
Sherli menangis tersedu-sedu ketika tiba-tiba ibunya memberi pesan singkat. Ia memikirkan ucapan bibi Jen tentang energi yang beradu didalam tubuhnya. Akhirnya Sherli pun memutuskan untuk jujur.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sherli menghela nafas untuk menetralisir perasaannya.
"Baik, Bibi! Sebenarnya gelang dan kalungku tidak kudapatkan dari pameran. Melainkan pemberian temanku di alam lain," ucap Sherli.
Ia terus-terusan menyeka air matanya yang terus mengalir dipipinya.
Sontak Felix membulatkan matanya karena terkejut, ia tidak pernah mengira sang kekasih akan memiliki kehidupan yang sulit di cerna dengan akal sehat.
Namun, tidak untuk bibi Jen, ia telah memiliki pemikirkan tersebut ketika menyentuh gelang lengan Sherli.
Bibi Jen menyantuh tangan Sherli untuk sedikit menenangkannya, ia bisa merasakan kesedihan yang Sherli rasakan saat ini.
"Nak, apa temanmu itu pernah menyakitimu?" tanya bibi Jen lembut.
Sherli menggelengkan kepala.
"Tidak Bibi, dia awalnya sangat baik kepadaku. Namun, akhir-akhir ini dia sedikit semena-mena saat denganku."
"Kenapa itu bisa terjadi, sejak kapan dia mulai semena-mena kepadamu, Nak?" tanya bibi Jen.
Sherli diam sejenak, ia mencoba berfikir untuk mengingat, kapan Hongli mulai bertindak semena-mena kepadanya.
"Emmm .... ketika aku mengatakan memiliki kekasih, Bibi!"
"Tunggu, apa dia laki-laki?" tanya bibi Jen serius. Sherli memgangguk pelan sebagai jawaban.
Felix terkejut mengetahui kebenarannya. Ia merasa sakit hati, marah dan merasa cemburu mendengar sang kekasih memiliki teman laki-laki lain meskipun itu tidak sebangsa dengannya. Dan hubungan yang bisa dibilang sangat dekat menurutnya.
Banyak yang ingin ia utarakan kepada gadis disebelahnya, namun ia berusaha menahan dan fokus dengan kondisi sang kekasih yang jauh lebih membutuhkannya.
Felix juga berfikir, sedikit banyak masalah yang Sherli hadapi adalah karena memiliki hubungan dengan dirinya.
Bibi Jen mulai berfikir, ia mengira bahwa teman Sherli mungkin jatuh cinta kepadanya. Ia pun ingin memastikan hal itu.
"Apakah dia pernah mengutarakan perasaannya kepadamu?" ucap bibi Jen.
Sherli mengangguk pelan.
"Iya Bibi, saat aku mengatakan telah memiliki kekasih. Disaat itu juga dia mengutarakan perasaannya. Aku pun menjadi tidak enak dengan hal itu, jadi aku memberinya batasan-batasan kepadanya dan aku menyuruhnya untuk menghilangkan perasaannya kepadaku sedikit demi sedikit. Ketika itu lah dia mulai berubah."
Felix merasa lega mendengar pernyataan Sherli, ia merasa menyesal telah berprasangka buruk terhadapnya.
"Apa kau bisa melepas gelang lenganmu, Nak? Bibi ingin melihatnya lebih detail," ucap bibi Jen.
"Tidak Bibi, kemarin temanku sangat marah kepadaku, hingga membawaku ke dunianya, lalu ia memasangkan gelang ini sendiri dan mengatakan, bahwa gelang ini tidak akan bisa dilepas tanpa izin darinya," jelas Sherli.
__ADS_1
Felix sontak memandang tajam kearah Sherli.
"Apa? Bahkah dia pernah membawamu kedunianya?" ucapnya meninggi dengan membulatkan matanya.
Sherli mengangguk.
"Iya, Kak! Maafkan aku."
Felix berdecak kesal karena bingung harus bersikap bagaimana setelah mengetahui kebenaran ini. Disisi lain ia merasa kesal, dan cemburu. Disisi lain dia juga khawatir, bagaimana jika saat itu sang kekasih tidak dapat kembali kedunianya.
Bibi Jen mengeryitkan keningnya, ia merasa situasi Sherli sangatlah rumit, karena telah diikat dengan gelang tersebut.
"Nak, Apa kamu pernah diberi makanan, dan kau bawa pulang?" tanya bibi Jen.
Sherli mengangguk.
"Iya Bibi, dia pernah memberikanku buah strawberry dari alamnya."
"Nah, itu dia yang membuat keluargamu besar kemungkinan juga mendapat dampak. Karena mereka telah memakan makanan dari alamnya," ucap bibi Jen serius.
Sherli menjadi semakin cemas dangan situasi ini, ia berfikir tidak mengapa jika itu dirinya. Tapi ini sudah menyangkut keluarganya, ia sangat menyesal telah percaya kepada Hongli.
"Tapi Bibi, dia berkata bahwa dia berjenis jin putih, dan katanya dia tidak akan berbuat nekat untuk menyakitiku?" ucap Sherli.
Bibi Jen mengenggam tangan Sherli dan memandangnya lembut, "Nak, temanmu memang berjenis jin putih. Namun persaannya kepadamu dan penolakanmu telah menjadikan hatinya gelap, sehingga dia berbuat nekat dan menjadi kejam tanpa memperdulikan dampaknya."
Sherli terdiam, ia merasa sedih, karenanya sosok Hongli yang baik telah terjerumus kedalam sisi gelap karenanya.
"Nak, jika hati dapat kotor maka juga dapat bersih karena ketulusan hati. Bersikap tuluslah hingga ia merasakannya, agar gelang yang ia pasangkan dapat dilepas olehnya. Dengan begitu keluargamu dan dirinya dapat selamat." Ucap bibi Jen.
Felix mengeryitkan keningnya, ia tidak terima mendengar solusi yang barusan diucapkan bibi Jen. Dia seorang pria normal, yang tidak akan rela jika pasangannya bersikap sepenuh hati pada laki-laki lain.
"Bibi apa tidak ada cara lain, aku tidak rela jika kekasihku harus bertulus hati pada laki-laki lain," ucapnya kesal.
Bibi Jen terdiam, ia mengerti benar perasaan Felix saat ini. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, sebenarnya ia ragu mengatakan solusi lain mengingat Sherli masih sangat muda.
Bibi Jen kembali menegakkan tubuhnya, ia memandang kearah Felix.
"Sebenarnya ada solusi lain."
"Apa itu, Bibi?" ucap Felix cepat.
"Kau harus menikahi kekasihmu, setelah ijab kabul usai, gelang ini otomatis akan terlepas," ucap Bibi Jen seraya menunjuk gelang dari Hongli.
Sherli membulatkan matanya, ia tidak mengira akan sejauh ini masalah yang dia sebabkan.
"Aku tidak keberatan sebenarnya Bibi, tapi Sherli masih sangat muda. Terlebih aku juga tidak tau apakah orangtuanya akan setuju dengan hal ini," ucap Felix.
Bibi Jen melihat keduanya secara bergantian.
__ADS_1
"Hanya kedua cara itu yang dapat kau pilih, namun aku juga tidak bisa menjamin pilihan pertama akan berhasil, karena kita tidak tau sudah sedalam apa rasa sakit didalam hati teman Sherli itu."
Bibi Jen memandang Sherli.
"Nak, untuk meminimalisir kondisimu, lepaskan saja gelang ini. Biarkan energi dari temanmu saja yang berada ditubuhmu!" ucap bibi Jen.
Felix mengerutkan keningnya.
"Tapi Bibi, aku tidak mengizinkan Sherli melepas gelang ini," ucap Felix kesal.
Sherli hanya terdiam mendengar Felix dan bibi Jen beradu argumen. Ia ingin segera mendapat solusinya agar ibunya dirumah segera membaik.
"Felix, mengalahlah ini demi kekasihmu. Jika gelang darimu tidak dilepas, bentrok energi didalam tubuhnya akan terus menyiksa Sherli dan keluarganya, biarkan salah satu energi menguasai tubuh Sherli," tegas bibi Jen.
Felix menghela nafas, ia kesal karena tidak ada pilihan lain.
"Baiklah, Bibi!"
Bibi Jen bangkit dari kursinya, ia menuju ke sudut ruangan dan mengambil sesuatu disana.
"Nak, ambilah tanaman Bidara ini. Ini adalah tanaman yang paling ditakuti oleh jin jahat. Jika orangtuamu menunjukkan gejala sakit tiba-tiba. Seduhlah daun ini dan suruh orangtuamu untuk meminumnya." tutur bibi Jen. Sherli segera mengambil tanaman tersebut.
"Terimakasih, Bibi!" ucap Sherli.
"Sini aku lepaskan gelangmu," ucap Felix memegang tangan Sherli.
Ketika Felix memutar gelang tersebut dan gelangnya terlepas dari tempatnya. Seketika demam Sherli hilang. Felix membulatkan matanya karena terkejut, begitu dengan Sherli.
Felix sontak menoleh pada bibi Jen. "Bibi, demam Sherli langsung menghilang?"
Bibi Jen mengangguk pelan.
"Sekarang kau percaya? Keadaan ibu Sherli dirumah juga akan segera membaik. Baiklah sekarang pulanglah, karena sudah hampir sore!" ucap bibi Jen.
Felix menyimpan gelang tersebut di dalam tas Sherli yang berada disebelah kakinya, ia segera bangkit dan diikuti dengan Sherli.
"Baiklah Bibi, terimakasih atas pertolongannya kami pamit pulang dulu" ucap Felix.
"Terimakasih Bibi, karena telah membantuku," ucap Sherli.
Bibi Jen bangkit dari duduknya. "Baiklah, hati-hati dijalan!"
Felix dan Sherli segera beranjak keluar dari ruangan tersebut, dan menuju ke mobilnya.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
Terimakasih yang telah membaca :).