Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
kelelahan


__ADS_3

Raka kembali dan sedikit kelelahan karena tenaganya habis, Sesnag langsung memberikan tenaga miliknya pada keduanya.


Delia makin lemah, apalagi Ki Adhiyaksa merobek jeroan terbang itu, kini Delia berteriak sangat keras dan pergi begitu saja.


Ki item masuk ke kamar Adri dan menyadarkan dan mengembalikan umur yang di hisap cahaya tadi.


Raka pun tetap mengendong Rania, karena malam ini gadis itu belum bisa di tinggal.


"tidak bisakah kamu menutup mata batinnya dan menyamarkan Rania, aku kasihan jika dia terus seperti ini," kata Raka.


"biar aku yang melakukannya, dan kekuatan itu akan kembali saat dia berusia tujuh belas tahun," kata Ki Adhiyaksa.


"terima kasih Ki," kata Raka.


sebuah cahaya berpindah, ternyata itu adalah mustika yang memang harus di jaga oleh Ki Adhiyaksa.


kemudian kedua mahluk penjaga itu pergi, dan Rania akan tidur dengan Raka.


sedang Jasmin tidur dengan pulas dan tak terjadi apa-apa, karena Rafa sudah membuat janinnya juga tersamarkan.


sedang di rumah Delia, gadis itu marah dan mengamuk pasalnya dia tak bisa kembali ke tubuhnya.


karena ada tiga bambu kuning yang menghambatnya, dia pun memanggil pak Panji yang memang masih terikat perjanjian dengan iblis.


pria itu terhipnotis dan datang membantu Delia, Dalia terus mengeram marah karena semua usahanya gagal dan sia-sia.


pak Panji pun mencabut tiga bambu yang menancap itu, meski itu melukainya tapi dia tak peduli.


"pergilah ..." usir Delia setelah selesai.


gadis itu merasa dia terluka sangat parah, terlebih malam ini dia tak bisa makan karena ki Adhiyaksa mengagalkan perburuannya.


dia pun memilih beristirahat sejenak di sana, dan mengambil ayam yang sudah di persiapkan sebelumnya.


kemudian terpaksa dia meminum darah ayam hitam itu, bahkan dia semakin marah saat ini.


sedang pak Panji sadar saat masuk ke dalam kamarnya, dan dia kaget bukan main saat tubuhnya penuh darah.


bahkan tangannya juga terluka, tapi dia tak ingat apa-apa, dia pun berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


dia menguatkan dirinya, kemudian luka itu menghilang tapi masih meninggalkan bekas di tangannya.


"sebenarnya aku kenapa? kenapa aku tak ingat apapun, bahkan sedikitpun," kata pak Panji kebingungan.


sedang Raka tidur memeluk adiknya, hingga tanpa sadar dia sudah terbangun karena suara orang membaca Alqur'an di mushola.


"astaghfirullah hal Adzhim ... aku kesiangan," kata Raka bangun.

__ADS_1


dia merasa tubuhnya sangat sakit karena memaksakan mengunakan ilmu yang belum sepenuhnya dia kuasai.


begitupun Rafa yang juga kesiangan, bahkan Jasmin yang membangunkan pria itu.


keduanya pun bergegas mandi dan menuju ke musholla, dan Adri terlihat sudah di sana.


"ayo Raka, giliran mu untuk jadi imam," kata Adri.


"om saja ya, aku sedang tak enak badan, badan ku sakit semua," jawab Raka.


"baiklah," jawab Adri.


Rafa mengumandangkan iqomah, kemudian mereka menjalankan sholat subuh berjamaah.


Jinny sedang duduk di atas tembok, dia datang karena kangen dengan Raka.


pasalnya dia sekarang sering mengikuti ustadz Yusuf, apalagi dia juga mulai mengenal Islam lebih dalam berkat ustadz itu.


"assalamualaikum ..." sapa arwah gadis itu mengejutkan Raka.


"waalaikum salam ..." jawab Rafa dan Raka.


"kamu lanjutkan ya, aku mau istirahat dulu," pamit Rafa.


Raka mengangguk dan duduk di ayunan yang khusus di buat di bawah pohon mangga.


"kami habis melawan ilmu hitam yang kuat, dan kami kehabisan tenang, rasanya aku butuh bantuan orang yang berilmu tinggi lainnya," kata Raka lirih.


"boleh aku mengundang ustadz yang mengisi ceramah waktu pernikahan om.mu? dia itu juga mengobati orang dengan doa, apa namanya?"


"ruqyah, kebetulan sekali aku sepertinya butuh itu juga," kata Raka.


"gimana kalau buat ruqyah masal saja, acaranya di lapangan, kamu dan Rafa bisa membantu," usul Jinny.


"nanti biar aku rundingan dulunya, sekarang aku mau bersiap ke sekolah dulu," pamit Raka.


"baiklah aku pergi ya, wassalamu'alaikum ...."


Raka pun berjalan ke rumah, ternyata Rafa tertidur di ruang tamu sambil duduk.


"bangun Rafa, kamu bukannya juga harus ke yayasan Handoko," kata Raka menginggatkan.


"Allahuakbar, aku ketiduran ya, iya aku akan bersiap-siap," jawab Rafa kaget.


Raka pun memilih baju, seandainya dia juga sudah menikah pasti semua akan di siapkan, tidak seperti saat ini yang harus merapikan baju sendiri.


"kakak sedang apa?" tanya Rania yang baru bangun.

__ADS_1


"lagi setrika baju," jawab Raka.


"kok di gantung gitu, kalau bunda bajunya di taruh kasur terus di gosok-gosok," jawab Rania masih belum sadar sepenuhnya.


"itu setrika listrik, kalau punya kakak Raka, setrika uang sayang, apalagi ini produk baru," jawab Raka.


Rania mengangguk saja, dia juga belum paham, Raka susah selesai dengan bajunya, kemudian mengantar bocah itu pulang.


Mak nur dan Jasmin sudah menyiapkan sarapan, Raka sarapan dulu bersama Rafa.


"kok belum siap, sini bajunya biar di setrika istri ku jika belum rapi," kata Rafa.


"tak perlu tinggal pakai kok, aku sedikit siang ke yayasan," jawab Raka.


"jangan gitulah, kamu itu sebagai contoh, harus disiplin dong," kata Rafa menginggatkan.


"iya iya ...."


sedang di rumah Wulan, gadis itu sedang memasukkan beberapa kue coklat yang sengaja dia buat sendiri.


"nak, kamu kok bawa banyak coklat sih?" tanya Bu mut.


"iya Bu, hari ini mbak mulai kerja lapangan, dan kata kakak kelas, akan mudah dekat dengan para murid madrasah ibtidaiyah itu dengan memberikan hadiah coklat atau permen," Jawab Wulan sopan.


"tapi kalau keseringan kan gak bagus," jawab Bu mut.


"ini jarang-jarang kok Bu, lagi pula aku buat sendiri, kan semalam ibu yabg bantuin," kata Wulan dengan nada manjanya.


"iya nak, aduh kamu ini sudah besar masih kolokan kalau sama ibu, ya sudah nanti kau sudah pulang langsung ke toko ya," kata Bu mut pada putrinya.


"siap ibu ratu," jawab Wulan yang kemudian pamit


sebelum pergi dua mencium tangan ibunya, kemudian berangkat membawa motor matik yang sudah cukup lama.


sesampainya di sekolah yayasan Al-ikhlas itu ternyata semua sudah berkumpul dan tinggal melaporkan jika mereka siap mulai.


Nurul akan menjadi penanggung jawab untuk kelompok Wulan, sedang Bu Lilik akan menjadi penanggung jawab u tim kelompok satunya.


"assalamualaikum ... kalian sudah siap?" tanya Nurul.


"waalaikum salam Bu Nurul, insyaallah siap," jawab ketiganya.


"baiklah sekarang saya bagi ya, Irma kamu Inggil di bidang fiqih kamu bisa membantu Bu Sholihah, dan untuk Zuzun yang juga baik dalam nahwu Sharaf, kamu bisa membantu ibu Ayunda ya, dan wulan, kamu bisa membantu pak Irfan untuk mengajar tentang Al-Qur'an dan hadits," kata Nurul


"baik Bu Nurul," jawab ketiganya yang langsung berpencar.


saat bersama pak Irfan, guru itu nampak sudah sepuh tapi memiliki wibawa yang begitu kuat.

__ADS_1


bahkan Wulan terus me dengarkan arahan guru itu,untuk memeriksa hasil hafalan untuk murid kelas satu.


__ADS_2