
Adri hari ini sedang kondangan bersama Nurul dan Rania, kebetulan teman Adri ada yang sedang melakukan pesta pernikahan.
saat sampai di pesta itu, semua teman Adri menyambut kedatangan pria itu. apalagi dia datang bersama seorang wanita cantik.
"assalamualaikum bro," sapa Adri yang langsung memeluk temannya.
"waalaikum salam ... ya Alloh sahabat ku ini, kapan nyusul tinggal kamu loh yang belum menikah, inget umur," goda Arifin.
"doakan saja, semoga cepat nyusul, oh ya perkenalkan putri cantik ku Rania, dan calon bidadari surgaku, Nurul," kata Adri memperkenalkan keduanya.
"Alhamdulillah, akhirnya sahabat kami sadar juga," kata semua sahabat Adri senang.
Nurul tak mengira jika reaksi sahabat Adri, begitu heboh saat tau Adri sedang dekat dengannya.
"baiklah-baiklah sekarang ajak kedua bidadari untuk makan dulu, baru kita berbincang lagi."
"baiklah, kami kesana dulu ya," pamit Adri.
Adri pun mengendong Rania, dan Nurul mengambilkan makanan untuk keduanya.
"mas mau makan apa?" tanya buruk lembut.
"bakso saja," jawab Adri.
"kalau Rania?" tanya Nurul pada putri cantik Adri itu.
"Mau nasi goreng sama sate, terus itu bunda," tunjuk Rania pada udang goreng tepung.
"kamu gak bosan nak, tiap hari makan udang tepung," tanua Adri.
"kan kesukaan Rania ayah," kata gadis itu cemberut.
"gak papa kok mas, aku juga suka udang goreng tepung kebetulan," jawab Nurul gemas pada keduanya.
akhirnya Nurul membawa makanan Adri dan Rania, "dek kamu tak makan?"
"sudah mas," jawab Nurul.
Adri berkumpul dengan teman yang lain bersama Nurul, saat sudah mendudukkan Rania.
Adri pergi mengambilkan sesuatu untuk Nurul, "loh masnya? mau ambilin buat istrinya ya?" kata penjaga stand makanan.
"iya mbak, tolong sate dagingnya dan urap-urap,tanpa nasi ya?" kata Adri.
setelah dapat, Adri pun kembali ke kursinya, dan terlihat begitu bahagia saat melihat Nurul menyuapi Rania dengan begitu sabar.
"mas dari mana?" tanya Nurul.
__ADS_1
"ini untuk mu dek, jangan sampai gak makan ya, nanti sakit, apalagi harus merawat bocah gemuk nan cantik ini," kata Adri gemas pada putrinya itu.
"mas ..."
"maaf deh para putri cantik, sekarang ayo kita makan," kata Adri.
Nurul masih sibuk dengan Rania, Adri dengan iseng memberikan pentol bakso miliknya pada Nurul.
Adri pun mengangguk, Nurul pun menerimanya, dan beberapa teman mereka mengabadikan momen itu.
Rania sudah kenyang, kini giliran Nurul yang makan, tanpa sadar Nurul juga menyuapi Adri agar mencicipi makanan yang di pilihkan oleh pria itu.
"enak ..." jawab Adri.
"aduh kok aku merasa mereka yang lebih romantis di banding penggantinya," goda Arifin.
" ha-ha-ha bisa saja, sudahlah jangan ngawur, oh ya cuma ini yang datang?" tanya Adri.
"tunggu dong juragan, kebetulan sebentar lagi mereka datang, tuh anak-anak yang lain," kata Edi menunjuk teman mereka yang Bru datang.
ternyata ada acara organ tunggal, dan beberapa orang sudah menyumbang lagu.
Adri menolak karena Rania sudah mulai mengantuk karena sudah sangat malam.
seorang wanita datang langsung merangkul Adri, "maaf anda siapa?" kata Adri mendorong Wanita itu.
"aduh juragan sombong ya, aku Lili teman sekelas mu," kata wanita itu.
Adri berpamitan pada Arifin, kemudian membukakan pintu untuk Nurul.
mereka pun bergegas pulang, "mas marah?" tanya Nurul sedikit takut.
"ah itu maaf ya ... aku memang seperti ini, tak pernah bisa menutupi kemarahan dan isi hatiku, apa kamu bisa melihat wanita lain memelukku seperti tadi? apa kamu tak marah," tanya Adri menghentikan mobilnya.
"aku tidak marah, tapi tak suka ada wanita yang bersikap begitu terhadapmu, maaf jika aku tak bisa menahan perasaan ku," lirih Nurul.
Adri pun malah tersenyum mendengar jawaban Nurul, "kita pulang, karena besok ada acara penting loh," jawab Adri kesenangan.
sedang Nurul malu mendengar ucapan dari Adri, pertama Adri mengantar Nurul pulang.
Rania di tidurkan di kursi depan yang sudah di atur, Nurul tersenyum pada Adri.
sedang beberapa tetangga yang membantu persiapan pun di buat ikut bahaya melihat pasangan itu.
"aku pulang ya, tolong salam buat ibu saja," pamit Adri.
"iya mas, hati-hati di jalan ya," jawab Nurul mengambil tangan Adri dan menciumnya.
__ADS_1
"aduh aduh, juragan mukanya jangan terlalu senang gitu dong," goda para tetangga.
"bukan cuma senang pak, rasanya ah mantab ..." jawab Adri sambil melihat tangannya.
Nurul sudah pergi masuk rumah karena malu, pasalnya Adri selalu bisa membuatnya begitu salah tingkah sendiri.
"ini kah rasanya, saat cinta dan Allah memberikan restunya, hatiku ikut bergetar saat ingat kamu," batin Adri yang melihat tangannya.
dia pun sampai di rumah, ternyata semua orang sedang sibuk membuat kue dan yang lain.
terlebih Jasmin yang tetap bisa mesra dengan Rafa meski hanya bercanda dengan tepung.
sedang Raka kena getah karena di suruh mengaduk madu mongso, begitupun Rizal yang di kerjai untuk mengaduk jenang.
Adri menidurkan putrinya, dia mencium kening Rania, "terima kasih nak telah ada untuk ayah, kamu segalanya untuk ayah, seandainya tanpa mu, mungkin ayah akan tetap bergelut dengan dunia hitam dan tak bisa berubah, tapi saat ayah mengendong mu saat orang tua mu pergi selamanya, ayah tau jika kamu hidup ayah saat itu, bahkan ayah bersumpah akan memenuhi semua keinginan mu, dan terima kasih sudah memilih bunda Nurul untuk melengkapi kisah kita berdua," kata Adri.
Rafa yang sedang membantu Jasmin, tiba-tiba berdiri dan langsung menuju ke kamar Adri
"kami percaya padamu Adri, dan kamu tak mengecewakan kami, aku selalu bangga padamu, dan Akira begitu senang saat kamu berhasil menjadikan dua putraku seperti sekarang, dan untuk Rania, dia memang putri yang di kirimkan untuk mu, dan kami selalu mengawasi kalian dan terima kasih atas segalanya," kata Rafa yang ternyata sedang kerasukan.
"terima kasih mas Vian ..."
Adri tau benar jika pria yang di depannya itu adalah Vian, karena mereka pernah iseng bercanda dan Adri ingat betul jika dia sangat membenci candaan mereka dulu.
"kopi untukmu," Vian memberikan cangkir untuk Adri.
"makasih mas, bagaimana anak-anak udah gak parah lagi kan?" tanya Adri.
"ya begitulah, mereka masih sering kerasukan, terutama saat-saat ini, apalagi kata pakde Tejo banyak yang mengincar bayi kami,", curhat Vian.
"aku akan membantu menjaganya, biar aku minta ilmu dari Mak," jawab Adri
"tak perlu Adri, aku hanya butuh satu janji mu untukku, kamu mau memberikannya?"
"apa itu? kalau bisa pasti aku berikan?"
"maukah kamu menjaga dua putra ku dan menganggap putri kami seperti putrimu sendiri, karena hanya kamu yang aku percaya," kata Vian.
"jangan gila deh mas, emang kamu mau kemana, hingga aku harus menjaga mereka," kesal Adri.
"ayolah, berjanjilah pada ku dulu," kata Vian tertawa.
"iya-iya aku mengerti, iya aku janji akan menjaga mereka bertiga nantinya," jawab Adri.
"terima kasih, sebenarnya aku mimpi buruk, dan aku sadar jika kebersamaan ku dengan anak-anak tak lama lagi, itu yang saat ini aku rasakan," lirih Vian.
"mas bisa gak usah ngomong begitu, aku membencimu," kata Adri yang malah di tertawakan oleh Vian.
__ADS_1
Adri masih melihat Rafa yang tersenyum khas milik Vian, sambil mengangguk.
Adri langsung menangkap tubuh Rafa yang limbung, "terima kasih sudah percaya padaku," kata Adri.