
Bibi Jen dan Felix menapakan kakinya didepan pohon bambu, Felix merasa begitu takut akan perjalanan yang akan ia tempuh menembus dunia lain.
Namun, fikirannya tertuju hanya untuk menyelamatkan sang kekasih tersayangnya sehingga ia lupa akan perasaan takutnya.
Bibi Jen menggenggam kalung mutiara biru milik Sherli, sebagai pintu penghubung antar dua dimensi.
Sebelumnya, Sherli sendiri tidak mengerti akan cara mempergunakan kalung tersebut untuk keluar masuk dimensi tersebut, sehingga ia menggantungkan diri pulang diantarkan Hongli.
Bibi Jen meluruskan tangan kirinya dengan kalung menggantung dihadapkan pada pohon bambu tersebut, ia memutar tiga kali kalung tersebut sesuai arah jarum jam.
Angin dingin menerpa tubuh Felix dan bibi Jen seketika, hingga menusuk kedalam tulang terdalam dan menjadikan Felix menggigil ditempatnya.
Saat salah satu pohon bambu tersebut mulai berwarna putih, bibi Jen segera menurunkan tangannya.
Dan saat itu pula angin yang berhembus menusuk tulang mereka berhenti seketika.
Bibi Jen segera menarik pohon bambu tersebut dan nampaklah lingkaran putih seukuran tubuh mereka.
"Ayo kita masuk!" ucap bibi Jen. Felix mengangguk paham, ia mengikuti langkah kaki bibi Jen yang tengah mendahuluinya.
Mereka telah berada didunia yang berbeda, Felix mengedarkan pandangan , ia merasa aneh karena tidak pernah melihat ataupun mendengar situasi disana.
"Itu pasti tempat tinggal mahluk itu, karena mutiara dikalung Sherli bersinar terang disini, dan warna sinarnya senada seakan menemukan pemiliknya" ucap bibi Jen menunjuk kastil dihadapannya.
"Apa yang harus kita lakukan, bibi? Mereka tidak akan mengizinkan kita masuk begitu saja" ucap Felix.
Bibi Jen mengangguk, masalah penghambat sekarang adalah memasuki kastil tersebut. Ia berfikir keras agar dapat menerobos masuk kedalamnya untuk menyelamatkan Sherli.
Bibi Jen melihat seseorang sedang berkebun disamping kastil tersebut, ia memiliki rencana untuk masuk kesana.
Bibi Jen meraih kantung disakunya, ia mengambil gelang yang serupa seperti milik Sherli.
"Pakailah ini! kita akan tercium seperti bangsa mereka jika memakai gelang ini, agar mereka tidak mencurigai kita."
Bibi Jen memberikan gelang tersebut kepada Felix. Mereka segera melingkarkan gelang tersebut di tangan masing-masing.
"Ayo!" Bibi Jen mendahului jalannya mengahampiri seseorang yang tengah ia lihat tadi.
***
Sherli mengerjapkan matanya, ia mencoba mengingat apa yang telah ia lalui.
Ia melihat Hongli yang sedang memeluk tubuhnya, Sherli kembali meratapi nasipnya sendiri. Ia begitu mencemaskan keluarganya mengingat ia pergi pagi tanpa pamit.
"Apa yang harus aku lakukan?" batinnya.
Sherli mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk, lengan yang telah Hongli lukai kembali mengeluarkan darah menjadikan tubuh Sherli tidak berdaya dibuatnya. Ia menyandarkan dirinya disandaran ranjang.
"Aduh!" pekik Sherli.
Hongli yang mendengarkan suara Sherli, membuka matanya dan kembali mencengkram tangan Sherli karena takut jika gadis tersebut akan meninggalkan dirinya.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" ucapnya kesal.
Sherli memandang takut kearah Hongli, ia berusaha menjauhkan tubuhnya dari pria dihadapannya.
"Aku mau pulang, Kak! Tolong lepaskan aku!" ucapnya melelehkan airmata.
Hongli mendudukkan tubuhnya, ia memandang tajam gadis dihadapannya.
"Tidak! Kau harus selalu disini bersamaku!" tegasnya.
Hongli segera menarik tubuh Sherli dipelukannya. Ia mendekap gadis itu begitu erat seakan tidak ingin melepaskannya kembali.
Sherli yang merasa lemah tidak berdaya untuk melawan tenaga Hongli, selain karena perutnya kosong, rasa sakit dilengannya juga sangat menyiksanya.
Hingga nafasnya menjadi berat, dan Sherli lemah tidak berdaya.
"Kau kenapa?" ucap Hongli khawatir.
Ia melepaskan pelukannya dan membaringkan Sherli di ranjangnya, Hongli segera berteriak memanggil seseorang dibalik pintu kamarnya.
Pintu dibuka oleh Ibunda Calista, wanita paruh baya itu menghampiri putranya yang sedang beraut cemas akan gadis disebelahnya.
"Ada apa, Nak?" tanya ibunda Calista.
"Mama Sherli lemah, dia kenapa?" ucap Hongli khawatir. Ibunda Calista memandang acuh gadis itu ia masih merasakan sakit hati saat menjemput Sherli waktu lalu.
"Entahlah, aku akan memanggil tabib Feng agar dia memeriksanya," ibunda Calista meninggalakan kamar Hongli.
"Tabib cepat periksa, dia!" titah Hongli.
"Baik Tuan" tabib Feng segera menghampiri ranjang dan menyentuh tangan Sherli.
"Dia lemah karena perutnya kosong, dan lengannya terluka Tuan, jika dia tidak segera dirawat nyawanya dalam bahanya karena gelang lengan yang kau pasang menggrogoti energinya terus menerus" Hongli membulatkan matanya memandang tabib Feng.
Meskipun ia memaksa Sherli, tetapi gadis itu tetaplah pujaan hatinya yang bagaimanapun tidak bisa ia lepaskannya begitu saja.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Tabib?" tanya Hongli Cemas.
"Biarkan dia mengisi perutnya dulu Tuan, dan saya akan meracikkan obat sementara dahulu untuk menguatkan tubuhnya" jawab tabib Feng.
Hongli berteriak memanggil pelayan yang sedang berlalu lalang, ia meminta dibawakan makanan untuk Sherli.
Sedangkan tabib Feng dan ibunda Calista meninggalkan kamar mereka.
"Apa saya harus menyelamatkan gadis itu, Ibu Ratu?" tanya tabib Feng.
Ia tahu jika wanita paruh baya tersebut tidak menyukai Sherli untuk saat ini, jadi tabib Feng bertanya agar tindakannya tidak membuat ibunda Calista murka.
"Aku masih membutuhkannya untuk kesembuhan putraku, jadi sembuhkan dia!" ucap ibunda Calista.
Tabib Feng pamit menuju ruang kerjanya, ia segera membuatkan obat untuk Sherli.
__ADS_1
*
Hongli membelai lembut pipi Sherli, setelah beberapa lama bersama gadis itu, jantung dan tubuhnya terasa sangat sehat seperti sedia kala.
Sherli mengerjapkan matanya, ia memandang sekitarnya sangat kabur bahkan wajah Hongli nampak kasat dimatanya.
"Kau sudah bangun? Ayo makanlah dulu!" ucap Hongli.
Sherli melirik pria itu tak bergeming, airmatanya lolos dari ekor matanya, membuat Hongli cemas dan segera menyekanya.
"Kamu kenapa? Jangan menangis! Ayo makanlah dulu! Kamu perlu energi Sher!" ucap Hongli.
Sherli menggelengkan kepalanya lemah.
"Tidak! Aku mau pulang, aku tidak mau berada disini!" tangisnya.
Hongli merasa sangat kecewa dengan perkataan Sherli, ia ingin gadis itu bersikap tulus. Namun, sepertinya keadaan sudah berbalik arah, Hongli telah nampak buruk dimata gadis itu juga ibundanya.
Tentu saja, bahkan seorang Ratu yang wajib melindungi dan melerai adanya perpecahan mahluk, justru mengorbankan seorang anak manusia demi putranya sendiri.
"Iya baiklah, tapi makanlah dulu!" ucap Hongli menahan amarah.
"Tidak mau aku mau pulang!" teriak Sherli semakin mengencangkan tangisnya.
Hongli yang tengah menahan amarahnya tidak sanggup menahannya lagi, ia mencengkram lengan Sherli dan mendudukkan paksa gadis itu, membuat Sherli tercengan dan kaku karena menahan sakit dan juga takut.
"Jika kau tidak manuruti perintahku, aku benar-benar akan melenyapkan keluargamu satu-persatu" ucap Hongli dengan tatapan tajam.
Sherli memaku ditempatnya, ia sungguh tidak percaya pria yang sangat ia kenal lemah lembut sekarang telah berubah menjadi monster yang mengrikan.
Sherli tersenggal mendengar ucapan yang sangat menusuk hatinya tersebut. Ia takut pria dihadapannya ini benar-benar akan melenyapkan keluarganya.
"Aku mohon jangan, Kak!" ucap Sherli lembut.
Ia hanya bisa pasrah akan keadaannya, dan menuruti Hongli demi keluarganya.
Hongli menolehkan tubuhnya, ia mengambil makanan yang baru saja ia dapatkan dari salah seorang pelayan.
"Sekarang makanlah, jangan membantahku!" tegas Hongli.
Sherli segera meraih makanan itu, ia berusaha menelah semuanya yang dirasa sangat hambar di indra perasanya karena memikirkan nasip keluarganya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
Terimakasih atas dukungannya ❤.
__ADS_1