Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Diculik


__ADS_3

Sherli mengerjapkan matanya dan mulai terbangun. Ia terdiam sejenak dalam baring berusaha mengumpulkan nyawa yang masih berlarian.


Pandangannya mengedar merasa ada sesuatu yang asing.


"Aku ada dimana?" teriak Sherli terkejut. Ia terperanjak duduk saat mendapati dirinya tidak berada dikamar Felix.


"Ini kan?"


Matanya membulat saat mengetahui ia sadar sedang berada dikamar Hongli.


Sherli bangkit dari tempat tidur. Ia merasa linglung dan ketakutan karena bisa berada ditempat Hongli.


Tangan gadis itu meremas dengan basah kringat. Kakinya melangkah mondar-mandir dengan perasaan tidak tenang.


"Bagaimana bisa aku berada disini? Kak Felix tolong aku..."


Sherli mulai meloloskan airmatanya.


Ceklek!


Sherli menatap pintu yang seketika. Matanya membulat saat melihat Hongli masuk dengan senyum sinisnya. Gadis itu melangkah kebelakang untuk menghindari Hongli saat lelaki itu mulai mendekatinya.


"Nyenyak, Sayang, tidurnya?"


Sherli terkesiap saat punggungnya telah menyentuh dinding. Airmatanya mulai mengalir deras, hatinya bergemuruh takut serta tubuhnya mulai bergetar.


"Ja-jangan mendekat!"


Hongli tersenyum sinis mendengar ucapan Sherli.


"Jangan mendekat? Bahkan sebentar lagi setiap jengkal yang berada ditubuhmu akan menjadi milikku! Kau tidak punya hak memerintahku!"


Sherli semakin gemetar mendengar ucapan Hongli. Tangannya terangkat menutup mulutnya yang terbuka kaku karena sesenggukan menangis.


Hongli semakin mengikis habis jarak diantara mereka. Ia meletakkan kedua tangannya disamping kepala Sherli. Gadis itu yang masih sesenggukan menangis, berusaha mendorong dada Hongli.


"Pergi! Aku sudah menikah! Kau tidak sepantasnya berperilaku seperti ini, Kak!" tegas Sherli. Ia berusaha mendorong tubuh Hongli sekuat tenaganya. Namun, lelaki itu tidak bergerak sedikitpun.


Hongli merengut atas ucapan Sherli. Ia mencekram kedua tangan gadis itu dan diletakkan disamping kepalanya yang ia rasa sangat mengganggu.


"Kau! Jangan menyebut lelaki lain dihadapanku!" teriak Hongli. Sherli memejamkan matanya mendengar suara Hongli yang terasa memekik ditelinganya. Ia merasa sangat ketakutan atas perilaku Hongli.


"Apa dia sudah menyentuhmu?"


Sherli menatap Hongli tajam. Ia seorang istri sekarang. Pertanyaan lelaki itu dirasa sangat konyol, meskipun memang Felix belum menyentuhnya sejauh yang dikira Hongli.


"Suamiku sudah menyentuhku ataupun belum, itu bukan urusanmu!" tegas Sherli.


Hongli merasa murka atas ucapan Sherli. Tatapannya menghunus tajam manik mata gadis itu, lalu turun menyusuri seluruh tubuhnya dari atas hingga bawah hingga terhenti pada tatapan matanya kembali.


"Mana yang telah lelaki brengsek itu sentuh?" tanya Hongli tajam menahan amarah.


"Aku bilang itu bukan urusanmu!"


Hongli telah kehabisan kesabarannya. Ia mendaratkan bibirnya menyurusi leher gadis itu dan menghisap kuat meninggalkan bekas disana.


"Ahk.." pekik gadis itu menahan sakit.

__ADS_1


Hongli tidak memperdulikan suaranya. Bibirnya turun menyusuri dada gadis itu lalu menggigitnya kuat.


"Ahk, sakit! Lepaskan!" teriaknya.


Hongli menyudahi aksinya saat telah puas. Ia memandang Sherli dengan tawa sarkasnya.


"Hahaha, Aku bahkan belum melakukan apapun kau sudah merintih kesakitan, aku harap nanti malam kau kuat akan aksiku yang menuntut."


Hongli melepaskan tangan Sherli. Ia segera menjauh dan keluar dari kamar meninggalkan Sherli.


Kaki gadis itu melemah seakan tidak ada tulang yang menopang tubuhnya. Ia merosot duduk dilantai. Sherli memeluk lututnya dengan tangis yang semakin pecah.


"Kak Felix tolong aku huhuhu!"


***


Felix mengerjapkan matanya, tangannya menepuk ruang disampingnya. Ia terbelalak seketika saat menyadari tempat tersebut yang seharusnya terdapat sang istri sedang terlelap justru kosong.


"Kosong? Kemana Sherli?"


Felix segera bangkit dan menyusuri kamar mencari istrinya. Ia memeriksa ruang ganti dan kamar mandi namun nihil.


"Sayang?" Teriaknya saat keluar dari kamar. Karena tidak ada sahutan Felix mendekat arah dapur, namun gadis itu juga tidak ada.


Felix menyusuri balkon mungkin gadis itu sedang bosan, fikirnya. Namun, nihil Felix tak mendapati Sherli ada disana. Felix kembali menyusuri setiap sudut apartemennya, namun ia tak juga menjumpai Sherli.


"Kamu ada dimana?"


Felix menjatuhkan tubuhnya dimeja makan. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Seketika ia ingat ucapan istrinya tersebut semalam.


"Malam bulan purnama"


Felix bangkit dari duduknya. Ia meraih ponsel dan kunci mobil. Dengan tergesa-gesa Felix segera turun menuju mobilnya dan melajukan dengan kencang.


Felix akan menyusul Sherli, karena menurutnya gadis itu telah diculik oleh Hongli. Waktu baru menunjukkan pukul empat pagi, semoga orang rumah istrinya telah bangun.


*


Felix telah sampai didepan rumah Sherli. Ia heran saat mendapati rumah tersebut nampak terang benerang.


Felix segera turun dan mengetuk pintu rumah Sherli.


Toktok!


Tidak lama kemudian ayah Andre membukakan pintu.


"Ayah aku-"


"Felix! Syukurlah kau datang! Kau mencari Sherli kan? Bibi Jen berkata Sherli ada ditempat itu lagi!" ucap ayah Andre tergesa-gesa.


"Ayah tenanglah! Apa bibi Jen ada disini?" tanya Felix.


"Iya Felix! Masuklah dulu! Temui dia!"


Ayah Andre menuntun Felix memasuki rumah. Mereka telah berkumpul diruang tv. Ibu Ruri tengah menangis mendapati putrinya kembali menghadapi situasi ini.


Bibi Jen bangkit menghampiri Felix, saat mendapati lelaki Itu baru memasuki rungan tersebut.

__ADS_1


"Felix! Kita harus cepat, setidaknya menunda hari ini. Karena mahluk itu hanya dapat menyentuh Sherli pada malam bulan purnama." Ucapnya tergesa-gesa.


"Iya Bibi!"


Felix menghampiri ibu Ruri untuk menenangkannya.


"Ibu tenanglah! Aku akan menjemput Sherli pulang."


Ibu Ruri memandang Felix.


"Kenapa mereka masih dapat mengganggu Sherli? Bukankah Bibi Jen bilang saat kalian terikat pernikahan, mahluh itu sudah tidak bisa mendekati Sherli?" tanya ibu Ruri.


"Mungkin Felix belum melakukannya pada putrimu, Ibu Ruri, jadi kesucian itu yang membuka alam lain diwaktu tertentu mendapat kesempatan." Sahut bibi Jen.


Felix merasa malu mendengar ucapan wanita paruh baya itu. Seketika suasana menjadi canggung.


"Bibi tidak bilang jika aku harus sampai sejauh itu!" ucap Felix pelan.


Bibi menatap Felix heran.


"Aku fikir hal itu tidak perlu aku jelaskan, Felix! Saat aku mengatakan kau harus menikahinya, aku fikir kau sudah mengerti detailnya."


Felix terdiam, ia merasa malu meneruskan pembicaraan tersebut.


"Sudah-sudah semuanya sudah terjadi. Jadi, apa yang harus dilakukan sekarang?" tanya ayah Andre. Semua mata tertuju padanya.


"Kita harus menyusul Sherli dan menyita waktunya. Kekuatan mereka lebih kuat saat bulan purnama. Kita tidak boleh lengah." Felix mengangguk pelan.


"Ayo kita berangkat!"


"Baiklah! Kami berangkat, Ayah, Ibu!"


Ayah Andre menyentuh pundak Felix.


"Hati-hati, Nak! Jaga dirimu! Kami titip Sherli." Ucap ayah Andre.


"Baik, Ayah"


Felix dan bibi Jen segera beranjak meninggalakan rumah.


*


Mereka telah sampai di alam Hongli. Pandangan Felix memandang kastil kediaman Hongli dengan heran.


"Kenapa banyak orang berlalu lalang?"


Bibi Jen menoleh. "Mereka sedang menyiapkan acara pernikahan putra negri ini Felix, tentu saja semua ingin ikut berpartisipasi."


Felix membulatkan matanya. "Jangan sampai itu terjadi!"


"Makanya kita, harus cepat! Kita harus waspada karena mereka sudah mengetahui siapa kita, Ayo!" bibi Jen mendahului jalan.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, coment, vote dan rate.


Terimakasih atas dukungannya ❤.


__ADS_2