Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Kesehatan Hongli


__ADS_3

Felix meletakkan kepalanya di pangkuan mama Marta. Ia begitu antusian dengan kebahagiaan menghiasi wajahnya saat menceritakan ia telah berkunjung di rumah Sherli.


Mama Marta mendengarkan setiap cerita sang putra kesayangannya dengan seksama, ia merasa telah menemukan putranya yang manja dulu.


Papa Dave melihat sang istri sedang duduk membelakanginya di sebuah sofa, ia terheran dengan siapakah istrinya berbicara karena Mama Marta sedikit menundukknan kepalanya dengan tawa bahagia mengelilinginya.


Apa istriku sedang diganggu roh, pikir Papa Dave, ia segera melangkahkan kaki dengan begitu cepat menghampiri sang Istri, nafasnya yang terengah dibuatnya lega karena melihat sosok Felix yang tengah berada dipangkuannya.


"Aku fikir kau kenapa, Sayang! Aku sungguh cemas melihatmu tertawa sendiri, ternyata kau sedang bersama putramu" ucapnya mengelus dada.


Mama Marta dan Felix memandang kearah papa Dave bersamaan, Felix segera bangkit karena melihat raut cemas papanya.


"Kau juga Felix, sudah dewasa kenapa ingin tidur dipangkuan Mamamu seperti bocah" ucap papa Dave kesal.


"Maaf, Pa!" sesal Felix.


Mama Marta bangkit menghampiri sang suami, ia menyentuh lengan kekar suaminya tersebut.


"Sayang, jangan memarahi putramu, Ia manja kan juga menurun darimu, sekarang duduklah dan bergabung dengan kami!" Mama Marta mengajak suaminya untuk duduk disofa bersama mereka.


Felix kembali menceritakan rasa bahagianya kepada orangtuanya.


"Wah! Kau sudah selangkah kedepan, Nak. Berjuanglah dan segera bawa calon menantuku kemari! Papa sudah ingin cucu darimu," ucap Papa Dave antusias.


Felix saling berpandangan dengan mama Marta, ia sungguh tidak menyangka ternyata sosok papanya lah yang akan sangat antusias dengan kisah cintanya, bahkan ia ingin seorang cucu segera.


"Doakan yang terbaik saja Pa untuk putramu ini, kekasihnya masih SMA baru kelas dua" ucap mama Marta.


Papa Dave menurunkan raut bahagianya.


"Yah berarti masih agak lama, pokoknya Papa tidak mau tau, dia lulus kau harus segera menikahinya, Felix. Kau putra satu-satunya Papa dan Mama." Tegasnya.


"Iya Pa, Felix akan berusaha menyakinkan keluarganya dulu" jawab Felix menenangkan. Ia lebih memilih menyudahi pembicaraan karena tau papanya tidak akan mau mengalah dengannya.


"Baiklah Pa, Ma. Felix kekamar dulu, dari kemarin pulang bisnis Felix belum istirahat" pamit Felix. Ia segera menuju lantai dua kamarnya.


"Cepat nikahi dia dan beri Papa cucu!" teriak papa Dave saat Felix baru melangkahkan kaki di anak tangga pertama. Felix tidak menoleh ia hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengarkan papanya.


Saat didepan pintu kamar, Felix segera memutar knop pintu lalu mendorongnya hingga terbuka lebar. Felix segera menjatuhkan tubuhnya diranjang.


Ponsel yang terselip di saku celana segera ia ambil, tangannya sibuk mencari kontak Sherli. Setelah menemukan nomornya, Felix segera menekan lambang telepon pada nomor gadis itu, nada menghubungkan pun terhubung.


"Hallo?" ucap Sherli dari sebrang. Felix mengembangkan senyumannya, ia begitu rindu selalu akan suara sang kekasih.

__ADS_1


"Sedang apa, Sayang?" tanya Felix.


"Sedang santai, Kak!"


"Besok aku mau mengajakmu kerumah, apa kau mau?" tanya Felix. Sherli terdiam memikirkan esok hari.


"Tapi setelah jam 11 ya, Kak! Besok ayahku mengambil raport dan biasanya saat selesai ayah akan pulang dulu baru kembali bekerja. Jika aku tidak dirumah pasti ia akan khawatir," ucap Sherli.


"Baiklah, jam 11.30 aku akan menjemputmu! Kemaren bagaimana mainmu di tempat temanmu?" tanya Felix.


Sherli terdiam, ia sungguh takut Felix akan marah, terlebih ia tidur di kamar Hongli meskipun berbeda ranjang.


"Berjalan lancar Kak, ternyata kemarin acara ulang tahunnya ke-21, namun aku tidak membawa apapun" jawab Sherli.


"Oh begitu," jawab Felix singkat.


"Kamu tidur dimana kemarin?" Sherli membulatkan matanya, pertanyaan yang sangat ia takutkan ternyata dilontarkan juga oleh Felix.


"Emmm, a-ku ti-du-r di rumahnya, Kak," ucapnya terbata. Felix mengeryit curiga mendengar suara terbata Sherli.


"Iya tepatnya dimana? Apa dikamarnya?" ucapnya datar.


Sherli menelan salivanya, apapun yang terjadi ia akan jujur pada Felix, pikirnya.


"I-iya Ka-k, tapi tempat tidur kami terpisah kok Kak karena bertingkat ranjangnya" ucap Sherli menjelaskan. Felix menghela nafas, ia merasa kesal dan juga cemburu mendengar ucapan Sherli.


"Iya, aku baik-baik saja! Kau tahu betul kan bagaimana perasaanku? Aku harap aku dapat mempercayaimu, Sher!" ucapnya gusar.


Sherli terdiam, hatinya begitu teriris seakan merasakan rasa sakit yang sedang Felix rasakan. Entah mengapa ucapan Felix begitu menyakitkan, seakan ia akan kehilangan pria itu.


Tidak terasa airmatanya jatuh membasahi pipinya. Sherli menghela nafas dalam.


"Iya Kak! Aku pasti akan menjaga hatiku untukmu! Maafkan aku jika sudah membuatmu sakit hati," ucap Sherli parau.


Keduanya saling terdiam cukup lama, saling bergulat akan fikirannya masing-masing, menetralkan emosinya.


"Baiklah, istirahatlah! Aku mencintaimu" ucap Felix langsung menutup telepon.


Sherli menatap lekat ponselnya, ia kembali melelehkan airmata, begitu menyesalnya ia telah mengabaikan perasaan Felix yang bahkan rela ia pergi ketempat Hongli.


Perasaan bersalah saat hatinya kembali menengok belas kasih Hongli, menjadikan dirinya semakin merasa sangat bersalah.


"Baiklah, aku akan menghindari kak Hongli, kak Felix sudah sangat berkorban untuk perasaannya kepadaku. Aku tidak ingin menyakitinya lagi. Kak Hongli lupakanlah aku!" batin Sherli pedih.

__ADS_1


Sherli segera melepas kalung pemberian Hongli, dan meletakkan benda yang sebelumnya melingkar dilehernya tersebut didalam laci nakas.


***


"Aduh dadaku!" pekik Hongli yang sedang menyantap makanannya di meja makan.


"Kamu kenapa, Nak? " ucap ibunda Calista khawatir, ia segera bangkit menghampiri sang putra.


Tangannya meraih gelas lalu diisinya dengan air.


"Minumlah dulu!" ucap ibunda Calista menyodorkan gelas pada putranya. Hongli meneguk air digelasnya hingga habis tak tersisa.


"Ma, tubuhku sakit" lengguhnya mengelus dada.


Ibunda Calista semakin panik melihat keadaan Hongli, ia segera memapah putranya kembali kekamarnya.


"Sebentar ya, Nak."


Ibunda Calista segera keluar dari kamar Hongli, tidak lama kemudian ia kembali dengan seorang tabib kastil.


"Tabib, Feng! Tolong periksa putraku segera!" ucap ibunda Calista cemas.


Tabib Feng segera menghampiri Hongli dan menyentuh tangannya, "Apa dia telah menggunakan sihirnya kepada manusia?" tanya tabib Feng pada ibunda Calista.


"Iya Tabib Feng, dia menggunakannya beberapa waktu lalu!" jawab ibunda Calista.


Tabib Feng menghela nafas, ia memandang serius pada ibunda Calista.


"Ibu Ratu, engkau tahu betul dampak dari itu semua kenapa engkau membiarkan putramu melakukan hal itu? Sihirnya telah menyerang jantungnya sebagian, dia harus istirahat penuh hingga beberapa minggu kedepan, aku tidak yakin kapan akan berakhir. Tapi, jika dia memiliki seorang yang ia kasihi, panggilah dia agar jantungnya segera sembuh. Karena kebahagiaan hatinya sangat penting untuk menjaga kesetabilan detak jantungnya," ucap tabib Feng.


Ibunda Calista mengerti akan ucapan tabib Feng, ia berencana memanggil Sherli demi putranya.


"Baiklah Ibu Ratu, saya berikan obat ini dulu sebagai pereda sakit, selebihnya saya akan terus memantau keadaan Tuan Hongli" ucap tabib Feng memberikan kantung obat pada ibunda Calista.


Tabib Feng pun pamit meninggalkan mereka.


Sesaat tabib Feng meninggalkan kamar Hongli, ibunda Calista segera mengambil obat didalam kantung yang diberikan oleh tabib Feng dan ia segera memberikan obat tersebut kepada Hongli.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, coment, vote dan views.


Terimakasih yang telah membaca :).


__ADS_2