
Afbi menghampiri Sherli di kamarnya, ia berniat menanyakan kepada sang adik apakah sebelumnya ada tamu yang berkunjung. Sherli sangat terkejut mendengar pertanyaan Afbi. Ia mengatakan tidak ada siapapun yang berkunjung dan Afbi pun percaya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sherli tidak menyangka jika Afbi akan memeriksa tong sampah. Dia mengatakan tidak dengan gugupnya, dan untunglah Afbi mempercayainya.
"Oh mungkin tetangga! Baiklah kalo begitu, istirahatlah kembali!"
Karena sudah mendapatkan jawaban, Afbi segera keluar dari kamar Sherli.
Sherli menghela nafas, ia beruntung Afbi percaya padanya.
"Syukurlah, lain kali aku akan menyuruh Kak Felix untuk membuang di tempat lain."
Akibat dari obat yang Sherli minum, kantuk pun terasa menguasai dirinya. Sherli menarik slimut untuk menutupi tubuhnya. Boneka beruang ia raih untuk menambah rasa nyamannya ia pun segera tertidur.
***
Pagi datang menggantikan malam, suara kicauan burung seakan menyambutnya. Sesosok insan masih terlelap di bawah selimutnya seakan menolak pagi datang.
Hangatnya mentari yang masuk melalui jendela, membangunkan Sherli. Ia meregangkan tubuhnya. Matanya tertuju pada dinding tempat singgah sebuah jam yang masih menunjukan pukul 6.
Sherli bangun dari tempatnya, ia segera merapikan tempat tidurnya dan bergegas menuju dapur untuk menghampiri sang ibu yang tengah menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi, Bu!" sapanya.
"Pagi, Sayang!" jawab Ibu Ruri.
"Mandilah dulu! Biar ibu yang menyiapkan makanannya." Sherli mengangguk, piring yang tadinya di angkat untuk dipindahkan di meja makan. Di serahkan pada ibunya.
Sherli menuju kekamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Ia segera meraih handuk dan masuk kedalam kamarnya. Sherli segera memakai dress lalu menghampiri meja makan menuju keluarganya yang tengah sarapan.
Ayah, ibu dan kakaknya sudah berada di meja mendahuluinya makan. Sherli segera meraih piring dan mengambil nasi mengikuti keluarganya.
Afbi yang menyelesaikan makan terlebih dahulu, segera berpamitan untuk pergi kerja duluan. Kemudian disusul, ayah Andre dan ibu Ruri untuk bekerja.
"Aku sendirian lagi "
Sherli segera mencuci piring kotor, ia membiarkan ibunya pergi bekerja dan mengambil alih tugas sang ibu.
Tok tok tok!
Suara jendela belakang berbunyi. Sherli bergegas menyelesaiakan kegiatannya, ia segera beranjak menuju ke sumber suara.
"Kak Hongli?"
"Kamu sudah sehat Sher?"
"Sudah, Kak!" jawab Sherli.
Hongli menahan dirinya untuk menyentuh kening Sherli, Ia takut Sherli akan membatasinya lagi. Hongli berencana mengajak Sherli pergi.
__ADS_1
"Syukurlah! Kamu libur kan? Aku ingi mengajakmu pergi,"
"Maaf, Kak. Lain kali saja ya! Kak Felix sebentar lagi kerumah dia ingin mengajakku pergi," sesal Sherli.
Hongli mendatarkan wajahnya, ia merasa semenjak Sherli dengan Felix dirinya menjadi tersingkir.
"Oh begitu, bahkan sekarang kau tidak memiliki waktu untukku."
"Bukan begitu, Kak! Sebelumnya Kak Felix sudah mengajakku dan sekarang mungkin dia sudah dijalan, tidak mungkin aku membatalkan sekarang." Sherli berusaha menjelaskan. Namun Hongli masih tidak mau mendengarkannya.
"Lalu kapan kau punya waktu untukku?" tanya Hongli.
Sherli terdiam sejenak, dia berfikir karena besok ia harus bersekolah kembali.
"Kapan, Sher!" tanyanya lagi.
"Besok setelah aku pulang dari sekolah ya, Kak! "
Hongli menghela nafas, ia berfikir bahkan sekarang Sherli harus berfikir dahulu sebelum menyetujui ajakannya, tidak seperti biasanya.
"Baiklah, sekarang aku akan menemanimu sampai pacarmu datang." Ucapnya dengan wajah datarnya.
Sherli segera membuka pintu lebar-lebar membiarkan dirinya masuk. Ia berfikir karena Hongli berbeda kemungkinan besar Felix tidak akan melihatnya.
Jadi Sherli merasa tidak masalah jika Hongli menemaninya, dari pada dia berfikir negatif lagi pikirnya.
Sherli membimbing Hongli masuk kedalam rumah, menuju ruang tamu. Setelah beberapa saat duduk, mobil Felix sampai dirumahnya. Sebuah senyum menghiasi wajah Sherli, Hongli yang melihatnya merasa sakit hati.
Sherli beranjak membukakan pintu untuk Felix. Felix yang baru keluar dari mobilnya, tersenyum melihat Sherli yang menyambut dirinya, ia bergegas mengahampiri Sherli.
Felix mengangkat tangannya lalu mengarahkan ke kepala Sherli, kemudian turun kekeningnya untuk memeriksa kondisi Sherli.
"Sudah selesai, tadi hanya menyerahkan laporan."
"Tubuhmu sudah tidak demam, apa jadi keluar?" Sherli menganggukkan kepalanya.
Hongli yang melihat kejadian itu hanya menahan hatinya yang hancur. Meskipun ia berusaha menyingkirkan perasaannya, namun sangat sulit untuknya. Hongli menghela nafas untuk menetralisir perasaannya.
Sherli mempersilahkan Felix untuk masuk.
"Masuklah dulu, Kak! Aku akan bersiap!"
"Baiklah!"
Ketika baru masuk Felix terpaku melihat sosok pria dia ruang tamu, ia melihat terdapat penerang di auranya, ia berfikir sosok itu berbeda dengan dirinya.
Felix pun berpura-pura tidak melihat sosok tersebut. Ia mengira Sherli juga tidak mungkin melihatnya, ia tidak mau membuat Sherli ketakutan.
"Baiklah, Kak, aku masuk dulu." Sherli meninggalkan kedua sosok berbeda tersebut.
Sedari tadi Hongli memandang tajam kearah Felix. Namun Felix tidak menghiraukannya, ia mengambil ponsel disakunya dan memainkannya sambil menunggu Sherli selesai bersiap.
__ADS_1
Hampir dua puluh menit Sherli telah selesai bersiap, ia memakai celana jins hitam yang dipadukan dengan atasan putih lengan panjang. Rambutnya di kuncir kuda menambah tampilannya terlihat dewasa. Ia meraih tas slempang dan bergegas menghampiri Felix juga Hongli.
Felix menoleh karena mendengar langkah kaki, ia berdiri melihat penampilan Sherli.
"Kamu sudah selesai? Pas sekali pakain yang kamu kenakan," pujinya.
Sherli tersenyum mendengar pujian Felix.
"Terimakasih, Kak!"
Hongli yang melihat Sherli tersenyum kepada Felix merasa tidak tahan. Ia berdiri dan segera pergi begitu saja. Sherli yang menyadinya terdiam karena merasa tidak enak hati.
"Sayang?" felix menguncang tubuh Sherli yang terdiam.
"Ah iya?" lamunan Sherli terbuyar seketika.
"Kamu kenapa?"
"Ah tidak ada apa-apa, Kak!" jawabnya sambil tersenyum.
"Baiklah ayo kita berangkat!" Felix menggandeng tangan Sherli. Mereka segera masuk kedalam mobil.
*
Tidak ada percakapan diantara mereka, Sherli pun berinisiatif memecahkan keheningan.
"Kita mau kemana, Kak?"
"Sekarang kan hari perayaan, aku ingin mengajakmu ke perayaan kantorku,"
"Oh begitu, baiklah," jawab Sherli.
Felix menarik matanya melirik Sherli, ia ragu untuk bertanya. Namuh pertanyaan itu lolos seketika.
"Sher kamu bisa lihat hantu?"
Sherli terdiam sejenak mendengar pertanyaan Felix.
"Memang kenapa, Kak?" tanya Sherli.
Tidak mungkin Felix mengatakan yang barusan dia lihat, Felix menggelangkan kepalanya pelan.
"Tidak apa-apa hanya ingin tau saja."
"Tidak, Kak! Tapi beberapa waktu lalu aku tidak sengaja melihat hantu," jawabnya sambil menoleh kearah jendela.
"Oh begitu."
Felix pun tidak melanjutkan pembicaraan. Ia merasa sekarang bukan waktu yang tepat membicarakan hal ini, ia tidak ingin merusak suasana hati Sherli diacara kegiatannya. Felix terfokus pada jalanan.
Mereka telah sampai di bangunan yang menjulang tinggi, acara perayaan diadakan di aula peruhasaan Felix yang sangat luas yang telah padat pengunjung.
__ADS_1
Sherli heran karena Felix mengajaknya kesana, ia tidak melihat perayaan yang dikatakan Felix.
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views terimakasih :) .