
“Sudah 3 hari, aku menunggu mbak disini. Mbak kemana aja? Mbak sibuk banget yah?” Ucap jonathan sambil duduk di samping meida yang sedang melamun di pinggir danau.
“Kau mencari ku jo?” Tanya meida sambil menatap ke arah jonathan dengan tersenyum.
“Iya mbak. Entah lah ini sangat konyol, dekat dengan mbak membuat aku tenang. Aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya." Jawab jonathan sambil menyondorkan susu kotak coklat kearah meida.
“Kamu ada-ada saja jo,” ucap meida dengan kekehan, sambil mengambil susu kotak yang disondorkan jonathan.
“Serius mbak, saya nyaman berada di dekat mbak.” Jonathan menatap hangat mata meida.
“Tiga hari lalu mbak cari kerja jo, makanya mbak gak kesini. Dan mbak bersyukur sekarang mbak sudah memiliki pekerjaan.” Terang meida dengan pandangan menerawang kearah wajah jonathan.
“Ohh syukur deh, kalau sudah dapat pekerjaan. Mbak tinggal dimana sekarang?” Tanya jonathan sambil menyeruput susu kotaknya.
“Mbak ngekos jo. Kalau gak kerja gimana mbak bayar kosan.” Jawab meida, sambil memasukan sedotan ke susu kotaknya.
“Kenapa harus ngekos, kenapa gak tinggal sama orang tua aja mbak? Kan lebih hemat.” Tanya jonathan sambil menyandarkan kepalanya di kepala kursi tersebut.
“Mbak perantauan jo, mbak dari Bandung.” Sahut meida tersenyum menjawab pertanyaan jonathan.
“Waduh.. jauh amat mbak, orang tua mbak ngizinin mbak ngerantau kesini? Kan jauh! Apalagi mbak perempuan. Kalau ada apa-apa gimana? Kita kan gak tahu kedepannya seperti apa?” Kaget jonathan memberondong pertanyaan kearah meida. Ia pikir meida orang asli sini, dan rumah nya masih disekitaran sini. Ternyata bukan.
“Mbak tidak memiliki orang tua jo, mereka membuang mbak ketika bayi. Beginilah nasib mbak jo, nasib anak yang tidak diharapkan.” Jawab meida dengan suara getir.
“Astagaa ... Yaa Tuhan, yang sabar yah mbak, aku turut prihatin.” Ucap jonathan dengan perasaan bersalah mengelus pelan bahu meida.
“It’s ok jo, mbak hanya mengikuti arus takdir saja. Biar mbak bisa menghadapi semuanya, mungkin menerima dan bersyukur lebih baik, daripada mbak meratapi nasib mbak sendiri.” Jawab meida dengan senyum kecut. Ia tak ingin bersedih lagi, cukup sudah air mata kekecewaan yang dikeluarkannya selama ini.
“Dunia ini sangat kejam mbak! Kita korban keegoisan orang dewasa mbak! Kadang aku pun merasa seperti yang mbak rasakan itu. Sejujurnya aku ingin hidup sendiri seperti mbak saja, punya keluarga tapi serasa tidak punya siapa-siapa. Punya orang tua serasa tidak punya orang tua. Aku tidak tahu, apa arti kasih sayang itu? Hidup di penuhi cinta itu seperti apa? Hati ku kosong mbak. Hidup keluarga ku berantakan.” Ucap jonathan getir, pandangan nya menerawang kedepan. Dadanya sesak mengingat beban moral yang dirasakan nya sekarang. Hatinya rapuh, tak tahu kemana ia harus bersandar.
__ADS_1
“Sabar jo jangan seperti itu, mereka menyayangi mu. Mungkin cara mengungkapkan kasih sayangnya berbeda dari orang lain, mereka mengungkapkan nya lewat perbuatan, bukan dengan ucapan.” Nasihat meida memandang kearah jo. Ia tahu lelaki muda disampingnya itu sedang membutuhkan teman bicara.
“Entahlah mbak, mungkin ini karma tuhan untuk keluarga ku. Keluarga ku terlalu ambisius dan serakah. Sekarang mereka menuai atas apa yang mereka perbuat," ucap jonathan sambil mengusap air mata yang lolos dipipinya. Ia melanjutkan ucapannya,
“Keluarga ku hancur mbak, akibat terlalu banyak menyakiti hati orang lain. Mungkin ini doa dari orang yang di dzolimi oleh keluarga ku. Asal mbak tahu, walaupun aku berasal dari keluarga kaya, tapi apa guna kekayaan itu? Harta hanya jadi skat penghalang hubungan kami. Yang ada di otak keluarga ku hanyalah hidup kaya, hidup mewah, walaupun yang diperolehnya dengan cara salah.”
“Aku tak membutuhkan harta itu mbak! Aku sendirian ... aku kesepian ... aku butuh kasih sayang. Aku ingin hidup seperti orang lain, hidup penuh kehangatan, keluarga lengkap, dan saling menyayangi satu sama lain. Aku ingin seperti mereka mbak.
Mereka tak memikirkan perasaanku mbak! Hidup ku sunyi, hidupku kosong. Kadang terbesit dalam hati, ketika kesepian itu datang, aku ingin mengakhiri hidupku mbak. Tapi hati kecilku menolak, agar aku menahan diri, aku ingin bertemu cici ku yang hilang mbak. Mungkin ini yang dirasakan cici ku dulu, ia pergi karena keegoisan orang tua ku mbak. Setelah cici ku pergi, baru mereka menyesal. Padahal itu semua sudah tidak ada gunanya lagi ” Curhat Jonathan dengan bersimbah air mata.
Jam 5 sore, suasana danau menjadi syahdu, oleh tangisan kedua manusia yang menjadi korban keegoisan orang tuanya.
“Yang sabar jo, kamu anak hebat. Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup mu. Ada mbak disini, kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa bilang sama mbak jo. Mbak akan berusaha selalu ada buat kamu, selagi mbak mampu. Jo kamu sudah mbak anggap seperti adik mbak sendiri, karena mbak tak memiliki seorang adik. Sejak pertemuan pertama kita, entahlah perasaan dari mana, mbak sangat menyayangi mu jo.” Ucap meida memandang nanar kearah jonathan, lalu menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
“Mbak, hidup keluarga jo setelah kepergian cici jaslin sangatlah berantakan, tabir satu persatu kejahatan keluarga jo terungkap. Kadang jo berpikir, kenapa jo dilahirkan dari keluarga ini? Kenapa tidak dari keluarga yang lain saja, keluarga yang menghargai kehadiran jo. Bukannya jo tidak bersyukur, tapi jo malu terlahir dari keluarga egois yang menuhankan kekayaan. Kakek jo meninggal dalam rasa penuh penyesalan, karena menelantarkan anak kandung dan istri pertama nya. Mbak bisa rasakan bagaimana perasaan om johan, yang hidup menjadi pelayan dikeluarganya sendiri. Ia hidup menderita sementara kakek dan daddy hidup bahagia dengan berkecukupan. Aku tidak bisa bayangkan perasaan om johan, saat tahu orang yang dicintainya berjuang melawan penyakit dirumah sakit, tapi keluarga jo malah berpesta pora. Padahal keluarga jo tahu om johan adalah anak dari istri pertama kakek yang kakek nikahi secara agama, tapi mereka tak menganggapnya karena ibu om johan berasal dari keluarga yang tidak punya. Keluarga besar jo memisahkan mereka, memisahkan orang yang saling mecintai karena perbedaan kasta. Tapi, yang sangat jo sayang kan adalah sikap kakek, ia terlalu patuh atas segala perintah yang keluarga jo perintah kan. Dengan mengorbankan nuraninya, mengabaikan keluarga kecilnya, bukan memperjuangkannya. Keluarga besar jo malah mengabaikan keluarga om johan, mereka mengasingkan dan malah membuangnya. Om johan kecil hidupnya sangat keras mbak, ia harus berjualan koran untuk menompang hidupnya, padahal ia anak dan cucu dari pengusaha kaya raya. Mereka berjuang hidup, demi sesuap nasi, sampai ibu nya menderita penyakit kanker. Ia rela hujan-hujanan, memohon di pintu gerbang rumah kakek, meminta uang untuk biaya pengobatan ibunya, tapi apa yang ia dapatkan? Berjam-jam om johan berdiri menangis memohon, dengan keadaan basah kuyup, tak ada yang menghiraukan nya, tak ada yang peduli dengan anak kecil itu. Padahal waktu itu ibu nya sekarat membutuhkan penanganan, tapi ia pulang dengan tangan kosong. Mbak bisa bayangkan penderitaan om johan, anak sekecil itu harus menanggung penderitaan nya sendiri, walaupun keluarga ayahnya kaya raya, tapi tak ada seorang pun yang mau menolongnya, padahal darah yang mengalir di tubuh mereka itu sama. Hingga malaikat tak bersayap yang menemaninya di dunia yang kejam ini di pangggil tuhan, ia hancur mbak. Bisa di bayangkan perasaan om johan? Tempat sandarannya telah pergi, karena keegoisan keluarganya sendiri. Ia berjuang hidup sendiri, tanpa uluran tangan ayahnya. Ia sendirian, anak kecil itu sendirian, ketika harus mengurus pemakaman ibunya. Keluarga jo tak ada yang datang, kakek selaku ayahnya om johan pun tak datang, padahal om johan sangat membutuhkan kehadiran kakek saat itu. Keluarga ku jahat mbak! Keluarga ku tak punya nurani! Mereka kejam mbak ...
Saking tidak peduli nya kakek dengan keluarga kecil yang ditelantarkan nya, ia tidak mengetahui bahwa istri pertama yang memberikan cinta tulus untuknya telah pergi. Ia mengetahui istri pertama nya meninggal setelah kepergian cici ku, karena om johan meluapkan amarah dan kekecewaannya setelah kakinya di tembak oleh kakek, ayah nya sendiri. Kalau saja aku jadi om johan, akan ku hancurkan keluarga ku mbak, biar mereka merasakan penderitaan yang om johan rasakan. Tapi sayang, om johan terlalu baik, ia terlahir dari rahim orang wanita baik-baik. Ibunya berhasil mendidiknya menjadi seorang lelaki berperasaan dan penuh kasih sayang. Bukan, seperti daddy.
“Menangislah jo, jika itu mengurangi beban perasaan mu, jika itu membuat hati mu tenang. Setelah itu lupakan!” Ucap meida sambil menepuk pelan bahu jo, dengan air mata yang bercucuran.
Apa yang jo maksud om johan itu adalah pak louis johan, pemilik cafe tempatku bekerja dulu. Aku ingat pak louis menangis menceritakan masa lalu nya, apa ini berkaitan dengan cerita jo. Jika itu benar, ternyata hidup pak louis lebih menderita daripada aku. Aku pikir aku lah orang yang paling menderita itu, ternyata tidak, pak louis lah orang-nya. Nanti ku tanyakan pada jo, apa kah om johan yang diceritakan nya adalah pak louis. Batin meida dengan pandangan nanar.
Setelah jonathan lumayan tenang, meida menguraikan pelukannya ia menatap jonathan dalam, lalu menghapus airmata yang mengalir di pipinya.
Aku merasa ada diriku, dalam diri jo. Ternyata kamu kesepian jo, kamu membutuhkan kasih sayang. Kita sama, aku menyayangi mu jo. Batin meida seraya tersenyum kearah jonathan.
“Sudah sudah jangan menangis lagi,” ucap meida sambil memegang kedua bahu jonathan.
“Iya mbak. Secengeng apapun aku, aku tak berani menangis. Tapi hanya di depan mbak aku bisa menangis. Mungkin bila cici ku masih ada, aku punya tempat sandaran disaat perasaanku seperti ini. Aku yakin jika dia masih hidup, dia sepantaran dengan mbak,” ujar jonathan memandang nanar kearah meida.
__ADS_1
“Mbak pernah bilang anggap mbak sebagai kakak mu.” Sahut meida sambil mengelus lembut pipi jonathan dengan penuh kasih sayang.
“Mbak boleh kan kalau jo memanggil mbak dengan sebutan cici? Jo nyaman menyebut mbak dengan sebutan itu, berasa cici jaslin hidup dalam diri mbak.” Ujar jonathan menatap dalam sorot mata meida.
“Boleh jo, panggil mbak sesuka hati mu. Asal jangan panggil mbak bi inem aja.” Kelakar meida mencairkan suasana sendu itu.
“Hahaha cici ada-ada aja.” Jonathan tertawa dengan ucapan meida.
“Jo kamu lebih tampan kalau tertawa, sering-seringlah tertawa. Jangan bersedih lagi."
“Iya ci. Jonathan janji! Tapi sekarang jo mau makan hehe.” Ucap jonathan tersenyum memegang perutnya.
“Kamu lapar? Emang sih, biasanya sehabis nangis emang suka lapar. Kebetulan sekali mbak gak bawa uang, jadi gak bisa nelaktir kamu. kamu makan di kosan mbak yah? Nanti mbak masakin?” Tawar meida dengan mimik wajah bersalah, karena ia tak membawa uang lebih.
“Seriusan ci?? Dengan senang hati, jo ingin memakan masakan cici,” jawab jo dengan wajah berbinar.
“Ayooo ... Let's go!!!”
Meida dan jonathan berjalan kaki menuju kosan meida yang berjarak 20 menit dari danau itu, perjalanan mereka diselingi canda dan tawa. Dua manusia itu tertawa lepas dengan mata sama-sama sembab.
-
bersimbing
Kuyy lah vote, like, comment, dan hadiah nya♥️
Gomawoo buat reader yang masih stay di novel ini.
__ADS_1
Happy Monday ♥️