
Raka bergabung dengan ibu dan istrinya, mereka pun makan bersama, pak Suyatno tak mengira jika sate yang di beli begitu enak.
tak salah pilihan menuntunnya itu, bahkan Wulan terlihat begitu lahap, "nduk kamu nanti kalau makan nasi banyak tambah gemuk loh, kasihan suamimu," kata Bu mut.
"tidak apa-apa Bu, aku tak keberatan asal istriku bahagia," kata Raka yang begitu memanjakan istrinya.
"terima kasih mas, aku mencintaimu ..." kata Wulan memeluk Raka.
Raka pun tertawa melihat tingkah imut istrinya itu, terlebih pipi bulatnya itu.
setelah makan malam, pak Suyatno dan Bu mut tidur, sedang Raka dan Wulan masih menonton tv.
keduanya menonton tv sambil mengusap sesuatu, Wulan berbalik dan melihat sang suami yang tersenyum mesum kearahnya.
"mas ... kamu nakal ya, jangan membuatku seperti ini," gumam wanita itu.
"aku ingin dirimu dek," bisik Raka.
"tapi tadi sore sudah loh, sekarang lagi," gumam Wulan yang tak bisa menolak sentuhan suaminya.
raka pun langsung mengendong istrinya ke kamar, Keduanya pun langsung melakukan hubungan suami istri itu.
bahkan Raka pun begitu menikmati saat istrinya bergerak di atas tubuh Raka.
akhirnya mereka pun tertidur begitu saja, pukul tiga dini hri, Raka bangun dan memilih mandi besar, bergiliran dengan istrinya.
keduanya juga melaksanakan sholat malam berjamaah, setelah itu mereka juga sholat subuh berjamaah di masjid.
dan saat pulang, Raka melihat ada orang yang ramai, "ada apa ya pak?" tanya Raka bingung.
"entah nak Raka, mau lihat dulu?" tanya pak Suyatno.
"boleh pak, dek kamu pulang dulu bareng ibu ya, dan jangan lupa buatkan pepes patin ya," bisik raka sambil mencium pipi istrinya di depan semua orang.
"iya mas, ih kamu ini selalu deh," bisik wulan malu.
Bu mut begitu bahagia melihat putrinya yang begitu di manja oleh suaminya itu.
bahkan Raka begitu sopan dan begitu menghormati orang tua istrinya seperti orang tuanya sendiri.
"ya Allah terima kasih telah mengirimkan pria yang begitu mencintai putriku, dia begitu sempurna sebagai menantu," batin bu mut.
wulan pun pulang bersama dengan ibunya, dia akan berbelanja demi memasakkan makanan permintaan suaminya.
sedang raka menuju ke keramaian itu, ternyata itu rumah Irma, raka kembali menginggat semua keburukan dari Irma.
"maaf pak, aku tak bisa untuk lebih dekat lagi, jika tidak aku bisa kehilangan kendali kemarahan ku," kata Raka
"baiklah nak, kamu tunggu di sini, biar bapak yang masuk," jawab pak Suyatno.
raka meminta Suni menemani mertuanya itu, pasalnya dia takut jika di dalam rumah ada yang akan mencelakai mertuanya itu.
Raka duduk bersila di sebuah kursi bambu, dan tak lama dia melihat ada rombongan ghaib yang lewat.
"kenapa tak bisa melakukan puasa itu, jika tidak aku tak bisa melakukan apapun, seminggu lagi semua akan terlambat," gumam Raka.
pak Suyatno keluar, dengan wajah pucat pasi, "ada apa bapak?" tanya Raka berdiri menghampiri mertuanya itu.
"dia sudah seperti mayat, bahkan badannya begitu kurus kering, tapi perutnya begitu besar," kata pak Suyatno.
Raka pun terpaksa harus melihat kondisi pria itu, dia pun mencoba ikhlas untuk segalanya yang sudah terjadi.
__ADS_1
"baiklah pak, biar saya coba melihat kondisi pak Prapto dulu, dan semoga saja saya bisa membantu," kata Raka.
raka pun di temani oleh pak Suyatno untuk masuk kedalam rumah, tapi langkahnya terhenti saat Irma menghadangnya.
"Minggirlah ... atau aku akan pergi dari sini, dan asal kau tau persyaratan yang diberikan Rafa saja tak bisa kau penuhi, jadi jangan membuka mulutmu," kata Raka dingin tanpa mau melihat wanita di depannya itu.
ibu Irma pun langsung menarik putrinya itu, Raka langsung mengeluarkan tasbihnya.
kemudian berdiri di samping pak Prapto yang sudah seperti mayat hidup.
"pak tolong minta bak, atau tong, untuk menampung muntahan pak Prapto,"
setelah permintaan Raka datang, Raka mulai berdo'a dan membaca ayat ruqyah.
tiba-tiba terdengar suara teriakan dari pak Prapto yang kesakitan, Raka menekan perut buncit itu sambil terus membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.
pak Prapto memuntahkan darah hitam berbau busuk bercampur paku dan silet.
Wulan merasa jika suaminya dalam masalah, "ibu aku pergi menyusul mas Raka," pamit Wulan yang pergi berlari dari penjual sayur.
dia berlari sekuat tenaga menuju ke rumah Irma yang begitu ramai, "tolong minggir, saya butuh jalan," kata Wulan menerobos para bapak-bapak yang ingin melihat yang terjadi.
Irma ingin menghalangi Wulan yang datang, tapi Wulan menampar Irma dengan begitu keras.
"aku akan membunuh mu jika berani mengorbankan Suamiku!" bentaknya.
Wulan pun menyentuh bahu Raka, "berhenti mas ..."lirih Wulan menyadarkan suaminya.
Raka pun mengakhiri ruqyah saat mendengar ucapan sedih Wulan, "kamu bisa mati ..." tangis Wulan memeluk tubuh Raka.
dan tanpa sadar Wulan memberikan kekuatannya untuk Raka, bahkan Nyai Nawang benar-benar terkesan dengan pasangan itu.
Irma yang tak suka perbuatan Wulan, dia menarik wulan karena merasa jika wanita itu menghalangi kesembuhan sang ayah.
"kau keterlaluan Wulan, kenapa kamu tak suka jika ayah ku sembuh!" bentuknya.
"aku bilang tutup mulutmu, aku sudah bilang kalian sekeluarga harus puasa, dan jika bukan istriku yang menghentikan aku, aku yang akan mati karena mencoba menyelematkan ayahmu, dan mulai sekarang cari orang lain untuk melakukannya, karena kamu gadis tak tau di untung," maki raka yang tak suka.
dia pun menarik istrinya untuk pulang, begitupun pak Suyatno tak menyangka jika Irma begitu kasar.
"menyesal aku memohon pada menantuku untuk menolong ayah mu, kalian bahkan tak bisa menghargainya," kata psk Suyatno.
"tunggu pakde, aku hanya khilaf tadi," jawab Irma memohon.
"sekarang kamu dan keluarga mu bisa mencari siapapun yang bisa menolongnya, tapi tidak dengan keluargaku, terutama menantuku," jawab pak Suyatno yang ikut pergi.
semua warga pun tak mengira jika kesombongan dari keluarga itu kini menghancurkannya.
sesampainya di rumah, Bu mut begitu khawatir melihat Wulan yang menangis.
raka juga begitu lelah, "ada apa nak, kenapa kalian begitu terlihat lelah, bahkan wajah raka begitu pucat," kata Bu mut.
"mas Raka hampir mati karena menyelamatkan nyawa pakde Prapto, tapi Irma malah menghalangiku yang ingin menyelamatkan suamiku," tangis wulan.
"aku tak mau kehilangan Suamiku ibu," kata Wulan.
"nak berhenti menangis, lihatlah suamimu, dan bawa dia beristirahat ke kamar," perintah pak Suyatno.
"baik pak, maafkan aku mas, aku sedikit terbawa suasana," kata wulan yang membantu Raka.
"ayo mas ... kita istirahat ke kamar," kata Wulan memapah suaminya.
__ADS_1
dia pun membantu suaminya untuk istirahat ke dalam kamar, tapi raka terus mencubit pipi wulan agar tersenyum kembali.
wulan pun tersipu karena ulah suaminya tapi saat mereka masuk dan akan tidur di ranjang berdua, tiba-tiba ranjang kamar wulan malah patah.
dan itu membuat Wulan dan Raka tertawa bersama, sedang pak Suyatno kaget mendengar suara keras itu.
dan tak mengira dipan kayu jati bisa patah begitu mudah dan melihat anak perempuannya dan menantunya tertawa bersama.
"kalian tidak apa-apa nak," kata Bu mut khawatir.
"tidak apa-apa Bu, maaf kami sepertinya terlalu menyakiti ranjangnya, hingga dia lelah," jawab Raka tertawa.
"mas ih, sudah ayo bangun dulu ..." ajak Wulan menarik suaminya.
pak Suyatno tak habis pikir, dan menyingkirkan dipan kayu yang patah itu, dan menaruh kasur di lantai dengan alaskan kayu yang di buat dadakan oleh pak Suyatno.
saat Raka sedang beristirahat, tak terduga Rafa datang bersama Jasmin.
dia juga sempat merasakan jika saudaranya dalam masalah besar. tapi beruntung saat sampai ternyata Raka sedang istirahat.
"loh nak Rafa, ayo masuk nak, ada apa ini? mau jemput nak Raka?" tanya pak Suyatno.
"bukan pak, mau minta pepes tadi katanya Wulan mau bikin pepes ikan patin,maklum pak ngidam," jawab Rafa tertawa.
"mas ih bikin malu ..." kesal Jasmin pada suaminya.
"iya ayo masuk dulu,kita sarapan bersama, tenang pepesnya sudah di siapkan oleh ibu kok," jawab pak Suyatno dengan senang hati.
"tuh mas ih ... bikin malu ..." kesal Jasmin.
"apa sih dek, orang bapak saja tak masalah kok," jawab Rafa.
"jika ada keributan, pasti ada Rafa disana,kamu ngapain pagi-pagi kemari?" tanya Raka yang baru bangun.
"lah nih bocah, jam berapa baru bangun bikin malu saja, ingat kamu itu menantu malah bangun kesiangan," kata Rafa menjewer kuping Raka.
"aduh duh sakit ... enteng sekali mulut anda orang tua pikun, aku sedang terluka kisanak," jawab Raka asal.
"mas ih ... orang di suruh istirahat malah udah bangun," suara Wulan mengejutkan suaminya.
"eh ... itu sayang, kepala pusing kebanyakan tidur, lagi pula kamu tak di sisiku menemani suamimu ini," ucap Raka manja.
"boleh aku santet gak orang ini," kata Rafa jijik.
"sudah-sudah ini kenapa kok malah pada berantem, ayo sini sarapan dulu, nak Rafa dan nak Jasmin, sini menantu kesayangan ibu Juga," panggil Bu mut.
Jasmin pun benar-benar merasakan bahagia merasakan memiliki keluarga lagi seperti ini, bahkan keluarga Wulan begitu baik.
setelah sarapan bersama, Rafa masih membantu memulihkan kondisi Raka, sedang Jasmina sudah mendapatkan wejangan dari Bu mut.
pasalnya Jasmin tak memiliki orang tua yang paham tentang adat dan tradisi, Bu mut memberikan pengertian pada Jasmin dan Wulan untuk saling membantu.
sedang Mak nur yang sudah sepuh juga tak bisa membantu banyak, jadi keduanya harus saling tolong menolong.
Wulan yang terbiasa membantu Mak nur juga sudah sedikit paham tentang bagaimana memandikan bayi.
"ngomong-ngomong nih nduk, kok bapak belum dapat kabar baik darimu ya?" tanya pak Suyatno.
"bapak mah gitu, saya dan mas Raka juga baru sebulan ini menikah udah mau punya cucu saja," kata Wulan.
"apa salahnya to nduk?" tanya pak Suyatno tertawa.
__ADS_1