itu.


“Jonathan!!” Panggil melvin dan meida bersamaan dengan wajah berbinar dengan keringat yang membasahi dahi mereka.


“Cici ... Koko ...” Lirih jonathan sambil berdiri. Ia langsung berlari kearah meida dan memeluknya.


“Kamu kenapa jo? Kenapa jam segini masih disini?” Tanya meida sambil mengelus-ngelus bahu jonathan. Jonathan tak menjawab ucapan meida, ia malah semakin menangis dipelukan meida.


“Kamu baik-baik saja kan? Cici dan ko melvin sangat mengkhawatirkan mu. Kami mencari mu dari tadi.” Mendengar ucapan meida, bukannya jonathan menjawab tapi malah semakin menangis lirih, ia meluapkan kegelisahan hatinya dipelukan meida.


“Kamu kenapa jo?” Tanya meida dengan suara parau. Ia tak tega melihat jonathan menangis, hatinya terasa sakit.


“Jawab cici kamu baik-baik saja kan?” Tanya meida tak bisa membendung air matanya. Ia menagis dibahu jonathan. Melvin yang berada dibelakang meida, langsung mengelus kepala jonathan dengan pandangan iba.


“Kamu kenapa? Cerita sama koko,” ujar pelan melvin menatap lembut mata jonathan. Ia yakin jonathan sedang tak baik-baik saja, ia sedang memendam sesuatu. Jonathan dan melvin saling berpandangan, mereka seolah berbicara lewat isyarat mata.


Setelah tangis jonathan reda, jonathan melerai pelukannya ia menatap wajah meida dalam.


“Ci! Jangan pernah tinggalin jo! Jo mohon!” ucap jonathan dengan suara yang bergetar. Ia kembali menangis ketika melihat wajah meida yang seperti foto kopiannya.


“Cici gak akan pergi, cici gak akan kemana-mana.” Jawab meida dengan suara parau sambil menghapus air mata yang mengalir di wajah jonathan.


“Cici harus janji! Seburuk apapun keadaan kita ke depan! Seburuk apapun itu, cici jangan pernah meninggalkan jo! Cici harus selalu berada disamping jo! Kita akan terus bersama-sama!” Teriak jonathan dengan memegang erat tangan meida. Meida dibuat aneh dengan perkataan jonathan, meida bingung harus menjawab apa.


“Sepahit apapun kenyataan! Sekecewa apapun perasaan! Seterluka apapun hati! Sesakit apapun jiwa! Seputus asa pun hidup! Tetaplah bersama jo! Jo tak bisa hidup jauh dari cici! Jo tak bisa hidup tanpa cici! Berjanjilah! Jo sangat menyayangi cici lebih dari apapun! Jo sangat mencintai cici...[Karena cici adalah kakak ko. Cici adalah keluarga yang jo punya. Karena cici adalah hidup jo].” Lirih jonathan dalam hati sambil bersimpuh di kaki meida.


Meida dibuat terharu dengan ucapan tulus Jonathan, ia menangis sambil mengelus kepala jonathan yang sedang memeluk kakinya.


“Jo bangunlah! Jangan seperti ini ... Cici janji! Jika Allah mengizinkan, cici akan menepati janji cici untuk selalu bersama mu.” Janji meida dengan berlinang air mata sambil memeluk Jonathan.


-


-


Kuyylah like, vote, komen, sama hadiahnya ♥️

__ADS_1


Hatur nuhun♥️🤗


Love buat pembaca setia novel ini😘


__ADS_2