Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Bertemu


__ADS_3

Felix menghampiri bibi Jen yang kala itu terlihat baru saja kembali bersama Yuwen.


Yuwen memberikan kotak yang berisikan tanaman obat kepada Felix.


Ia meninggalkan bibi Jen dan Felix menuju kastil karena mendapatkan panggilan dari ibunda Ratu Calista.


Felix mengajak Bibi Jen sedikit menjauh dari kastil agar pembicaraan mereka tidak didengarkan oleh siapapun.


"Bibi tadi aku melihat Sherli dikamar mahluk itu, dia terbaring tidak berdaya, kita harus segera bertindak" ucap Felix cemas.


Ia merasa ingin masuk kedalam dan membawa paksa Sherli untuk kembali kedunia yang semestinya.


"Iya Felix, setelah ini kita coba rencana awal, jika tidak berhasil. Kita harus tetap kembali kedunia kita nanti, karena keluarga Sherli pasti juga menantikan kabar dirinya." Felix dan bibi Jen membicarakan rencana mereka untuk menyelamatkan Sherli.


*


Hongli tidak meninggalkan kamarnya, ia betah berlama-lama didalam kamar tersebut menghabiskan waktu berdua dengan Sherli.


Setelah melihat respon Sherli yang memihaknya ia merasa sangat berbunga dan bahagia, tidak jarang ia bersikap manja dan kekanakan pada gadis itu, seperti saat ini.


Ia meletakkan kepalanya dipangkuan Sherli sambil bercerita.


Sherli yang awalnya enggan untuk menopang kepala Hongli di pangkuannya, terpaksa menuruti pria itu karena berbagai rengekan dan bujuk rayunya.


Sherli juga berusaha untuk menahan amarahnya saat Hongli terkadang jahil kepadannya, yang ia bisa hanya menghela nafas menetralkan hatinya, ini demi kebaikan semua orang! begitulah fikirannya.


Ia masih saja memikirkan orang lain disaat nasipnya sendiri patut dipertanyakan keselamatannya.


"Kau mau mendengar cerita, Sher?" Hongli memandang wajah Sherli yang masih menopang kepala dipangkuannya.


Sherli tersenyum kearah laki-laki itu, ia mengangguk pelan menjawabnya.


"Kau tau Sher? Aku anak tunggal ibundaku. Aku dari kecil hanya memiliki Yuwen dan Naihe di kastil ini untuk berteman. Entah mengapa ibunda tidak mengizinkanku barmain dengan anak lain hingga umurku lima belas tahun" cerita Hongli. Sherli mendengarkan dengan seksama cerita Hongli.


"Mungkin karena kau putra mahkota, jadi nibi berusaha melindungimu, Kak!" jawab Sherli.


Hongli mengeryit memikirkan perkataan Sherli.


"Mungkin begitu, mungkin juga tidak. Jika aku putra mahkota seharusnya aku diperkenalkan pada penduduk disini agar aku dapat belajar merawat mereka karena aku penerus ibunda" ucap Hongli.


Sherli terdiam, ia berfikir sejenak. "Apapun yang bibi lakukan kepadamu, itu pasti untuk kebaikanmu, Kak!" jawab Sherli.


Hongli terdiam ia mengangguk membenarkan ucapan Sherli.


"Boleh aku bertanya, Kak?" Sherli memandang Hongli.


"Apa?" ucap Hongli penasaran.


"Dimana ayah, Kakak?" Hongli terdiam, ia menggeleng pelan menjawab gadis itu.


"Aku tidak tahu, aku tidak pernah melihatnya" ucapnya sedih.


Sherli terdiam ia sungguh menyesal menanyakan hal it. "Maafkan aku, Kak! Aku tidak bermaksud membuat Kakak sedih" sesal Sherli menunduk.


Hongli bangkit dari pangkuan Sherli, ia meraih dagu gadis itu yang menunduk agar menatapnya.


"Aku tidak bersedih Sher! Jangan difikirkan! Aku tidak pernah bertemu dengan ayahku tapi kau lihat kan aku tumbuh menjadi laki-laki yang kuat" ucapnya tersenyum.

__ADS_1


Hongli tidak ingin merusak suasana indah yang ia rasakan saat ini.


Sherli tersenyum pada laki-laki itu, ia menepuk pelan kepala Hongli.


"Anak pintar" ucapnya. Hal itu membuat Hongli terkekeh bahagia.


Hongli teringat akan pesan ibunda Calista untuk menemui dirinya.


"Mama tadi menyuruhku untuk kekamarnya, aku kesana dulu ya sebentar" Sherli mengangguk.


Hongli segera turun dari tempat tidur dan melangkah keluar dari kamarnya.


"Kak!" Hongli menoleh kembali saat baru memegang knop pintu.


"Ada apa?" Sherli menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia ragu akan mengatakan keinginannya.


"Emm! A-ku" Hongli kembali mendekatkan tubuhnya pada gadis itu, ia duduk disamping ranjang.


"Ada apa? Katakan!" seru Hongli.


"A-pa a-ku boleh berjalan-jalan disekitar?" ucap Sherli takut.


Hongli terdiam, ia memandang lembut gadis itu.


"Kamu bosan? Kamu tidak suka ditempatku?"


pertanyaan itu tentu membuat Sherli takut akan menjawabnya.


"Tidak kok, Kak! " ucapnya cepat sebelum Hongli salah faham.


"Baiklah! Pergilah berkeliling kastil, maafkan aku! Aku tetap akan memasang gelang lengan ini, saat aku selesai, aku akan langsung menemuimu" ucapnya seraya mendaratkan ciuman dikening Sherli. Ia langsung bangkit meninggalkan gadis itu.


Mengapa ia tidak kembali? Tentu saja karena gadis itu tidak memiliki keberania sejauh itu, ia hanya berharap keluarganya tidak cemas akan kondisinya.


Sherli menuju taman kastil yang menampakkan berbagai jenis tanaman segar disana, Ia menuju kursi panjang ditengah taman, untuk sejenak Sherli menepis fikiran buruknya.


Ia harus lebih bersabar berada disana sampai Hongli benar-benar mengizinkannya untuk pulang.


"Ayah dan ibu pasti mencemaskanku" gumam Sherli pelan.


*


Sebelum menuju kamar Ibundanya, Hongli terlebih dahulu menghubungi Yuwen untuk membawakan Sherli obat herbal.


Yuwen segera meraciknya dan menyuruh Felix untuk mengantarkannya, Felix sangat bahagia karena kondisi sedang mendukungnya.


Langkah kaki ia percepat karena tidak sabar ingin menemui kekasihnya di taman kastil.


Felix sejenak berhenti, ia melihat Sherli diujung pandangnya sedang melamun sendirian.


Felix menghampiri Sherli dengan langkah lambat mendorong meja beroda.


Sherli tidak menyadari kehadiran laki-laki itu, hingga Felix duduk bersimpuh didepan tubuhnya.


"Sayang?"Sherli terbuyar akan lamunannya, ia memandang seseorang yang mengeluarkan suara tersebut.


Matanya membulat sempurna saat yang ia lihat ternyata adalah Felix sang kekasihnya.

__ADS_1


Ia segera berhambur memeluk pria itu.


"Kakak! Hiks hiks" tangisnya haru.


Felix membalas pelukan gadis itu, ia mengelus punggung Sherli memberikan ketenangan pada hatinya. Setelah beberapa saat Sherli melepaskan pelukannya, ia memandang Felix dengan penuh heran dan tanya.


"Kakak bagaimana bisa ada disini?" Felix tersenyum, ia menarik anak rambut Sherli yang tergerai menutupi wajah cantiknya kebelakang telinga.


"Aku disini bersama bibi Jen, aku akan menyelamatkan dirimu, keluargamu mencemaskanmu, ayo kita pulang!" ucap lembut Felix.


Sherli mengelengkan kepala pelan, "Itu tidak mudah, Kak! Jika aku pergi kak Hongli akan menyakiti orangtuaku" ucap Sherli menangis.


"Cup cup! Kita akan pulang bersama-sama, lalu kita akan menikah agar mahluk itu tidak bisa mengganggumu lagi, orangtuamu sudah mengetahui hubungan kita!"


Sherli membulatkan matanya, ia sungguh takut dan cemas jika ayah dan ibunya akan marah.


"Apa mereka marah kepadaku?" ucap Sherli takut.


Felix tersenyum melihat ketakutan Sherli, ia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak, keluargamu merestui kita, bahkan aku ada disini orangtuamu yang menyurukku untuk menjemput putri mereka" ucap Felix mengelus lembut pipi Sherli.


Sherli mengeryit tidak percaya.


"Kakak serius?" Felix menganggukkan kepalanya cepat.


Sherli tersenyum mendengar kabar baik ini, ia merasa tenang jika orangtuanya merestui hubungannya dengan Felix.


"Baiklah, sekarang minumlah obatmu dulu!" Felix bangkit dan meraih cangkir dimeja dorong untuk diberikan kepada Sherli.


"Apa ini, Kak?" ucapnya heran.


"Tadi mahluk itu meminta Yuwen tabib istana membuatkan obat herbal untukmu" ucap Felix datar.


"Oh!"


Sherli tidak berani bertanya lagi, ia tahu betul perasaan Felix saat ini, sesuatu yang berkaitan dengan Hongli pasti akan membuatnya sangat marah karena cemburu.


Terlebih sang kekasih dan dirinya sendiri belum menemukan cara untuk berkutik bebas.


"Kak, maafkan aku ya! Aku tahu pasti Kakak sakit hati aku berada ditempat kak Hongli" ucap Sherli menyesal.


Felix mengalihkan pandangannya, ia mengerjapkan mata dan menguatkan hatinya, helaan nafas, hanya itu yang dapat ia lakukan untuk menetralkan amarahnya.


Felix memandang Sherli dalam.


"Kau tahu betul perasaanku saat ini, terlebih melihatmu tidur diatas ranjang mahluk itu namun aku tidak dapat berbuat apa-apa! Jaga saja hatimu agar sesalu setia kepadaku!"


Sherli terdiam, ia tidak menyangka Felix akan melihatanya dikamar Hongli dan tidur diranjangnya. Ia merasa sangat bersalah, namun ia juga tidak dapat berbuat apa-apa.


"Iya, Kak! " Sherli mengangguk pelan, hanya itu yang dapat ia lakukan saat ini.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya ❤.


__ADS_2