Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
balada duren dan pete


__ADS_3

kini motor milik Wulan mengikuti motor milik Raka, kedua motor itu pun sampai di kebun durian milik keluarga Raka.


tapi saat sampai Wulan dan Rania berdiri membeku di samping motor, sedang Raka tau apa yang membuat keduanya takut.


Raka berdo'a di depan kedua wanita itu, kemudian meniupkan doa itu pada kepala Keduanya.


"sudah, mereka tak akan menganggu kalian," kata Raka.


"loh kok gitu, aku juga gak di do'akan juga nih? pilih kasih banget sih," protes Irma.


"berhubung kamu gak bisa lihat atau merasakan hal ghaib, jadi gak perlu to neng, lagi pula jangan pingin ya, soalnya itu gak enak tau," jawab Raka tertawa.


"ih... untuk ganteng jadi aku gak marah, coba kalau jelek uh... bisa abis sama aku anda," tunjuk Irma pada Raka.


"berarti aku beruntung ya," jawab Raka yang sudah mengendong Rania.


mereka pun menuju ke sebuah saung yang tak jauh dari jalan raya, mereka pun menunggu durian jatuh.


dan Raka mencari gantar untuk mengambil Pete gunung itu, dia dengan cekatan memanennya.


tak lama penjaga kebun datang dan minta maaf karena telat, "pak met, tolong di Carikan duriannya dulu ya, soalnya aku bawa teman yang lagi duduk sama Rania," kata Raka.


"iya den, tunggu sebentar ya," pamit pak Slamet.


Raka pun membawa Pete itu ke saung ternyata ketiga wanita itu sendang bermain.


"aduh kalian tega banget sih, aku di biarin ngumpulin sendiri, bantuin dong," kata Raka.


"ih ... kakak kan laki-laki, masak manja sih, kakak cantik bantu kakak Raka ya," kata Rania yang kini pindah pada Irma.


"baiklah gadis cantik, mari mas," jawab Wulan.


"baiklah, ayo .."


mereka pun berkeliling mencari Durian yang matang, tapi tiba-tiba seekor biawak lewat dan mengejutkan Wulan.


dan tak sengaja gadis itu memeluk Raka, "itu apa!" teriaknya ketakutan.


"itu hanya biawak, tidak apa-apa, dia hanya lewat," jawab Raka yang reflek memeluk gadis itu.


"den ... jangan berbuat mesum," suara penunggu kebun itu.


"maaf!" kaget Wulan mendorong Raka hingga jatuh.


Raka jatuh terduduk cukup keras, sedang Wulan kaget karena suara tadi.

__ADS_1


"aduh mas Raka ... maaf ya ..." kata Wulan sedih


"aduh ... tenaga mu kuat juga ya Wulan, pantatku sampai sakit nih," kata Raka membersihkan bokongnya yang habis jatuh.


"habis aku kaget denger suara tadi, padahal ini masih siang," jawab gadis itu.


Raka melotot kearah sesuatu di belakang Wulan, "jangan berani menjilatnya, atau aku membunuhmu," ancam Raka dengan suara batinnya.


genderuwo itu pun mengurungkan niatnya, apalagi Suni yamg langsung keluar saat Raka marah.


"Aden!" kata pak Slamet cukup keras.


Wulan yang terkejut pun tersandung dan kini malah jatuh menindih tubuh Raka.


"sakit ...." kata Wulan yang memegangi kepalanya.


pasalnya kening keduanya saling berbenturan, "loh kenapa neng, Aden?" kata pak Slamet.


"pak Slamet bikin anak orang kaget, kan jadi saya yang enak," kata Raka yang masih di tindih tubuh Wulan.


"maaf mas," kata Wulan langsung berdiri.


"maaf ya neng, habis tadi Aden Raka nyuruhnya buru-buru, jadi ini bapak sudah dapet durennya," kata pak Slamet.


Raka merasa hari ini keberuntungan dirinya atau kebalikannya, Wulan melihat tangan Raka yang sedikit luka.


"gak papa hanya luka kecil kok," jawab Raka.


Wulan pun langsung membasahi sapu tangan dengan sedikit air untuk membersihkan luka itu.


tanpa sengaja, Raka melihat ada tanda di bahu sebelah kiri, tanda itu sebuah toh berwarna merah kehitaman.


Raka terdiam, apa Wulan wanita bahu Laweyan, atau ini adalah tanda kepemilikan oleh mahluk astral, ini berarti masih belum jelas.


Wulan pun mengejutkan Raka yang tiba-tiba diam membisu.


"sudah mas, sekarang ayo kita ke tempat Rania dan Irma," ajak Wulan tersenyum.


"iya ..."


tiba-tiba bahu Wulan terasa panas seperti terbakar. "tidak, aku Mohon jangan sekarang!" teriak Wulan tanpa sadar.


"kamu kenapa dek?" tanya Raka khawatir.


"pergi mas, aku tak ingin kamu celaka, pergilah!" teriak Wulan mendorong Raka.

__ADS_1


tiba-tiba hawa panas terasa, Wulan pun seakan menatap Raka dengan tatapan pemangsa yang telah mendapatkan buruannya.


arwah Wulan tertahan dalam tubuhnya, kini ada arwah orang lain yang menguasai tubuh gadis itu.


"aku mohon jangan lukai mas Raka ..." kata Wulan yang berusaha untuk merebut raganya kembali.


"Wulan ...." panggil Raka


"cah ganteng, anak Lanang .... awak mu tekan Dewe dadi tumbal ya," kata Wulan yang berubah menyeramkan.


Raka sadar jika tubuh Wulan sudah di pengaruhi ilmu hitam, "jangan melukai mas Raka!" teriak arwah Wulan berusaha untuk keluar.


"koen lek gak gelem meneng, tak pateni arek Lanang Iki," ancamnya.


Raka sudah membaca surat pendek Al-Qur'an, dia mengeluarkan tasbih yang selalu dia bawa.


arwah itu mulai berteriak, dan angin berhembus dengan sangat kencang, bahkan semua pohon mulai bergoyang kuat.


"koen duduk tandingan ku!" teriak Wulan yang sudah kerasukan.


tanpa di duga Rafa datang dengan cara Ngrogo Sukmo, dia datang membantu saudaranya itu, "awak mu seng duduk tandingan ku," kata Rafa yang langsung menarik arwah itu dari tubuh Wulan.


kemudian membacakan mantra hingga arwah hitam itu terbakar dan musnah dari muka bumi ini.


Raka langsung melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Wulan, "dia bukan wanita yang baik untukmu Raka, kenapa kamu memilihnya," kata Rafa.


"kenapa kamu memilih Jasmin, saat tau wanita itu hampir di lecehkan, bahkan tubuhnya sudah pernah di lihat oleh laki-laki lain," jawab Raka yang mengendong tubuh Wulan.


"jangan memilih jalan yang salah," kata Rafa menghentikan saudaranya itu.


"aku tau, dia memiliki tubuh istimewa yang bisa di jadikan tempat arwah hitam, dia dan aku sama saja bukan, kamu mengunakan ku untuk menyimpan beberapa mahluk yang sudah tak bisa kau kendalikan," jawab Raka meninggalkan Rafa.


Rafa tersenyum melihat saudaranya itu, "jadi bunda mau pilih yang mana, Azizah atau gadis gemuk tapi cantik itu, dan itu adalah tipe Raka dari dulu," kata Rafa melihat sosok bunda Akira di sampingnya.


"jodoh rahasia Tuhan Rafa, jodoh itu rahasia Tuhan," jawab Akira sebelum pergi.


jiwa Rafa kembali ke tubuhnya yang sedang berdzikir di mushola hotel dan Jasmin menjaganya.


dia pun sadar dan tersenyum melihat istrinya, "iya jodoh itu rahasia Allah," lirih Rafa melihat Jasmin.


"minum mas," kata Jasmin khawatir dan memberikan sebotol air pada suaminya.


"kenapa kamu begitu cantik sih," goda Rafa


''kamu sehat mas, baru selesai pergi kok kumat gombalnya, ayo kita pergi ke tempat acara, sebentar lagi di lanjutkan itu pertemuannya," ajak Jasmin.

__ADS_1


"iya sayangku, cintaku dan hidupku, serta bidadari surga ku," jawab Rafa.


"aku gak kuat nih kena gombalan mu terus, bikin mabuk dan bikin mual lama-lama, ha-ha-ha," tawa Jasmin yang kemudian mendapatkan pelukan dan ciuman dari Rafa.


__ADS_2