
Hongli terpental karena gelang yang Sherli pakai. Ia menyuruh Sherli untuk melepaskan gelang itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sherli beranjak dari tempatnya, langkah kaki begitu ia langkahkan dengan cepat. Ia segera masuk kedalam kamarnya.
"Mungkin tidak apa-apa aku lepas sebentar, maaf ya kak Felix!" gumam Sherli pelan.
Gelang yang melingkar di tangan kiri Sherli, segera ia putar agar terlepas dari tempatnya. Diletakkannya di laci nakas supaya mudah untuk dijumpai lagi. Sherli bergegas kembali ke belakang rumahnya.
Ibu Ruri yang sedang diruang tegah, melihat Sherli lalu menegurnya.
"Katanya main dibelakang?"
"Iya Bu, aku lupa membawa sesuatu," jawabnya tanpa berhenti melangkah.
Hongli merasa lemas disekujur tubuhnya, ia merasa kesal karena menurutnya Sherli telah berbuat nekat.
"Sepertinya aku terlalu baik kepadanya," dengusnya kesal.
Sherli yang melihat Hongli masih di tempat, segera menghampiri dirinya.
"Kak, Kakak kenapa?" ucapnya khawatir.
Hongli memandang Sherli tajam, "Kau masih bertanya aku kenapa? Ini karena dirimu," ucapnya membentak.
Sherli terdiam, ia tidak mengerti apa yang sedang Hongli katakan. Ia merasa sangat sedih mendapat bentakan dari Hongli. Selintas kenangan tentang pertama kali mereka bertemu, dengan sikap Hongli yang sangat lembut. Membuat Sherli terdiam.
"Kenapa kau terdiam?" tanya Hongli dengan wajah datar.
Lamunan Sherli membuyar seketika, "Aku tidak mengerti dengan yang Kakak katakan, apa yang telah aku perbuat hingga Kakak seperti ini?" tanya Sherli sedih.
Hongli mencengkram kedua bahu Sherli hingga membuatnya meringis kesakitan, pandangannya menajam.
"Kau tidak tau atau pura-pura tidak tau? Gelang yang kau pakai yang telah membuatku begini," ucap Hongli berteriak.
Ia segera melepaskam cengkramannya dari bahu Sherli. Sherli memegangi kedua bahunya seraya menangis. Ia masih tidak mengarti dengan perkataan Hongli, karena ketika Felix berbicara pada wanita toko jimat lalu, iya tidak mendengarkan dengan seksama.
Sherli bangkit dari duduknya, ia menghampiri Hongli, meskipun ia tidak mengerti dengan perkataan Hongli, ia merasa bersalah, karena Hongli terluka dirinya penyebabnya.
Sherli memegang lengan Hongli, "Kak maafkan aku, ini karena aku," ucap Sherli.
Hongli menoleh dengan wajah datar, ia segera menarik tangan Sherli dan melesat pergi. Hongli membawa Sherli di kediamannya. "Kak hentikan! Tanganku sakit," pekiknya. Hongli melepaskan tangannya.
Mereka berada di kamar Hongli, dimana Sherli berada ketika pingsan dulu. Sherli terkejut karena sadar berada di dunia lain.
"Kak! Kenapa Kakak membawaku kesini?" tanyanya takut.
"Duduklah!" titah Hongli.
"Kak!"
"Duduk!" tegas Hongli dengan suara meninggi. Sherli segera mendudukan tubuhnya di pinggir ranjang. Ia gemetar ketakutan.
__ADS_1
Hongli bersimpuh didepan Sherli. Dengan wajah datar ia kembali mengintrogasinya, "Kenapa kau memakai gelang itu?"
"Aku hanya ingin memakainya, Kak," jawabnya seraya menunduk.
"Kau mau menjauhiku?" Hongli memandang tajam.
"Tidak, Kak!" jawab Sherli cepat.
"Lalu kenapa kau memakai gelang itu, kau dapat dari mana gelang itu?" tanya Hongli.
"A-aku di-diberi kak Felix," ucapnya terbata.
Hongli tersenyum sarkas, ia segera mengangkat dagu Sherli yang menunduk sedari tadi. Wajahnya telah basah dengan air mata.
"Sepertinya pacarmu sangat menjagamu," ucapnya sambil mengeryitkan salah satu alisnya. Sherli hanya diam tanpa berani menjawab.
"Kenapa kau menangis kau takut padaku?" tanyanya datar. Sherli gemetar ketakutan, ia memberanikan membuka mulut.
"K-ke-na-pa Ka-kak jadi kasar padaku?" ucapnya terbata dengan air mata yang terus menetes.
"Ini semua karena kau, kau memakai gelang mengusir roh yang membuatku terpental," ucap Hongli dengan mata tajam.
Sherli terdiam, ia baru menyadari tentang gelang itu. Seketika perasaan menyesal datang, karena telah melepaskan gelang tersebut.
Ia hanya bisa berharap Hongli segera tenang agar dia segera dikembalikan kedunianya.
Segala bujukan Sherli coba untuk dapat kembali kerumahnya.
"Kak maafkan aku, aku menyesal"
"Apa aku bisa kembali?” batinnya perih.
"Kak maaf, aku benar-benar menyesal, aku berjanji tidak akan menjauhimu, dan tidak akan memakai gelang yang telah melukaimu lagi, tolong percayalah!" ucap Sherli lembut . Hongli menghela nafas.
Ia bangkit tanpa melepaskan pandangannya kearah Sherli.
"Naiklah keranjang!" titah Hongli.
Sherli menoleh kearah ranjang sekilas, fikiran buruk tentang dirinya, membuatnya gemetar.
Sherli kembali menoleh pada Hongli, "Kak apa maksud, Kakak?" tanya Sherli.
"Naik!" ucapnya Kesal.
Sekilas kilatan merah Sherli saksikan dimata Hongli. Sherli menjadi semakin ketakutan. Dengan ragu ia naik keatas ranjang. Ia menyandarkan dirinya di sandaran tempat tidur.
Hongli segera menghampirinya dan meletakkan kepalanya di pangkuan Sherli. Sherli terkejut melihat tingkah Hongli.
Perasaan lega menerpa Hatinya karena Hongli tidak mencelakainya seperti dugaannya. Seketika tingkah Hongli berubah, ia menjadi manja seperti anak kecil.
"Jangan tinggalkan aku!" ucapnya seraya memeluk kaki Sherli. Sherli tertegun melihatnya, ia merasa bingung harus bersikap bagaimana.
Karena Sherli tidak menjawab, Hongli mengangkat wahajahnya melihat kearah Sherli.
__ADS_1
"Sher jangan tinggalkan aku!" ucapmya dengan wajah sendu.
"Iya Kak, aku tidak akan pergi menjauhimu," jawab Sherli tersenyum kecil.
"Kamu berjanji?" tanya Hongli sendu.
Sherli melirik kesamping, sejujurnya ia ragu karena melihat kemarahan Hongli tadi.
"Sher?" ucap Hongli mengguncangkan tubuhnya. Sherli Hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Hongli segera bangkit dari pangkuan Sherli. Ia memandang Sherli dalam.
"Terima Kasih," ucapnya lalu mencium kilas kening Sherli.
Cup!
"Kak!" seru Sherli kesal seraya mendorong tubuh Hongli. Wajah sendu Hongli berubah menjadi kesal.
Sherli yang menyadari hal itu, segera merubah sikapnya. Hal pertama yang di fikirannya adalah bisa pulang kerumah.
"Jangan tiba-tiba begitu, Kak! Aku terkejut," ucapnya memelas.
Hongli kembali mengembangkan senyumnya, ia mengambil sebuah gelang lengan di laci nakas. Segera ia lingkarkan di lengan kecil Sherli yang terbuka.
"Apa ini kak?" tanya Sherli heran.
"Ini gelang agar aku bisa selalu langsung bertemu denganmu, tepatnya dimanapun kau berada," Sherli membulatkan matanya.
"Kak kenapa seperti ini, Kakak sedang mengendalikanku?" ucap Sherli kesal. Ia berusaha melepas gelang tersebut, namun tidak berhasil.
"Aku tidak ada pilihan lain, karena sepertinya kau mulai takut kepadaku jadi aku hanya berjaga-jaga jika kau benar-benar meninggalkanku, gelang ini tidak akan bisa dilepas tanpa persetujuan dariku!" tegas Hongli.
"Kak tolong jangan begini, kenapa kau tidak mempercayaiku?" ucap Sherli kembali dengan derai air mata.
"Sudahlah jangan membantah! Ayo aku antar kau pulang." Hongli segera membawa Sherli kembali kerumahnya.
Terlihat langit telah meredup sinarnya, Sherli ketakutan mengingat waktu yang begitu cepat berlalu. Ia bergegas pulang, "Kak aku pulang," Sherli segera memutar knop pintu.
Terlihat ibu Ruri mondar mandir cemas. Ketika Sherli masuk ibu Ruri segera menghampirinya.
"Nak, kamu kemana saja, Ibu sangat cemas," ucap Ibu Ruri dengan wajah cemas.
"Maaf, Ibu! Aku berkeliling hingga lupa waktu," ucap Sherli menyesal.
"Jangan diulangi lagi. Ya sudah cepat mandi, dan ganti bajumu!" tutur Ibu Ruri.
Sherli hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Ia bergegas menuju kekamarnya.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views terimakasih :).