
Sherli melihat seorang anak sebayanya di belakang rumah. Namun saat dihampiri, anak itu menghilang. Sherli berfikir itu adalah anak tetangga yang baru pindah. Tetapi ibunya mengatakan tidak ada tetangga baru yang baru pindah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sherli dan Dea telah sampai diruang BK, mereka meletakan buku-buku itu dimeja guru.
Setelah merapikan buku-buku dimeja. Mereka beranjak keruang kelas masing-masing sambil berbincang, karena ruangan mereka hanya selisih 3 kelas.
"Kamu kemarin hadir di sosialisasi ekstrakulikuler, Sher?" tanya Dea.
"Iya De, aku hadir kemarin, aku ikut ekstrakulikuler silat." Sherli memandang Dea.
"Beneran? Aku juga ikut silat lo, besok hari Kamis jam 2 siang hari pertama ekstranya," jawab Dea dengan antusias.
"Wah benarkah? Syukur lah aku ada temannya, besok sama - sama ya!" Sherli memeluk singkat Dea. Membuat gadis itu terkekeh lucu atas sikap Sherli.
"Iya, Sher! Kita tukeran nomor dulu yuk!" Ujar Dea mengeluarkan ponselnya.
Setelah mereka bertukar nomor ponsel, mereka pun berpisah karena telah sampai di depan kelas Sherli. Dan Dea pun melanjutkan jalan menuju keruangan kelasnya.
"Sherli... Kenapa baru datang? untung saja guru belum datang" ucap Nia yang geram pada Sherli.
Karena lima menit lagi bel masuk akan berbunyi, Nia merasa tidak biasanya Sherli berangkat kesiangan.
"Hehe aku tadi dari ruang BK mengantarkan buku dengan anak IPS 1" Sherli menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku fikir kamu enggak hadir Sher."
Sherli pun hanya menggeleng sambil tersenyum mendengar ucapan sebagai jawaban. Setelah beberapa saat guru pun datang ke kelas.
****
Jam pulang pun tiba, Sherli bergegas untuk pulang. Setibanya dirumah, Sherli segera meletakan sepedanya digarasi dan mencari sang ibu.
"Ibu, aku pulang" ucapnya berkeliling mencari keberadaan sang ibu. Namun Sherli tak kunjung menemukan ibu Ruri.
Sherli pun memutari rumah menuju belakang rumah, dan kembali lagi namun tak kunjung menemukan sang ibu.
"Ibu dimana, kenapa tidak ada dirumah?" batinnya cemas.
Sherli pun kembali masuk kedalam rumah untuk mengirim pesan pada ibunya.
"Ibu dimana kok dirumah enggak ada?" ~ Sherli.
"Kamu lupa? Hari ini syukuran sepupu kamu, nanti jam lima datang kerumah bibi!" ~ ibu Ruri.
"Hehe aku lupa Bu, baiklah nanti aku menyusul kesana" ~ Sherli.
Setelah merasa tenang karena mengetahui keberadaan ibunya, Sherli menuju kekamarnya untuk mengganti pakaian. Setelah selesai ia menuju keruang makan untuk makan siang.
Diraihnya piring yang tengkurap dimeja. Ia segera mengambil nasi serta beberapa lauk yang ada. Dia memulai makan sendirian dimeja. Sesaat perasaan sedih menghampirinya, karena tidak ada yang menemaninya makan.
"Ah kenyangnya."
Sherli segera beranjak mencuci piring yang telah ia pakai.
Ketika Sherli baru menyalakan kran air, dia mendengar ketukan di jendela belakang rumahnya. Sherli sengera mencuci piringnya kemudian menghampiri sumber suara .
__ADS_1
"Siapa ya yang mengetuk jendela?" batin Sherli.
Ia membuka pintu belakang rumahnya dan mencari siapa yang telah mengetuk jendelanya.
"Kenapa tidak ada orang?"
Sherli mengedarkan pandangan mencari keberadaan seseorang yang mengetuk jendelanya.
Tiba-tiba saat pandangannya berhenti pada pohon bambu, ia melihat seseorang yang menatap dirinya.
"Itukan anak yang kemaren" batin Sherli mematung. Dengan ragu-ragu Sherli pun menghampiri anak tersebut.
"K-ka-kamu si-a-pa?" tanya Sherli tergagu karena merasa takut.
Anak tersebut hanya tersenyum melihat Sherli. Melihat senyum sang anak, Sherli sedikit tenang, dia berfikir bahwa yang dihadapannya bukanlah orang jahat. Ia segera membalas senyuman anak tersebut.
"Kamu siapa, kenapa disini sendirian?" tanya Sherli lagi.
"Aku Hongli, aku tidak sendirian kan ada kamu" jawab Hongli tersenyum.
Sherli terasa panas dipipinya, ia tersenyum malu. Ini kali pertamanya dia berbicara dengan laki-laki sebayanya diluar mata pelajaran. Terlebih Hongli mengatakan kata yang tidak pernah Sherli dengar dari teman lawan jenisnya.
"Kamu Sherli kan?" tanya Hongli.
"Iya, bagaimana kamu tahu? Padahal aku kan belum memberi tahukannya?" tanya Sherli heran.
"Rahasia."
Tiba - tiba Hongli menarik tangan Sherli.
"Hei, kita mau kemana? Aku harus segera kembali kerumah," pekik Sherli terkejut dengan tarikan Hongli yang tiba-tiba.
"Ini kan tempat yang ada dimimpiku" batin Sherli.
Ia merasa takut, pandangannya tertuju pada punggung kepala Hongli.
Hongli berhenti dan membalikan tubuh menghadap Sherli karena menyadari akan ketakutannya .
"Jangan takut! Aku tidak akan menyakitimu" ucap Hongli mengelus puncak kepala Sherli.
Sherli pun diam saja karena masih merasa takut. Hongli kembali menarik tangan Sherli, dan mengajaknya duduk di bawah pohon mangga sambil menghadap kerawa.
Sherli hanya menunduk karena merasa takut pada Hongli. Ia merasa ada yang janggal dengan anak di sebelahnya.
"Kamu kenapa? Kan aku bilang aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin berteman denganmu, jadi jangan takut!" ujar Hongli.
Ia memandang Sherli namun Sherli tetap terdiam.
Hongli pun beranjak mengambil bunga yang jauh dari dirinya. Kamudian menunjukan pada Sherli.
"Kamu tau bunga ini Sher?" tanya hongli. Sherli menoleh padanya.
"Iya aku tau ini bunga kenanga kan" jawabnya memberanikan diri.
"Iya ini bunga kenanga, sangat harum ya aku sangat suka bunga ini" ucap Hongli.
"Iya, bunga ini sangat harum, aku juga sangat menyukainya, aku punya tanaman ini di belakang ruman" ucap Sherli antusias. Hongli tersenyum melihat usahanya tidak sia-sia.
__ADS_1
"Iya, aku tau kemarin aku melihatmu," ucap Hongli memutar-mutar bunga kenanga.
"Kenapa kemarin kamu pergi saat aku menghampirimu?" tanya Sherli memandang Hongli.
"Karena aku masih belum berani untuk menyapamu," jawabnya masih fokus pada bunga kenanga ditangannya.
Mereka berbicara panjang lebar, dan bercanda ria hingga keduanya menjadi lebih akrab. Seketika Sherli tersadar akan sesuatu.
"Aduh! Sudah pukul empat lebih. Aku harus segera pulang karena ada acara di rumah bibiku," ucap Sherli melihat jam tangannya. Sherli merasa cemas karena takut akan dimarahi sang ibu.
"Baiklah aku antar kamu pulang!"
Mereka segera beranjak dari tempatnya. Setibanya di belakang rumah Sherli, Hongli pamit untuk pergi.
"Aku pamit ya. Hati-hati di jalan!" Hongli berbalik kembali kearah rawa. Sherli pun mengangguk, dan tersenyum padanya.
"Kenapa dia kembali ke rawa?"
"Besok aku akan bertanya padanya dimana tempat tinggalnya." Gumam Sherli.
Sherli segera masuk kedalam rumah, dan bergegas kerumah bibinya.
****
Sherli bergegas masuk ke dalam rumah bibinya, Ia menghampiri sang ibu dan juga bibi Gita.
"Kamu dari mana saja kok baru datang sih Sher?" tanya ibu Ruri kesal.
"Iya Bu, maaf tadi ada temanku," Sherli menyesal.
Setelah menjelaskan alasan telatnya, Sherli segera membantu ibu dan bibinya menyiapkan makanan untuk acara syukuran nanti malam.
"Sher semua sudah selesai, kamu tolong kekamar bibi jaga Jimli sebentar ya! bibi dan Ibumu akan bersih-bersih diri dulu sebelum acara dimulai, karena ayah Jimli sedang membeli air untuk acara nanti," ucap sang bibi.
"Baik Bibi."
Sherli segera menuju kekamar bibinya dan menemani baby Jimli yang masih terlelap. Ia mengelus pipi bayi itu, Sherli dibuatnya gemas akan pipi bulatnya.
Ia ingin membanjiri dengan ciuman gemasnya, namun diurungkan karena takut membangunkannya.
"Lucunya..."
****
Jam menunjukan pukul 10.30 malam, acara telah selesai. Sherli, dan ibu Ruri pamit pada bibinya untuk pulang kerumah.
Setibanya dirumah, Sherli pamit pada ibunya menuju kekamar, karena sudah pukul 11 malam.
"Bu, aku istirahat dulu dikamar."
"Iya sayang istirahatlah!"
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote.
Terimakasih atas dukungannya ❤.