Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Perasaan yang berkecamuk


__ADS_3

Setelah Sherli pulang. Hongli mengunjungi dirinya. Melihat Sherli yang tidak ada di rumahnya, Hongli menanyakan dari mana dan bersama siapa dirinya pergi.


Setelah mendengar jika Sherli keluar dengan Felix yang sekarang berstatus pacar. Hongli sedikit meluapkan kekesalannya dan menggungkapkan perasaannya pada Sherli.


Sherli yang hanya mengganggap Hongli sebagai kakak, menolak halus untuk tidak bertemu lagi dengannya. Hongli mengatakan akan menghapus perasaannya agar Sherli masih bisa menjadi temannya. Namun, keputusan Sherli membuat Hongli menjadi nekat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sherli menolak untuk menemui Hongli lagi, karena rasa canggungnya. Bahkan Hongli mengatakan akan mengapus perasaannya perlahan, namun keputusannya pun sudah bulat dan tidak akan dia rubah. Mendengar keputusan Sherli yang menyakitkan, Hongli bangkit dengan menatap Sherli kecewa.


"Baiklah!"


Hongli berbalik, namun ketika baru dua langkah, dia berhenti.


"Aku akan mengakhiri hidupku saja!"


Sherli membulatkan matanya mendengar perkataan Hongli. Sebelum Hongli menghilang, secepat kilat Sherli menyambar tangan Hongli.


"Kak jangan begitu, aku mohon!" pintanys menitikan air mata.


Hongli menengok Sherli dengan rasa kesal, ia mengibaskan tangan Sherli. Seketika Sherli memeluk lengan Hongli, mencegahnya agar tidak pergi sebelum membatalkan keputusannya untuk mengakhiri hidupnya.


"Kak, aku mohon jangan lakukan itu!"


"Lalu apa kau akan mengubah keputusanmu?" ucapnga dingin.


Sherli menelan salivanya, dia merasa tercekat ditenggorokannya.


"Iya, Kak! Kita akan terus berjumpa seperti biasanya," ucapnya tersenyum.


Sherli merasa bersalah sekali, dia merasa telah menghianati Felix. Tapi dia akan lebih merasa bersalah jika Hongli mengakhiri hidupnya karenanya.


Hongli mengembangkan senyumnya seketika. Dia melepas pelukan Sherli dilengannya, lalu menghadap Sherli dan memegang bahunya.


"Kamu serius, Sher?"


"Emm!" Sherli menganggukan kepalanya sambil tersenyum yang dipaksakan.


Hongli seketika memeluknya.


"Terimakasih!"


"Baiklah, bukannya Kakak tadi bilang sedang sakit? Kakak pulanglah istirahat! Jika sudah sehat kita bisa berjumpa lagi!" usir Sherli halus.


Sherli ingin menenangkan dirinya sendiri sementara. Hatinya sungguh gelisah dengan semua yang terjadi.


"Baiklah aku akan pulang. Besok aku akan kemari lagi,"


ucap Hongli mengembangkan seyumannya.


"Baiklah, sekarang pulanglah! Aku juga ingin beristirahat," jawab Sherli.


"Dah." Seketika Hongli menghilang seperti angin.


Sherli membalikan tubuhnya di kasur dia menangis sejadi-jadinya. Perasaan kesal, marah, dan merasa bersalah berkecamuk menjadi satu.


Dia takut Felix akan tau jika ada orang lain yang memiliki perasaan padanya, dan bahkan mereka selalu bertemu. Namun, Sherli juga sedih jika Hongli akan mengakhiri hidupnya, terlebih Sherli sudah menganggapnya seperti kakaknya sendiri layaknya perasaannya pada Afbi.


"Aku harus bagaimana?"


Ceklek!!

__ADS_1


"Ibu pulang!"


Namun Sherli tidak mendengar ibunya yang baru datang. Ibu Ruri berlalu melewati kamar putrinya, karena sedikit terbuka ibu Sherli melihat keberadaan putrinya. Dia terkejut melihat sang anak tengkurap sambil menangis.


"Sayang kamu kenapa?"


menghampiri Sherli, dan mengguncang tubuhnya.


Sherli terkejut akan kehadiran sang ibu, dia segera membalikkan tubuhnya dan menyeka air matanya.


"Tidak apa-apa, Bu! Hanya perutku sedikit sakit. Mungkin karena akan datang bulan," ucapnya mencari alasan.


"Baiklah ibu buatkan jamu herbal dulu," Sherli mengangguk pelan. Ibu Ruri segera beranjak.


"Bahkan sekarang ibu terlibat masalahku," batinya.


Karena telah menangis, perasaan Sherli menjadi lebih lega dari sebelumnya. Dia pun berfikir dengan jernih mencari cara agar semuanya berjalan tanpa ada yang tersakiti dan dia juga tanpa beban. Namun, ia masih belum menemukan jawaban.


Tidak lama kemudian ibu Ruri masuk dan membawakan jamu herbal kunyit asam untuk Sherli.


"Ini, Nak. Minumlah selagi hangat!" sambil menyodorkan gelas pada Sherli.


Sherli seketika memandang gelasnya dan segera meneguk cairan kuning sedikit coklat tersebut.


"Sudah, Bu, terimakasih," Sherli menyerahkan kembali gelasnya pada ibu Ruri.


"Baiklah istirahatlah, ibu keluar dulu!" ketika sang ibu baru tiga langkah, Ibu Sherli terfokus pada papper bag di meja belajar Sherli.


"Ini apa, Nak?" sambil melihat isinya.


Sherli pucat seketika, ia lupa menyembunyikan papper bag dari Felix. Dia memutar otak mencari alasan.


"Oh itu cookies, Bu! Yadi Sherli keluar sebentar dan melihat kue itu dan Sherli mengingikannya!" ucapnya setenang mungkin.


"Iya, Bu!" jawab Sherli.


Setelah beberapa menit ibu Ruri keluar dari kamarnya, ponsel Sherli terdapat notif pesan. Ia segera mengambil ponselnya yang ia lupakan sedari tadi.


"Sayang, aku sudah sampai dirumah, kamu sedang apa?" ~ Felix.


Isi pesan tersebut yang ternyata dari Felix. Sherli sengaja menyuruh Felix menghubunginya jika telah sampa dirumah. Hanya untuk memastikan telah sampai dirumah dengan selamat.


Sherli segera membalas pesan dari Felix.


"Syukurlah! Segeralah istirahat, Kak! Aku juga sedang beristirahat" ~ Sherli.


Ting!! pesan kembali masuk.


"Kamu suka isi dari papper bagnya?" ~ Felix.


Sherli mengembangkan senyumnya mengingat isi dari papper bag tersebut.


"Sangat suka, Kak! Terimakasih! Aku sangat suka cookies." ~ Sherli.


"Syukurlah! Lusa hari libur nasional luangkan waktumu, pukul 12 setelah aku pulang kerja akan kujemput. Kita akan jalan-jalan lagi." ~ Felix.


"Baiklah, Kak!" ~ Sherli.


"Istirahatlah, aku menyayangimu ❤" ~ Felix.


Sherli mengembangkan senyumnya melihat pesan terakhirnya. Seketika senyuman itu memudar mengingat kejadian benerapa saat lalu dengan Hongli.

__ADS_1


Karena tidak bisa menemukan solusinya. Sherli merebahkan tubuhnya dan melupakannya sejenak.


***


Malampun tiba setelah keluarga Sherli makan malam. Sherli beranjak kekamarnya, dia segera berlari kekamar mandi karena perutnya sangat nyeri.


"Ternyata aku benar-benar datang bulan, pantas saja emosiku sulit kukendalikan," gumamnya pelan.


Sherli segera mengatasinya dan bergegas kekamar, karena rasa sakit itu tidak kunjung hilang.


Sherli membaringkan tubuhnya di kasur. Tiba-tiba pintunya terbuka, Sherli melihat yang ternyata sang kakak yang datang.


"Dek, kata ibu kau beli cookies? Mana?" tanya Afbi mengedarkan pandangan.


"Kenapa, Kak memangnya?" jawab Sherli mengernyitkan kening.


"Aku mau dong! Aku sedang ingin makan yang manis-manis"


Sherli menaikkan dagunya mengarahkan ke papper bag, diatas meja belajarnya.


"Oh itu di dalam papper bag, sisakan untukku ya, Kak! Aku belum membukanya."


"Oke!"


Afbi segera meninggalkan kamar Sherli, sambil menjinjing papper bagnya.


***


Afbi mengeluarkan cookies dari bungkusnya, seketika dia mengernyitkan dahinya melihat kemasan cookies tersebut.


"Bukankah ini?"


Afbi mengambil ponselnya dan memotret kemasan cookies tersebut lalu mengirimkan pada seseorang.


"Bro, ini produk dari bisnismu kan?"


"Iya bro, kau membelinya? kenapa tidak memintanya dariku jika menginginkannya?" balas seseorang.


"Tidak bro, adikku yang membeli,"


"Oh!"


Pesan berakhir.


Afbi membuka toplesnya, lalu memakannya.


***


Sherli masih berkutat dengan fikirannya, ia tidak belajar karena telah menyelesaikan tugasnya semalam. Ia berfikir hari libur adalah waktunya bersantai.


Sherli memikirkan cara agar dirinya bisa menghadapi masalahnya dengan mudah tanpa tekanan.


"Aku harus apa ya?" gumamnya.


Setelah sekian lama berfikir, dia memutar balik pemikirannya.


"Baiklah!"


Apa yang akan dilakukan Sherli? Dan siapa yang dihubungi Afbi?


Ikuti terus ya teman-teman! Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views :).

__ADS_1


Karena dukungan kalian sangat memberikan semangat author, terimakasih.


__ADS_2