Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
arwah butuh teman


__ADS_3

Adri pun mengajak istrinya itu untuk tidur, sedang di rumah orang tua Wulan.


kini Raka dan Wulan tidur lesehan hanya beralaskan kasur dan sebuah kayu sebagai alas kasur.


pasalnya setelah kejadian terakhir, pak Suyatno belum sempat membeli ranjang baru.


tapi Raka makin suka karena dia tak perlu takut berisik saat heboh nanti malam.


sedang Wulan menutup tubuhnya dengan takut, pasalnya suaminya itu sudah tersenyum mesum.


"tuan, tolong jangan berpikiran kotor pada hamba, tolong ..." kata Wulan pura-pura ketakutan.


"tidak boleh sayang, kamu adalah milikku, jadi kamu harus mau menuruti segalanya, kamu mengerti?" kata Raka.


"dasar pria mesum,"


Raka pun menarik istrinya itu hingga masuk ke pelukannya, "aku mencintaimu sayang," lirih Raka.


"mas, tolong istirahat, aku selalu kelelahan saat kamu memintanya," kata eulan memohon.


"tapi jika bukan memintanya padamu, apa aku perlu punya istri lagi," goda Raka.


Wulan pun menutup mulut Raka dengan tangannya, dia pun meneteskan air mata.


"aku mohon jangan mengatakan hal itu, dari pada melihatmu menikahi wanita lain, tolong bunuh aku saja," kata Wulan sedih dan mulai terisak.


"bagaimana bisa aku menikah dengan wanita lain saat hati dan jiwaku adalah milik mu, maafkan aku yang keterlaluan dalam bercanda," kata Raka memeluk istrinya itu.


Raka memang kadang suka lupa jika istrinya hanya seorang gadis berusia belia, terlebih sekarang istrinya juga sedang hamil.


"baiklah sayang, ayo kita tidur saja," ajak Raka.


"tidak mas, aku akan melayani mu, itu tugas dan kewajiban ku sebagai istri mu, dan maaf jika aku tak bisa membuat mas senang dengan semua pelayanan ku."


"kamu selalu yang terbaik, dan jangan merasa dirimu kekurangan," jawab Raka yang mulai melepas jilbab istrinya.


Raka pun mulai berdoa dan setelah itu mulai mencumbu Wulan, Keduanya bahkan melakukannya dalam tenang lampu tidur.


Wulan pun kembali tahluk di bawah Kungkungan suaminya yang perkasa tentunya.


setelah Wulan kelelahan dan tertidur, Raka memilih mandi dan akan shalat malam.


sedang di rumah keluarga Mak nur, Rafa sedang duduk di ruang tamu dan memilih mengaji.


tak lama, Putranya menangis dan Rafa buru-buru bangun dan menenangkan putranya itu.


"kamu juga merasakannya nak? tapi tenang saja ayah selalu akan melindungi mu dan ibumu," kata Rafa mencium putranya.


bayi itu seakan mengerti dan kembali tenang dalam tidur, tapi saat akan menidurkan putranya di ranjang bayi.


Rafa mendengar sebuah rantai bergoyang, bahkan suara itu begitu keras dan nyaring.


Faraz kembali terusik, dan kebetulan Jasmin terbangun mendengar suara rengekan putranya.


"ada apa ayah, baby Faraz lapar atau popoknya basah sayang," kata Jasmin yang terbangun.


"pelankan suaramu sayang," bisik Rafa pada istrinya.


ternyata baby Faraz tidak nyaman karena popoknya basah, dan Jasmin pun mengantikan pempers itu agar bayi Faraz kembali tidur.


sedang Rafa berjalan ke ruang tamu, tenyata ada arwah yang sedang gentayangan.


arwah itu seorang pria yang sedang berjalan dengan tertatih dan di sekujur tubuhnya ada rantai yang terlilit.


"kesalahan apa yang kamu perbuat, hingga menjadi seperti itu," gumam Rafa.


jasmin menggendong putranya dan memilih untuk menepuk bahu Rafa, dan pria itu sedikit terkejut.

__ADS_1


tapi dia sebisa mungkin bersikap biasa, arwah itu terus berjalan denagn menyeret rantai di tubuhnya.


"tolong aku ..."


suara itu terus keluar dari mulutnya dengan lirih, wajah pucat pasi yang tak di kenal oleh Rafa


arwah itu berjalan sampai ke desa tetangga, Raka yang sedang mengaji pun mendengar sebuah suara gemerincing itu.


dia pun bangkit dari duduknya, dan menaruh tasbih di atas kepala istrinya.


dia pun berjalan ke ruang tamu, Ternyata pak Suyatno juga mendengar suara itu dengan sangat keras.


"kamu juga dengar nak?"


"iya pak, suara besi yang bertabrakan, dan seperti ada sesuatu yang di seret, seperti benda berat," jawab raka.


pak Suyatno akan keluar rumah tapi Raka melarangnya, tapi tak terduga banyak orang yang penasaran dan keluar dari rumah.


"tunggu dulu pak, saya takut ini sebuah teror kiriman, atau bisa sebuah pagebluk," kata Raka menahan mertuanya.


pak Suyatno pun memilih menurut, karena menantunya itu pasti lebih mengetahui apa yang terjadi.


benar saja saat warga yang keluar karena penasaran, tiba-tiba ada pagebluk yang terbang melewati mereka.


"bapak punya Kentongan?" tanya Ra panik.


"ada nak, di samping rumah,"jawab pak Suyatno.


"mari pak kita usir mara bahaya itu," kata raka.


Ki Antaboga diam menjaga rumah, Suni mengikuti Raka yang keluar rumah mencari kentongan.


pagebluk itu terus berputar di antara empat rumah tetangga dari pak Suyatno.


raka pun mulai memukul kentongan dengan nada tertentu, kemudian warga yang mengerti pun keluar sambil membawa hal yang sama.


akhirnya malam.itu begitu ramai, dan pagebluk pun hilang, Raka pun belum tau apa yang terjadi.


tapi dia bisa melihat jika arwah itu hilang di salah satu rumah, berarti akan ada musibah yang terjadi.


raka melihat jam sudah pukul tiga, dia dan pak Suyatno pulang dan tak lupa mencuci kaki dan tangan sebelum mama rumah.


Raka melihat Ki Antaboga juga sedang dalam mode siap berjaga, tapi saat dia masuk ke kamarnya.


Wulan terbangun dari tidurnya karena suara ribut tadi, bahkan wanita itu juga sudah mandi.


"ada apa mas? aku sudah lama tak mendengar suara tabuhan Kentongan, apalagi dengan cara ketukan itu?"


"mungkin ada sesuatu yang akan terjadi, dan aku sepertinya harus memasang pagar ghaib pada kediaman orang tua mu dek," kata Raka.


"aku bantu mas, kebetulan Nyai Nawang juga berpesan agar setiap rumah memagari rumah dengan pagar kejawen."


Raka mengangguk, dia dan wulan keluar rumah dan mulai memasang pagar ghaib.


Wulan juga meminta bapaknya untuk membaut pagar pelindung, setelah itu memberikannya pada beberapa tetangga yang percaya.


bagi yang tak percaya Raka juga tak bermasalah, mereka hanya membantu bagi yang percaya.


setelah shalat subuh, Wulan dan Bu mut sedang membuat pepes yabg di inginkan oleh Rafa.


Wulan begitu cekatan membantu sang ibu, sedang Raka membantu pak Suyatno mengambil suket gajah di sawah.


bahkan raka tak keberatan mengendarai cikar, terlebih transportasi itu sudah di tinggalkan.


Raka memang membelikan beberapa sawah untuk mertuanya agar tak kembali ke kota, dan agar terus menemani istrinya di desa.


terlebih wulan juga sudah di boyong ke rumah Mak nur, Raka juga membiayai semua sekolah Fahri karena ternyata adik iparnya itu juga seorang siswa dan santri yang begitu berprestasi.

__ADS_1


jadi raka tak segan untuk menanggung semuanya, terlebih dia sudah di izinkan untuk menikahi istri sebaik wulan.


saat Raka dan pak Suyatno memindahkan suket gajah yang baru di ambil ke kandang sapi.


tiba-tiba terdengar suara pengumuman kematian, dan itu adalah rumah dimana arwah gentayangan itu menghilang.


"innalilahi wa innailaihi rojiun, padahal kemarin bapak sempat bercanda dengan pak Usman, tapi ternyata umurnya sudah tak ada, semua rahasia Tuhan Yang Maha Kuasa," kata pak Suyatno.


"kalau begitu mari pak, kita mandi dan melayat, bagaimana pun dia juga saudara kita," kata Raka.


Raka mengenakan celana kain dan juga baju Koko berwarna hitam, tak lupa pria itu terus membwa tasbih di sakunya.


sedang Bu mut juga melayat tapi tak bisa lama, karena atas permintaan Raka.


Bu mut tak bisa meninggalkan putrinya di rumh sendirian. terlebih Wulan juga sedang hamil muda.


Raka bersalaman dengan para warga, tapi tak terduga seorang ustadz menghampiri pak RT dan keduanya pun mendekati Raka.


Raka yang tau apa yang terjadi pun mengangguk dan ikut masuk kedalam rumah.


tapi Raka melihat begitu banyak sesak rumah itu, bahkan begitu panas karena terlalu sesak.


saat raka melihat keadaan jenazah, fia terkejur bukan main, pasalnya jenazah itu terduduk sambil menempel pada tembok.


bahkn kepala jenazah hancur karena benturan yang terjadi, Raka mengambil sarung tangan miliknya dan menyentuh jenazah.


dia pun masuk kedalam kejadian yang sesungguhnya. dia melihat bagaimana pria itu bermain sabung ayam dan berjudi.


bahkan bermain perempuan, tali yang paling gila pria itu akan membanting ayam yang kalah saat di adu hingga tewas.


bahkan setelah itu di memberikan ayam yang mati dengan cara biadab itu pada orang-orang yang kurang mampu.


terlebih ayam aduan juga tidak sepenuhnya sehat, karena sudah di berikan berbagai obat dan ramuan yang tak jelas.


tiba-tiba Raka berpindah ke di mana arwah gentayangan itu datang dan melihat pria itu sedang tidur.


"rewang ku, ayo melok aku ...."


arwah itu bahkan sempat tersenyum ke arah raka, pak Usman langsung menghantamkan kepalanya sendiri ke dinding dengan sangat keras.


"melok aku...."


pria itu tertawa melihat Raka, kemudian ingin menyentuh Raka tapi sesuatu menarik pria itu kembali.


raka pun terbarik dan memegangi Dadanya, ternyata Ki Anom, prajurit yang selalu mendampingi wuln yang datang menariknya.


"itu bahaya prabu," kata khodam itu


semua warga pun kaget melihat Raka yang biasanya begitu kuat, kini terlihat begitu kesulitan.


"tolong bawakan air hangat, garam kasar, dan juga daun kelor," kata Raka yang mulai bisa menenangkan dirinya.


ada tiga tong besar yang sudah di persiapkan, raka pun terpaksa menyiramkan semuanya di tempat yang sama.


dan beruntung jika jenazah itu bisa di luruskan, dan akhirnya semua penghormatan terakhir bisa di lakukan.


Raka puntak mengira jika pak Usman begitu jahat, dan saat keranda akan di angkat tapi tidak bisa.


"Allahuakbar," kata semua yang ingin mengangkat keranda itu tak bergerak sedikitpun.


raka pun menghampiri istri dari ok Usman, "ibu ... tolong ikhlaskan, tolong maafkan, saya tau ibu teluka dengn semua perlakuan bapak,"


"berat nak, bapak sudah menikah dengan wanita lain dan punya anak di belakang ibu, sakit hati ini ..." tangis wanita itu.


"kalau begitu, bir kami bakar saja jenazah bapak, karena jenazah ang belum di maafkan tidak akan di terima oleh bumi," kata Raka menakuti istri pak Usman.


tapi enak itu tak bergeming, raka pun berdiri, "buat api unggun, dan ku bakar jenazah pak Usman," kata raka dingin.

__ADS_1


"baik nak," jawab pak Suyatno dan para warga.


__ADS_2