Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Irma jahat?


__ADS_3

jam pelajaran akhirnya selesai juga, Nurul tak mengira jika ibu dari Jasmin begitu jahat pada keluarga mereka.


padahal keluarga mereka begitu baik,dan masalah Windi itu kesalahannya sendiri.


"lain kali Tante, jangan asal mau menerima makanan dari orang yang belum seberapa kita kenal, lihat bagaimana akhirnya," kata Raka sedang marah.


"sudah pak, ini bukan sepenuhnya salah, ini karena mereka saja yang mungkin salah paham pada keluarga kalian," kata Wulan menenangkan Raka.


"iya Raka, Tante baik-baik saja, mungkin mereka melakukan ini karena marah," kata Nurul mencoba menenangkan Raka.


"aku mohon pak Raka, tolong baca istighfar, jangan seperti ini ..." lirih Wulan.


dia takut jika Raka lepas kendali dan menjadi buruk, dengan membalas dendam.


"astaghfirullah hal Adzhim, maafkan aku..."


akhirnya waktu belajar mengajar berjalan baik, Wulan memberikan puding pada Nurul untuk mengganjal perut, agar tak terlalu lapar saat mengajar tadi.


mereka pun menjalankan semua dengan baik, Rania datang menghampiri ruang guru membawa roti yang di beli bersama Raka.


"bunda, Rania bawa roti," kata gadis kecil itu.


"terima kasih ya sayang," kata Nurul menerima roti dari putrinya itu.


Rania juga membawa susu kedelai pada Wulan, "mbak cantik, ini dari kakak Raka," kata Rania.


"terima kasih ya cantik," kata Wulan.


Rania pun pamit, Wulan membagikan susu kedelai pada Zuzun dan Irma, "ini kalian bisa memilih mau rasa apa?"


"wah terima kasih nih ya," jawab Zuzun mengambil rasa original.


"aku gak mau, nanti bikin nambah gemuk, udah aku pulang dulu," kata Irma.

__ADS_1


"Irma kamu kenapa sih, kok sekarang kamu kelihatan menjauhiku, jika aku ada salah aku minta maaf," kata Wulan yang merasa di benci oleh Irma.


"kau saja yang membuatku ingin menjauh, kamu itu tak sadar diri ya, kamu itu udah gendut tukang caper tau gak," kata Irma pada Wulan.


"apa maksudmu," kata Wulan ingin menahan tangisnya.


"hentikan Irma, kamu hanya cemburu pada Wulan," kata Zuzun membela temannya itu.


"ya aku cemburu, kenapa mata semua pria buta, mereka terus menyukai wulan, lihat saja bahkan tubuhnya saja gendut begitu, tapi banyak orang yang mencintainya, dan kenapa harus pria yang aku cintai, pertama Tandi kemudian pak Raka!" teriak Irma dengan lantang.


sebuah tamparan di berikan oleh Aira, Wulan dan Zuzun kaget melihat itu, "sebelum menghina seseorang, lihat dulu akhlak mu, kau yang begitu jahat menghina sahabat mu, gadis seperti mu tak pantas untuk adikku!" bentak Aira.


"mbak Aira, tenang mbak, jangan marah ya," kata Wulan menenangkan wanita itu.


"tidak Wulan, mulut gadis ini benar-benar perlu di ajarkan sesuatu, siapa? pria mana yang mau memiliki wanita yang begitu bulsyit seperti mu, jadi ingat ini aku tak mengira ada seorang yang begitu jahat seperti ini," kata Aira.


Wulan memeluk Aira agar wanita itu tenang, "lihat, kamu itu memang benar-benar sangat menyebalkan, semua orang begitu menyukai mu, itu karena kamu itu wanita setan!" teriak Irma.


"aku tak mengira, jika kamu begitu buruk, aku tak mengira itu, Wulan bahkan begitu baik pada keluarga kita, kenapa kamu seperti ini," kata Zuzun.


"aku lelah harus terus berpura-pura, kenapa kamu membantuku, aku benci itu, aku tau keluarga mu kata, tapi kenapa, hanya karena ingin berteman dengan ku bukan, aku jijik berteman dengan mu," kata Irma.


"aku tak pernah meminta itu, ibu membantu keluarga mu itu tulus, bukan agar kamu berteman dengan ku, jika kamu tak mau berteman dengan ku itu tak apa-apa Irma, tapi tolong jangan membenciku, baiklah aku akan menjauhi mu, dan semua ini karena Kesalahan ku, maafkan aku ..." lirih Wulan yang mengambil tas miliknya dan memutuskan untuk pergi.


Raka menahan Wulan agar tak pergi, "kamu menyukaiku bukan, tapi sayangnya aku dari pertama bertemu kalian berdua, aku sudah jatuh hati pada Wulan, gadis yang kamu hina gemuk. bagiku dia itu cantik dan lembut, belum lagi akhlak yang baik, dan begitu mudah menyukai anak-anak, itu yang membuatku jatuh hati begitupun dengan Rania," kata Raka yang membungkam Irma.


akhirnya semua orang pergi, Zuzun juga meninggalkan Irma, dia tak mengira jika Irma yang selama ini begitu dekat dengan Wulan malah begitu melukai sahabat mereka.


sedang Irma juga menangis karena harus melakukan ini semua, dia hanya tak ingin jika Wulan terseret dalam masalah Keluarganya.


terutama masalah itu menginginkan Wulan untuk menjadi miliknya, bahkan hanya ini yang dapat Irma lakukan.


sedang di dalam mobil Wulan juga terus menangis, bahkan Raka terus melirik gadis itu.

__ADS_1


Aira terus memeluknya dengan erat, agar gadis itu tenang, dia tak mengira jika gadis sebaik ini akan menghadapi penghianatan bahkan oleh sahabatnya sendiri.


"sudah dek, tolong berhentilah menangis, atau kita akan berputar-putar sampai malam jika kamu seperti ini," kata Raka.


"maaf, tapi Irma adalah teman ku sejak kecil mas, dan aku tak mengira jika dia begitu mencintaimu, jadi bisakah kamu menerimanya, aku akan mundur jika itu bisa membuatnya bahagia ya," kata Wulan.


"tidak, itu tak mungkin dek, kamu bisa melukai tiga hati sekaligus," kata Raka dengan suara tinggi.


"maaf ... tapi apa yang harus aku lakukan, dia dari dulu tak pernah menginginkan sesuatu, tapi aku terus merebutnya," kata Wulan yang kembali menangis.


"kamu tak merebutnya, karena dia belum bertemu dengan pria yang bisa menerimanya dengan tulus, jadi jangan korbankan kebahagiaan mu dan Raka untuknya, atau ini akan sangat melukainya lebih besar," kata Aira.


"sudah ya mbak cantik, jangan nangis Rania ikut nangis, bunda ... minta mbak Wulan berhenti ..." mohon Raina.


"maaf ya cantik, terima kasih semuanya," kata Wulan yang menghapus air matanya.


Alfin sudah sampai terlebih dahulu, bersama Adri yang membawa motor Wulan.


tak lama mobil Raka juga datang, Raka mengambil jaketnya dan menutupi wajah Wulan.


tapi Raka malah memeluk tubuh gadis yang dia sukai, "hei ... kalian belum muhrim!" teriak Aira.


"gak ke sentuh kok, orang ada alasnya jaket ku, habis gadis ini begitu mengemaskan," kata Raka.


"sabar ya bro, tunggu satu tahun lagi, baru boleh peluk-peluk kayak tadi, jadi sabar ..."goda Alfin memotong adik iparnya itu.


orang tua Wulan menyambut para tamu, Bu mut sedikit kaget melihat Wulan yang menyembunyikan wajahnya yang habis menangis.


"maaf pak, saya boleh tanya, ada apa di rumah pak Prapto kenapa begitu ramai?" tanya Adri yang tak sengaja melihat kejadian sekilas.


"saya juga tak tau pak, apa terjadi sesuatu ya, sebentar saya pamit lihat dulu," kata pak Suyatno yang khawatir.


"kami ikut pak," kata Adri dan Alfin yang juga penasaran.

__ADS_1


__ADS_2