
Wulan memilih keluar dari sekolah setelah pernikahan, dan akan ikut ujian paket di sekolah Raka nantinya.
Zuzun kaget saat melihat Wulan datang ke sekolah Raka, untuk berpamitan pada semua orang.
"kamu jahat banget sih, masak nikah aku gak di undang, terus siapa nih suamimu, aku juga belum tau, apalagi tadi pagi semua orang desa heboh, karena pernikahan dadakan kamu," kata Zuzun.
"aduh maaf ya, emang semuanya serba dadakan, tapi kita nanti pasti sering ketemu kok," jawab Wulan.
tapi dia tak menemukan Irma, "dia masih belum masuk, keluarganya juga masih belum keluar rumah," kata Zuzun yang tau wulan sedang mecari Irma
"apa dia baik-baik saja, maaf aku hanya khawatir," jawab gadis itu
"sepertinya iya, mereka hanya sedikit malu mungkin, apalagi setelah bapak Irma begitu buruk memintamu untuk menjadi pelunas hutang," jawab Zuzun.
"baiklah, aku akan menemuinya jika sempat," pamit Wulan.
saat bertemu Nurul, Wulan pun mencium tangan wanita itu, kebetulan Raka juga baru selesai mengajar.
Zuzun kaget saat Wulan mencium tangan Raka, pasalnya Raka selalu menolak untuk bersalaman dengan lawan jenis.
Zuzun sekarang mengerti jika suami Wulan adalah Raka, pemilik yayasan sekolah ini.
Wulan pamit ingin pulang, tapi Raka menahannya di ruangan miliknya, sedang Nurul hanya mengizinkan.
"kenapa mau pulang buru-buru sih dek, tunggulah sampai aku selesai mengajar," kata Raka pada istrinya itu.
"gak boleh gitu mas, nanti aku menganggu guru yang ada perlu dengan mas, aku pulang karena ingin membantu mbak jasmin," kata Wulan sopan.
"memang tuh suaminya kemana lagi? bukannya Rafa terus di rumah?" tanya Raka.
"mas ih kok gitu sih, itu saudara mas loh, aku pamit ya," kata Wulan uang masih di tahan Raka.
Raka pun nampak sedih dan memeluk tubuh istrinya itu, Wulan pun tersenyum dan mengangkat wajah Raka.
kemudian Wulan mencium kening dan pipi suaminya, "sudah ya mas, aku pamit," bisik Wulan.
"tunggu ... belum semua," kata Raka memeluk Wulan yang jatuh dalam pangkuannya.
Wulan pun tersenyum malu, kemudian mencium hidung dan bibir suaminya itu.
"sudah mas, aku pamit ya, assalamualaikum ..." pamit Wulan mencium tangan Raka.
"waalaikum salam sayang ..." jawab Raka yang tersenyum setelah mencium kening istrinya itu.
Raka tersenyum, pasalnya dia baru merasakan apa yang di katakan oleh Rafa setelah menikah semua hal halal untuk di lakukan.
Wulan pun pamit dan menuju ke rumah, dia mengendarai motor miliknya sendiri.
karena Raka khusus membelikannya untuk di pakai Wulan, tapi dia ingat jika tadi pagi dia belum sempat belanja.
dia mampir ke sebuah tempat penjual sayur, dan akan memasak makanan yang mungkin sudah biasa dia masak saja.
setelah itu dia kembali pulang, tapi saat sampai malah melihat Rafa yang sedang cemberut.
"assalamualaikum mas Rafa ..." kaget Wulan melihat ekspresi wajah pria itu.
"waalaikum salam," jawab Rafa singkat.
melihat itu, Wulan yang sedikit takut langsung masuk dan tak sengaja menabrak Mak nur.
"maaf eyang," kata Wulan yang mencium tangan Mak nur.
"kotor nduk, kamu kenapa? kok lari-lari gitu," bingung Mak nur.
__ADS_1
"anu eyang, saya takut dengan mas Rafa, habis mukanya di tekuk gitu," jawab Wulan jujur.
"dia sedang ngambek nduk, karena Jasmin lupa tidak membuatkan cemilan," kata Mak nur.
"loh, di kulkas tadi pagi aku membuat puding eyang, kebetulan tadi mas Raka yang bawa satu, Rania satu, seharusnya masih ada beberapa," kata Wulan.
"sudah habis dek, di bawa Rania sama Raka tadi, mereka gak mau berbagai, katanya mas Rafa yang selalu usil jadi mereka membawanya semua," jawab Jasmin.
"kalau begitu biar saya buatkan lagi, mbak Jasmin temenin mas Rafa saja, lagi pula kasihan lagi hamil tua juga," kata Wulan sopan.
"terima kasih ya, ya Allah senangnya punya adik seperti mu," kata Jasmin.
Wulan pun mengangguk, Mak nur tersenyum melihat kedua ipar itu rukun.
Wulan pun membuatkan puding box untuk Rafa, setelah itu Wulan juga memasak untuk makan siang.
dia membuat ayam dan tahu tempe bacem, tak lupa sayur asem dan juga sambal.
karena dia juga masih belajar, Rafa datang ke dapur fan melihat Wulan masih sibuk memasak.
"Wulan, pudingnya aku ambil ya," izin Rafa.
"iya mas, itu juga ada buat mbak Jasmin yang rasa buahnya, aku tidak kasih susu full cream, aku ganti gula diet milik mas Raka," kata Wulan.
"wah terima kasih ya, kamu memang adik ipar yang baik deh, tapi awas jangan sampai suamimu marah karena gula dietnya habis," kata Rafa mengingatkan.
"iya mas, tadi kebetulan baru beli juga mas, jadi aman," jawab Wulan
ya Raka memang mengurangi gula karena dia sempat mengetahui jika gula dalam tubuhnya tinggi.
itulah kenapa dia mulai diet gula, bahkan sampai keterusan hingga sekarang dan membentuk tubuhnya.
pukul satu siang Raka pulang, dan langsung memeluk Wulan yang baru selesai shalat Dhuhur.
"baru selesai mengaji mas, shalatnya selesai dari tadi," jawab Wulan.
Raka pun mencium pipi Wulan dan juga bibir istri kecilnya itu, "hentikan mas, tolong jangan seperti ini, masih siang," bisik Wulan.
"kenapa, apa kita perlu bulan madu, agar kamu tak malu?" bisik Raka.
"mas ngomong apa sih, sudah ayo ganti baju yuk, setelah itu kita makan siang," ajak Wulan lembut.
"kamu masak dek?" tanya Raka.
"hanya sedikit kok, dan hanya masakan itu yang aku bisa saat ini," jawab Wulan.
Raka pun ganti baju, dan setelah sampai di dapur, semua orang berkumpul.
"aduh-aduh suaminya aja baru pulang, udah kalah duluan sama yang lain," kata Raka tak habis pikir.
"makan Raka, masakan Jasmin enak deh," kata Rafa yang langsung dapat cubitan istrinya.
"mas ini ngomong apa, orang bukan aku yang masak, kamu lupa dari tadi kamu mengunci aku di kamar," kesal wanita itu.
ingin rasanya Raka memukul Rafa saat ini, "sudah mas, biar aku gorengkan lagi ya, masih ada kok," kata Wulan menenangkan Raka.
"aku tunggu di kamar saja ya," pamit Raka.
"tuh kan mas Raka ngambek, gara-gara mas," kata Jasmin.
"gak papa mbak, Monggo di sekecaaken, saya bisa memasaknya lagi," jawab Wulan.
Mak nur pun tak menyangka jika kedua cucu menantunya begitu baik, bahkan menghadapi kelakuan dari suami mereka.
__ADS_1
bahkan Mak nur baru tau jika Wulan lebih sabar lagi dari Jasmin, Wulan pun mengambil satu piring untuk Raka.
"kamu tidak makan nak?" tanya Mak nur.
"nanti Mak, tunggu mas Raka selesai, itu ajaran dari ibu, saya permisi," pamit Wulan.
Mak nur pun mengangguk, Raka kaget melihat jika istrinya hanya membawa satu piring.
"kamu juga belum makan kan? kenapa hanya bawa satu?" tanya Raka.
"tanganku cuma dua mas, jadi mas makan dulu, nanti aku bisa makan setelah mas selesai," jawab Wulan.
Raka pun mulai makan, dan menyuapi istrinya, "sudah mas, nanti mas tidak kenyang," kata Wulan menolak dan menyuapkan pada mulut suaminya.
Raka pun mengangguk, setelah itu gilirannya menunggui Wulan makan, yang ternyata gadis itu makan sedikit.
"kamu diet, gak usah ya," kata Raka.
"tidak mas, ini memang porsi makan ku, mungkin dulu waktu di ciptakan, tanahnya kecampuran baking soda, jadinya ngembang walau kena air," jawab Wulan tersenyum.
"kamu itu ngomong apa sih, aku menerima semua yang kamu miliki, dan mulai besok gak usah repot-repot karena besok akan ada yang membantu di rumah," kata Raka.
"kok gitu, terus aku ngapain dong mas, setidaknya aku bisa membantu menyiapkan makanan untuk keluarga ini," kata Wulan
"aku menikahi mu untuk jadi istriku, bukan baby sitter atau pembantuku, jadi kamu ingat itu ya, jangan capek dan tugasmu hanya melayani ku," bisik Raka yang membuat wajah Wulan malu.
tapi saat Raka ingin mencium istrinya, tak di duga Rania datang, "mbak Wulan, ayo ajari Rania buat kaligrafi ya, ada tugas dari sekolah," kata gadis itu sambil berteriak.
"iya sayang, ayo ..." jawab Wulan yang baru selesai mencuci piring.
dan saat ke rumah Adri di sebelah, tak terduga, karena Jasmin juga ada disana.
"ini ada apa? kenapa berkumpul di sini?" kaget Wulan.
"aku juga gak tau, tadi Rania yang menarik ku ke sini, katanya mau di ajari bikin gambar," jawab Jasmin.
"loh kok sama, tapi tadi katanya mau di ajari buat kaligrafi," jawab Wulan.
"maaf ... sebenarnya Rania hanya mau bermain dengan mbak Jasmin dan mbak Wulan, habis bunda sibuk dari tadi," adu gadis itu.
Wulan dan Jasmin pun mengerti dan membantu Rania mengerjakan tugasnya.
tak lama Nurul bergabung, Rania pun kini memiliki semua kasih sayang yang dulu sangat di rindukan.
dari mulai Nurul sebagai ibu sambungnya, dan juga dua kakak perempuan yang begitu dia inginkan.
sedang dua pria itu sedang merutuki nasibnya yang kalah oleh sang adik, pasalnya Rania menguasai kedua istri mereka.
"sebenarnya kita ini gimana sih, bisa-bisanya kalah sama Rania?" gumam Raka.
"sudah terima saja, asal gadis itu senang, dari pada dia nanti membuat repot," jawab Rafa yang sedang duduk di bawah kebun bambu di belakang rumah.
"udah gak usah ngintip, kamu dari tadi ngeselin tau," kesal Raka menyadari ada sesosok mahluk yang mengintip.
"kamu jangan ngawur Raka!" kaget Rafa melifat sosok hantu itu.
"innalilahi wa innailaihi rojiun, mau apa Tante?" kaget Rafa melihat arwah itu.
"tolong temukan tubuhku, aku ingin tenang Rafa, aku tak mau terus di dunia ini," gumam Nita.
"insyaallah ya Tante, karena kami tak ada petunjuk apapun," kata Raka
"kamu bisa mencarinya di rumah dukun Suryo, karena yang terakhir aku ingat aku di ajak kesana oleh mas Eko," kata Anita.
__ADS_1
"ku kira sudah selesai, ini malah nonggol," kata Rafa berbisik. karena hari kelahiran putranya akan segera datang.