
mereka sampai di pusat perbelanjaan, dan Wulan bersama dengan Jasmin menuju ke area khusus pakaian wanita.
terlihat Wulan memilih beberapa jenis dalaman yang dia inginkan, terlebih dia tak mengira jika ukurannya akan naik beberapa nomor.
dia sendiri tak tau terlebih pernikahannya dengan Raka baru juga beberapa Minggu.
tapi Jasmin juga sedang membutuhkan persiapan untuk melahirkan.
dia juga membeli beberapa baju dalaman yang khusus bagi wanita yang baru melahirkan.
sedang para pria sibuk memilih baju untuk istri masing-masing, Raka bahkan ingin melihat Wulan dalam balutan gaun malam.
apalagi mereka akan bulan madu ke Lombok untuk beberapa hari, setelah Minggu Menikah dan banyak kejadian besar.
setelah belanja, mereka menuju ke Polsek dan melakukan kesaksian yang di minta oleh polisi.
mereka pun melihat pria itu, yang ternyata adalah orang suruhan yang di minta untuk melukai Wulan.
tapi beruntung wanita itu bisa melindungi diri sendiri, setelah memberikan keterangan.
mereka pun menuju ke sebuah warung mie ayam langganan, dan di sana Wulan memesan cukup banyak ceker untuk dirinya sendiri.
berbanding terbalik dengan Raka yang malah habis mie satu mangkok, Rafa tak mengira akan melihat ini.
"hei inget tentang kondisimu, Jangan kalap gini dong, kasihan Wulan itu gak kebagian," tunjuk Rafa.
"gak papa mas Rafa, saya kebetulan masih kenyang hanya mau camilan ini," jawab Wulan yang membungkam Rafa.
sedang Jasmin tertawa melihat suaminya yang selalu kalah dari pasangan itu.
setelah makan, mereka pun memutuskan untuk pulang, ternyata Adri dan semua rombongan baru pulang.
Raka, Rafa dan Wulan menyadari sesuatu saat mereka melihat sosok Luna.
saat Wulan ingin menyentuh Luna tapi Raka menahannya, pria itu mengeleng lemah.
karena kondisi Wulan belum sepenuhnya baik, jadi gadis itu mengurungkan niatnya, jadi Raka tak mau terjadi hal-hal yang tak di inginkan menimpa istrinya.
apalagi sosok Luna yang masih di lihat oleh orang biasa makin menegaskan jika terjadi sesuatu pada wanita itu.
Rafa mendekati Luna, tapi wanita itu mundur saat keponakannya mendekat, sedang Rizal bingung dengan ulah kedua keponakannya itu.
Raka menangkapnya dari belakang, dan Rafa membacakan doa dan kemudian menarik sesuatu untuk mahluk itu meninggalkan tubuh Luna.
tapi mahluk itu terlalu lemah untuk membalas kedua saudara itu, ternyata sebuah arwah bayi yang tak bisa menyebrang.
apalagi Luna juga baru selesai nifas, jadilah itu bayi itu mengira jika Luna yang melahirkan dirinya.
Rafa mengendong sesuatu di tangannya, saat melihat Wulan, arwah itu ingin merasuki tubuh Wulan yang juga sedang lemah.
tapi tanpa di duga Raka membuat arwah itu untuk menyebrang secepatnya.
dan rafa tertawa melihat Raka yang tanpa sadar sudah mengusir hantu itu karena ingin melindungi istrinya.
__ADS_1
sedang Wulan masih nampak syok dengan barusan, apalagi dia juga melihat bayi itu tertawa menyeramkan saat ingin merasuki dirinya.
"bawa istrimu masuk Raka, kasihan dia kaget begitu, biar aku bertanya pada Tante Luna apa yang sebenarnya terjadi," jawab Rafa yang di angguki oleh Raka.
Raka mengajak istrinya untuk beristirahat, sedang Rafa menghampiri Luna yang juga msih nampak syok.
"Tante Luna, habis melakukan apa? sampai di ikuti sesuatu yang cukup menyeramkan tadi?" kata Rafa.
"maaf ... sebenarnya tadi waktu ke toilet tempat wisata, Tante tak sengaja menginjak sebuah sesajen yang dintsduh di pojokan," jawab Luna.
"Tante lagi kali hati-hati ya, karena sepertinya itu adalah sesaji yang sengaja di taruh untuk menenangkan arwah anak kecil yang penasaran, atau lebih tepatnya arwah bayi itu adalah anak yang mati penasaran," kata Rafa.
"iya terima kasih, lain kali Tante akan hati-hati," jawab Luna.
Wulan sedang berada di kamar bersama dengan Raka, dia mencoba pakaian barunya di tanpa membuka baju luarnya.
"sayang ku ... apa bisa kamu merasakan itu nyaman atau tidak, dengan cara seperti itu?" tanya Raka.
"yang penting aku sudah yakin ukurannya, tapi kenapa ada gaun malam juga, aku tak ingat saat membelinya, jangan bilang ini mas yang ngambil?"
Raka tersenyum mengangguk, kemudian dia melepaskan pakaian yang di coba oleh Wulan.
"itu harus di pakai saat kita liburan nanti, terlebih kita akan berangkat ke Lombok saat anak-anak sekolah liburan," jawab Raka
Raka menarik Wulan ke pangkuannya, tak hanya itu, Raka mencium bibir istrinya.
Wulan pun merangkul leher Raka, dan membalas ciuman suaminya, tangan Raka pun mulai sangat aktif.
"mas ... ini sudah sore, lebih baik kita mandi," tahan Wulan saat merasakan tangan Raka.
Raka pun membaringkan istrinya, kemudian mengunci pintu dan langsung melakukan kegiatan panas sore mereka.
bahkan tubuh Wulan merasa sangat lemas karena ulah suaminya itu, apalagi dengan posisinya di atas, belum lagi pria itu seakan sangat kuat.
"mas ... aku lelah ..." bisik Wulan dengan suara rendah.
Raka pun sangat menikmati waktunya saat puas, dia bahkan tetap memeluk Wulan yang berada di pangkuannya.
Raka pun mencium kening wulan, Rafa menempelkan sebuah kertas di depan pintu kamar Raka.
pria itu sebenarnya ingin memanggil dan mengajak Raka untuk pergi rapat dengan para remaja.
tapi dia sempat mendengar suara yang tak asing, akhirnya dia iseng membuat tulisan itu agar tak mengganggu pasangan pengantin baru itu.
Raka pun melihat Wulan yang sekarang makin sering kelahan, dia pun masih menemani istrinya.
"kamu sedang tak enak badan dek? kenapa kamu begitu lemah?" tanya Raka.
"maaf mas, mungkin aku hanya kelelahan saja, apalagi kamu tadi terlalu bersemangat untuk melakukannya," jawab Wulan.
"maaf ... aku lupa jika kamu masih begitu muda, habis kamu begitu memabukkan hingga membuatku melupakan segalanya," jawab Raka.
Wulan pun malu dan mencubit perut Raka, tapi Raka malah memeluknya erat.
__ADS_1
"jangan berontak dek, atau adik kecilku akan bangun dan aku tak mau membuatmu terbaring lagi nantinya," bisik Raka.
"kamu ngomong apa sih mas," kesal Wulan.
raka pun mengelus punggung Wulan yang ternyata sudah terlelap, dia pun bangun dan keluar untuk mandi.
tapi terlihat suasana rumah begitu sepi, dia pun memutuskan mandi dan menyiapkan sesuatu di air-fryer.
dia memanaskan ayam tepung yang masih tersimpan di kulkas, selepas mandi dia pun membuat saus untuk cemilan itu.
tapi saat ingin kembali ke kamarnya, dia kaget melihat ada sesuatu di pintu kamarnya.
Raka tak ambil pusing,dia pun masuk dan menaruh susu dan juga ayam saus merah itu di meja
"sayang bangun yuk, sebentar lagi magrib, ayo makan dulu," panggil Raka.
"mas kok reot sih,wah itu ayam kesukaan ku?" tanya Wulan berbinar melihat suaminya.
"iya sayang, ini spesial untuk mu, jadi cepat makan dan habiskan ya, aku tak mau kamu lemah seperti ini, karena aku tak mengenali istriku," jawab Raka.
"terima kasih ...."
Wulan pun makan sambil so suapi Raka, bahkan dia juga belum sepenuhnya memakai bajunya.
Raka dengan telaten menyuapi dan menggoda istrinya itu, setelah itu Raka langsung mengendong Wulan dan mengantarkan wanita itu ke kamar mandi.
tak lupa Raka juga mengambilkan baju untuk Wulan agar tak repot lagi nanti.
tapi Raka mengambilkan sebuah daster yang tadi dia beli, dan beruntung daster itu cukup besar untuk tubuh Wulan.
Raka melihat ke arah p*y*d*r* milik istrinya yang makin terlihat berisi, "dek kok makin gede?" tanya Raka sbil memeragakan dengan tangan di dadanya.
"kebanyakan mas mainin jadi gini," jawab Wulan asal.
"benarkah, baru tau aku, ya sudah makin puas deh," kata Raka tertawa melihat reaksi istrinya.
keduanya pun sholat di mushola, dan kebetulan jika semua remaja Mushola ada di sana.
"widih bos besar, baru bangun tidur nih ..." goda wanita itu.
"udah diem deh, memang akan ada acara apa? bukankah acara Agustusan masih tiga bulan lagi," jawab pria itu bingung.
"meski begitu kita harus menyiapkannya dengan baik dan agar semua terlihat sempurna, jadi kita tidak keteteran nantinya," jawab Rafa.
"aku bagian pendanaan saja, dan tahun ini desa kita tak boleh dari desa manapun, dan harus sangat meriah, kalian mengerti?" jawab Raka.
"mengerti mas, dan kami akan melakukan beberapa survey tentang apa saja yang akan kami buat dan menjadi unggulan untuk desa kita," jawab kepala Tarang taruna desa.
"baiklah, soal dana sudah beres dan semua warga wajib ikut agar ikut memeriahkan, dan jangan lupa untuk lomba juga harus di persiapkan," jawab Raka.
"siap siap, kamu terima beres saja, dan nikmati liburan mu berdua," kata Rafa.
"pasti dong, tapi ingat ya, selama aku pergi dan kau membuat kekacauan, maka aku yang akan menghajar mu," kata Raka menginggatkan saudaramu itu.
__ADS_1
"siap bos, paling aku buat berantakan sedikit saja," jawab Rafa tertawa.