
Raka pun menerima bubur itu dan dengan senang hati menyuapi istrinya begitu telaten.
semua pun berpamitan pulang untuk melakukan syukuran atas kesembuhan Wulan, sedang hanya Raka dan mak nur yang menunggui Wulan di rumah sakit.
"eyang istirahat di sofa saja ya, jangan lelah-lelah, eyang hanya perlu mendoakan istriku agar cepat sehat, agar kita segera bisa melakukan acara tiga bulanan," kata Raka memeluk eyangnya itu
"iya nak, iya ..." jawab Mak nur menepuk pipi Raka.
Wulan pun selalu senang dan bahagia menjadi bagian keluarga ini, pasalnya Mak nur begitu penuh cinta pada semua cucu dan cucu menantunya.
"eyang tolong doakan anak kami agar jadi manusia yang mengerti agama dan juga berbakti pada orang tua, karena aku percaya do'a eyang adalah doa terbaik untuk calon anak kami," kata Wulan
"pasti nak, semua doa terbaik untuk cucu buyut ku, termasuk Faraz dan calon anak kalian," kata Mak nur.
"terima kasih eyang," kata Raka dan Wulan bersamaan.
semua orang di desa tau jika kondisi Wulan sudah membaik, karena acara yang di buat oleh kedua keluarga sebagai ungkapan bersyukur.
tapi ternyata acara tak sepenuhnya berjalan lancar, kedatangan keluarga Irma menghancurkan segalanya.
setelah acara doa berakhir, saat para undangan ingin pulang, pak Prapto datang bersama istri dan anak-anaknya.
"Suyatno, tolong ambil kembali santet yang di kirim putrimu pada putriku!!" teriak pak Prapto.
pak Suyatno pun berdiri di depan pria itu karena tak suka dengan ucapan pria itu.
Fahri begitu marah bahkan jika bukan orang tua, mungkin dia sudah menghajar pria itu karena mulut kotornya.
"hei pak Prapto yang begitu suci, jaga ucapan mu, jangan sampai aku lupa jika aku harus menghormati orang tua, sebelum menghina kakak ku, lihat dulu kelakuan putri mu yang kotor itu, bahkan mulutnya itu lebih kotor dari tempat pembuangan sampah!" kata pemuda muda itu.
"dasar pemuda tak tau malu!" bentak pak Prapto.
"hei tutup mulutmu, jangan berani menghina anak-anak ku!!!" teriak pak Suyatno menunjuk wajah temannya itu.
semua orang pun kaget bukan main melihat pertengkaran itu, "kau pikir siapa yang membuat putriku hampir mati, dia kritis, janinnya juga hampir mati, dan suaminya juga terluka, kau pikir itu ulah siapa jika bukan putrimu, kalian bahkan berani melempar fitnah juga, kalian begitu munafik dan tak beradab, setelah apa yang kami berikan selama ini, kau bahkan masih berani menghina keluargaku, kalian ini manusia atau bukan, bahkan anjing saja tau harus berterima kasih untuk orang yang menolongnya, bukan malah menggigitnya!" kata pak Suyatno yang membungkam mulut pak Prapto.
"pak Prapto, saya meminta anda meminta maaf, bukan membuat kegaduhan atau sampai mrnebar fitnah seperti ini, dan membuat saya kecewa, jika bukan teringat ucapan raka yang mengatakan untuk membantu kalian sebisa ku, mungkin saya juga tak mau membantu orang yang tega melukai wanita lain, dengan menghancurkan mental seorang wanita yang sedang hamil," kata ustadz Arifin yang memimpin doa malam ini.
"saya kecewa pada anda pak, lebih baik mulai sekarang cari ustadz atau orang lain untuk membantu putri anda, karena saya tak bisa harus melihat orang baik seperti raka dan keluarga istrinya terus teluka seperti ini karena ucapan kalian," kat ustadz Arifin yang ingin pergi bersama murid-muridnya.
"tunggu ustadz Arifin, ini salah paham jangan tinggalkan kami," mohon Bu Prapto.
"maaf Bu, saya tidak bisa membantu orang yang bahkan tak ada keinginan untuk meminta maaf, sebelum itu yakinlah tak da satupun orang yang bisa menolong putri kalian," kata ustadz Arifin.
semua orang pun berbisik karena keluarga pak Prapto benar-benar tak tau malu sedikitpun.
"tolong pergi dari rumah kami, jika kalian ingin mempermalukan putri kami lagi topong berhenti, dia sudah bahagia, kemapa kalian terus ingin mengusiknya, dia bahkan begitu baik pada keluarga kalian, tapi ini balasannya? jadi lebih baik pergilah dari sini," mohon pak Suyatno.
"iya itu benar, keluarga anda memang benar-benar keterlaluan," kata para warga.
"iya pak, tolong jangan lupa jika kami juga tau siapa Wulan, gadis yang begitu baik dan siapa putri anda, jadi jangan sampai membuat kami juga marah," kata pak RW.
"Dan ingat ini pak Prapto yang suci, tolong jangan berani menginjakkan kaki kalian lagi di rumah ini, atau aku akan lupa diri dan melukai mu," kata Fahri.
keluarga itupun pergi, tapi putri terkecil pak Prapto melihat Fahri, gadis itu selama ini mengidolakan Fahri.
tapi keluarganya telah begitu Melu keluarga itu, dia dan keluarganya pun pergi dari rumah itu di depan mata sinis semua orang.
__ADS_1
ustadz Arifin pun pergi ke rumah sakit untuk bertemu Raka, dia harus melakukan sesuatu.
agar keluarga Wulan tak terus terluka oleh keluarga pak Prapto, bahkan ustadz Arifin sudah tau itu bukan salah Wulan.
itu hanya para khodam yang ingin menjaga dan memberikan pelajaran pada wanita itu yang begitu buruk menghina Wulan.
ustadz Arifin sampai di rumah sakit, dia bertemu dengan Mak nur dan Wulan saja.
"assalamualaikum nyonya Rakasa, bagaimana situasi anda? dan r.eyang yang makin cantik saja?" kata ustadz Arifin.
"aduh ustadz Arifin ini kok godain eyang yang sudah tua, cari istri yang muda dong, ini Rafa dan Raka saja sudah mau punya anak loh, ustadz kapan?" tanya Mak nur tertawa.
"doakan saja ya ruang, habis kriteria istriku terlalu rumit," jawab ustadz Arifin.
"jangan terlalu pemilih ustadz nanti dapat yang bongkeng kan gak lucu," kata Wulan.
"aduh doanya kok gitu, ya sudah aku cari Raka dulu ya,ada sesuatu yang harus aku lakukan dengannya," pamit ustadz Arifin.
"baiklah ustadz," jawab Mak nur dan Wulan.
ustadz Arifin memilih berjalan menyusuri koridor dan terus berusaha menelpon pria itu.
ternyata Raka sedang berada di sebuah kantin, dia pun menepuk pundak sahabatnya itu.
"lagi apa nih kok diam saja, ngelamunin apa hayo, ingat kamu sudah punya istri jangan mikir cewek lain," kata ustadz Arifin.
"ngomong apa kamu tad, aku tadi tanpa sengaja menemukan ini, dan aku mendapatkan penglihatan yang cukup sadis dan menyeramkan," kata Raka menaruh sebuah jepit rambut di meja.
"penglihatan apa?" tanya ustadz Arifin penasaran.
Raka pun menyentuh tangan ustadz Arifin, pria itu tiba-tiba melihat sebuah bayangan seperti film yang di putar di kepalanya.
wanita itu bahkan terus memegangi hasil tes kehamilan di tangannya, "hidupku hancur, kamu tega melakukan ini padaku mas, kamu keterlaluan, kenapa kamu harus menjual ku, aku sekarang bahkan Jamil tanpa tau siapa ayah anak ini," tangisnya.
"hahaha kenapa kamu belum lompat, kau sudah hancur nyonya, bahkan suamimu saja tak memperdulikan mu," kata seorang wanita perpakaian seksi.
"innalilahi wa innailaihi rojiun, kenapa mengunakan pakaian kurang bahan begitu, dan tolong jangan melompat nyonya!" teriak ustadz Arifin.
tapi sayang wanita itu tidak melompat, tapi di dorong oleh wanita yang baru datang itu.
wanita cantik berjilbab itu pun mati mengenaskan, bahkan dia mati bersama anak yang masih dalam rahimnya, bayi itu bahkan tak memiliki dosa.
wanita itu pun tertawa senang, "sekarang aku akan menjadi istrinya," tawa wanita itu.
"tolong aku ...." kata arwah wanita itu pada ustadz Arifin.
rak pun melepaskan tangannya, dan ustadz Arifin sadar dan mulai bernafas dengan ngos-ngosan.
"apa itu tadi, apa salah wanita itu hingga harus mati, itupun dia sedang hamil, dan suami apa yang tega menjual istrinya yang bahkan wanita baik," kesal ustadz Arifin.
"sabar, aku sudah mengetahui semuanya, ternyata suaminya melakukan ini karena hasutan wanita selingkuhannya,dan aku juga berhasil memberikan bukti dan saat ini polisi sudah bergerak menangkap para biadab itu," kata Raka.
"kamu memang hebat Raka, aku bahkan tak pernah mengira akan bisa berteman dengan mu, tapi tadi di rumah mertua mu terjadi masalah," kata ustadz Arifin
"aku sudah tau, khodam ku sudah menjelaskan segalanya, dan aku juga meminta prajurit itu untuk meninggalkan tubuh Irma, tapi untuk luka di tubuhnya bukan karena kami, tapi karena ulahnya sendiri yang terlalu sering melukai orang-orang dengan mulutnya," terang Raka.
"aku tau, aku sudah tak bisa membantunya lagi, aku tak pernah bisa membantu orang yang begitu merasa benar, jadi biarkan dia mencari orang lain," kata ustadz Arifin.
__ADS_1
"baiklah ustadz terserah kamu, oh ya lusa bukannya ada acara ruqyah masal lagi di pondok mu bukan, jika butuh bantuan bilang saja," kata Rafa.
"tidak perlu, kamu sudah terlalu banyak membantu yayasan milik keluargaku," kata ustadz Arifin yang tertawa bersama Raka.
di rumah Rafa sedang membereskan rumah setelah digunakan sebagai tempat tasyakuran tadi.
tapi saat dia sudah selsai, dia melihat arwah terantai itu kembali, kini arah itu sudah menjadi dua orang.
Rafa pun buru-buru masuk dan melihat putranya dan juga Jasmin yang sedang beristirahat.
"siapa lagi yang akan di jemput oleh mereka," gumam Rafa penasaran.
arwah itu sampai di desa Wulan, kedua arwah itu melihat ru ah tetangga yang beberapa Minggu lalu di tegur oleh Raka.
pria itu sedang memukuli sapi miliknya, dia sedang marah, makanya dia melakukan hal itu.
dia akan merasa lega setelah memukuli hewan yang tak bersalah itu.
"ya aku lega, selalu berhasil dengan ini, kalian semua hanya hewan kan, makanya diam dan jangan berulah, kalian tak bisa memberikan anak padaku, maka ini yang kalian rasakan, karena aku butuh uang tapi kalian tak hamil-hamil," kesal pria itu tertawa.
kedua arwah itu tertawa melihat orang yang akan menjadi teman mereka.
pria itu buru-buru masuk ke rumah, setidaknya dia bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
pak Paijo bermimpi buruk, dia sedang di kejar oleh kawanan sapi dan kemudian dia terbentur batu.
bahkan sapi-sapi itu menginjaknya dengan membabi buta. tapi nyatanya pria itu sedang membunuh dirinya sendiri.
pria itu memukulkan kepalanya dengan balok kayu di belakang rumah tanpa sadar, dan dua arwah itu tertawa melihatnya.
akhirnya saat kepala pak Paijo pecah pria itu pun meregang nyawa dan sapi-sapi miliknya pun begitu berisik berbunyi.
akhirnya karena hal itu anaknya melihat dan kaget melihat pak Paijo sudah terkapar dengan luka parah di kepalanya.
pemuda itu pun berlari meminta bantuan pada para tetangga, dan akhirnya korban kedua juga sudah jatuh.
malam itu desa terasa begitu mencekam, karena polisi melakukan otopsi pada jenazah pak Paijo.
Fahri merasa gelisah, dua merasa tubuhnya terasa begitu panas dan terbakar.
tiba-tiba matanya terbuka dan dia merasa tubuhnya begitu berat, dia tak bisa bergerak sedikitpun.
Fahri pun membaca ayat kursi dan tiba-tiba tekanan yang menghimpit tubuhnya terasa lega dan hilang.
"apa tadi? ya Allah ..." gumam Fahri
dia pun melihat jam yanh menunjukkan pukul dua dini hari, dia pun memilih sholat malam.
tak lama Bu mut juga bergabung dengan putranya itu, terlebih pak Suyatno sedang membantu para warga desa begadang di rumah pak Paijo dan menyiapkan pemakaman pria itu.
tak sengaja Raka yang menang berada di rumah sakit me dapatkan kabar dari Rafa, dan juga dari Fahri.
ternyata kejadian buruk tetap terjadi meski aku mengusir pagebluk waktu itu.
"semua tetap rahasia dan takdir Allah, kita sebagai manusia hanya mengikuti dan mengikuti apa yang sudah di gariskan oleh yang Maha Pencipta," gumam Raka.
sedang di gubuk tempat Irma tinggal, saat ini luka itu mengeluarkan belatung karena membusuk.
__ADS_1
bahkan gadis itu sudah tinggal kulit dan tulang, aroma busuk itu makin menyengat.
bahkan Irma sudah tak bisa beteriak kesakitan, karena dia sudah tak punya tenaga sedikitpun.