Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Jimat


__ADS_3

Setelah menghadiri acara perayaan dikantor. Felix mengajak Sherli di sebuah toko jimat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mereka telah sampai ditempat yang cukup tua. Sebuah toko jimat, Felix membawa Sherli. Ia menggandeng Sherli masuk kedalam.


"Kak, kenapa kita ketempat ini, Kakak sedang diganggu hantu?" tanya Sherli polos.


Felix tersenyum mendengarkan pertanyaan Sherli.


"Tidak, hanya ingin lihat-lihat, ayo masuk!" Felix menarik tangan Sherli masuk kedalam toko tersebut. Sedikit aura mencekam menyelimuti mereka.


Seorang wanita tua dengan pakaian serba hitam mendatangi mereka. Sherli yang merasa takut, sedikit melangkah kebelakang disamping Felix.


"Ada yang bisa dibantu, Nak? " ucap wanita itu, yang tidak lain adalah pemilik toko. Felix menarik tangan Sherli, agar sejajar disampingnya.


"Aku mencari jimat pengusir roh Bibi, apakah ada?" tanya Felix.


"Baiklah, silahkan ikuti saya."


Wanita tua tersebut memimpin didepan. Ia membawa Felix, dan Sherli disebuah ruangan yang lebih besar. Disana terdapat banyak sekali benda-benda aneh yang tidak pernah dilihat oleh Sherli.


Tangan Sherli gemetar karena takut. Felix menoleh kearah Sherli dan tersenyum padanya. Seolah memberikan isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.


"Silahkan kalian lihat-lihat dulu, nanti saya akan jelaskan manfaatnya jika kalian sudah selesai memilih," ucap sang wanita penjaga toko.


Dia menunggu Felix, dan Sherli duduk di tengah ruangan dimana terdapat meja, dan kursi.


Felix menarik tangan Sherli ke sebuah rak paling ujung. Ketika mereka berhenti, Sherli terlonjak kaget melihat, kepala tenggorak di rak nomor tiga.


"Kak aku takut," pekiknya. Felix yang fokus melihat-lihat, menoleh kearah Sherli.


"Jangan takut, ini hanya benda-benda imitasi yang dibuat menyerupai," bujuk Felix.


"Kenapa sangat mirip aslinya?" tanya Sherli heran.


Felix mengambil sebuah gelang marmer berwarna biru muda, ia ingin mengalihkan fikiran Sherli dengan gelang tersebut.


"Sudahlah, coba lihat gelang ini!" Felix menyodorkan gelang tersebut.


Sherli memandang gelang yang diambil oleh Felix, lalu mengambilnya. Ia membolak-balik gelang tersebut untuk mengamati dengan detail.


"Ini bagus, Kak, terlihat elegan, ada ukirannya juga di dalamnya terlihat sangat antik," kritik Sherli.


"Baiklah ayo!" Felix dan Sherli kembali menghampiri wanita penjaga toko ditempatnya.


"Bibi bisa tolong jelaskan tentang gelang ini!" Felix mengambil gelang dari tangan Sherli, lalu meletakan gelang tersebut di meja agar dilihat wanita tersebut.

__ADS_1


Wanita tersebut meraih gelang tersebut.


"Kenapa kalian berdiri, duduklah!"


Felix menarik kursi di dekatnya untuk dia dan Sherli duduki. "Bagaimana, Bibi?" tanyanya lagi.


Setelah mengamati gelang tersebut, wanita tersebut beralih memandang Felix, dan Sherli.


"Gelang ini umurnya sudah hampir lima puluh tahun, gelang ini dibuat dengan tujuan agar yang memakai terhindar dari roh jahat. Ukiran didalamnya memberikan energi positif untuk melawan energi negatif dari suatu roh."


Felix mendengarkan dengan seksama. Berbeda dengan Sherli, ia tidak terlalu fokus mendengarkan karena rasa takutnya, hingga fikirannya kemana-mana.


"Dan gelang ini tidak pernah dipakai seseorang sebelumnya, meskipun sangat indah jika bukan memang pemiliknya. Mereka tidak akan dapat melihat gelang ini dilemari tadi. Jadi aku fikir gelang ini memang sedang menunggumu" lanjut wanita tersebut.


"Baiklah, aku ambil gelang ini." Wanita tersebut memberikan gelang tersebut kepada Felix. Felix segera memakaikannya di tangan Sherli. Sherli yang sedari tadi tidak fokus, terbuyar ketika Felix akan memasangkan gelangnya.


"Kak kenapa dipasang di tanganku?" tanya Sherli heran.


"Tidak apa-apa, aku ingin kau memakainya biar kau aman!" Sherli hanya menurut, dan membiarkan Felix memakaikannya.


Setelah Felix membayar gelangnya, mereka segera beranjak dari tempat tersebut. Sherli menghela nafas lega saat baru keluar dari rumah tersebut.


"Leganya ...." Sherli menghela nafas.


"Kenapa, kamu takut?" tanya Felix.


"Tentu saja aku takut, Kak!" ucap Sherli mencebikan bibirnya. Mereka segera masuk dimobil dan pergi.


"Sher, kamu jangan melepas gelang ini ya!" tegas Felix. Seketika Sherli menoleh kearahnya.


"Kenapa, Kak?" tanya Sherli.


"Tidak apa-apa, menurutlah ini yang terbaik untukmu!"


"Baiklah." Sherli menurut, meskipun tidak tau alasan Felix mengapa ia sangat ingin Sherli memakainya.


"Paling tidak aku bisa melindungimu meski hanya dengan gelang ini, kuharap sosok pagi tadi tidak mengganggumu." Batin Felix.


Sherli terlintas tentang benda-benda yang ada ditoko tadi. Ia ingin tau apakah benda-benda yang dia lihat benar-benar imitasi.


"Kak, benarkah benda-benda tadi hanya imitasi?" tanya Sherli. Felix menoleh sekilas lalu kembali gokus pada jalanan.


"Tidak, benda tadi asli semua. Yang kamu lihat memang tengkorak tadi," ucap Felix ringan.


Seketika Sherli menegakkan tubuhnya, lalu memadang Felix yang sedang fokus mengendarai.


"Katanya tadi imitas? Kenapa, Kakak berbohong?" ucap Sherli kesal.

__ADS_1


"Ya karena kamu sangat takut, jadi aku berbohong. Aku bilang imitasi saja kamu ketakutan tadi, bagaimana jika aku jujur?" tanya Felix tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.


Sherli terdiam, ia berfikir memang benar tadi ia sangat takut meskipun Felix telah mengatakan bahwa benda-benda tadi hanya imitasi. Ia hanya menghela nafasnya.


Felix melirik kearah Sherli, "Sudah jangan difikirkan lagi, aku tidak akan membawamu kesana lagi!" ucap Felix menenangkan.


"Iya, Kak!"


Sherli tiba-tiba ingat tetang hari lalu. Ia ingin mengatakan pada Felix.


"Kak kemaren Kakak membuang bungkusan makanan di tempat sampah depan rumah?" tanya Sherli.


Felix menoleh sekilas, "Iya memang kenapa?" tanya Felix.


"Kakakku menanyaiku, apakah ada tamu. Aku sempat kebingungan menjawab, lalu aku bilang tidak padanya," ucap Sherli.


Felix yang mendengarkan Sherli tertawa.


"Kenapa, Kakak tertawa?" tanya Sherli kesal.


"Tidak apa-apa, kenapa tidak jujur saja?" ucap Felix enteng. Sherli membulatkan matanya, ia merasa kesal dengan Felix.


"Kakak!" ucapnya meninggi.


Karena melihat Sherli yang sudah sangat kesal, ia menghentikan tawanya dan menenangkan Sherli.


"Iya-iya maafkan aku, lain kali akan aku buang ditempat lain," ucap Felix. Sherli hanya diam mendengar Felix, ia sudah merasa kesal.


Felix yang menyadarinya memberhentikan mobil dipinggir jalan. Karena tujuan terakhir mereka pulang, Felix tidak ingin berpisah dengan Sherli dengan keadaan Sherli marah padanya.


Ia meraih salah satu tangan Sherli, yang sedang memandang kearah jendela.


"Sayang jangan marah, aku tadi hanya bercanda," Sherli masih terdiam. Ia merasa kesal karena mungkin Felix akan baik-baik saja dengan hal itu, namun tidak dengan Sherli yang akan mendapat hukuman dari orang tuanya.


Felix meraih dagu Sherli agar ia melihat, kearahnya.


"Sayang .... maafkan aku ya?" bujuk Felix dengan suara lembut.


Sherli memandang Felix dengan sendu, "Kak mungkin akan baik-baik saja untuk, Kakak, tapi aku akan dihukum jika orang tuaku tahu..."


Felix merasa bersalah padanya, dan mencoba memahami keadaan Sherli.


"Maafkan aku ya, aku kurang memahamimu," ucapnya dalam.


Karena sudah melihat ketulusan Felix, Sherli tersenyum dan mengangguk pelan pada Felix. Setelah saling berbaikan, Felix melajukan kembali mobilnya.


Hampir setengah jam di perjalanan, mereka telah sampai di depan rumah Sherli. Felix pamit pada Sherli. Saat mobil Felix sudah tidak terlihat, Sherli bergegas masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views ya teman-teman.


Terimakasih :).


__ADS_2