Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
jadi pelakor


__ADS_3

akhirnya semua pun beres, dan tak ada kesalahpahaman lagi, terlebih Rania pulang bersama Mak nur yang sengaja membawanya keluar tadi.


"loh ada apa ini, kenapa semua menangis?" tanya gadis kecil itu.


"kami menangis karena ada kabar baik, sebentar lagi Rania punya adik, soalnya bunda Nurul sedang hamil,"kata Wulan


"benarkah, aku akan punya adik seperti teman-teman, benarkah itu ayah ... bunda," kata gadis itu dengan begitu senang.


"iya sayang, Rania akan jadi kakak sebentar lagi," kata Adri.


Rania pun memeluk Adri senang, dan kemudian memeluk Nurul juga, sedang Mak nur memeluk Wulan yang begitu baik.


sedang di rumah Irma, gadis itu sedang berpikir keras bagaimana cara untuk mendekati Raka.


karena dia tak bisa membantah jika sudah menyukai Raka, dan dia harus merebutnya bagaimana pun caranya.


malam ini Raka dan Wulan datang ke rumah mertuanya, mereka tadi sore di minta datang karena ada acara di rumah.


ternyata ada acara tahlilan, Wulan pun merasa buruk karena Bu mut tak memberitahukan dirinya hingga dia tak membantu sedikitpun.


"masih marah?" tanya Bu mut.


"ibu jahat ih, kenapa tak memberitahu ku ada acara seperti ini, aku kan bisa membantu memasak, ini malah aku yang di tilap," kata Wulan sedih.


"uluh-uluh gadis cantik ibu marah, jangan marah ya, iya deh ibu salah maaf ya sayang," jawab Bu mut yang memeluk Wulan.


sedang Raka membantu mertuanya itu bersama Fahri, acara tahlilan para bapak-bapak itu berjalan lancar.


mereka pun memutuskan untuk menginap, tapi ada sebuah acara di desa itu.


"mas ayo lihat pasar malam, kebetulan di dekat ini," ajak Wulan memohon.


"kamu itu sedang hamil loh, tak baik kalau pergi malam-malam begini," kata Bu mut.


"tapi aku ingin kesana teeud beli martabak yang seribuan itu loh Bu, sebentar saja ya," mohon Wulan.


"baiklah, kamu harus bawa ini," kata bu mut memberikan bawang merah dan bawang putih di saku baju Wulan.


"ibu, aku bukan bocah Lima tahun," protes Wulan.


"sudah bawa saja, dari pada gak di ijinkan oleh ibu, Fahri ayo ikut," kata Raka.


"iya mas," jawab Fahri.


mereka pun memutuskan untuk naik sepeda motor menuju ke pasar malam itu.


dan tak terduga saat ingin masuk mereka berpapasan dengan Irma, gadis itu tak mengira jika kesempatannya akan datang secepat ini.


Raka langsung mengajak istrinya menjauh, dia tak suka melihat wanita itu.


Fahri pun juga pergi karena dia dari dulu juga tak suka dengan Irma, karena menurut dia Irma itu munafik.


Wulan pun benar-benar menuju ke tempat penjual martabak itu, Rafa baru kali ini dia melihat tingkah istrinya seperti gadis kecil.


kadang Rafa juga lupa, jika istrinya tetaplah gadis muda berusia delapan belas tahun.


Wulan pun langsung memakan martabak panas itu dengan begitu senang.


raka yang gemas pun mengusap kepala Wulan dengan penuh sayang, sedang Fahri memilih membeli lumpia goreng.


"mas coba ini, atau mas tidak akan makan kalau hanya melihat Mbak makan seperti itu, karena meski mas belikan mbak Wulan dua puluh ribu, itu akan habis sendiri," kata Fahri.


"baiklah Fahri, terima kasih ya, kamu tak ingin makan apa-apa lagi," tanya raka.


"aku ingin beli kaos Gus Dur itu loh mas, tapi uangnya belum cukup," jawab Fahri.

__ADS_1


"aku belikan ya, anggap saja ini adalah hadiah dariku, kamu bisa gunakan uang tabungan mu untuk beli sesuatu yang lain," kata Raka.


"itu benar, dan bisakah aku duduk di sana, dan Fahri pergi dengan mas mu untuk beli kaos, dan juga tolong belikan es ya," kata wulan.


"tentu saja sayang, tapi apa kamu yakin bahwa mau sendirian?" tanya Raka.


"tenang, tinggalkan Suni bersama ku, aku sedang ingin mengusap bulunya," bisik Wulan.


"baiklah," jawab Raka.


wulan pun membawa cemilan yang dia beli ke sebuah kursi di sudut lapangan itu.


Suni duduk di samping Wulan dan menidurkan kepalanya di paha Wulan.


"kenapa kamu begitu lembut sih kucing besar," lirih wulan mengusap kepala harimau putih itu.


Irma melihat Wulan yang sedang mengusap angin, "kamu gila ya, kasihan amat istri seorang ketua yayasan gila,"


"apa maksudmu dengan mengatakan itu, aku tidak gila, dan jika kamu datang hanya ingin membuatku marah lebih baik kamu pergi," kata Wulan masih dengan suara sopan.


"cih kau sombong ya, asal kau tau pak Raka itu tak pantas tau gak berdiri bersama wanita jelek dan gendut seperti mu, dasar tak sadar diri, asal kamu tau, orang-orang itu mengasihi pak Raka yang punya istri seperti mu, kamu buta ya sampai tak merasakan itu,"


Wulan hanya diam, tanpa sadar air matanya jatuh membasahi kepala Suni.


harimau putih itu bangkit dan ingin menyerang Irna, tapi Wulan menahan ekor Suni.


"apa yang kamu inginkan dengan mengatakan itu, aku tak peduli dengan orang lain, aku istrinya," jawab Wulan melihat Irma.


"dasar kamu itu egois, tak pernah memikirkan bagaimana pak raka di hina orang, aku juga tau kok jika dia juga menikahimu Karena hanya ingin menyelamatkan dirimu agar tak terus menjadi pembunuh kan, jadi kamu gak usah sok suci ya," kata Irma.


Wulan pun berdiri dan menghampiri Irma, "tarik ucapan mu, kami menikah karena saling mencintai, dan kamu hanya iri kan," kata Wulan.


saat Wulan sudah di dekat Irma, tanpa di duga Irma memegang lengan Wulan.


"kenapa kamu mendorongku, aku ingin menyapamu!" teriak Irma dengan suara lantang agar memancing orang-orang berkerumun.


benar saja orang-orang pun berdatangan, dan membantu Irma berdiri.


Wulan pun mendapatkan tatapan sinis dari para pengunjung pasar malam itu.


"mbak kalau tak suka itu gak perlu melukai temannya, dasar gadis jahat," hina seseorang pada Wulan.


"aku tak mengira Wulan, kamu begitu jahat, padahal kalian ini kan sahabat dari kecil, kenapa kamu tega melukai Irma," hina seorang tetangga yang kebetulan berada di sana juga.


"tidak, bukan seperti itu, dia jatuh sendiri," kata Wulan.


"iya ibu-ibu bapak-bapak saya yang salah kok, bukan wulan, saya hanya mau minta maaf tentang ucapan ayah saya waktu yang lalu, tapi karena Kesalahan ku yang ingin meminta maaf tapi tanpa izin memegangnya hingga dia tanpa sadar mendorong ku hingga jatuh, jadi ini kesalahan ku," kata Irma.


"wah jahat banget sih kamu, padahal dia sudah mau minta maaf," kata orang yang lain.


Wulan pun hanya bisa menangis, dia tak melakukan itu, semua orang salah paham.


tiba-tiba angin bertiup kencang, "minggir!!!" teriak Raka murka.


semua orang pun kaget melihat dan mendengar teriakan Raka, saat dari jauh dia melihat istrinya menangis.


Fahri berlari dan memeluk kakaknya itu, "aku akan membunuh siapa pun yang berani membuat istriku menangis!!!"


"Suni, Linggo, ki Antaboga, Ki Adhiyaksa, dan semua prajurit nyai Nawang, bunuh semua orang!" teriak Raka.


tiba-tiba angin bertiup lebih kencang dan menerbangkan semua stand di pasar malam itu.


Wulan yang melihat suaminya marah dia pun takut raka benar-benar bisa membunuh orang.


dia pun berlari untuk menyadarkan suaminya, tapi tak terduga Irma malah menjegalnya hingga Wulan tersungkur.

__ADS_1


"Irma!!!" teriak Fahri yang melihat wanita itu melukai kakaknya.


"mas Raka sadar mas!!!! sakit!!!" teriak Wulan memegangi perutnya.


semua kekacauan pun berakhir, raka berlari ke arah wulan, Suni langsung mencakar Irma.


gadis itu pun penuh luka cakar karena Suni terlanjur marah, dia terus berteriak, dan di seluruh tubuhnya terdapat cakaran dalam.


"aku ingin sekali memisahkan kepala wanita ini, dia terus menghina nyai dengan mulut kotornya," geram Suni.


Raka pun melihat Irma, Wulan memegang tangan suaminya, "sakit mas ..." kata Wulan memegang perutnya.


"kita ke rumah sakit ya sayang," panik Raka.


"siapa pun yang bawa mobil, tolong antarkan saya," kata Raka mengendong istrinya.


"ayo pak raka, kebetulan saya bawa mobil," kata seseorang yang ternyata seorang wali murid di sekolah Raka.


Fahri tetap di tempat itu, "kalian semua mau kemana? setelah dengan berani menghina wanita hamil seperti tadi, kalian yang tak tau apapun dan tak mengenalnya berani menghina kakak ku, apa kalian suci dan tak pernah berdosa sekecil apapun, apa kalian Tuhan hingga bisa menghardik seseorang, asal kalian tau saja, wanita buruk ini yang kalian bela, dia hanya sahabat munafik, dia pernah ingin menjual kakak ku demi hutang keluarganya, dia hanya gadis buruk hati, dia iri dengan kebahagiaan kakak ku, dia mencoba menggoda kakak iparku, dan untuk mu ibu Maryam yang sangat saya hormati, kamu tetangga kami, kamu tau kejadian itu, bagaimana keluarga gadis buruk ini ingin menjual kakak ku, kau lupa, hingga kau berani menghina kakak ku, ingat jika bukan karena kami yang menolong mu saat terpuruk, kamu sudah mati kelaparan, dan ini yang kami dapatkan, dasar tetangga tak tau terima kasih," kata Fahri yang berhasil membungkam semua mulut orang yang menghina kakaknya tadi.


"bagaimana pun caranya, buat dia terluka hingga tak bisa sembuh, kau masuk dan buat luka itu semakin memburuk tiap jamnya," kata Ki Antaboga pada seorang prajurit ghaib.


Fahri pergi meninggalkan tempat itu, Irma yang dari tadi kesakitan, kini di tubuhnya mulai mengeluarkan aroma busuk.


bahkan luka itu juga mulai berubah warna seperti daging busuk, bahkan semua orang menutup hidung karena aroma tubuh wanita itu.


sedang Raka makin panik saat melihat gamis istrinya itu ada bercak darah, "sayang tetap sadar ya," kata raka terus menepuk pipi Wulan.


"aku lelah, aku ingin tidur sebentar saja, boleh ya mas," kata wuln mulai menutup mata.


"jangan lakukan itu, aku mohon sayang, pak tolong lebih cepat!" kata raka makin panik.


mobil pun sampai di rumh sakit, dan Wulan langsung di larikan ke ruang UGD, dan langsung masuk ICU.


raka menelpon pak Suyatno dan mengatakan jika mereka kini ada di rumah sakit ibu dan anak Jombang.


Raka terus menangis, "pak Raka tolong berdoa untuk istri anda dan kandungannya,"


"apa salah kami, kami sudah bahagia dan tak pernah melukai seseorang, bahkan aku terus membantu orang lain bersama istriku, tapi kenapa ini yang terjadi pada kami," lirih Raka.


"saya juga tadi tak mengira jika ada kejadian seperti itu," jawabnya.


"aku tak akan memaafkan wanita busuk itu, kenapa dia terus menyakiti hati istriku, apa salahku!" teriak raka marah.


Rafa tau jika terjadi kejadian buruk, tapi di tak ingin menghentikan saudaranya, karena ini adalah hidup raka jadi dia membiarkan begitu saja.


sedang di tempat lain, Irma kesakitan karena luka-luka di tubuhnya, bahkan keluarganya saka tak ingin menyentuhnya.


bahkan Irma pun tak bisa di obati, dokter juga tak bisa menutup luka itu bahkan dalam hitungan jam Luka itu makin parah.


kini Irma hanya bisa menangis di kamarnya, dan bahkan ibunya sendiri pun tak bisa berbuat banyak.


"Bu, cari ustadz Arifin, minta tolong untuk menyembuhkan Irma Bu, ayah tak tega harus melihat kondisi putri kita ini," kata pak Prapto.


"iya ayah, ayah di rumah ya, nanti kalau Irma bangun dan kesakitan, kasih dia obatnya, dan satu jam lagi tolong siramkan air infus ini agar tak ada belatung ya," kata Bu Prapto.


akhirnya wanita sepuh itu berangkat menuju ke pondok milik ustadz Arifin, tapi sungguh naas, karena kunjungannya terlalu pagi


para keamanan tak mengizinkan wanita itu masuk untuk menganggu ustadz Arifin dan ustadz Hasan.


jadilah Bu Prapto menunggu di luar gerbang yayasan pondok itu hingga di izinkan masuk.


sedang kondisi Wulan masih sangat menghawatirkan, meski kandungannya selamat.


tapi wanita itu masih belum sadar dan kini malah harus di ruang ICU untuk perawatan lebih intensif.

__ADS_1


__ADS_2