
"mosok arep onok seng muleh?" gumam Mak nur.
"sepertinya ruang, karena jika desa seperti ini biasanya akan ada yang pulang, atau kalau tidak ada sesuatu yang tejadi," jawab Rafa yang menghentikan mobil di rumah.
ternyata benar saja, tak lama terdengar suara siaran Kematian, dan Mak nur langsung bergegas masuk rumah.
dia pun langsung mencari kunyit dan membuat sawan, terlebih di rumahnya kini ada dua wanita hamil.
sedang Raka keluar dan membantu Rafa memperkuat pagar ghaib, begitupun pada rumah Rizal terlebih mereka juga baru memiliki bayi.
Adri pun bergabung dengan dua keponakannya, sedang Rania dan Nurul di minta untuk bersama berkumpul di rumah Mak nur.
Jasmin dan Wulan sudah memegang tasbih masing-masing, ketiga pria itu langsung menuju ke rumah orang yang sedang terkena musibah itu.
tapi saat sampai, Rafa dan Raka melihat sosok aneh yang tertawa melihat kedatangan mereka.
"dia mendapatkan pelayan lagi ternyata," gumam Rafa.
Raka pun langsung menghampiri Mudin kematian untuk membahas ingin dimakamkan malam ini atau besok.
ternyata keluarga ingin jika langsung di makamkan malam ini sebab itu permintaan dari jenazah sebelum meninggal dunia.
Raka merasa aneh saat ada orang lain yang mengurus jenazah, bahkan warga desa pun tak di izinkan melihat sedikitpun.
tapi Rafa tetap masuk kedalam kamar dan melihat apa yang terjadi. ternyata benar jika pria itu sedang melakukan terakhirnya.
"lebih baik kalian kubur begitu saja, jadi tak perlu merepotkan warga desa," kat Rafa yang kemudian langsung pergi.
tak terduga ada sesosok mahluk yang ingin melukai Rafa, tapi dia malah tersenyum melihat itu.
"awak mu kudu mati, gak oleh onok seng oleh eroh," kata mahluk itu.
"kamu yakin bisa menghadapi mereka." Rafa menyeringai.
Sesnag, Sen-sen dan Linggo datang melindungi pria itu, sedang Suni dan Ki Antaboga juga sudah melindungi Raka yang sedang berkumpul dengan para warga.
mahluk itu menyerang terlebih dahulu tapi dengan mudah ketiga khodam Rafa membunuhnya.
akhirnya jenazah akan di makamkan, sedang Rafa memilih duduk di pos di temani om pocong yang mati penasaran.
"punya rokok cak?" tanya pocong itu pada Rafa.
"walah gak ngerokok aku, memang kamu bisa merokok?" tanya Rafa.
"bisa dong, tapi sayangnya kamu bukan LAKIK," kata pocong itu meledek rafa.
"kata siapa aku tak LAKIK, aku cuma mau sehat, lihat situ mati Karena rokok kan?" tebak Rafa.
karena dari dada dan mulut pocong itu terus berasap, "seratus deng, eh yang mati itu biasanya suka nongkrong sama teteh Kunti di kuburan deh,"
"idih nih pocong suka ngintip orang pacaran, nanti bintitan tau rasa Lu," kata rafa tertawa.
"anjrit, salah sendiri orang pacaran kok di pinggir kali, gak modal banget, terus wik-wik juga di situ, memang dasar manusia gila, padahal di rumah punya istri cantik, menang banyak tuh si om item pohon beringin di ujung desa," kata pocong itu.
"widih makasih laporannya, sudah aku ikut mereka dulu ya," jawab rafa yang di panggil Raka dengan lambaian tangan.
tapi pocong itu mengikuti Rafa, dan Raka malah langsung mengeplak pocong itu hingga tersungkur.
"woi kamu ingin membunuh ku lagi," kata pocong itu tak punya wibawa.
"hahaha ku kira kamu udah minggat kemana, kenapa baru muncul lagi, udah sana besok aku kasih ayam sama rokok di tempat biasa ya," kata Raka.
"siap bos, tapi jangan kaget ya kalau denger anjing menggonggong, itu tandanya, dia sudah di sambut oleh rombongan keluarga barunya, jadi pelayan ghaib," kata pocong itu sebelum menghilang.
berbeda dengan yang lain, semua warga mulai menggotong keranda, tapi Rafa dan Raka hanya mengawasi dari jauh.
__ADS_1
"beh ... bisa heboh lagi nih orang-orang," kata Raka.
Rafa menepuk bahu Adri yang ingin mengangkat keranda, tiba-tiba tangan dan pundaknya begitu panas saat menyentuh keranda itu.
Adri pun meminta ganti pada seseorang dan buru-buru mundur, benar saja saat menuju ke jalan makam desa.
terdengar suara gonggongan anjing begitu keras, tapi mereka tak bisa melihat anjing ghaib itu.
saat sampai di makam desa, makam itu begitu ramai dengan mahluk, bahkan Rafa dan Raka hanya mengawasi dari jauh.
begitupun dengan Adri yang di tahan Raka, acara pemakaman terjadi cukup lama karena makam itu terus kekecilan dan jenazah tak bisa masuk.
meski sudah di perlebar dan di perpanjang tapi tetap saja kurang lebar dan panjang.
Raka yang tak ingin terus tinggal di makam pun kesal, pasalnya dia terus di ganggu oleh kuntilanak centil di sana.
"kelamaan, tinggal tekuk saja repot," suara Raka mengejutkan semua orang .
"tolong hormati jenazah anak muda, jaga ucapan mu," kata guru spiritual yang tadi membersihkan jenazah.
"terserah jika kalian mau sampai pagi disini, kalau aku mah males," jawab Raka tengil.
karena terus di ganggu dan membuatnya kesal, Raka mencegkram kuntilanak itu dan memberikannya pada Suni yang langsung membunuhnya.
hingga semua mahluk pun ketakutan, akhirnya ustadz Hasan mengizinkan usul dari Raka.
setelah pemakaman pun berakhir, bahkan dalam berdoa pun begitu berbeda, terdengar suara doa bahasa Arab bercampur dengan bahasa kejawen.
bahkan ada yang menyalakan dupa di kejauhan, dan tak terduga Ki item datang dan langsung menginjak pria yang menyalakan dupa hingga pingsan.
begitupun Ki Antaboga yang melempar pria yang ingin melakukan ritual gila hingga tercebur ke sungai.
pria yang mengenakan ikat kepala itu melihat kearah Rafa dan Raka yang tersenyum meledek.
bahkan dua pria itu tak ada yang takut sedikitpun, "bocah tengik iki wani ngelawan aku," geram guru itu.
malam itu, Rafa dan Raka mandi dulu sebelum masuk kedalam rumah, semua khodam berjaga karena merasa dua pria itu dalam bahaya.
Rizal baru saja pulang dari mengirim beras pukul dua gelas malam karena truknya sempat mogok.
tapi tak terduga dia melihat saku celananya terbakar dan dia ingat hanya memasukkan liontin yang dia temukan di gudang tadi.
tapi liontin itu saja sudah hilang entah kemana, dia pun mandi sebelum masuk rumah.
dia melihat semua sedang tidur, dia memutuskan untuk tidur di lantai dapur beralaskan sebuah tikar pandan.
dan beruntung karena hal.otu, sebuah ilmu ghaib yang di tujukan untuknya malak terpental kembali.
sedang di rumah si kembar, Keduanya masih terjaga sambil terus mengaji saat tiba-tiba Jasmin keluar sambil memegangi perutnya.
"mas Rafa ... sakit ..." kata Jasmin.
Rafa pun terkejut dan langsung menghampiri istrinya itu, Raka pun juga kaget melihat Jasmin yang menahan kesakitan.
"kita ke bidan, sepertinya dia ingin melahirkan," panik Raka.
"ayo sayang," kata Rafa mengambil tas berisi baju.
tapi tanpa di duga Raka yang malah mengendong Jasmin yang kesakitan, Wulan pun terbangun karena mendengar suara ramai.
"ada apa mas?" tanya Wulan.
"itu Jasmin ingin melahirkan," panik Rafa.
"baiklah mas berangkat biar saya akan menyusul dengan eyang," kata Wulan yang mengambil tangan Rafa dan menciumnya.
__ADS_1
karena dia mengira jika itu suaminya, karena Raka yang mengendong Jasmin yang terus kesakitan.
Mak nur pun bangun saat mendengar suara ketukan pintu, dan kaget melihat Wulan yang memberi kabar jika Jasmin sudah mau melahirkan.
"eyang pakai jaket kita susul mereka dengan motor," kata Wulan
"iya nak, ayo," panik Mak nur.
jam masih menunjukkan pukul satu dini hari, bahkan Wulan begitu berani mengendarai motor di tengah keheningan.
Suni berlari di samping motor Wulan, dan akhirnya mereka sampai di rumah bidan dan terdengar suara Jasmin yang masih berjuang melahirkan.
"Raka, Rafa di dalam?" tanya Mak nur.
"iya eyang, karena Bu bidan yang memintanya," jawab Raka.
"kamu baik motor dek!" kaget Raka.
"iya mas, kan aku bisanya hanya naik motor," jawab Wulan.
sedang Jasmin menangis karena kesakitan, Rafa pun terus berbisik di telinga istrinya.
"Allahuakbar ..." kata Jasmin dalam dorongan terakhir.
dan kemudian terdengar suara tangisan bayi yang begitu keras dan memecah keheningan malam.
Raka, Mak nur dan Wulan sangat bersyukur mendengar tangisan bayi itu, "Alhamdulillah ya Allah," kata mereka.
bayi pertama Rafa dan Jasmin lahir dengan sehat dan sempurna, Jasmin pun mendapatkan ciuman dari suaminya.
Rafa pun menerima bayi itu dan mengadzani Putranya itu, bayi itu bahkan terlihat begitu tenang.
kemudian bayi itu menyusu ke Jasmin untuk pertama kalinya, dan Rafa keluar dan memeluk Mak nur.
"selamat ya, kamu sudah jadi ayah, siapa nih nama bayi kecilku?" tanya Raka tersenyum memeluk saudaranya itu.
"namanya belum tau, tapi panggilannya bayi Al," jawab Rafa.
"nama yang simpel dan manis," jawab Wulan.
Mak nur dan Wulan pun masuk dan ternyata bayi itu sudah bersih dan tenang.
dan Jasmin juga sudah di bersihkan, "selamat ya mbak," kata Wulan.
"terima kasih, kamu juga sebentar lagi akan menjadi seorang ibu juga, jadi kamu harus siap ya,"
"pasti ..." jawab Wulan tersenyum.
tak terasa sudah jam empat subuh, adri yang baru membuka pesan juga kaget jika Jasmin sudah melahirkan.
tak lama Wulan dan Raka sudah pulang dan membawa semua belanjaan untuk brokohan.
"mas, aku belum tau Mak Siti itu yang mana, kata eyang minta tolong Mak Siti dan Mak sum," kata Wulan pada suaminya.
"tenang nanti biar mas yang bicara pada Mak Siti, kamu mandi dan kita siap-siap ke mushola dulu," ajak Raka
Wulan pun mengangguk, Nurul datang ke rumah dan membersihkan ayam yang sudah di beli oleh Wulan.
"Tante Nurul, saya tinggal ke Mushola dulu ya," pamit Wulan
"iya dek, titip Rania juga ya sepertinya tadi ikut ayahnya berangkat duluan," kata Nurul.
"siap Tante," jawab Wulan.
ternyata benar, Wulan pun mengajak Rania ke shaf bagian wanita. dan ternyata Raka yang menjadi imam kali ini.
__ADS_1
suara lantunan bacaan ayat suci Al-Quran begitu mengalun indah, bahkan begitu jelas.
Wulan pun sampai meneteskan air mata karena tak mengira jika pria seperti Raka sekarang adalah suaminya yang begitu mencintai dirinya.