Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Kejanggalan


__ADS_3

Felix mengajak Sherli untuk mengunjungi apartemennya, ia tidak jadi membawa Sherli jalan-jalan karena tubuh Sherli yang demam.


Felix ingin memberikan perhatian pada Sherli dan menghabiskan waktu luangnya bersama sang kekasih. Sehingga tidak rela jika Sherli harus pulang kerumah di waktu itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Felix mendekap tubuh Sherli di sofa sambil menyaksikan acara di televisi. Ia berharap Sherli merasa nyaman dengan segala perhatiannya agar Sherli segera sembuh.


Sherli merasa bosan karena tidak melakukan apa-apa selama hampir setengah jam. Panasnya juga tak kunjung turun.


"Aku bosan, Kak!" dengusnya yang mengerucutkan bibir.


Felix tersenyum melihat wajah Sherli, menurutnya gadis yang sedang dipelukakannya terlihat begitu menggemaskan.


"Kamu bosan? Kamu ingin apa?" tanya Felix seraya mengelus pipi Sherli gemas.


Sherli bangkit dari pelukan Felix, ia memandang Felix dengan datar.


"Kakak tadi katanya beli camilan, mana?" Sherli menengadahkan tangan.


Felix melengkungkan bibirnya sehingga terbentuk senyuman. Ia sungguh gemas melihat Sherli yang moodnya berubah-ubah.


"Rasanya aku ingin mencium habis dirinya, tapi aku takut dia akan marah kepadaku."


Felix bangkit mengambil kantong dari supermarket. Ia membuka ikatan yang tidak terlalu kencang tersebut.


Ia membeli begitu banyak camilan karena tidak tau persis apa yang disukai Sherli. Setelah kantong tersebut terbuka, ia segera menata semua isinya di atas meja agar Sherli leluasa memilih. Sebelum itu ia meletakkan kantong berisi makanan di bawah dekat meja.


Sherli menyunggingkan senyuman melihat begitu banyak camilan yang hampir semuanya adalah favoritnya.


Setelah Felix menata seluruh camilan tersebut, ia bangkit kembali untuk duduk. Ia memandang kearah Sherli, dan Sherli juga memandangnya.


"Ini semua untukmu, Sayang! Silahkan!" Sherli begitu berbinar melihat Felix.


"Benarkah, Kak? Aku boleh memakan semuanya?" Felix mengangguk. Sherli segera bangkit , ia memutari meja tersebut untuk memilih camilan yang paling ia sukai.


"Ya Tuhan, dia begitu bahagia seperti bocah. Padahal itu kan hanya camilan" batin Felix sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Sherli mengambil camilan keripik kentang, ia mengembangkan senyuman sambil kembali duduk di sebelah Felix.


"Kamu cuma suka kripik kentang dari semua itu?" tanya Felix yang dijabaw Sherli dengan menggelengkan kepalanya.


"Aku suka semua yang ada dimeja Kak," ucap Sherli bahagia.


"Benarkah? Jika begitu aku akan membelikanmu lebih banyak jika kamu sering kesini," ujar Felix mencubit kedua pipi Sherli. Sherli tertawa merasakan cubitan Felix yang menggelitik.


"Baklah Kak, aku akan sering kemari," Sherli mengalihkan pandangannya ke arah camilan yang ia pegang. Ia segera membuka camilan itu dan memakannya.


Sherli melirik kearah Felix yang memandanginya sedari tadi.


"Kakak mau? ?" Felix mengangguk cepat. Sherli menyodorkan camilan itu kepadanya. Namun, Felix segera menggelengkan kepalanya.


Sherli menggeryit heran."Tadi katanya mau?"

__ADS_1


Felix mengangguk, lalu ia membuka mulutnya, bermaksud meminta Sherli menyuapinya.


"Makan sendiri, Kak!" ucap Sherli.


Ia menyodorkan lebih dekat bungkusan camilan di tubuh Felix. Felix memandang Sherli dengan memelas. Tatapan tersebut berhasil membuat Sherli luluh.


"Baiklah ...."


Sherli segara menarik tangannya, ia mengambil beberapa keping kripik kentang, lalu disuapkan ke mulut Felix. Seketika Felix mengembangkan senyumnya karena Sherli menurutinya.


"Yang sakit siapa, yang manja siapa" gerutu Sherli dalam hati.


Setelah main suap-suapan yang terasa menyebalkan bagi Sherli. Mereka kembali berdiam dan fokus pada tayangan televisi. Jam telah menunjukan pukul 12 siang.


Felix mengangkat tangannya, ia meletakkan di kening Sherli untuk memeriksa apakah panas Sherli telah turun.


"Kenapa panasmu tidak berubah sayang?" ucap Felix cemas.


"Aku juga tidak mengerti, Kak!" jawab Sherli.


Felix mengeryitkan keningnya, ia merasa aneh dengan tubuh Sherli, mengingat obat panas yang ia berikan berdosis agak tinggi.


"Anak ini kenapa sebenarnya?" batin Felix.


Felix meraih ponselnya, ia segera mengetik pesan dan mengirimkan pada Bibi penjual jimat. Felix merasa demam Sherli bukan karena medis. Ia berharap Bibi tersebut dapat mengetahui alasan Sherli demam.


"Bibi Jen, apakah suhu seseorang dapat naik karena suatu hal gaib?" ~ Felix.


"Tentu, Nak! Apalagi jika terjadi bentrok energi negatif dan positif. Apakah kekasihmu sedang mengalaminya?"~ bibi Jen.


"Coba priksa tangan dan kakinya apakah dia menggunakan sesuatu yang janggal, ada atau tidak ada nanti bawa dia kemari!" ~ Bibi Jen.


"Baik, bibi!" ~ Felix.


Felix kembali meletakkan ponselnya, ia menghadap ke arah Sherli.


"Sayang? Boleh aku melihat kaki dan tanganmu?" ucap Felix serius.


"Kenapa, Kak?" ucap Sherli heran.


"Aku mohon menurutlah, aku harus memastikan apakah panasmu ini wajar atau tidak," ucap Felix Serius.


Melihat Felix dengan raut yang serius membuat Sherli terselip perasaan takut. Ia menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan.


Felix meletakkan kedua kaki Sherli diatas sofa, ia memandang dengan wajah serius. Felix membolak-balik kaki Sherli hingga lututnya. Namun ia tidak menjumpai sesuatu yang janggal disana.


Sherli terfokus ketika melihat Felix yang serius, bahkan tidak pernah sekalipun ia lihat sebelumnya. Ia hanya diam saja karena melihat tidak ada tanda tidak sopan pada tingkahnya.


Felix beralih pada tangan kanan Sherli. Ia menelusuri setiap jengkal tangannya hinggi lengan. Namun ia juga tidak menemukan sesuatu yang aneh.


Felix beralih pada tangan kirinya, ketika ia sampai ke lengan Sherli. Felix melihat gelang perak disana, ia tertegun melihat galang tersebut.


Pandangannya beralih memandang Sherli serius.

__ADS_1


"Sher ini gelang apa?" tanya Felix.


Sherli terdiam sejenak, ia gugup akan menjelaskannya. Ia memutar otak berusaha mencari alasan.


"Oh tidak apa yang harus aku katakan, kak Felix pasti marah jika tau ini dari kak Hongli " batin Sherli cemas.


"Ini hanya gelang aksesoris biasa kok, Kak!" ucapnya gugup dengan mengalihkan pandangan.


Felix merasa aneh dengan gelagat Sherli. Felix meraih dagu gadis tersebut agar memandang dirinya.


"Jangan berbohong kepadaku!" tegas Felix.


"Iya," jawab Sherli.


Ia berusaha menyembunyikan kebenarannya. Felix terdiam memandang Sherli. Ia tidak ingin memaksa gadis tersebut.


"Dia berbohong, bahkan setelah tubuhnya demam. Apa yang sedang kamu sembunyikan Sher?" batin Felix.


Sherli terdiam tanpa kata, ia tidak ingin membuat Felix semakin curiga. Sherli berusaha mengalihkan perhatiannya.


"Kak, aku lapar," ucap Sherli memelas.


Felix menyadari jika Sherli berusaha mengalihkan perhatiannya. Ia menurutinya dan berusaha sabar untuk tidak memaksa sang kekasih untuk mengatakan sejujurnya.


"Baiklah, ayo makan dulu." Felix menarik Sherli menuju ke meja makan.


Sherli makan dengan lahap, untuk menenangkan kekhawatiran Felix terhadapnya. Ia pura-pura tidak sadar ketika Felix terus memandanginya.


"Kak maaf aku membohongimu."


Setelah selesai makan Sherli kembali mendudukkan tubuhnya disofa. Felix membersihkan bekas makan mereka. Ia bergegas mengambil jaket di kamar, lalu menuju dimana Sherli berada.


"Sayang, ayo aku ingin mengajakmu kesuatu tempat!" ucap Felix tersenyum. Ia tidak ingin Sherli curiga padanya.


Sherli segera mengambil tasnya, Felix mengenggam erat tangan Sherli hingga ke mobilnya.


Saat diperjalanan keheningan tercipta, Felix terdiam dengan wajah datar saat melajukan mobil tanpa mengajak Sherli untuk berbicara, fikirannya tidak tenang memikirkan keadaan Sherli.


Sherli yang melihat Felix bersikap tidak biasa merasa cemas.


"Kak Felix kita mau kemana?" tanya Sherli.


"Tunggu saja!" jawab Felix datar, tanpa memandang.


Sherli merasa sedih saat Felix sedikit acuh padanya. Ia diam memandang jalanan yang mereka lewati.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.

__ADS_1


Terimakasih yang telah membaca :).


__ADS_2