
Apartemen meida cukup ramai dengan kehadiran melvin dan jonathan. Mereka sedang bercengkrama di meja makan layaknya keluarga bahagia, setelah selesai makan malam.
Wajah Jonathan terlihat ceria, ia tidak menampilkan wajah sedihnya setelah pertemuan singkat nya tadi dengan sang kakak. Sementara wajah meida sudah mulai berseri walaupun tak seceria dulu. Ia masih sedikit pendiam dan tertutup.
“Jo, kamu disini sebentar dulu yah. Koko mau pulang ke rumah dulu, ada sesuatu yang harus koko kerjakan. Nanti malam koko pulang lagi kesini kok,” ucap melvin setelah membalas pesan dari papihnya. Ia menatap wajah jonathan dengan perasaan bersalah.
“Iya ko gak papa. Kalau mau pergi, pergi aja. Jonathan gak papa sendiri.” Jawab jonathan dengan tersenyum tanpa beban. Meida dan bi ina dibuat takjub dengan kedekatan mereka, yang tak memiliki ikatan darah sedikit pun.
“Selama koko pergi, kamu disini yah jangan kemana-mana! Koko gak tega ninggalin kamu sendirian di apartemen, takut kamu kenapa-kenapa. Koko lebih tenang kamu berada disini! Nanti malam koko jemput kamu kesini!” Perintah melvin dengan posesif. Jonathan dibuat terenyuh akan sikap melvin yang begitu perhatian padanya, melvin seakan menganggap jonathan seperti anak kecil.
“Gak papa kok. Lagian jonathan berani ko sendiri di apartemen koko. Jonathan udah gede ko, udah puber, Jonathan udah 16 tahun.” Kelakar jonathan mengedipkan matanya kearah meida dan bi ina. Sontak Perkataan jonathan membuat orang yang berada di ruangan itu tertawa.
“Walaupun postur mu besar jo, tetap aja kamu masih bocah, pikiran mu masih oon. Koko lebih tenang ninggalin kamu disini bersama meida dan bu ina. Daripada di apartemen koko sendirian. Gimana kalau kamu di culik makhluk jadi-jadian?” Tanya melvin sambil mengacak-ngacak rambut jonathan dengan penuh kasih sayang. Melvin merasa seperti punya adik kembali, ia sudah menganggap jonathan seperti adiknya sendiri.
“IIhh rambut jo jadi berantakan ko!” Kesal jonathan dengan perilaku usil melvin. Melvin dibuat tertawa oleh bibir manyun jonathan.
“Iya iya jo stay disini sampai koko pulang!” Pasrah jonathan dengan perintah melvin.
“Good boy! Bu, meida, saya permisi dulu. Saya titip jo, jika ia nakal, gantung aja ditiang ini!” Pamit melvin berjalan kearah pintu sambil terkekeh. Jonathan dibuat cemberut oleh perkataan melvin.
Setelah kepergian melvin. Meida, bi ina, dan jonathan sibuk membereskan meja makan, hingga dapur itu kembali rapi. Setelah semuanya selesai, bi ina langsung pamit ke kamarnya. Sedangkan meida dan Jonathan memilih pergi kearah balkon untuk bersantai sambil bercengkrama.
Di balkon itu, meida duduk sambil menikmati pemandangan kota, sedangkan jonathan asik dengan lamunannya sendiri.
“Ci, Tuhan itu ada gak sih?” Tanya jonathan kepada meida. Ia mengarahkan wajahnya kearah langit hitam yang berhias bintang.
“Tuhan itu ada jo. Tuhan itu maha pencipta, langit dan bumi ini adalah bukti nya. Kalau tak ada Tuhan, mana mungkin kamu terlahir ke dunia ini.” Meida menjawab pertanyaan jonathan dengan lembut sambil menatap jonathan dari arah samping. Ia tak mengetahui keresahan yang selama ini berada di hati jonathan. Meida tak mengetahui kalau jonathan adalah seorang atheis.
Jonathan menatap langit itu dengan pandangan kosong. Ia melanjutkan ucapannya tanpa melihat kearah meida.
“Orang tua jo membesarkan jo sebagai seorang Atheis. Tapi kepercayaan yang mereka anut adalah Katholik, setiap minggu mereka rajin beribadah ke Gereja, mereka seperti jemaat pada umumnya. Berbeda dengan didikan Halmoeni dan Harabeoji waktu jo tinggal di korea. Dulu ketika jo kecil, Halmoeni(Nenek dalam bahasa korea) dan Harabeoji(kakek) menanamkan di otak jo bahwa “Ketika kau mati, selesai sudah. Itu saja. Tidak ada akhirat, tidak ada Tuhan, itu semua bohong.” Halmoeni selalu mengatakan itu, ketika jo dibuat bingung ketika melihat teman jo pergi ke Gereja. Akhirnya ketika High school jo memutuskan untuk menjadi seorang atheis mengikuti jejak halmoeni dan teman jo masa itu. Dari sana jo tak pernah mempercayai adanya tuhan, tentang adanya dewa dewi, tentang patung dan hal-hal yang berbau mistis. Jo yakin hidup ini murni karena Hukum alam,” Jonathan menjeda ucapannya. ia membalikkan tubuhnya agar menghadap meida.
__ADS_1
“Jo tak lagi memercayai adanya Tuhan sejak 4 tahun terakhir. 2 tahun sebelumnya, jo menjadi seorang agnostik.” (Agnostisisme adalah sikap yang menilai segala sesuatu berkenaan dengan Tuhan tak mungkin bisa dipahami, maka tak perlu dipikirkan). Terang jonathan sambil memegang pagar besi. Lalu ia menatap meida yang wajah nya terlihat kaget dengan pengakuan jonathan.
“Jo, bagaimana kalau Tuhan yang tak kamu percayai itu ternyata ada?” Tanya meida menyelidik dengan menatap hangat mata jo.
“Ya tergantung jenis tuhannya. Kalau tuhannya egois, narsis, lebih mementingkan apakah manusia menyembahnya atau tidak ketimbang bagaimana perbuatan manusia itu, maka jo sedang bernasib sial.
Jika tuhannya adalah tuhan yang suka kebaikan, tuhan yang merasa tidak perlu disembah, tuhan yang lebih menyukai manusia yang berpikir dengan akalnya, maka jo sedang beruntung, dan mereka yang percaya dongeng sedang sial." Terang jonathan membalas tatapan meida dengan tersenyum.
“Cici pernah baca kan? Kalau agama itu cenderung banyak dianut oleh masyarakat dengan IQ dan kemampuan ekonomi rendah? Itu data korelasi dan valid, tapi kausalitasnya bukan karena beragama dia jadi bodoh, tapi karena dia bodoh dan miskin maka dia gagal bersaing dalam hidup, maka dia butuh agama untuk menghibur diri. Konsep dalam agama memberikan placebo effect agar orang-orang tetap waras dalam menjalani hidup yang keras dan tidak adil ini. Jo beranggapan bahwa institusi agama membuat jo tak nyaman untuk menjalani hidup." Jonathan memandang meida dengan sendu.
"Tapi ... itu pandangan jo dulu. Setelah jo ikut cici pulang ke Bandung, pandangan jo jadi berubah akan itu. Jo selalu berpikir, kenapa jo ada disini? Apa tujuan hidup jo? Kenapa jo harus bangun di pagi hari? Kenapa jo harus tidur? Kenapa jo harus peduli? Kenapa harus ada mati? Apa jo akan hidup setelah mati? Apa yang jo bawa ketika mati?” Tanya jonathan kembali sambil mendekat kearah meida, ia duduk di kursi di samping meida.
“Dulu ketika jo masih rajin ke Gereja. Setiap orang bernyanyi, jo tidak tahu kata-katanya, jo hanya ikut-ikutan, jo tidak tahu apa yang jo ucapkan. Mereka punya suara yang indah tapi terasa aneh. Dan setiap orang berkata pada jo, bahwa betapa Tuhan mencintai jo, dan jo berpikir “Jika Tuhan mencintai jo, kenapa keluarga jo berantakan? Kenapa keluarga jo tak menyayangi jo? Apa Tuhan benar-benar mencintai jo? Apa hidup jo karena hukum Tuhan?” Jonathan menatap pandangan kearah gedung dengan tatapan kosong,
“Ci, setelah kejadian kemarin, jo terus bertanya pada diri jo sendiri. Bertanya tentang apa tujuan jo diciptakan? Apakah Tuhan hanya menyalurkan kesenangannya dengan menciptakan jo? Mengapa terkadang jo merasa bahagia dan memiliki kehidupan yang menyenangkan dan terkadang jo merasa sedih dan merasakan getir atas pahitnya kehidupan? Apa hikmah dari ini semua ci?” Tanya jonathan dengan suara lirih dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menatap dalam meida dari arah samping. Meida menolehkan wajahnya kearah jonathan sambil tersenyum.
“Jo! Cici hanya ingin mengatakan pada jo mengenai pandangan terhadap Tuhan, agar jo menyakini keberadaannya. Pertama, Jo harus percaya hanya kepada satu pencipta. Kedua, tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan-Nya. Ketiga, Dia-lah penguasa alam gaib. Keempat, Dia mengutus para nabi dan rasul agar manusia paham apa yang Dia inginkan.” Jawab logis meida sambil menatap jonathan.
“Ketika di Bandung jo tertarik dengan islam, jo tertarik akan kehidupan mereka. Mereka hidup damai tanpa banyak perselisihan. Islam seolah mengobati kegersangan dalam hati jo, islam seperti jawaban atas pencarian jo selama ini. Jo sering membaca sepintas tentang islam, tapi ada sesuatu yang ingin jo tanyakan pada cici. Kenapa wanita islam harus mengenakan jilbab yang seperti cici kenakan? Kenapa dengan jilbab? Bagaimana bisa jo boleh punya 4 istri, tapi wanita tidak boleh punya 4 suami?” Tanya serius jonathan menatap meida tak berkedip.
“Jo, cici tidak boleh berpendapat dengan pendapat cici sendiri, karena ini berkaitan dengan firman Tuhan. Hanya Al-Qur’an yang mampu menjawabnya.” Sahut meida sambil menggeser posisi duduknya. Ia memegang tangan jonathan,
“Jo, asal jo tahu! Islam bukanlah sebuah tradisi budaya, tapi Islam adalah jalan hidup dan bagaimana seharusnya kita hidup di dunia, berdasarkan tuntunan dan aturan dari yang menciptakan alam semesta ini.” Terang meida mengusap lembut tangan jo. Jonathan memegang erat tangan meida dan menatap dalam sorot mata kecokelat itu.
“Ci, bagaimana cara cici mempercayai dan mentaati perintah Tuhan dengan sedalam itu?” Tanya sendu jonathan dengan air mata yang lolos dipipinya
“Itu karena cinta jo. Ketika rasa cinta itu telah muncul, secara otomatis cici langsung menaati-Nya tanpa ada rasa terpaksa sedikit pun. Cici merasakan kebahagiaan dan kegembiraan dalam beribadah kepada-Nya sesuai dengan petunjuk Al-Qur'an dan sunah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Alquran: "Bahwa orang-orang yang menaati-Nya dan mengikuti sunah nabi-Nya akan merasakan kebahagian di kehidupan akhirat." Insya Allah itulah tujuan hidup cici sekarang, dan cici pun paham tujuan Tuhan menciptakan cici.” Meida menjawab pertanyaan jonathan sambil menghapus air mata dipipinya.
“Cici diciptakan bukan karena kesenangan Tuhan, tapi dengan tujuan “belajar” untuk menghadapi hisab amal cici di hari kiamat nanti. Apabila cici berhasil, maka insya Allah cici masuk ke dalam surga. Namun apabila gagal, maka cici pantas menemani setan di dalam neraka. Inilah alasan mengapa cici harus menaati Allah, agar cici bisa terhindar dari neraka. Alasan Allah menciptakan cici hanya satu, yaitu untuk beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukannya. Sampai sini kamu paham jo?” Tanya meida kemudian, sambil menghapus air mata di pipi jonathan
__ADS_1
“Entahlah, jo masih bingung ci. Jo hanya butuh bukti, untuk menyakini semuanya. Agar hati jo benar-benar percaya dan meyakini keberadaan-Nya.” Ucap jonathan sambil melepaskan genggaman tangan meida. Ia kembali berdiri kearah pagar besi, lalu menutup matanya.
“Sederhananya seperti ini jo. Ibumu akan selalu membimbingmu, selalu mengatakan “lakukanlah itu” atau “jangan lakukan itu” karena ibumulah yang melahirkanmu, ia mencintaimu. Sama halnya dengan Allah yang menciptakan alam semesta ini, memerintahkanmu untuk melakukan sesuatu atau melarangmu untuk melakukan sesuatu, sesuai apa yang Al-Qur'an perintahkan.” Terang meida sambil berjalan kearah jonathan. Ia memegang bahu jonathan agar jonathan melihat kearahnya.
“Pertanyaan cici, jo bisa mencintai wanita yang melahirkan jo, akan tetapi mengapa jo tidak mampu mencintai Tuhan yang menciptakan jo?” Tanya meida sambil menyentuh lembut pipi jonathan yang sedang menangis.
Jonathan di buat terdiam dengan perkataan meida, hatinya seperti di guyur hujan, ketika kegersangan melanda hatinya. Perasaan aneh tiba-tiba muncul dihatinya setelah mendengar perkataan itu.
Jonathan memberanikan diri menatap meida diantara airmatanya.
“Ci, ajarkan jo lebih dalam tentang islam!” Lirih jonathan memegang tangan meida yang berada dipipinya sambil berurai air mata.
“Insya Allah jo ... cici akan membantu mu." Tangis haru meida sambil memeluk erat jonathan.
-
Bersimbing
Mohon maaf jika otor salah menulis kata-kata diatas🙏 Mohon maaf jika ada kata-kata yang menyinggung kalian🙏
Otor berharap pembaca lebih legowo dan tidak gampang marah hehe🤗
Pengalaman ini otor dapatkan dari teman otor waktu kerja di airport 2 tahun lalu. Alhamdulillah sekarang dia sudah menjadi mualaf🥰
Love buat kalian😘 hampura jika ada yang typo🙏
__ADS_1