
Dua insan itu sama-sama terdiam di teras rumah. Mereka sama-sama mendongkak kan kepalanya keatas untuk melihat kearah bintang yang bertebaran di langit. Suasana hening menghiasi tempat itu, tanpa ada yang berani memulai pembicaraan.
“Dek, lihat bulan itu! Hampir setiap purnama abang menunggu mu, untuk bisa duduk bersama seperti ini.” Tunjuk zidan kearah bulan purnama yang bersinar di atas mereka.
“Indah sekali bulan purnama itu bang. Cahayanya mampu menyinari kegelapan di bumi saat malam hari. Aku ingin seperti bulan itu, tapi itu sangat mustahil,” ujar meida memandang bulan itu tanpa berkedip
“Kamu bisa seperti bulan itu, dan sekarang pun kamu sudah menjadi bulan itu.” Jawab zidan sambil menatap wajah meida dari samping. Ucapan zidan membuat meida terhenyak, lalu menatap bingung kearah zidan.
“Aku tak mungkin jadi bulan itu bang. Lihatlah aku seperti bintang kecil itu! Dia sendirian, sedangkan bintang yang lain bergerombolan.” Ujar meida dengan senyum kecut, menunjuk kearah bintang yang sendirian.
“Bintang itu kesepian, sendirian... Dia bertahan dengan cahaya kecil yang dimilikinya sendiri.” Gumam pelan meida dengan mata berkabut.
“Tapi faktanya kamu tidak sendirian dek. Ada bi Ina, ada abang, ada ayah ibu yang akan selalu ada disamping mu dek.”
“Di luarannya memang seperti itu bang. Tapi hakikat nya aku merasa sendirian, merasa kesepian, merasakan kehampaan. Seramai apapun keadaan, hati ku tetap merasa kosong. Hidup segan mati tak mau, itulah hidup ku bang. Bertahan sampai sekarang, karena sesuatu yang ingin ku pertahankan, sesuatu yang ingin ku ketahui sebelum kepergian ku dari alam fana ini,” ucap meida dengan menutup matanya, tak ayal air mata lolos di pipinya.
“Dek, boleh abang mengisi kekosongan hati mu itu?” Tanya zidan dengan suara bergetar menatap dalam meida dengan wajah berkaca-kaca.
“Entahlah, aku tidak bisa dan tidak berniat membuka kekosongan hati ini. Biarlah seperti ini, aku tak ingin terluka lagi,” lirih sendu meida sambil membuka matanya. Memandang sendu kearah zidan.
Karena hati ku telah di bawa pergi olehnya. Jiwa ku hampa, hati ku mati. Aku tak tahu siapa yang mampu membukanya lagi. Hati ku biarlah seperti ini, sampai akhirnya menemukan nadirnya sendiri. Batin meida mengusap air matanya.
“lzinkan abang untuk mengobati luka hati mu dek,” ucap zidan membalikan tubuhnya menyamping, agar lebih leluasa berbicara dengan meida.
“Luka hati ku tiada obatnya bang, hanya waktu yang mampu mengobatinya. Aku tak ingin luka ini, tapi luka ini terus membelenggu ku.” Lirih pelan meida mengusap air mata yang melewati hidung dengan lengan nya.
“Apa abang boleh, menunggu luka mu sampai sembuh?” Tanya zidan menatap meida dengan air mata yang lolos dipipinya.
“Jangan bang, karena itu akan memakan waktu yang lama. Jangan menunggu luka ku sembuh, karena penantian itu yang ada malah menyakiti hati abang.” Lirih meida dengan pandangan kosong ke depan.
“Tapi abang sanggup menunggu mu berapa lama pun. Abang sudah terbiasa dalam penantian.” Zidan mengucapkan kata itu dengan berderai air mata. Ia menghapus air mata dengan tangan nya.
“Jangan menanti sesuatu yang tak berujung bang, nanti hati abang yang sakit sendiri.” Senyum getir meida menoleh kearah zidan. Sorot mata kecoklatan itu menangis pelan dengan penuh luka.
__ADS_1
“Dek, bertahun-tahun abang menunggu mu. Biarkan abang menunggu mu sekali lagi. Abang tak ingin perasaan ini semakin membelenggu abang.” Zidan bersimpuh di depan meida, dengan penuh pengharapan.
“Bang janganlah begini, bangunlah! Meida mohon ....” Meida menangis memegang bahu zidan.
“Kenapa abang bersikeras menunggu meida? Jangan abang gunakan waktu abang dengan sebuah kesia-siaan.” Meida menatap dalam manik zidan yang sama-sama terluka seperti nya.
Bang ... kau lelaki baik, kau lelaki tulus, kau berhak bahagia. Jangan menunggu ku, karena nanti kita akan sama-sama terluka. Batin meida seiring dengan deraian air mata nya.
“Tidak akan sia-sia jika akhirnya menemukan sebuah kebahagiaan. Abang mencintaimu dek, abang mencintaimu dari dulu, dari lima tahun lalu. Cinta abang tetap sama padamu, walaupun berbagai aral terjal menghadang abang.” Zidan menangis tergugu di depan meida. Ia mencurahkan semua isi hati yang menyiksanya selama ini. Menunggu meida dalam kenestapaan cinta.
“Bang jangan mencintai ku, aku takut hati abang terluka. Carilah wanita lebih baik dari ku bang. Abang lelaki baik, abang pasti menemukan pasangan yang baik pula. Sedangkan aku disini hanyalah anak buangan, aku bagai seenggok sampah, yang tak memiliki nilai baik sama sekali.” Meida menangis sambil berjalan ke halaman rumah. Ia berdiri dibawah pohon mangga yang menghadap ke halaman belakang rumah.
“Dek, sejauh apapun abang menghalau rasa ini. Hati abang ingin kamu, kamu adalah pelabuhan hati abang.” Zidan berdiri berjalan kearah meida. Ia berdiri di belakang meida dengan menundukan kepalanya.
“Jangan mencintai ku sedalam itu bang. Karena abang pasti tahu, kita tak mungkin bersama. Abang adalah kakak ipar meida, tidak elok rasanya jika kita sama-sama memiliki rasa. Bagaimana tanggapan orang-orang di kampung ini? Abang pasti tahu hidup meida disini seperti apa? Mereka sudah terbiasa mengolok-olok dan mencemooh meida. Apalagi jika meida bersama abang, hancur lah hati meida mendengar setiap hinaan mereka yang tak pernah usai. Cinta memang tidak salah bang, tapi waktu yang salah.” Tangis meida sambil berjongkok di depan zidan. Meida menyembunyikan wajahnya kedalam lututnya.
“Walaupun mereka berpandangan jelek pada mu, abang akan selalu berada di sisi mu dek. Hinaan mereka tidak akan mengurangi kadar cinta abang sedikit pun pada mu.” Zidan perlahan-lahan mendekati meida, hingga jarak mereka hanya tinggal satu langkah saja.
“Meida kamu adalah wanita yang ingin abang persunting dari dulu... Asal kamu tahu, abang sudah resmi berpisah dengan amel dek. Bisakah abang melabuhkan hati abang pada mu?” Tangis zidan pecah, dengan tangan menangkup wajahnya.
“Dek abang sungguh-sungguh mencintai mu. Kamu pasti tahu, sebelum pernikahan abang dengan amel, kamu orang pertama yang menepati hati abang. Kamu sudah tahu kamar itu kan? Kamar itu saksi perjalanan cinta abang menunggu mu.” Jawab zidan dengan ucapan penuh penekanan, untuk menetralisir rasa sakit di hatinya.
“Aku tahu bang, perasaan abang memang luar biasa tulusnya untuk ku. Tapi akulah yang salah, karena berada di posisi seperti ini. Aku tak ingin egois dengan perasaan ku bang. Lihatlah kak amel sekarang, dia gila karena aku, karena aku bang! Karena aku hidup dikehidupan dia, merebut cintanya yang tak kurebut sama sekali.”
“Meida, ajarkan abang untuk menghapus rasa ini! Ajarkan abang untuk tidak mencintai mu! Ajarkan abang dek! Ajarkan abang untuk membenci mu ... abang tidak bisa dek, perasaan abang sudah mengakar padamu. Mungkin abang egois, tapi abang juga ingin bahagia bersama orang yang abang cintai!” Lirih zidan dengan bercucuran air mata duduk bersimpuh di atas tanah.
“Bang mengertilah ... aku tidak ingin ada hati yang terluka lebih banyak lagi. Terlalu banyak hati yang akan jadi korban jika kita melanjutkan hubungan ini. Meida tahu hati abang sakit, sangat sakit dengan kenyataan ini. Tapi meida hanya bisa apa? Meida hanya ingin abang bahagia dan terbebas dari masalah yang menghinggapi meida. Hati kita sama-sama sakit bang, hati kita sama-sama terluka, tapi kita harus menyikapi semua ini dengan pikiran jernih..”
Maafkan aku bang, karena menyakiti perasaan mu. Maafkan ego ku. Walaupun hati mu sekarang sakit, itu lebih baik, agar kau bisa menghapus rasamu untuk ku. Kau pasti menemukan pengganti yang jauh lebih baik dari ku bang. Terima kasih telah menjaga cinta mu untuk ku selama lima tahun ini, terima kasih untuk cinta tulus itu. Maaf aku tak bisa membalas cinta mu.
“Dek, apa kau mencintai Almarhum Adib?” Tanya zidan tiba-tiba dengan pandangan buram karena terhalang air mata.
Yahh, aku sangat mencintai nya bang. Jiwa dan hati ku mati seiring kepergiannya. Ucap meida dalam hati
__ADS_1
“Abang mohon jawab dek ....” Lirih zidan menatap punggung meida dari arah belakang. Zidan dibuat tak berkutik setelah mendapat anggukan kepala meida, hatinya di buat sakit seketika.
Ternyata benar, kalian saling mencintai. Perasaan ku yang salah, karena hadir diantara kalian. Yaa Allah ... rasanya sakit sekali menerima kenyataan ini, kuatkan hati ku Yaa Allah. Yaa Allah, aku percaya akan takdir mu, mungkin kau sedang mempersiapkan sesuatu untuk ku lebih baik dari ini.
Yang terbaik menurut ku belum tentu baik menurut mu, begitupun sebaliknya...
Yaa Allah apa aku harus benar-benar mengikhlaskan meida, wanita yang sudah lama bertahta sepenuhnya di hati ku. Batin zidan memukul pelan dadanya, yang terasa sakit, untuk menghilangkan sesak di dadanya.
“Meida apa sekarang waktu abang untuk menyerah memperjuangkan cinta mu? Apa sekarang waktunya dek?” Tanya getir zidan menatap punggung meida yang bergetar.
“Abang ikhlaskan meida, carilah kebahagiaan abang. Allah pasti memberikan yang terbaik untuk abang, karena abang orang baik. Meida akan selalu mendoakan kebahagiaan untuk abang. Terima kasih telah mencintai meida sedalam itu, terima kasih untuk perasaan tulus abang. Berusaha berdamailah dengan keadaan, meida yakin perlahan-lahan abang bisa mengganti posisi meida di hati abang. Maaf meida membuat abang terluka ...” Meida menjawab pertanyaan zidan dengan terbata-bata. Ia yakin perasaan zidan sangat terluka karena nya.
“Walaupun sakit abang akan berusaha menerima ini. Terima kasih atas luka yang kamu torehkan di hati abang dek,” Lirih zidan berlari meninggalkan meida menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Ia menangis menangkupkan wajah nya di atas stir mobil.
Yaa Allah, kenapa sakit sekali rasanya. Luka ini entah siapa yang mampu mengobatinya...
Meida, abang melepas mu dengan ikhlas walaupun menyakitkan...
Waktu, bantu aku berdamai dengan keadaan ini. Lirih zidan menangis tergugu di atas stir mobil.
Bang, meida tahu hati abang pasti sakit, meida pun sekarang merasakan nya. Meida tak ingin abang menunggu sesuatu yang tak berkesudahan, yang ujung-ujungnya menyakiti hati abang sendiri. Karena meida tak ingin mengenal cinta. Karena cinta adalah luka, seperti meida rasakan sekarang.
Yaa Allah ... berilah kebahagiaan untuk bang zidan, pertemukan ia dengan orang yang tepat. Orang yang mencintainya dan bisa mengobati luka hatinya. Doa Meida dengan mengadahkan kedua tangannya ke langit, meminta kepada sang pencipta untuk kebahagiaan Zidan lelaki yang mencintainya dengan tulus.
-
-
Kuyylahh jempolnya jangan pelit-pelit hehe.
Cuman ada 5% pembaca, yang kasih jempol ke otor dari 100% pembaca🥺 gak ada 10%% acan😥
Makasih buat reader yang mantengin jempolnya buat ngelike ataupun ngomen 😘♥️
__ADS_1
Hatur nuhun buat reader yang masih stay di novel receh ini♥️♥️♥️