Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
janda muda itu Neneng


__ADS_3

seorang wanita masuk kedalam rumah besar miliknya, dia masih tak bisa menghilangkan wajah tampan pria yang beberapa waktu lalu di lihatnya.


dia adalah Adri pria dengan karisma dan terkesan cuek yang membuatnya panas dingin dan penasaran setengah mati.


tapi dia sedikit tak suka saat istri dan anak dari pria itu datang, "aku akan memilikimu bagaimana pun caranya, karena aku suka pria seperti mu, penuh dengan keperkasaan dari aura mu tampan,"


sedang Nurul masih menatap ke arah suaminya itu, dan Adri yang di tatap dalam pun salah tingkah.


"Adri aku minta beras pandan wangi satu kwintal, soalnya di pengilingan ku habis," kata Rizal yang tanpa sadar langsung nyelonong masuk.


tapi di kaget melihat tatapan Nurul yang menyeramkan, "eh adik ipar ada disini?" kaget Rizal.


"iya mas, minta gok Jo ambilkan ya, tapi mungkin mereka masih istirahat," kata Adri mencoba tersenyum.


"gak papa, aku bawa kuli sendiri, dan semoga selamat ya," kata Rizal yang langsung pergi.


Rizal tak mengira jika Nurul juga sama dengan istrinya Luna, kalau marah menyeramkan.


"sudah ya dek ..." lirih Adri.


sedang Rania tak membantu, "mas kamu tau benar jika aku terluka dulu karena di perlakukan begitu buruk di depan mataku, dan aku tak ingin itu terulang dengn mu, aku tau jika aku belum bisa hamil saat ini, tapi kenapa kamu melakukan ini," tangis Nurul.


Rania dan Adri pun bingung, keduanya langsung memeluk Nurul, "aku tak ada niat apapun dek, aku bahkan tak berani bicara dan memandangnya tadi, dan beruntung kamu segera datang," kata Adri.


"tapi aku cemburu mas," kata Nurul jujur.


"maafkan mas ya, ini pertama dan terakhir kali mas duduk cuma berdua, lain kali biar yang lain saja yang nemuin ya," bujuk Adri.


Nurul pun luluh, dia tak bisa marah lama dengan Adri, sedang Rania menunjukkan empat jarinya.


"maafkan aku yang terlalu kekanak-kanakan, sekarang mas mkan siang dulu ya," kata Nurul menghapus air matanya.


"mau kalau bunda yang suapi ayah ya," kata Adri dengan suara memohon.


"ita ayah ganteng, bunda suapi kok," jawab Nurul mencubit pipi Adri gemas.


Rizal masuk ke dalam gudang dan mengambil beberapa karung beras yang dia butuhkan.


tak sengaja dia menginjak sebuah liontin dan mengambilnya, dan dengan tak terduga dia pun menyimpannya.


Adri pun begitu bahagia saat ini, keluarganya sudah lengkap ada istri yang begitu penyayang dan putri yang begitu imut dan cantik.


dia pun tak ingin buru-buru punya anak, terlebih baginya Rania sudah cukup.


Rizal pun mengetuk ruang kerja khusus milik Adri, "Adri, aku tinggal dulu nganter beras ya," pamit pria itu.


"iya mas, hati-hati dan jangan lupa terus jaga wudhu mu seperti pesan si kembar," kata Adri menginggatkan kakaknya itu.


"woles bro, ya wes budal sek, wassalamu'alaikum..."


"waalaikum salam ..." jawab ketiganya.


tapi saat akan berangkat mengantarkan beras ke luar kota, tak sengaja wudhu dari Rizal batal.


"gok met, mandek Nang masjid diluk ya," kata Rizal pada anak buahnya.


"siap juragan..." jawab pria itu.


dia pun bergegas turun dan menuju ke area tempat wudhu, dan tak sengaja liontin yang dia temukan terjatuh di genangan air uang ada di tempat wudhu itu.


Rizal pun langsung bergegas kembali ke truk dan berangkat bersama semua anak buahnya.


mereka akan kirim ke daerah Mojosari, dan Mojojejer. dia tak khawatir karena kedua mertuanya menemani istrinya di rumah.


sedang Mak nur memutuskan untuk pulang karena terlalu senang karena akan menjadi buyut lagi.

__ADS_1


wanita sepuh itu bahkan langsung memeluk Wulan yang datang bersama Raka.


bahkan wanita itu mendoakan cucu menantunya itu agar tetap sehat dan bahagia selama kehamilan.


Raka juga memeluk sang eyang dengan penuh kasih sayang, wanita yang sudah merawat mereka.


"aku akan jadi ayah eyang," kata Raka terisak.


"iya nak, tapi ya jangan cengeng gini lah," jawab Mak nur tertawa.


Mak nur pun begitu senang, terlebih mereka juga membawakan makanan pemberian dari orang tua Wulan.


"sepertinya Tante kalian tak di rumah ya, rumahnya sepi padahal ini pepes kesukaan om kalian loh," kata Mak nur.


"paling-paling Tante ke pengilingan, sudah nanti aku minta mereka pulang cepat, eyang istirahat saja, dan biar untuk kedepannya Istri-istri kami yang menjalankan semua kewajiban rumah, eyang tinggal menunjukkan saja," kata Rafa.


"iya nak, tapi mereka berdua sedang hamil, lagi pula eyang masih sehat dan muda, jadi tak perlu khawatir ya," kata Mak nur.


Rania bermain ke area belakang pengilingan beras itu, dan menemukan buah kluweh yang terlalu matang.


gadis kecil itu mengambil biji kluweh, Nurul yang bingung karena mencari putrinya pun kaget melihat bocah itu berjongkok di area kebun.


"rania sayang sedang apa?" tanya Nurul mengusap jilbab putrinya.


"aku cari ini bunda,buat main," jawab Rania.


"daripada di buat main, mending di maksn, enak loh rasanya," kata Nurul yang membantu Rania.


"benarkah? memang bunda bisa memasaknya?" tanya Rania penasaran


"bisa dong, dan ayah mu juga sangat menyukai ponge ini,"


mereka pun sudah mendapatkan cukup banyak, Nurul yang melihat jantung pisang pun meminta bantuan dari mang Bejo untuk mengambilkannya.


setelah itu dia langsung menaruhnya di sepeda motor miliknya, Adri sudah bersiap untuk pulang.


"diminta ibu pulang, ayo sayang, semua juga sudah mas suruh pulang kok," jawab Adri yang naik ke motor Nurul.


"lah kok sama kami, terus mobil mas bagaimana?"


Adri tertawa, "biarkan saja, mau di pinjam mang no, jadi kita pulang bareng ya," kata Adri.


Nurul pun langsung naik dan mereka pun menuju ke ru.ah, yang ternyata semua sedang bersantai di teras.


"tuh benerkan, Tante ke pengilingan ngapelin ayahanda tercintrong," kata Raka meledek Adri.


"dih... memang kenapa? istriku sendiri, iri bilang bos," jawab Adri kesal.


"sudah-sudah mas mandi dulu gih, biar aku masak beton dulu, dan besok kita masak eseng-eseng jantung pisang," kata Nurul.


"yey ... Rania mau!" teriak gadis kecil itu.


sedang semua orang diam, sudah lama tak ada yang makan masakan kesukaan dari Akira.


"apa aku salah, maaf ya," kata Nuril yang menyadari bahwa semua orang tak bereaksi.


"gak kok Tante,aku juga sudah lama tak makan masakan itu, jadi buat yang enak ya," jawab Rafa.


"baiklah, kalau Raka," tanya Nurul.


"suka kok Tante, tapi harus ada ayam kecap dan sambel terasi ya," kata Raka tersenyum lebar.


"baiklah, besok Tante buatkan pesanan kalian," jawab Nurul semangat.


"kalian memang hebat, eyang bangga," kata Mak nur pada kedua cucunya.

__ADS_1


Adri tak menyangka jika kedua keponakannya sudah bisa maju dalam hidup mereka.


setelah sholat magrib, Rania datang ke rumah sambil membawa ponge panas.


"ada cemilan, mari di coba," kata gadis itu.


"kamu dapat dari mana? ini udah susah loh di cari," tanya Raka yang langsung mengupasnya.


"tadi Rania dapat di kebun belakang pengilingan beras," jawab Rania.


Jasmin yang belum tau pun melihat Wulan, dan dengan senang hati Wulan mengupas kan ponge untuk Jasmin.


karena Rafa sedang keluar mengantar Mak nur membeli sesuatu.


Raka pun mengupas kan untuk kedua wanita itu, sedang rabia duduk di pangkuan wulan.


"mbak Wulan mkin tembem ya, Pipinya," kata gadis kecil itu.


"terima kasih sayang, kamu juga makin cantik deh, mbak jadi pingin cubit pipi kamu," kata wulan tertawa.


"tapi tak seempuk pipi mbak Wulan, terus adeknya mbak Jasmin juga kpn keluar, Rania jadi gak berani minta gendong kan," kata bocah itu menempel pada Wulan.


"mbak kira kamu tak mau deket-deket mbak lagi, soalnya sudah punya mbak Wulan," kaya Jasmin pada bocah itu.


"gak kok, Rania cuma takut nanti Rania sakitin adiknya kalau Rania manja ke mbak Jasmin," jawab bocah itu jujur.


"sebentar lagi sayang, oh ya nanti rania maukan jaga dan ajak min adiknya," kata Jasmin.


"mau dong, karena aku kan kakak mereka, dan aku akan jadi kakak yang baik dan cantik," jawab Rania sambil menaruh telunjuknya di pipi.


mereka pun tertawa bersama, sedang Rizal masih belum pulang karena bongkar belum selesai.


entah kenapa dia merasa malam ini sedikit berbeda, tapi dia sebisa mungkin tak punya pikiran aneh-aneh.


Rafa dan Mak nur pun akan segera sampai di rumah, tapi mereka mampir membeli martabak manis dulu.


tapi saat membeli martabak manis tak sengaja ada seorang wanita cantik itu juga datang membeli.


Rafa pun berdiri dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk. terlihat wanita itu begitu mudah akrab dengan orang.


"loh mbak Neneng, beli martabak juga, buat siapa nih?" tanya para tetangganya.


"eh Bu Ninik, ita nih Bu, lagi kepingin maklum tinggal sendiri," jawab neneng tersenyum lembut.


para lelaki bis langsung luluh, tapi tidak dsngan rafa yang tak terpengaruh sedikitpun.


"Bu Neneng tolong kasih rahasia cantiknya dong, di usianya masih cantik dan seksi gini, bikin iri tau," kata Bu Ninik yang mulai bergosip


"cuma jaga kesehatan, banyak minum air putih, dan juga banyak makan sayur dan buah," jawab Bu Neneng.


"wah gila sih gitu dong, boro-boro Bu, orang ngurus anak saja sudah bikin kepala mau pecah," jawab Bu Ninik.


rafa hanya menahan tawanya, pasalnya pria itu tau bagaimana sebenarnya yang menjadikan tubuh dan wanita itu cantik yaitu susuk.


bahkan Rafa bisa melihat tidak hanya di satu bagian, tapi itu bukan urusannya jadi dia memilih diam.


"mas Rafa," panggil penjual martabak.


"terima kasih mas, ini uangnya," kata Rafa memberikan uang seratus ribu.


sedang Rafa sudah mengajak Mak nur pergi, "mas kembaliannya!" teriak penjual itu.


"ambil buat mas," jawab Rafa tersenyum.


Neneng pun melihat pria itu yang begitu dermawan, dan memiliki wajah tampan.

__ADS_1


tapi dia sudah punya incaran tersendiri jadi dia akan berusaha sebaik mungkin.


mobil berjalan ke rumah, dan keadaan desa kembali begitu sepi, Mak nur pun tak kaget, karena biasa terjadi sebelum ada orang yang meninggal dunia.


__ADS_2