
Felix memeriksa tangan dan kaki Sherli untuk melihat, apakah terdapat sesuatu yang janggal sehingga tubuh Sherli menjadi demam tanpa sebab. Namun, Felix tidak menemukan apapun yang dirasa aneh.
Ketika sampai di tangan kiri Sherli, Felix menemukan gelang lengan yang melekat di lengannya. Namun saat ia bertanya kepada Sherli tentang gelang tersebut. Sherli tidak mengatakan yang sejujurnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sherli terdiam di kursi duduknya, ia menyandarkan tubuh di sandaran mobil. Perasaannya menjadi sedih ketika Felix sedikit acuh kepadanya. Padahal Felix sedang memikirkan kondisinya saat ini.
Perjalanan yang mereka tempuh memakan waktu sekitar satu jam lamanya.
Sherli terkesiap saat Felix memberhentikan mobilnya di depan toko jimat hari lalu. Ia memandang Felix dengan penuh tanda tanya.
Bukan apa-apa Sherli terkejut, tetapi rasa takut akan barang-barang ditoko tersebut, belum kunjung memudar hingga sekarang.
"Kak, kenapa kita kesini lagi?" tanya Sherli cemas. Felix memandang kearahnya.
"Tidak apa-apa aku ingin menanyakan sesuatu pada bibi disini."
"Tapi, Kak-" sebelum Sherli menyelesaikan perkataannya. Felix terlebih dahulu turun dari mobilnya.
Sherli memandang Felix yang berjalan memutari mobil dengan raut cemas. Felix menarik gagang pintu, seketika Sherli memandang wajahnya saat pintu berhasil dibuka.
"Turunlah!" titah Felix.
Sherli tak bergeming dengan wajah memelasnya.
"Aku tidak boleh luluh dengan wajahnya, ini demi kebaikannya" batin Felix.
"Kak, aku kan sudah bilang hari lalu, aku takut dengan tempat ini," ucap Sherli memelas.
"Sayang ayolah! Kan aku bersamamu, Bibi Jen juga kan baik," Bujuk Felix.
"Tapi, Kak!"
"Ayolah, Sher!" Felix memegang tangan Sherli, ia menarik gadis itu perlahan.
Dengan ragu Sherli terpaksa keluar dari mobil mengikuti Felix. Felix menutup kembali pintu mobilnya.
Felix mengetuk pintu toko Bibi Jen, karena pintunya tertutup. Sherli berkeringat ketakutan di samping Felix. Ia merapatkan genggaman tangannya pada Felix, membuat pria itu menoleh seketika.
Melihat raut wajah Sherli yang terlihat cemas. Felix membujuknya bahwa semua akan baik-baik saja.
Tidak lama kemudian pintu terbuka, tampaklah pemilik toko tersebut. Felix dan Sherli seketika menoleh padanya.
"Masuklah, Nak!" ucap bibi Jen tersenyum ramah.
"Terimakasih Bibi."
Felix segera masuk menggandeng Sherli dengan bibi Jen memimpin jalannya.
Mereka menuju ruangan hari lalu ketika Felix membeli gelang untuk Sherli. Saat Sherli mengetahui ia kembali ke ruangan tersebut, ia semakin gemetar ketakutan.
Bibi Jen duduk dikursinya, ia segera mempersilahkan Sherli dan Felix untuk duduk.
Setelah meraka duduk, bibi Jen memandang kearah Felix, Felix mengangguk pelan sebagai tanda untuk mempersilahkannya melihat kondisi Sherli.
__ADS_1
Bibi Jen kemudian beralih memandang Sherli yang sedikit menunjukkan wajahnya karena cemas.
Ia memegang tangan Sherli.
"Nak, jangan takut! Aku hanya ingin melihat kondisimu, kata kekasihmu kamu demam ya?" tanya bibi Jen lembut.
Ia berusaha menghilangkan kecemasan yang melanda Sherli. Sherli memandang kearahnya dan mengangguk sebagai jawaban.
"Aku juga merasakan panas ketika memegang tanganmu, apa tubuhmu ada yang sakit?" tanya bibi Jen.
"Tidak Bibi, hanya tubuhku saja yang demam," jawab Sherli.
"Sejak kapan kamu demam?" tanya bibi jen.
"Sejak kemarin malam Bibi, saat aku mau memakai gelang ini karena telah kulepaskan beberapa saat," jawab Sherli menunjuk ke gelang yang Felix belikan.
Felix mengeryitkan keningnya mendengar Sherli melepas gelang pemberiannya.
"Kenapa kamu melepaskan gelang ini, Nak? Bukankah kekasihmu melarang untuk dilepas?" tanya bibi Jen.
Sherli terdiam sejenak, ia kelepasan mengatakan telah melepas gelangnya.
"Ka-karena aku ingin bermain Bibi, aku takut galangnya patah," ucap Sherli berbohong.
"Seharusnya jangan dilepas, gelang ini tidak akan patah meski kau menghantamnya," tutur bibi Jen.
"Iya Bibi, tidak akan aku ulangi lagi," jawab Sherli.
Bibi Jen kembali mengintrogasi Sherli.
"Aku bermain disekitar pohon bambu belakang rumah Bibi," jawab Sherli.
Bibi Jen melihat lengan Sherli yang tertutup bajunya.
"Kata kekasihmu kamu punya gelang lengan ya? Boleh Bibi lihat?" Dengan ragu Sherli menganggukkan kepala.
Bibi Jen beranjak dari duduknya, ia memutari meja dan mendekat pada Sherli. Ia melingkis baju Sherli dan terlihatlah gelang yang melingkar di lengannya.
Seketika Bibi Jen memandang ke arah Felix. Felix memandangnya seolah mencari tau ada apa dengan gelang tersebut.
Bibi jen terdiam, ia kembali memandang gelang tersebut. Ketika usai dan hendak kembali ketempat duduknya, ia melihat kalung Sherli yang bersinar.
"Wah! Kalungmu bagus, coba Bibi lihat," ucapnya seraya menarik kalung tersebut hingga liontinnya terlihat. Sherli hanya terdiam melihat bibi Jen memegang kalungnya.
"Kamu mendapatkan gelang lengan dan kalung ini darimana, Nak?" tanya bibi Jen.
"A-aku beli di pameran, Bibi," jawab Sherli terbata.
Bibi Jen merasa Sherli sedang berbohong, ketika ia memegang gelang dan kalung Sherli. Ia merasakan energi negatif pada benda tersebut.
Bibi Jen kembali kekursinya, ia segera mendudukkan tubuhnya dan kembali memandang kearah Sherli.
"Nak, aku melihat gelang dan kalungmu memiliki energi negatif yang cukup kuat, apakah kamu tidak berbohong mengatakan benda tersebut dari pameran?" tanya bibi Jen.
Sherli terdiam, Ia bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Iya, Bibi," jawab Sherli singkat.
Karena melihat ketidah jujuran Sherli, Bibi jen kembali memegang tangannya untuk meyakinkannya.
"Nak, tolong jujurlah! Karena aku melihat kau demam penyebabnya terdapat energi yang saling peradu di tubuhmu." Seketika Sherli memandang Bibi Jen dengan tatapan takut. Ia bingung apakah Bibi Jen berkata benar atau tidak.
Sherli terdiam tanpa menjawabnya, wajahnya pucat seketika. Felix memegang pundak Sherli yang terdiam. Sehingga Sherli sontak memandangnya.
"Sher, Bibi sedang bertanya kepadamu," ucap Felix.
"Emmm gelang ini," ucap Sherli gugup.
"Nak, energi yang beradu ditubuhmu tidak hanya akan menyerangmu, tetapi juga keluargamu. Jadi tolong jujurlah agar kami dapat membantumu!" ucap bibi Jen serius.
Sherli kembali terdiam mendengarkan ucapan bibi Jen, ia takut jika keluarganya terlibat. Seketika airmatanya jatuh membasahi pipinya.
"Sayang jujurlah! Aku sangat menghawatirkanmu, aku tidak akan memarahimu, jadi jujurlah!" ucap Felix lembut seraya menyeka airmata Sherli.
Seketika terlintas tawa keluarga di benak Sherli, ia takut kehilangan itu semua.
Ting!
Suara ponsel Sherli seketika berbunyi. Sontak ia mengambil ponselnya di dalam tas. Felix dan bibi Jen terdiam memandang kearahnya.
"Sebentar Bibi ini dari ibuku," ucap Sherli.
Sherli segera membuka isi pesan tersebut.
"Sayang, kamu pulang jam berapa? Ibu pulang awal karena tiba-tiba dada ibu sakit," ~ ibu Ruri.
Sherli terkejut membaca pesan tersebut, air matanya semakin deras mengalir. Ia memikirkan perkataan bibi Jen .
"Sher ada apa?" tanya Felix cemas.
"Kak ibuku dadanya tiba-tiba sakit, apa yang dikatakan Bibi benar?" ucap Sherli yang semakin tersedu-sedu.
"Nak, untuk apa aku membohongimu, bukti sudah berada di hadapanmu sekarang, apa kau benar-benar ingin semua keluargamu dalam bahaya?" ucap bibi Jen serius.
"Tidak, Bibi!" ucap Sherli cepat.
"Baiklah, cepat balas pesan ibumu dan ceritakan yang sejujurnya!" titah bibi Jen.
Sherli mengangguk pelan. Ia segera menghapus airmatanya, dan segera membalas pesan dari ibunya. Ia meletakkan ponselnya di atas meja karena takut ibunya akan mengirim pesan lagi.
Sherli menghela nafas untuk menetralisir perasaannya.
"Baik Bibi, sebenarnya ...."
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
__ADS_1
Terimakasih yang telah membaca :).